Kilau lampu kamera menyambut kedatangan Nadine dan Yocelyn di pintu lobby. Ternyata perkiraan mereka salah, mereka pikir tak ada wartawan di lobby karena keamanan di apartemen ini lumayan bagus tapi entah mengapa para wartawan itu bisa sampai ke lobby. Nadine dan Yocelyn mencari-cari di mana Pak Jo dan mobilnya seharusnya dia sudah ada di sini ketika dia menutup telepon tadi.
“Mana Pak Jo Dine?” tanya Yocelyn panik.
“Aku juga tidak tahu Lyn, seharusnya dia sudah ada di sini,” ucap Nadine sambil terus menelepon Pak Jo.
“Maaf Mba Nadine, mobil bapak di hadang oleh wartawan, bapak masih berusaha untuk menerebos,” ucap Pak Jo saat Nadine menelponnya.
“Ya sudah, bunyikan saja klakson terus menerus Pak, minta juga bantuan kepada para petugas keamanan untuk mengamani para wartawan itu,” perintah Nadine kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Yocelyn tambah panik karena semua wartawan sadar akan keberadaannya. Semua wartawan memanggil nama Yocelyn dan Nadine secara bergantian. Cahaya flash dari kamera membuat mereka semakin bingung harus berbuat apa, sedangkan di kerumunan itu para petugas keamanan sudah menahan wartawan-wartawan tersebut.
“Bagaimana Dine, sudah dimana Pak Jo?” tanya Yocelyn semakin gusar.
“Dia sebenarnya sudah dekat, namun para wartawan menghadangnya hingga membuatnya sulit untuk menerobos." Raut wajah Yocelyn sudah merah menahan kesal.
“Kau suruh Pak Jo untuk menabrak para wartawan yang kurang kerjaan itu!” cetus Yocelyn kesal.
“Apa kau sudah gila? Kasusmu yang ini saja belum selesai sudah mau menambah kasus baru lagi! Lebih baik kamu diam saja Lyn tidak usah berbicara atau akan ku lepas tanggung jawabku ini!” cecar Nadine tak kalah kesal.
Suara bising semakin membuat telinga Yocelyn ingin pecah. Teriakannya di telepon waktu itu seperti tidak berpengaruh apa-apa untuk wartawan-wartawan itu. Dari kejauhan ada seorang lelaki yang memakai setelan jas hitam dan memakai dasi menghampiri Yocelyn dan Nadine.
“Maaf Mbak Yocelyn, saya Bima selaku ketua keamanan di apartemen ini,” kata Bima memperkenalkan diri.
“Ya. Ada apa?” tanya Yocelyn kesal.
“Kapan kira-kira para wartawan itu pergi dari apartemen ini Mbak? Semua penghuni di sini merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Apa Mba bisa urus semua secepatnya Mba? Karena kalau tidak ada tindakan apapun mohon maaf terpaksa kami dari pihak keamanan dan apartemen akan meminta bantuan pihak yang berwajib untuk menertibkan mereka,” kata Bima panjang lebar.
“Mas orang yang paling pusing di sini itu saya, jadi tolong ya jangan membuah mood saya semakin jelek dan jangan nambah-nambahin perkara pake lapor polisi segala!” cerocos Yocelyn kesal.
Nadine yang menanggapi mereka sedang ribut segera mengambil alih.
“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya Pak, saya mohon untuk urusan ini jangan dulu membawa pihak yang berwajib. Saya dan bos saya juga ingin kerumunan itu bubar dan semua berjalan seperti semua,” jelas Nadine.
Akhirnya Bima pergi meninggalkan Yocelyn dan Nadine. Tak lama muncullah mobil yang di kendarai Pak Jo.
“Itu dia Pak Jo,” ucap Yocelyn seakan mendapatkan udara segar.
“Oh iya, ayo kita ke sana,” ajak Nadine
Yocelyn dan Nadine terus melangkah menuju mobil mereka sedangkan para wartawan semakin keras meneriaki nama mereka.
Pak Jo dengan sigap turun dari mobil dan segera membuka pintu mobil untuk Yocelyn dan Nadine. Pak Jo di bantu oleh pihak keamanan menunggu kedatangan mereka. Yocelyn dan Nadine terus berjalan menerobos kerumunan para wartawan itu. Nadine terus membantu Yocelyn untuk masuk ke dalam mobil.
“Pokoknya apapun yang terjadi jangan sampai kamu berhenti dan tertahan oleh para wartawan itu,” ucap Nadine.
“Iya aku mengerti!” kata Yocelyn sambil mengangguk.
Nadine terus merangkul Yocelyn dan menggiringnya ke mobil. Untuk menerobos para wartawan dengan kamera-kamera yang mereka bawa memang membutuhkan perjuangan yang keras. Yocelyn ingat akan pesan Nadine tadi. Dia tetap fokus pada niatnya untuk masuk ke dalam mobil. Namun karena kerumunan itu terlalu banyak dan padat maka tanpa sengaja Yocelyn menjatuhkan kamera salah satu wartawan itu.
Tak! Tidak sengaja Yocelyn menyenggol salah satu kamera dan membuat kamera nya jatuh. Suara kamera yang jatuh itu membuat semua orang terkejut tidak terkecuali Yoceln dan Nadine. Para wartawan sempat berhenti meneriaki Yocelyn dan Nadine.
Mata mereka pun tertuju pada kamera yang jatuh tadi. Kesempatan ini segera di sadari oleh Nadine, dia dengan cepat menyambar tangan Yocelyn dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
“Cepat masuk!” perintah Nadine.
“Ta—tapi itu,” kata Yocelyn yang sempat menoleh ke belakang beberapa saat.
“Sudah cepat masuk, Yocelyn!” hardik Nadine mengetahui apa yang kemungkinan terjadi kepada artistnya.
Mereka pun sudah berada di dalam mobil dan meminta Pak Jo untuk melajukan mobilnya dengan cepat.
“Huft, hampir saja!” ucap Nadine.
“Dine bagaimana soal kamera yang jatuh tadi?” tanya Yocelyn panik.
“Sudahlah jangan kau pikirkan soal itu, yang terpenting sekarang kita sudah aman di dalam mobil. Daripada kamu memikirkan soal kamera lebih baik kamu pikirkan apa yang harus kamu katakan pada ayah mu saat kita tiba nanti,” kata Nadine menjelaskan.
Perkataan Nadine ada benarnya. Sampai sekarang Yocelyn tidak tahu apa yang harus dia katakan pada orang tuanya terutama ayahnya. Tak bisa di bayangkan semarah apa ayahnya nanti.
Sepanjang perjalanan Yocelyn terus menatap ke arah jendela entah apa yang sedang dia pikirkan. Yang pasti pikirannya saat ini sedang kacau. Di satu sisi dia memikirkan soal kamera yang tidak sengaj tersenggol. Tapi di sisi lain dia juga memikirkan apa yang akan terjadi nanti ketika dia tiba di rumah.
“Kepalaku sakit Dine,” keluh Yocelyn.
Nadine segera mengambil botol air mineral dan memberinya obat.
“Minum ini dan tidurlah sebentar supaya sakit kepalamu reda,” perintah Nadine.
Yocelyn menuruti perintah Nadine dan dia pun tertidur, karena perjalanan untuk sampai ke rumah orang tuanya masih sekitar 30 menit lagi.
Di saat Yocelyn tidur, Nadine masih sibuk dengan ponselnya. Dia menghubungi managemen dan tim nya untuk meminta saran agar mereka dapat segera menemui titik terang.
Tak lama kemudian ponsel Yocelyn berdering tanda panggilan masuk.
Ketika Nadine menengoknya ternyata panggilan itu dari Kalila, ibunya Yocelyn. Karena yang telepon itu Kalila maka Nadine berani menjawabnya karena tidak mungkin juga dia membangunkan Yocelyn yang sedang beristirahat itu.
“Halo Tante,” ucap Nadine.
“Ini Nadine? Mana Yocelyn? Tante ingin bicara dengannya!” jawab Kalila.
“Yocelyn sedang tidur Tante, makanya Nadine yang jawab teleponnya,” ucap Nadine.
“Apa? Tidur? Memangnya kalian sekarang di mana? Om Dika dari tadi sudah menunggu kalian, kamu tahu kan bagaimana papanya Yocelyn itu,” imbuh Kalila.
“Kita sudah di perjalanan kok Tante, ini Yocelyn sedang tidur di dalam mobil. Tadi ada sedikit hambatan untuk kita bisa masuk ke mobil, makanya kita belum sampai di rumah tante sekarang, mungkin lima belas menit lagi kita sampai Tan,” ucap Nadine.
“Baiklah, Tante tunggu ya, nanti biar Tante yang menjelaskan pada Om. Oh iya bilang pada Pak Jo untuk hati-hati mengendarai mobilnya,” kata Kalila.
“Baik Tante,” jawab Nadine sopan.
Mobil mereka pun masih melaju dengan hati-hati. Yocelyn yang sudah merasa enakan terbangun dari tidurnya. Nadine yang mengetahui bahwa Yocelyn sudah bangun langsung menghentikan aktifitas di ponselnya.
“Kamu sudah bangun? Bagaimana, sudah merasa enakkan?” tanya Nadine.
“Iya sudah tidak terlalu sakit sih kepalaku,” jawab Yocelyn sambil memegang dahinya.
Nadine pun memberitahu Yocelyn bahwa ibunya baru saja menelponnya dan menanyakan keberadaan mereka saat ini. Mata Yocelyn menerawang kembali setelah Nadine mengatakan itu. Dia meminta l ponselnya pada Nadine dan mulai membuka sosial media dan mengecek apakah ada pesan penting di ponselnya itu.
Kepala Yocelyn kembali sakit dan terasa ingin pecah saat dia membuka sebuah akun gosip di i********:, karena caption yang tertulis disana benar-benar membuatnya ingin segera memakan orang yang menulis caption itu.
Nadine yang memperhatikan justru terkekeh, karena menurutnya seharusnya Yocelyn tidak perlu mencari tahu apapun berita tentang dirinya baik di televisi ataupun di media sosial.
“Sini ponselmu, daripada kamu tambah stress lebih baik kamu persiapkan dirimu untuk menemui papamu, kita sebentar lagi sampai,” ucap Nadine sambil menunjuk ke arah depan mobil.
Ya benar saja tak terasa mobil yang di tumpangi Yocelyn sudah memasuki pintu gerbang komplek di mana orang tua Yocelyn tinggal.