7. Telepon Dari Papa

1349 Words
Piring bekas makan Yocelyn dan Nadine masih berada di atas meja makan. Lalu ke mana Yocelyn dan Nadine? Mereka masih duduk di kursi akibat kekenyangan karena menghabiskan semua makanan yang seharusnya adalah milik Zidan. Nadine yang penasaran dengan cara Yocelyn keluar mulai penasaran dan bertanya. “Lyn, saat kamu keluar tadi apa benar-benar tidak ada yang mengenalimu?” tanya Nadine. Yocelyn mengangguk. “Ya, aku keluar dengan selamat walau rasanya seperti buronan yang di kejar-kejar polisi,” sungutnya jengkel. Nadine tertawa mendengar jawaban Yocelyn. Sekarang giliran Yocelyn yang bertanya kemana dia pergi tadi. “Lalu bagaimana dengan kamu sendiri, kemana kamu tadi? Pergi tanpa memberitahuku!” cecar Yocelyn. “Maafkan aku Lyn, aku melihat kamu tertidur sangat pulas maka aku tak tega untuk membangunkanmu. Aku pergi menemui tim managemen, aku memberitahu mereka terlebih dulu sebelum para awak media membuat gosip ini makin parah,” jelas Nadine. “Lalu bagaimana? Apa sudah ada jalan keluar?” tanya Yocelyn penasaran. “Hmm ... untuk saat ini baik aku ataupun management belum mendapatkan cara yang tepat untuk hal ini, tapi pihak management berjanji untuk membantu kita,” ucap Nadine. Yocelyn tidak menanggapi ucapan Nadine, dia hanya berdiri dan duduk di ruang tamu hendak mengecek ponselnya. Belum sempat ia membuka ponselnya, tiba-tiba ponsel itu tengah berdering. Dada Yocelyn begitu berdebar saat nama yang tertera di layar adalah kontak ayahnya. Dengan berat hati, Yocelyn akhirnya menerima panggilan itu. Nadine yang melihat tingkah Yocelyn seolah paham bahwa itu adalah panggilan dari orang tuanya. Karena Yocelyn tidak akan menerima panggilan dari siapapun di saat seperti ini. Nadine pun memilih untuk membereskan bekas makan malam mereka tadi. “Halo Pa,” ucap Yocelyn tegang, matanya menyipit seakan bersiap mendapatkan makian. “Papa minta kamu datang ke rumah sekarang!” hardik Mahardika, ayah Yocelyn. “Tapi Pa, kalau sekarang Celyn tidak bisa, karena di luar masih banyak wartawan yang menunggu Celyn, Celyn belum siap untuk bertemu mereka Pa. Celyn janji kalau keadaan sudah sedikit lebih aman, Celyn akan datang kenrumah,” jawabnya. “Baiklah, Papa akan menunggumu datang! Tapi jangan pernah berpikir untuk berbohong!” hardik nya sekali lagi dengan suara yang lebih tinggi. Mendengar suara keras dari balik telepon, Yocelyn hanya bisa menggigit bibirnya. Dia tahu bahwa ayahnya akan memarahinya habis-habisan jika dia datang menemuinya. Dan yang lebih parahnya lagi, bagaimana kalau ayahnya meminta Yocelyn untuk segera meninggalkan dunia entertain. Yocelyn benar-benar tidak siap untuk itu. “Baik Pa, Celyn usahakan untuk bisa datang ke rumah secepatnya,” jawab Yocelyn pasrah. Tanpa menjawab kata-kata Yocelyn, Mahardika langsung memutuskan sambungan teleponnya. Yocelyn hafal betul kalau ayahnya sedang sangat marah saat ini. Yocelyn langsung menghela napas panjang dan membanting tubuhnya di atas sofa yang empuk. Nadine yang sudah selesai beres-beres pun langsung menghampiri Yocelyn dan membawakannya minuman kaleng. “Papa mu bilang apa?” tanya Nadine sambil memberikan minuman untuk Yocelyn. “Dia memintaku untuk datang ke rumah sekarang,” jawab Yocelyn dengan mata menerawang entah ke mana. “Lalu, kau menjawabnya apa?” tanya Nadine lagi. “Aku bilang tidak bisa jika sekarang karena wartawan masih menungguku di luar, tapi Papa malah bersikeras dan membentakku. Apa yang harus aku lakukan Dine? Aku yakin orang tuaku, terutama Papa sangat murka mengetahui hal ini.” Ada kesedihan yang terpancar di wajah Yocelyn. Papanya sejak awal memang tidak menyukai keinginannya menjadi publik figur. “Ya aku tahu mereka pasti akan sangat marah, tapi menurutku lebih baik kita temui mereka dan jelaskan yang sebenarnya, biar bagaimanapun kamu harus hormat dan patuh pada orang tuamu,” ucap Nadine. “Kau sudah gila!” pekik Yocelyn. “Kau sadar kan bagaimana Papaku? Dari awal dia lah orang yang paling tidak setuju dengan karirku, di tambah dia tau soal ini bisa-bisa dia memintaku untuk meninggalkan dunia hiburan ini. Dan aku tidak mau itu terjadi NADINE!” cecar Yocelyn mengacak rambutnya kesal. “Kalau kamu tidak menemui mereka, maka mereka yang akan datang kemari dan melakukan semua yang kau takuti tadi,” ujar Nadine. “Lalu apa yang harus kukatakan saat bertemu mereka?” tanya Yocelyn. “Kita pikirkan nanti, sekarang lebih baik kau hubungi orang tuamu bahwa kau akan datang besok, karena sekarang sudah larut malam dan tidak mungkin kita bahas ini malam-malam,” perintah Nadine. Yocelyn pun mengikuti saran Nadine, dia menghubungi mamanya dan memberitahu seperti yang dikatakan Nadine sebelumnya. Mereka pun bergegas untuk istirahat di kamar. Sinar matahari telah membuat Yocelyn terusik saat Nadine masuk ke kamar nya dan membuka jendela di pagi yang cerah ini. Merasa kasurnya masih terlalu nyaman untuk di tinggalkan maka Yocelyn menarik selimut untuk menutup wajahnya dan kembali memeluk guling. Namun itu semua tak berlangsung lama karena Nadine keburu menarik kembali selimut halus itu. “Kamu lupa hari ini ada janji dengan siapa?” ucap Nadine. “Dine, mengapa kamu merusak moodku dengan mengingatkan aku tentang perjanjian hari ini,” lirihnya lesu. “Moodmu akan lebih rusak bila kamu membatalkannya, atau jangan-jangan kamu sudah siap jika semua impianmu tamat sampai di sini?” ujar Nadine. Yocelyn memajukan mulutnya seperti anak kecil yang tak dapat permen dan langsung berdiri setelah mendengar kata-kata Nadine barusan. “Cepat mandi dan bersiap sebelum wartawan bertambah banyak di luar sana,” ucap Nadine. Yocelyn dengan sigap berlari ke arah jendela dan mengumpat. “Kenapa mereka bekerja begitu keras sih? Apa mereka tidak bisa makan jika tak bisa bertemu denganku?” “Menurutmu bagaimana?” decak Nadine. Yocelyn menatap Nadine sambil mengangkat bahunya. Nadine kembali mengingatkan Yocelyn akan janjinya pada orang tuanya dan harus segera menemui mereka. “Aku akan menghubungi Pak Jo ketika kamu mandi, jadi setelah kamu selesai mandi dan sarapan kita bisa segera turun ke lobby. Gerak kita harus cepat ketika Pak Jo tiba di lobby kita harus segera masuk mobil dan tancap gas,” jelas Nadine. “Baik, kau juga harus makan Dine biar tetap kuat mendampingiku,” kekeh Yocelyn sambil masuk ke kamar mandi. Nadine segera menghubungi Pak Jo yang tak lain adalah asisten pribadi mereka. Nadine menyusun strategi untuk bisa keluar dari apartemen tanpa harus tertangkap oleh para wartawan untuk di mintai keterangan. Dia meminta Pak Jo untuk sesegera mungkin parkir di lobby dan stand by dengan membuka pintu mobil bangku penumpang ketika Nadine dan Yocelyn tiba di lobby. Setelah Nadine bertelepon dengan Pak Jo, gadis itu kembali mengurusi urusan Yocelyn. Dia merapikan tempat tidur Yocelyn, menyiapkan baju yang akan dikenakannya, perlengkapan-perlengkapan untuk di bawa serta sepatu yang akan di kenakan artis ternama itu. Yocelyn memang sangat berutuntung memiliki manager seperti Nadine, dia begitu sabar menghadapi segala sikap Yocelyn. Dia pun sangat gemati (melakukan dengan senang hati) melayani artis kenamaan tersebut. Dialah yang tahu segalanya tentang Yocelyn. Soal kejadian di pesta malam itu adalah murni kesalahan Yocelyn, karena sebelumnya Nadine sudah berulang kali mengingatkan Yocelyn tapi gadis itu terlalu berambisi untuk menggapai cita-citanya, maka terjadilah kejadian itu. Yocelyn sempat takut jika Nadine marah dan mengundurkan diri, namun Nadine tetap bersama nya hingga saat ini. Nadine begitu setia pada Yocelyn walaupun dia teramat kesal pada Yocelyn tapi dia juga tak mungkin meninggalkan Yocelyn sendiri dalam situasi ini. “Dine, kamu enggak mau makan dulu sini?” ajak Yocelyn. “Aku sudah makan sebelum aku bangunin kamu tadi,” jawabnya sambil merapikan tas Yocelyn. Yocelyn menghembuskan napasnya panjang. “Memangnya kamu yakin papaku akan menerima semua yang aku katakan? Kalau dia tak percaya bagaimana Dine? Aku takut!” tanya Yocelyn. “Berapa kali aku harus bilang, kamu harus tenang dalam menghadapi papamu. Kalaupun orang tua mu memaksa untuk kau mengahiri semua nya ya mau bagaimana lagi? Ini semua sudah takdirmu dan anggap saja ini adalah hasil dari perbuatanmu,” ucap Nadine sambil memberi tas Yocelyn. Ketika Yocelyn selesai makan tiba-tiba ponselnya berdering, panggilan itu dari Kalila, mamanya. “Iya Ma, ada apa?” tanya Yocelyn. “Kamu mau datang jam berapa? Papamu sudah menunggu dan meminta Mama menanyakannya padamu,” ucap Kalila. “Iya ini lagi nunggu Pak Jo datang, Celyn juga baru selesai sarapan, Celyn tak mungkin ingkar janji Mama.” Yocelyn menatap layar ponselnya dengan kesal. “Baiklah, kamu hati-hati ya,” ujar Kalila. Selesai Yocelyn berbicara di telepon dengan mamanya, kali ini ponsel Nadine yang berdering, telepon dari Pak Jo, yang memberi tahu bahwa dia sudah berada di lobby. Nadine pun mengajak Yocelyn untuk segera turun ke lobby dan berangkat. Dari kamar Yocelyn menuju lift mereka masih merasa tenang karena di sana tak ada wartawan yang bisa masuk. Tapi apa yang akan tejadi di lobby nanti, akankah ada seorang wartawan yang menunggu mereka? Entahlah!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD