6. Aroma Parfume

1364 Words
Berbagai menu makanan malam ini sudah tertata rapi di atas meja. Nasi, aneka menu seafood, dan buah pun menjadikan meja makan itu terlihat semakin menggoda. Aroma lezat dari menu-menu seafood semakin memperlengkap suasana. Selesai Sarah menata piring, sendok, garpu dan gelas untuk semua orang, dia berjalan menuju ruang tamu. Dia memanggil suaminya—Abimanyu, Zidan serta Gisya dan ibunya. “Jeng maaf ya lama, beginilah kalau lagi enggak ada pelayan di rumah, suka repot,” ucap Sarah pada sahabatnya itu. “Aduh Jeng, aku yang minta maaf sudah merepotkan,” balas sahabatnya itu. “Sudah jangan terlalu dipikirkan, kan aku yang mengundang kalian untuk makan malam di sini. Ayo mari kita makan, nanti keburu dingin enggak enak,” ajak Sarah pada tamunya. “Pa, Zidan, ayo kita makan sama-sama. Semuanya sudah Mama siapkan,” ajak Sarah juga pada suami dan anaknya. Harum aroma seafood membuat perut Abimanyu semakin berguncang, mungkin itu juga yang di rasakan oleh yang lain. Mata Abimanyu pun mulai menjelajah ke meja makan melihat semua hidangan yang telah tersaji. “Wah, makan malam kali ini sepertinya special Ma,” ujar Abimanyu. “Ah Papa bisa aja,” balas Sarah sambil menepuk pundak suaminya. Zidan yang menyaksikan perilaku orang tuanya hanya tersenyum dan mulai menarik bangkunya. Sarah dan Abimanyu pun meminta Gisya dan ibunya untuk segera duduk dan menikmati hidangan yang ada. Gisya duduk tepat berhadapan dengan Zidan. “Gisya, kamu suka kan sama seafood? Enggak ada masalah kan kalau makan ini?” tanya Sarah sekali lagi untuk memastikan bahwa pilihannya tidak salah. “Iya Tante, Gisya enggak ada masalah kok sama makanan yang ada, Gisya jadi merasa kehadiran Gisya dan mama jadi merepotkan Tante,” ucapnya sopan. Abimanyu dan Zidan hanya tersenyum, beda dengan Sarah yang selalu menyambut obrolan Gisya dengan antusias. “Ah kamu ini masih saja bilang merepotkan, kalau tante merasa direpotkan tidak mungkin Tante mengundang kamu dan mamamu untuk makan malam bersama. Sayang sekali ya papamu tidak bisa ikut,” ujar Sarah. “Iya Jeng, ya begitulah suami saya. Jadwalnya susah sekali di tebak, lebih banyak urgentnya, nanti kapan-kapan jeng dan keluarga ya yang bertamu di rumah kami,” ajak Ibunda Gisya. “Tenang saja jeng, kita pasti akan sering makan malam bersama,” kata Sarah sambil melirik ke arah Zidan. Abimanyu yang menangkap ekspresi Zidan akhirnya menghentikan obrolan istrinya dengan sahabatnya itu. “Sudah ... sudah ... kapan makannya ini kalau terus ngobrol?” imbuh Abimanyu mengingatkan. “Iya maaf Pa, Mama terlalu bersemangat, mari kita makan,” ucap Sarah sambil tersenyum. Mereka pun mulai mengambil hidangan ke piring mereka masing-masing dan mulai menikmati makanan mereka. Beberapa menit di awal mereka fokus dengan makanan masing-masing hingga akhirnya Sarah membuka kembali obrolan di tengah-tengah makan malam. Entah mengapa hanya Sarah yang terlihat sangat ekspresif. Dia sangat bersemangat menceritakan apapun tentang putranya. Abimanyu yang hanya mengiyakan dan sesekali menggelengkan kepalanya seolah sudah paham sekali ke arah mana makan malam ini berlabuh. Zidan yang kelihatannya tak tertarik sama sekali dengan promosi ala ibunya ini seolah ingin segera mengabiskan makanannya dan pergi dari meja makan itu. Tak cukup sampai disitu, Sarah masih saja terus berusaha supaya perjodohan ini berhasil. Dia pun mulai mempengaruhi putranya supaya menerima rencananya ini. “Zidan, mama minta setelah makan malam ini kamu akan tetap berkomunikasi dengan Gisya,” pintanya. Zidan masih tak bersuara, dia memilih untuk meneguk segelas air putih tanpa berbicara. “Zidan, mengapa kamu diam saja Nak?” tanyanya. “Mah, tolong jangan rusak acara makan malam ini dengan permintaan mama yang seolah memaksa Zidan, biarlah mereka berjalan seperti air, lebih baik kita nikmati hidangan ini,” saran Abimanyu yang tahu bahwa putranya merasa tidak nyaman saat ini. “Iya Jeng, santai saja. Mereka berdua kan juga baru bertemu, biarkan mereka mengenal satu sama lain dulu,” ujar ibu Gisya merasa tak enak. Gisya tertunduk malu mendengar obrolan para orang tua itu. Sedangkan Zidan masih terus melahap makanannya seolah tak mendengar apa-apa. “Baiklah, aku hanya merasa sudah sangat cocok dengan Gisya dan berharap Zidan juga bisa seperti ini,” imbuhnya bersemangat. Kata-kata itu sudah tidak asing lagi terdengar di telingan Zidan dan Abimanyu. Itu seolah jargon andalan Sarah dalam sesi perjodohan. “Pokoknya Zidan, mama mau kamu berkenalan lebih jauh dengan Gisya,” perintahnya lagi. Zidan dan yang lainnya hanya menatap Sarah tanpa menjawab apapun. Gisya dan ibunya merasa malu dengan semua usaha yang di lakukan Sarah. Mereka pun memilih untuk diam. Suasana makan malam pun menjadi sunyi dan sedikit tegang. Abimanyu yang sadar akan suasana makan malam itupun mulai memecah kesunyian. “Gisya, ayo nambah, makanannya masih banyak loh, om hanya bertiga di rumah ini, jadi sayang kalau makanannya gak habis,” ucap Abimanyu. “Iya Om, Gisya sudah kenyang,” jawab Gisya dengan senyum manis. “Kamu juga makan yang banyak Dan, biar tetap sehat,” ucap Abimanyu. “Iya Pa, Zidan sudah kenyang.” Zidan melanjutkan makan malamnya dengan tatapan fokus ke piringnya tanpa menatap yang lain. Setelah sesi makan malam selesai mereka kembali duduk dan mengobrol di ruang tamu. Zidan yang memilih untuk ke toilet sebelum dia bergabung di ruang tamu. Kembalinya Zidan dari toilet dia sudah mendapatin Gisya dan ibunya sudah bersiap-siap. “Zidan, boleh Mama minta tolong kamu antar Gisya dan ibunya pulang?” pinta Sarah ragu. Sebelum Zidan menjawab Gisya langsung memotong. “Tidak usah Tante, Gisya sudah pesan taksi online kok, kasihan Zidan kalau harus mengantar kami. Ini sudah malam takut mengganggu waktu istirahat Zidan,” ucap Gisya. “Iya Jeng, kami sudah terlalu merepotkan kalian sekeluarga,” tambah ibu Gisya. Zidan yang mendengar hal itu sangant bersyukur. Tapi untuk tetap menjaga kenyamanan suasana, Zidan pun memastikan kalau mereka akan baik-baik saja tanpa di antar Zidan. “Tante dan Gisya yakin tidak mau saya antar? Saya tidak masalah kalau hanya mengantar,” ucap Zidan sopan. Abimanyu dan Sarah tersenyum bangga melihat sikap Zidan. Tapi akhirnya Gisya dan ibunya tetap memilih untuk pulang dengan taksi online. Sarah, Abimanyu dan Zidan pun mengantar mereka hingga taksi online yang di tumpangi Gisya berlalu. Selepas kepergian Gisya, Zidan dan Abimanyu memilih untuk kembali ke ruang tamu untuk menonton televisi sambil berbincang ringan. Sedangkan Sarah kembali kedapur untuk membersihkan semua peralatan yang di pakai tadi. Selesai Sarah merapikan semua, dia pun bergabung di ruang tamu dengan membawakan minum untuk Abimanyu dan Zidan. “Zidan, Gisya menurutmu bagaimana? Cantik kan?” tanya Sarah. “Iya Ma, cantik dan solehah,” jawab Zidan. “Kamu tidak keberatan kan kalau untuk berkenalan lebih dekat dengan Gisya?” Sarah menatap Zidan dengan tatapan berbinar bahagia. Wanita itu sangat bersemangat atas perkenalan Zidan dengan Gisya. “Ma, Zidan bilang Gisya cantik dan soleha karena memang itu kenyataannya, Zidan yakin Gisya itu anak baik, karena mama pasti mencarikan yang terbaik untuk Zidan. Tapi maaf Ma, Zidan bukan anak kecil lagi. Zidan bukan tidak mau memenuhi permintaan Mama tapi Zidan mau memulai semuanya sesuai dengan jalannya Ma, bukan paksaan,” jelas Zidan. Abimanyu yang menyaksikan itu hanya bisa mengangguk melihat putranya sudah sangat bijak dan dewasa menanggapi masalah ini. Berbeda dengan Sarah yang terlihat kecewa dengan kata-kata Zidan. Zidan yang menangkap ekpresi Sarah, merasa tak enak hati dan langsung mencoba menghibur. “Tapi Mama tenang saja, Zidan berkata seperti itu bukan berarti Zidan marah tau tidak suka dengan Gisya atau Mama, tapi menurut Zidan semua memang butuh proses Ma, mama mau kan Zidan bahagia!” ujar Zidan sambil merangkul Sarah. Sarah semakin bangga dengan perilaku Zidan. Dia sungguh terharu dengan apa yang Zidan perbuat dan memilih untuk tidak terlalu memaksakan kehendaknya. “Maafkan Mama ya sayang, Mama hanya ingin melihat kamu bahagia,” ucapnya sambil mengelus telapak tangan Zidan. “Sudahlah Ma, ini sudah malam, lebih baik kita istirahat. Besok Papa juga masih harus berangkat lebih awal,” imbuh Abimanyu. “Zidan juga besok masih banyak kerjaan Ma, karena tadi pekerjaan Zidan belum selesai begitu Mama meminta Zidan untuk pulang,” tambah Zidan. “Iya Mama juga sudah lelah, mari kita tidur,” ajak Sarah. Mereka pun memasuki kamar mereka masing-masing dan mulai tidur. Zidan merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size. Namun hidungnya mencium aroma asing yang kini menyapa indera penciumannya. Zidan mencari asal aroma tersebut, dan itu berasal dari lengan Zidan. Aroma feminim yang membuat Zidan menyerngitkan keningnya. Sepertinya aroma parfum dari wanita aneh yang dia temui di kedai seafood itu menempel di lengannya. Dan anehnya, aroma itu sangat menenangkan hingga membuat matanya terasa berat lalu terlelap dengan tenang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD