Suasana di ruang tamu apartemen Yocelyn masih sama seperti sebelumnya, sepi, sunyi, dan hanya suara-suara notifikasi dari ponsel Nadine yang masih terdengar. Yocelyn masih menatap ke luar apartemen dari jendela di pojok ruang tamunya itu.
Sedangkan Nadine menatap Yocelyn begitu dalam. Nadine berpikir apa Yocelyn sanggup untuk mengetahui masalahnya ini sudah tersebar di seluruh stasiun televisi dan media sosial. Tapi dia juga tak mungkin menutupi ini semua dari Yocelyn. Dengan berat hati Nadine pun memberanikan diri untuk memberitahu Yocelyn soal ini.
“Barusan managemen memberitahu bahwa gosipmu ini sudah tersebar di seluruh stasiun televisi dan media sosial. Terlebih lagi sampai saat ini kita masih bungkam pada wartawan. Mereka membuat spekulasi sendiri bahwa kita tidak mau membuat klarifikasi karena gosip yang beredar itu adalah benar adanya,” jelas Nadine murung.
Yocelyn tercengang dengan apa yang diucapkan Nadine baru saja. Dia membanting tubuhnya ke sofa sambil mengacak-acak rambutnya. Sejenak dia berpikir dan meminta Nadine untuk menyalakan ponselnya, Yocelyn ingin melihat apa yang terjadi di media sosial dan pesan pribadinya.
Nadine yang sudah mengetahui apa yang akan terjadi pada Yocelyn meyakinkannya sekali lagi, apa Yocelyn akan baik-baik saja ketika dia mengecek semua sosial media?
“Apa kau yakin?” tanya Nadine memastikan.
“Ya, apapun yang terjadi aku harus mengetahui semuanya kan?” cetus Yocelyn.
Maka dengan hati berdebar, Nadine mulai menyalakan ponsel Yocelyn dan mengaktifkan semua akun sosial medianya. Sesekali dia melirik ke arah Yocelyn untuk memastikan bahwa partnernya itu baik-baik saja.
“Mengapa lama sekali!” gertak Yocelyn.
Nadine tidak menjawab, karena dia tahu sifat Yocelyn yang akan berubah menjadi singa jika dia mempunyai masalah. Sambil menunggu ponsel Yocelyn kembali diaktifkan, Nadine bertanya apa Yocelyn mau melihat berita ini di televisi juga? Kebetulan jam saat itu menunjukkan waktu di mana semua stasiun televisi sedang menayangkan acara gosip.
“Yocelyn, apa kamu siap menonton acara gosip di televisi?” tanya Nadine.
Yocelyn tidak menjawab dia hanya menganggukkan kepalanya, tanda ia setuju.
Ketika televisi di nyalakan, semua acara gosip memang tengah membicarakan Yocelyn. Nadine yang menyaksikan acara tersebut hanya menarik napas panjang dan menutup mata. Bersiap untuk apapun yang akan terjadi sebentar lagi. Apa yang ada di pikiran Nadine pun terjadi.
Suara gelas yang di lempar Yocelyn ke salah satu dinding mengagetkan Nadine hingga dia membuka matanya.
“Yocelyn!” pekik Nadine.
Yocelyn bangkit dari tempat duduknya dan mulai mengamuk.
“Sial! Mengapa hanya karena kebodohannya akibat nya bisa sampai sefatal ini!” teriak Yocelyn merasa frustasi.
Nadine yang mulai takut akan keadaan Yocelyn tak bisa berkata apa-apa selain selalu mengucapkan kata sabar untuk Yocelyn. Dia tahu bahwa Yocelyn adalah orang yang mudah depresi jika dia sudah semarah ini.
“Apa kamu tidak bisa menyelesaikan ini semua dengan kepala dingin?” kata Nadine sambil menuntun Yocelyn untuk duduk kembali.
“Percayalah semua akan baik-baik saja dan dapat kita selesaikan dengan kepala dingin, bukan dengan caramu ini,” ujar Nadine.
Nadine memang selalu menenangkan Yocelyn saat dirinya tak bisa mengendalikan diri seperti ini. Padahal dia sendiri tidak tahu apa yang harus mereka lakukan saat ini.
“Bagaimana l mungkin kita bisa menyelesaikan semua ini secara baik-baik hah?” geram Yocelyn.
“Asal kau tahu Nadine aku sudah sangat frustasi dengan semua gosip ini! Rasanya ingin sekali aku menyiram semua para wartawan agar mereka semua pergi dari apartemenku ini,” gerutunya kesal.
“Aku berjanji akan mencari produser b******k itu sampai ke ujung dunia sekalipun. Aku tidak terima semua ini!” teriaknya.
Nadine hanya mengiyakan semua perkataan Yocelyn, karena kalau dia membatah sepatah katapun maka dia yang akan menjadi korban Yocelyn. Untuk membuat suasana sedikit tenang, Nadine segera pergi ke dapur membuat teh hangat untuk Yocelyn.
“Minumlah dulu supaya kau lebih rileks.” Nadine duduk di sebelah Yocelyn sambil meyodorkan segelas teh hangat untuk nya.
Mereka berdua sedikit tenang sambil menikmati teh hangat buatan Nadine. Selagi mereka masih menikmati teh tersebut, tiba-tiba Yocelyn mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
“Apa yang akan kau lakukan dengan ponselmu?” tanya Nadine.
“Aku akan mencoba menghubungi si produser gadungan itu atau tim nya. Aku harus minta pertanggung jawaban mereka. Aku mau mereka membersihkan namaku,” cerocos Yocelyn tidak sabaran.
“Percuma saja, semua itu akan sia-sia. Aku sudah menghubungi mereka berulang kali, tapi hasilnya nihil.” Nadine berdiri kemudian merebut ponsel Yocelyn dan kembali mengajaknya duduk.
Ya, Nadine benar. Dia sudah berulang kali menghubungi Sir Mairus dan timnya tapi semua usahanya nihil . Mungkin mereka sudah kembali ke luar negeri dan sedang tertawa puas melihat keterpurukan Yocelyn.
Ponsel Yocelyn dan Nadine masih terus berdering secara bergantian. Hal itu membuat keduanya semakin pusing. Sementara hari sudah semakin sore. Tapi mereka belum juga mendapatkan cara bagaimana menyelesaikan ini semua.
Belum tenang hati dan pikiran Yocelyn hingga tiba-tiba ponselnya berdering, dan ternyata dari Kalila, ibu Yocelyn. Nadine dan Yocelyn saling berpandangan sampai akhirnya Nadine menyodorkan ponsel Yocelyn dan memintanya untuk menjawab telepon ibunya itu.
Yocelyn melolot ke arah Nadine tanda ia tak setuju dengan ide bodohnya itu. Tapi Nadine dengan sigap langsung menggeser tombol hijau dan meloud speaker ponsel Yocelyn agar mereka bisa mendengarkan secara bersamaan.
“Yocelyn, Mama sudah melihat semua acara gosip di televisi dan beberapa unggahan di sosial media. Apa itu benar?” cerca Kalila.
“Ma! Tolong jangan membuatku tambah gila!” sentak Yocelyn diiringi pelototan Nadine.
“Mama tahu kan bahwa karirku saat ini sedang bagus, jadi wajar saja ada gosip-gosip murahan seperti itu!” cecar Yocelyn.
“Mama tahu setiap artis pasti mempunyai gosip masing-masing. Tapi yang Mama tidak habis pikir mengapa gosip yang menimpamu ini benar-benar memalukan! Apa jangan-jangan semua itu benar?” tuduh Kalila.
“Ma! Cukup!” teriak Yocelyn. “Jika Mama menghubungiku hanya untuk membuatku semakin frustasi lebih baik ibu tidak usah menghubungiku!” sentak Yocelyn.
“Tunggu dulu Yo, Mama hanya penasaran mengapa bisa-bisanya kamu pergi ke pesta malam dengan seorang yang belum pernah ibu tahu sebelumnya, dan kamu pergi ke sebuah salah satu club malam yang terkenal itu. Kamu terlihat seperti perempuan tidak baik, Nak. Jika papamu tahu, dia akan marah besar,” kata Kalila memberitahu anaknya.
Nadine yang mendengar pembicaraan antara ibu dan anak itu hanya tertunduk lesu. Dia tahu bagaimana hubungan Yocelyn dan keluarganya. Dari awal orang tua Yocelyn memang tidak setuju dengan pilihan anaknya ini. Dan untuk mencairkan suasana, Nadine segera merebut ponsel Yocelyn dan berkata dengan sopan kepada Kalila bahwa mereka akan menyelesaikannya segera.
Kalila pun percaya pada ucapan Nadine dan mematikan sambungan teleponnya. Yocelyn semakin frustasi setelah ia menerima telepon dari ibunya. Dan setelah itu ponselnya kembali berdering, ternyata wartawan dari salah stasiun televisi, segera dia menggeser tombol untuk menjawab teleponnya dan berteriak.
“PERGI KALIAN SEMUA DARI DEPAN APARTEMENKU DAN BERHENTI MENGGANGGUKU DENGAN TELEPON KALIAN ATAU AKU AKAN MENGHUBUNGI POLISI UNTUK MEGUSIR KALIAN SEMUA! PERGI!!!!!!!” pekik Yocelyn kesal.
Nadine sudah pasrah dengan perbuatan Yocelyn itu. Dia sudah tidak bisa mencegah kemarahan Yocelyn. Yang bisa dia lakukan hanya berbicara pada para wartawan itu secara baik-baik agar mereka semua bisa tidak mengganggunya untuk saat ini.
Nadine juga berjanji akan menghubungi para wartawan untuk mengklarifikasi semuanya dengan syarat saat ini mereka harus pergi dulu dari apartemen Yocelyn. Karena hari semakin sore dan Yocelyn perlu istirahat. Nadine memberitahu para wartawan tersebut bahwa keadaan Yocelyn saat ini tidak memungkinkan untuk mengadakan konferensi pers.
Yocelyn sudah sangat stress mendengar semua gosip dari stasiun TV dan membaca beritanya di sosial media. Maka dari itu Nadine meminta pengertian dari para wartawan untuk memberikan waktu kepada Yocelyn bisa beristirahat. Dan, akan segera menghubungi mereka saat keadaan Yocelyn sudah membaik.
Dengan penjelasan Nadine tersebut akhirnya para wartawan itu pun pergi satu persatu. Nadine menarik napas lega melihat keadaan di luar apartemen Yocelyn sudah kembali tenang. Yocelyn yang masih sangat frustasi masih duduk tertunduk di atas lantai. Melihat keadaan Yocelyn seperti itu Nadine meminta Yocelyn untuk mandi, makan dan pergi tidur. Yocelyn pun menuruti semua perintah managernya itu. Dia berjalan lesu menuju kamarnya.
"Dasar manusia, mencari nafkah dari masalah orang lain," gerutunya bingung, namun juga memahami bahwa itu adalah pekerjaan mereka.