Di ruangan berukuran 2x3 meter, tepatnya di sebuah ruangan salah satu Universitas Sansekerta di Jakarta, duduklah seorang dosen tampan bernama Zidan tengah sibuk dengan tumpukan-tumpukan kertas di atas mejanya. Rupanya Zidan tengah sibuk mengecek hasil remedial para mahasiswanya. Bertahun-tahun dia menjadi dosen di universitas ini, baru kali ini dia disibukkan oleh kertas-kertas remedial.
Ya tak dapat di pungkiri jurusan Management Bisnis memang memerlukan konsentrasi serta mood yang bagus. Karena tanpa itu semua, kita tidak akan mendapatkan hasil yang sempurna. Semakin dia membuka lembaran-lembaran kertas ujian satu persatu semakin dia terkejut dengan jawaban-jawaban para mahasiswa nya itu.
Zidan pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil terus mengecek lembar demi lembar. Sesekali dia menyeruput teh nya agar tenggorokkannya tetap basah.
"Belum pulang Pak Zidan?" sapa Pak Harun. Seorang tukang bersih-bersih di Universitas itu.
"Eh Pak Harun, iya Pak pekerjaan saya masih banyak, jadi masih harus saya selesaikan dahulu," jawabnya.
"Oh begitu Pak. Baiklah silahkan di lanjut Pak, saya juga izin melanjutkan pekerjaan saya ya Pak," pamit Pak Harun.
"Iya Pak silahkan," kata Zidan mempersilahkan.
Selepas kepergian Pak Harun, Zidan kembali bergelut dengan jawaban-jawaban itu. Matahari sudah mulai turun perlahan meninggalkan langit hari itu. Sampai pada akhirnya dering ponsel Zidan membuatnya meninggalkan kertas-kertas itu sejenak. Ternyata itu panggilan dari Sarah, ibunya Zidan.
"Halo Ma?" ucap Zidan ketika menjawab panggilan itu.
"Zidan, kamu di mana? Sudah jam berapa ini?" tanya Sarah dari seberang sana.
'Iya Ma, Zidan masih di kampus, masih mengecek ujian para mahasiswa Ma," jelasnya.
"Aduh kamu itu jangan terlalu keras bekerja, nanti kamu lupa akan masa depanmu. Cepat pulang ya, lanjutkan besok lagi," perintah ibunya.
"Memangnya ada pa Ma? Tumben Mama memintaku untuk segera pulang?" tanya Zidan penasaran, lelaki itu mengubah posisi duduknya.
"Iya Mama mau memperkenalkan anak sahabat mama pada kamu, sebentar lagi mereka datang dan kita akan makan malam bersama. Makanya kamu cepat pulang ya!" paksa Sarah.
Entahlah ini sudah keberapa kalinya Sarah memaksa Zidan untuk berkenalan dengan anak dari teman-temannya, kerabatnya atau siapapun itu. Padahal akhirnya tak satupun dari wanita-wanita itu yang cocok di hati Zidan. Tapi Zidan adalah anak yang sangat menghormati ibunya makan dia selalu saja menuruti perintah ibunya walau dengan berat hati.
"Baiklah Ma, Zidan pulang sekarang," ucapnya dengan berat hati.
Lantunan musik dari mobil Zidan menemani perjalanannya dari kampus ke rumah. Sepanjang perjalanan Zidan terus membayangkan wanita yang bagaimana lagi yang akan di jodohkan oleh ibunya kali ini. Sudah ada lebih dari tiga wanita yang di kenalkan oleh ibunya tapi tetap di antara mereka tak ada yang bisa menggetarkan hati Zidan.
Ada yang tomboy yang mempunyai hobi balap liar, ada yang hanya memanfaatkan Zidan untuk teman ke pesta, ada yang hanya ingin di antar jemput oleh Zidan, sampai yang terakhir yang terparah adalah ada yang hanya ingin menginginkan harta Zidan. Huft ... semua itu hampir membuat Zidan gila.
Lalu, bagaiamana dengan wanita yang akan di kenalkan ibunya hari ini? Apakah dia lebih baik atau malah lebih parah dari para wanita sebelumnya.
Tak terasa Zidan sampai di depan rumahnya dan menepikan mobilnya. Sebelum dia masuk ke dalam rumah dia sempat berdiri sebentar untuk membereskan penampilannya. Biar bagaimanapun Zidan harus menjaga nama baik keluarganya di depan tamu. Terlebih tamu itu adalaha tamu orang tuanya.
Tepat dari depan pintu Zidan mendengar suara tawa ibu nya dan dua orang lainnya. Dengan langkah sedikit berat Zidan masuk ke dalam rumah. Dia mengucap salam lengkap dengan senyum manisnya.
"Assalamualaikum Ma," sapa Zidan ketika memasuki rumah.
"Walaikumsalam." Mereka bertiga menjawab salam Zidan bersamaan sambil menengok ke arah Zidan yang mulai mendekat.
Di lihatnya satu persatu orang yang ada diruang tamunya malam itu. Ada ibunya yang selalu terlihat cantik, ada seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan ibunya, dan satu lagi ada seorang wanita cantik berbusana muslim panjang lengkap dengan jilbab syar'i nya.
Zidan terkejut dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Apa yang ada di pikiran ibunya. Mengapa dia memperkenalkan wanita soleha seperti gadis itu. Apakah Zidan sudah lebih baik dari dia? Ah sudahlah mengapa dia terlalu memikirkan ini semua. Toh ibunya hanya ingin memperkenalkan bukan langsung memintanya untuk segera menikah.
Zidan segera mengatur nafasnya agar tak terlihat betapa terkejut dan groginya dia. Dia pun mulai berjalan mendekati ibu dan dua orang lainnya. Sarah yang sedari tadi sudah tersenyum merekah mulai berdiri untuk menyambut putra nya itu. Sedangkan wanita yang tak lain adalah teman ibunya itu juga tersenyum sangat lebar seperti kagum dengan penampilan Zidan.
Sementara gadis berjilbab Syar'i itu hanya menunduk tersipu tak berani menatap mata Zidan. Sambil tersenyum bangga Sarah merangkul Zidan dan memperkenalkan Zidan pada temannya dan putrinya.
"Ini Zidan, putra saya yang sejak tadi saya ceritakan jeng," ucap Sarah bangga.
"Wah, tampan sekali ya, pantas saja jeng Sarah selalu membangga-banggakan putranya. Ternyata memang tampan dan nyaris sempurna ya jeng," balas temannya sambil tertawa.
"Iya dong jeng, saya tidak mungkin bohong kalau soal memuji anak saya, dia adalah anak kebanggaan saya. Sudah tampan, pintar baik pula," puji Sarah sambil menepuk bahu Zidan.
"Iya jeng, Zidan ini nyaris sempurna untuk lelaki seumurannya. Apalagi kalau dia bisa menjadi imam anak saya ya jeng," ucap teman ibunya sambil melirik putrinya itu.
"Oh iya kenalkan ini Gisya, putinya teman Mama," imbuh Sarah pada Zidan.
Zidan pun mengatupkan kedua tangannya di depan d**a tanda memberi salam pada Gisya. Gadis berjilbab Syar'i itu pun masih saja diam tak berkutik, dia hanya sesekali melontarkan senyumnya. Namun entah mengapa Zidan menanggapinya biasa saja.
Tak ada getaran apapun dalam hatinya. Dia justru takut jika Gisya itu terlalu sempurna. Terlebih lagi setelah Sarah dan temannya berbicara seperti tadi. Zidan sudah semakin paham ke arah mana pertemuan ini akan berlanjut. Semua rencana ibunya seolah sudah terekam di otak Zidan.
Sebenarnya dalam hati, Zidan ingin sekali menolak semua rencana ibunya tapi dia tak kuasa jika dia harus menyakiti ibunya. Dia pun menurutinya untuk sekedar berkenalan. Untuk hasil selanjutnya Zidan meminta ibunya untuk tidak memaksakan kehendaknya karena kehidupan Zidan di masa depan tidak bisa di tentukan oleh siapapun. Karena hanya Zidan lah yang berhak memutuska dengan siapa dia hidup di masa depan.
"Zidan, kamu kok diam saja Nak," tanya ibunya.
"Zidan harus berbicara apa Ma, Mama sudah mewakili semuanya kan," ucapnya masih dengan senyum.
"Oh iya ya, Mama terlalu semangat makanya mama langsung saja membanggakan kamu di depan tamu kita ini," imbuh Sarah sambil terkekeh.
"Dia cantik kan?" bisik Sarah di telinga Zidan.
Zidan tak menjawab pertanyaan ibunya, dia hanya tersenyum. Melihat anaknya tak menjawab pertanyaannya Sarah pun menyenggol siku Zidan tanda untuk meminta Zidan menjawab.
"Iya Ma," lirih Zidan sangat pelan.
Gisya menangkap apa yang sedang Zidan dan Sarah lakukan dan dia kembali tersenyum dan wajahnya mulai memerah. Sedangkan teman Sarah hanya tersenyum memandang mereka.
Sebetulnya Zidan sudah sangat lelah hari ini, kesibukannya dengan jawaban-jawaban mahasiswanya tadi siang membuatnya ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur empuknya itu. Tapi bagaimana mungkin dia bisa lari dari keadaan saat ini. Zidan menyesal mengapa tadi ia tidak menolak saja permintaan ibunya saat dia menelpon.
Demi menghormati ibu dan tamunya itu Zidan pun ikut mengobrol sambil duduk di ruang tamu. Sepanjang obrolan Zidan hanya diam dan sesekali meresponnya dengan senyum. Gisya kelihatan semakin grogi saat Zidan ikut mengobrol. Wajahnya terlihat semakin memerah saat Sarah dan ibunya membahas soal dia dan Zidan.
Baik Zidan ataupun Gisya hanya menjawab sepatah dua patah kata jika di banding keramaian orang tua mereka saat berbicara. Gelak tawa mereka memecahkan suasana malam yang sudah semakin larut. Dan Zidan merasa tubuhnya semakin lelah.