Terangnya cahaya lampu serta suara tawa masih menghiasi suasana ruang tamu itu, lengkap dengan suguhan yang di sediakan Sarah membuat Zidan berpikir bahwa perbincangan ini akan menjadi panjang. Bahkan Zidan tersadar bahwa tadi Sarah sempat bilang bahwa mereka akan makan malam bersama.
Saat Zidan hendak mengambil minum tiba-tiba ibunya meminta Zidan pergi keluar untuk membeli makanan, karena kebetulan sedang tidak ada pelayan di rumahnya.
“Zidan, Mama lupa tapi meminta kamu untuk membeli makanan sebelum kamu sampai rumah. Sekarang apa kamu bisa bantu mama untuk membelikannya di luar?” tanya Sarah.
Zidan berpikir ini adalah kesempatan bagus untuk sedikit menghindar dari situasi membosankan ini tanpa menyakiti hati mamanya. Zidan pun mengiyakan perintah mamanya dengan cepat. Kapan lagi dia bisa sedikit lega tanpa harus terperangkap dalam pertemuan yang telah diatur oleh ibunya?
“Pasti bisa Ma, Mama mau Zidan beli apa untuk makan malam kita?” tanya Zidan semangat.
“Kita makan seafood saja ya untuk makan malam?” tanya Sarah meyakinkan.
Zidan mengangguk menyetujui. "Lalu tamunya Mama tidak keberatan makan seafood? Siapa tahu ada yang alergi."
Sarah menatap temannya dan juga Gisya. "Jeng, kalian enggak ada yang alergi seafood kan?"
“Iya tidak kok Jeng, kita malah merasa tidak enak karena sudah merepotkan,” ucap Ibu Gisya di iringi anggukan Gisya.
“Tenang saja Jeng tidak repot kok, kalau tidak suka seafood biar kita ganti saja menunya,” tawar Sarah.
Setelah memastikan bahwa semua setuju untuk makan seafood maka Sarah lantas memerintahkan Zidan untuk segera membelinya. Namun karena sedari pulang tadi Zidan belum sempat membersihkan diri, makan dia meminta izin pada mamanya untuk bersih-bersih terlebih dahulu sebelum ia keluar membeli seafood.
“Ma, Zidan izin naik ke atas untuk mandi dulu ya sebelum membeli makanan,” imbuh Zidan.
“Oh ya Sayang silahkan, tapi jangan terlalu lama ya,” ujar ibunya.
“Iya Ma, pasti. Tante, Gisya, saya permisi ke kamar dulu ya untuk membersihkan diri,” pamit Zidan kepada Gisya dan ibunya.
Mereka mengiyakan dan kembali tersenyum. Sarah tersenyum sangat bangga melihat anak kesayangannya begitu sopan walau dia tahu sebenarnya Zidan kurang suka dengan caranya ini. Tapi putranya selalu saja tak ingin membuatnya kecewa dengan mengikuti semua kemauannya. Dalam hati Sarah berjanji jika Gisya tidak bisa menjadi istri Zidan, maka dia akan membebaskan Zidan untuk menemukan wanita pilihannya.
Selepas kepergian Zidan ke kamarnya, Sarah kembali berbicara pada teman dan putrinya itu. Dia memaksa agar mereka berdua makan malam bersama anak dan suaminya.
Setelah selesai bersih-bersih Zidan pun akan pergi keluar sesuai permintaan ibunya. Ketika dia hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba ibunya menawarkan sesuatu pada Gisya.
“Gisya, apa kamu tidak ingin ikut bersama Zidan? Jadi kamu juga bisa beli makanan apa yang kamu suka?” tawar Sarah pada Gisya.
Hati Zidan agak terganggu dengan tawaran ibunya tersebut tapi dia tak mungkin menolaknya secara langsung dia berharap Gisya akan menolaknya. Alangkah lebih baik jika ia pergi membeli makanan sendiri.
“Tidak perlu Tante, Gisya di sini saja menemani Mama. Biarkan Zidan pergi sendiri, tidak apa-apa kan?” tanya Gisya yang mulai berani berkomunikasi dengan lelaki yang menggunakan celana panjang hitam dan memakai kaos biru muda itu.
Sebenarnya Gisya bisa menebak bahwa Zidan juga canggung dengan maksud pertemuan mereka di rumah keluarganya.
Zidan sangat senang mendengar jawaban Gisya dia pun tersenyum dan segera pergi agar Sarah tak ada waktu lagi untuk membujuk Gisya ataupun Zidan. Zidan membuka pintu mobilnya dan segera menyalakan mesinnya. Sebelum dia sempat melajukan mobilnya Sarah pun menyusulnya hingga ke depan pintu dan sedikit berteriak untuk sekedar mengingatkan Zidan agar tidak terlalu lama. Lelaki itu hanya mengganggukan kepalanya dan terus melajukan mobilnya.
Sinar lampu-lampu jalan dan suara klakson di jalan menemani laju mobil Zidan. Di dalam mobil dia terus berpikir apa yang harus dia lakukan kalau orang tuanya terlebih mamanya selalu berusaha menjodohkannya. Zidan bukan tidak mau pacaran atau menikah, tapi dia memang belum mempunyai rencana ke arah sana.
Dia masih mau berkarir dan membahagiakan orang tuanya. Tapi kelihatannya orang tuanya masih belum bahagia jika belum melihat Zidan menikah. Entah lah apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Zidan seolah pasrah dengan semua kemauan orang tuanya.
Tak lama Zidan pun sampai di salah satu kedai seafood pilihannya. Dari tempat parkiran saja sudah terlihat bahwa kedai itu cukup ramai, jangan-jangan banyak orang yang ingin memakan seafood atau sekedar membelinya untuk di bawa pulang.Kedai yang letaknya strategis ini memang tak pernah sepi. Terlebih ada sebuah apartemen tak jauh dari kedai itu.
Zidan pun memarkirkan mobilnya dan segera turun kemudian masuk ke kedai tersebut. Benar saja dugaan Zidan tadi, ketika dia masuk ke dalam semua pelayan yang berbaju merah sedang sibuk melayani konsumen. Zidan pun celingukan sambil mencari bangku yang kosong.
Di sebuah kamar berdominasi pink putih, Yocelyn masih terbaring di atas tempat tidurnya yang luas. Tiba-tiba ia terbangun karena cacing-cacing di perutnya meronta-ronta. Dia pun memanggil-manggil nama Nadine tapi tidak ada jawaban.
“Ke mana sih Nadine?” gumam Yocelyn.
Karena rasa lapar di perutnya sudah tak bisa dia tahan, maka Yocelyn memutuskan untuk bangun dari tempat tidur dan mulai berjalan menuju dapur. Berharap dia bisa menemukan sedikit makanan untuk mengganjal perutnya.
"Sialan, kenapa kosong melompong begini?" umpat Yocelyn kesal melihat kondisi kulkasnya kosong.
Nihil, tak ada makanan sedikitpun yang dapat ia temui. Hanya ada air putih dingin, dan juga saus pasta. Memangnya dia mau membuat minuman saus pasta? Entah apa kesibukan Nadine sampai tidak mengurus isi kulkasnya.
Dia pun segera menekan nomor Nadine dan memintanya untuk segera pulang dan membawakannya makanan.
“Di mana kamu sekarang? Aku lapar! Cepat kembali dan bawakan aku makanan,” perintah Yocelyn.
“Kamu sudah bangun? Maaf tadi aku terburu-buru pergi untuk menyelesaikan masalahmu ini. Dan sepertinya aku masih agak lama, Ibu Valeria datang ke perusahaan," jelas Nadine membuat Yocelyn mengembuskan napasnya.
"Lalu bagaimana? Apa aku pesan online saja?" tanya Yocelyn.
"Tidak! Jangan! Kalau kamu lapar pergilah dulu keluar untuk mencari makan, tapi hati-hati karena masih ada beberapa wartawan di sekitar apartemen,” ucap Nadine memperingatkan.
Nadine hanya mewanti-wanti jika Yocelyn menyalakan ponselnya maka para wartawan akan menghubunginya lagi. Yocelyn adalah aktris yang memiliki kepribadian buruk terhadap media, sama sekali tidak suka berbasa-basi.
Tanpa menjawab kata-kata Nadine, Yocelyn pun langsung memutuskan sambungan teleponnya. Bergegas mengganti pakaian dan keluar untuk mencari makanan. Betul apa yang di ucapkan Nadine bahwa memang masih ada beberapa wartawan di luar sana.
Yocelyn berpikir sebentar bagaimana caranya dia keluar tanpa ketahuan oleh wartawan-wartawan itu. Dia obrak-abrik semua isi lemarinya dan akhirnya dia menemukan pakaian yang tepat untuk dia keluar apartemen kali ini. Dia tersenyum puas karena dia yakin dengan penampilannya kali ini tak akan ada satu wartawan pun yang dapat mengenalinya.
Yocelyn pun mulai mengunci pintu apartemennya dan berjalan keluar gedung itu. Dia berjalan santai tanpa takut di ketahui oleh para wartawan itu. Yocelyn berjalan kaki melewati wartawan tapi tak ada satu pun dari mereka yang mengenali atau bahkan meyeretnya hanya untuk mendapatkan informasi perihal gosip yang sedang beredar. Dia sempat mendengar percakapan para wartawan yang masih saja menunggu dan berharap bahwa Yocelyn atau Nadine akan keluar dari apartemen itu.
“Masa iya Yocelyn atau managernya itu sama sekali tidak keluar dari apartemen?” ucap salah seorang wartawan.
“Apa yang mereka lakukan di dalam ya? Apa mereka tidak lapar atau ingin makan di luar?” imbuh yang lainnya.
"Mereka pasti menyuruh pihak apartmenet untuk membelikan mereka makanan," seru yang lain berpendapat.
Yocelyn tetawa puas di balik maskernya. Tapi dia tetap santai melanjutkan perjalanannya. Dia masih berjalan kaki dengan setelan training, jaket kebesaran, kacamata bulat, dan masker scuba hitam hampir menutupi separuh wajahnya. Alat yang paling ampuh untuk menyamar dalam situasi seperti ini.
Yocelyn tiba-tiba berpikir apa Nadine keluar dengan cara yang sama dengannya? Entahlah, Yocelyn tak perduli. Yang terpenting sekarang dia bisa keluar apartemen dan segera membeli makanan. Yocelyn mengamati di sepanjang jalan apartemennya. Ah, dia mengingat pernah membeli masakan seafood beberapa minggu yang lalu sepulang dari syuting.
Yocelyn berjalan menyusuri jalan, akhirnya melihat sebuah kedai seafood yang ramai. Terlihat banyak mobil dan motor yang terparkir di sana. Yocelyn sepertinya akan memilih tempat itu untuk hidangan makan malamnya. Dia pikir tempat itu tak begitu jauh dari apartemennya jadi dia tak perlu menghabiskan waktu lama untuk menghindari para wartawan.
"Ah, maaf," ujar seseorang ketika tubuhnya menabrak Yocelyn saat baru saja menutup pintu mobilnya.
Yocelyn menatap lelaki itu, aroma shampo dan parfume melekat di tubuh lelaki berbadan atletis di depannya. Yocelyn mengerjap, dengan cepat dia mengangguk tanpa menjawab permintaan maaf lelaki itu.
"Wanita aneh," gumam Zidan menatap punggung Yocelyn yang mulai menjauh.
Walau di kedai itu sedang sangat ramai, tapi tetap tak ada seorang pun yang mengenali Yocelyn, tentu saja begitu karena Yocelyn masih tetap memakai semua alat penyamarannya. Dia sangat merasa puas dan sedikit tenang. Dan yang terpenting lagi, dia bisa segera menyantap makan malamnya karena perutnya sudah semakin tak sabar minta diisi. Dia pun masuk ke dalam kedai itu dan menemukan sebuah bangku kosong. Segera dia duduk dan meminta daftar menu dari seorang pelayan.