KYK 5

1744 Words
Ghafi ditemani oleh Fahri pergi kota Semarang. Setibanya di bandara sudah ada anak buah yang Ghafi sewa untuk meneyelidiki Adeeva menunggu kedatangannya  dan membawanya ke apartemen yang disiapkan oleh Fahri selama mereka tinggal di Semarang. Ghafi pov Di apartemen langsung ku istirahatkan badanku yang terasa begitu lelah. Tapi mau bahgaimanapun mata ini tak dapat diistirahatkan karena begitu banyak pertanyaan yang melayang-layang di fikiranku seperti bagaimana reaksi Adeeva nanti melihatku. Apa dia akan mau pulang bersamaku, apa yang harus ku katakana saat bertemu dennganya nanti, bagaimana cara membujuknya . “Ahhh begitu pusing memikirkan ini semua apa benar tindakanku kali ini, masa bodo apapun nanti hasilnya akan ku pastikan dia akan pulang bersamaku” ucapku pada diriku sendiri untuk mengusir keraguanku saat nanti bertemu dengan Adeeva. Tak selang lama pintu kamarku terbuka dan Fahri langsung menghampiriku. “ Ghaf, aku harap ini bukan cuma sekedar permintaan dari mama kamu yang menginginkan menantunya kembali tapi juga keinginan dari seorang suami yang ingin memeperbaiki rumah tangganya yang sudah ia  hancurkan sendiri. Aku harap Adeeva bisa memaafkanmu dan mau memberikan kesepatan kedua padamu. Ku harap kamu paham apa yang aku katakan” Ucap Fahri yang menasehatiku. “ Aku tahu apa yang harus aku lakukan ri, aku yakin pasti bisa membawanya kembali padaku.  Aku ngga akan melepaskannya lagi dan buat mama semakin membenciku.” Ucapku dengan angkuhnya walau ada keaguan dalam hatiku. “ Aku harap Adeeva pun bisa kembali, dan ku harap kau tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini Ghaf. Untuk rencana kita, aku sudah mengabari dari pihak mereka dan membuat janji dengan mereka besok. Aku keluar dulu sebaiknya kamu istirahat. Kumpulkan mental dan tenagamu yang akan terkuras besok untuk membujuk Adeeva.” Ledek Fahri padaku yang langsung berlari keluar saat bantalku melayang ke mukanya. Fahri adalah sahabat terbaikku, berkat dia aku bisa kembali bangkit. Dia  telah banyak membantuku mengurusi perusahaan selama aku harus mengurus pengobatan mama. Dan dia bukan hanya sekedar karyawan dan sahabat bagiku tapi aku sudah menganggapnya saudaraku sendiri. Kita berteman semenjak SMA, Apapun masalah yang kuhadapi Fahri selalu tahu. Dan dia selalu membantuku  meyelesaikan berbagai masalah yang ku hadapi.  Begitu juga pernikahan siriku dengan Adeeva.  Aku menceritakan semua pada Fahri mengapa Adeeva pergi, dia pun langsung memarahi dan memukulku karena Fahri mengatakan semua salahku dan aku adalah lelaki pengecut yang dengan teganya menyakiti isterinya sendiri . Setelah kepergian Adeeva, aku masih sulit mengakui kalau semua ini kesalahanku, dalam hatiku aku pun sangat menyesal tapi tak pernah ku perlihatkan. Tapi mau bagaimanapun aku menyembunyikan perasaan menyesalku  pada semua orang Fahri akan tetap tahu dengan hanya melihat raut wajahku. Dia selalu meyakinkanku bahwa sebenarnya dalam hatiku aku mencintai dan menyayangi  Adeeva tapi semua rasa itu tertutup oleh rasa keegoisan  dan gengsiku yang terlalu besar.   Aku selalu mengacuhkan ucapan Fahri itu. Yang selalu aku tanamkan dalam hatiku hanya kebencian terhadap Adeeva. Dia penyebab kehancuran dalam hidupku. Tapi tak tahu mengapa memang tak bisa dipungkiri adanya rasa sepi setelah kepergian Adeeva.  Biasanya Adeeva yang selalu menyiapkan keperluannku dari baju, makan dan lainnya walau sering aku acuhkan dia tetap bersikap baik dan selalu melayani segala kebutuhanku seperti isteri yang solehah. Tapi setelah kepergiannya aku menyiapkannya sendiri. Memang ia sadari setelah kepergian Adeeva dia merasa ada yang kurang pada dirinya dan merasakan sakit yang begitu dalam pada hatiku. Walau selalu kemarahan yang Adeeva dapatkan dariku tapi tak pernah ia marah sedikit pun menghadapi perilakuku. Justru kata maaf yang selu ia lontarkan atas setiap amarahku karena Adeeva selalu takut jika dia melakukan kesalahan dan takut Allah akan murka padanya karena telah membuatku marah. *** Pagi ini Ghafi sudah siap dengan pakaian lengkap seperti akan bekerja. Ghafi memnang sengaja melakukan kerjasama dengan salah satu perusahaaan yang ada di Semarang. Jadi dia bisa tinggal di sini dengan jangka waktu yang lama. Karena ia tahu pasti tidak mudah untuk membujuk dan membawa Adeeva kembali. Maka dari itu Ghafi pun tak ingin membuang waktunya sia-sia di Semarang ia juga melakukan pekerjaan yang akan menguntungkannya. Ghafi dan Fahri melakukan pertemuan dengan klien di salah satu restoran yang dekat dengan sekolah Adeeva. Jadi setelah pekerjaannya selesai mereka akan langsung pergi ke sekolah tersebut. Setelah meeting selesai Ghafi langsung menuju ke sekolah dimana Adeeva mengajar. Mobil mewah yang Ghafi naiki melaju melewati lapangan sekolah jadi mereka menjadi pusat kekaguman para guru dan siswa yang melihatnya. Ghafi dan Fahri turun dari mobil dan langsung di sambut oleh  salah satu guru yang sedang lewat di dekat mereka. “ Assallamualaikum, maaf mas ada yang bisa saya bantu.” Tanya pak Dani yang baru selesai mengajar olahraga mendekat karena melihat ada orang asing datang dan langsung mengajak berjabat tangan. “ Waalaikumsalam, oh ya pak maaf kami mencari ruang kepala sekolah mau menemuinya.” Jawab Fahri “ Mari saya antarkan mas.” Ajak pak Dani, saat ia menuntun Ghafi dan Fahri menuju ruang kepala dalam hatinya ia heran melihat salah satu dari dua orang ini yang diam saja tanpa ekspresi dan terlihat sombong. Untuk mencairkan suasana pak Dani mengajak berbincang selama mereka berjalan. “ Maaf kalau boleh saya tahu mas-masnya ini dari mana.” “Oh kami dari Jakarta pak, datang kesini karena suatu pekerjaan dan tugas dari kantor. Jadi kami datang ke sekolah ini. “ “ Oh begitu, perkenalka nama saya pak Dani guru olahraga disini kalau boleh tahu nama masnya siapa ngga enak dari tadi ngobrol ngga tahu namanya.” Tanya pak Dani “ Saya Fahri pak, kalau ini Bos saya Ghafi.” Jawab Fahri lagi dan Ghafi yang disebu namanya hanya membalas dengan senyuman singkat. “ Nah ini ruangannya mas.” Kata pak Dani sambil melanjutkan mengetuk pintu ruang kepala sekolah dan memberikan salam. “Assallamualaikum pak.” “ Waalaikumsalam.” Jawaban dari dalam ruangan dan langsung membuka pintu “ Ini pak ada tamu dari Jakarta, ingin menemui bapak.” Pak Dani yang memberitahu. “ Oh ya mas Fahri ya, yang kemarin menelfon saya, mari masuk.” Tanya kepala sekolah yang bernama pak Hardi. “  Benar pak kami yang menelfon kemarin.” Jawab Fahri sambil berjalan masuk ruangan bersama Ghafi. “ Kalau begitu saya permisi dulu pak, mas.” Pamit paka Dhani. Kemudian pak Dani langsung memasuki kantor yang berada di sebelah ruang kepala sekolah. Untuk memberitahu keberadaan dua lelaki tampan yang sedang ada di ruangan kepala sekolah. Dan dia baru ingat bahwa lelaki muda yang terlihat sombong dan angkuh adalah lelaki yang pernah ia lihat di TV yaitu pengusaha muda tak lama ini  yang baru pulang ke Indonesia. “ Ah iyo aku kelingan saiki. Makane kawit mau aku kok koyo ra asing karo raine cah gagah iku ( ah ya aku ingat sekarang,, makanya dari tadi aku seperti tidak asing dengan wajah tampan itu.)” kata pak Dani bergumam sendiri mengundang  banyak pertanyaan dari para guru yan melihatnya seperti kebingungan. “ Ono opo to pak (ada apa pak)” Tanya teman gurunya. “ Iki ono iku lho pengusaha enom sing di delo neng TV wingi, saiki eneng  neng kene. Aduh sopo yo mau jenegane aku lali. ( ini ada itu lho pengusaha muda yang kita lihat di TV sekarang ada disini, aduh siapa ya tadi namanya saya lupa.)” jawab pak dani sambil mengingat ingat. “ Sopo to pak (siapa pak)”  Tanya bu haniyang penasaran “ Oh mungkin yang dimaksud pak Dani itu adalah pak Ghafi.” Jawab pak Ari yang baru datang mendengar perkataan pak Dani “ Oh iya bener pak  Ari namine  mas Ghafi, Masyaallah tiyange bu gagahe pol, tapi yo iku mungkin wong sugih yo dadi gayane sombong tenan. Tapi ono opo yo mrene? (oh iya bener pak Ari namanya mas Ghafi Masyaallah orangnya tampan sekali, tapi ya itu mungkin karena orang kaya jadi gayanya sombong bener, tapi untuk apa ya mereka kesini.)” Ujar pak Dani “ Itu pak tadi sebelum pak Ghafi datang, kepala sekolah bilang ke saya kemarin di telfon pak Fahri asisten pak Ghafi  katanya di perusahaanya pak Ghafi  setiap tahun ada dana sosial yang digunakan untuk berbagai acara bakti social terutama untuk  memajukan dunia pendidikan termasuk membangun atau memperbaiki beberapa sarana prasarana di sekolah, terus katanya sekolah ini termasuk yang mendapatkan dana dari perusahaan pak Ghafi. Kata pak Hardi sekolah kita di danai untuk pembangunan perpustakaan yang lebih besar dan lebih baik. Semua pembiayaan dari perusahaan pak Ghafi.” Penjelasan pak Ari “ Oh jadi begitu, masyaallah mulia sekali hatinya, makanya pak Dani jangan lihat orang dari luarnya saja, tuh orang hatinya baik.” Ucap bu hani Kemudian bu Hani akan pergi ke dapur sekolah dan menyuruh pak udin seorang penjaga sekolah untuk membuatkan minum untuk para tamu. Tapi setelah sampai disana ia tak menemukan penjaga tapi justru melihat Adeeva yang sedang membuat minuman. “ owalah ustadzah Adeeva kok buat minum sendiri, pak Udin kemana.” Tanya bu Hani “ Oh ustadzah Hani, itu ustadzah pak udinnya lagi tidak sehat jadi saya menyuruhnya untuk istirahat di UKS dulu sampai keadaanya lebih baik, apa Ustadzah Hani perlu sesuatu biar saya buatkan.” Tanya Adeeva “ Ngga, saya tadinya mau nyuruh pak Udin untuk membuatkan minuman untuk tamu pak Hardi yang sekarang ada di ruangannya, kalau saya minta tolong ustadzah Deeva ngga papa untuk buatkanminum dan mengantarkannya ke ruangan pak Hardi.” Bu hani yang akhirnya meminta tolong Adeeva. “ Oh iya bu ngga papa nanti Adeeva buatkan dan antarkan ke ruangan pak Hardi, ada berapa tamunya bu,” Tanya Adeeva “ Ada dua orang kalau sama pak Hardi jadi tiga makasih ya saya ke kantor dulu.’ Jelas bu Hani Adeeva pov Sebenarnya aku tadi mau menanyakan siapa tamu pak Hardi, tapi belum sempat bertanya bu Hani langsung pergi. Tak tahu mengapa dari tadi pagi sampai sekarang perasaanku benar benar tidak enak, perasaanku seperti berkata bahwa sesuatu yang buruk itu akan terjadi. Aku sebenarnya paling tidak suka bersangka buruk atas perasaanku ini tapi entah mengapa dadaku begitu sesak setiap aku menghembuskan nafas Setelah minuman siap aku berisp untuk membawanya ke ruangan pak Hardi. Saat berjalan menuju ruangan kepala sekolah jantungku semakin kencang berdetaknya. Dalam hatiku bergumam  “Ya Allah ada apa ini mengapa perasaanku semakin tidak karuan seperti ini. Bismillah semoga semuanya baik baik saja dan ini hanya perasaanku saja.” tiba di depan pintu ruangan pak Hardi Adeeva langsung mengetuk pintu, setelah mendapat sahutan dari dalam Adeeva pun masuk. Saat Adeeva berjalan mendekati meja tamu dia melihat dari belakang  punggung dua orang lelaki yang sepertinya masih muda. Adeeva siap meletakan minuman di atas meja, tapi belum sempat ia meletakan minuman diatas meja tib-tiba matanya bertatapan dengan salah satu dari mereka. Betapa terkejutnya Adeeva menatap mata lelaki itu dan tiba-tiba “ PRAAAANGGG” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD