Jakarta
Ini adalah pertama kalinya Ghafi memasuki perusahaan yang sudah lama ia tinggal karena ambisinya adalah ingin mengembangkan usahanya di berbagai negara dan banyak rekan bisnisnya menyebutnya sebagai Raja Properti. Karena bukan hanya di Indonesia tapi di beberapa negara Perusahaan properti yang yang ia bangun pasti berhasil. Walaupun selama ini Ghafi tak pernah pulang ke Indonesia tapi dia selalu memantau dan ada asisten yang menjadi orang kepercayaannya yang dapat ia andalkan sekaligus sahabat baiknya yaitu Fahri.
Ghafi yang berjalan memasuki perusahaan langsung disambut dengan hormat oleh para karyawannya. Tapi banyak karyawan wanita yang mencoba curi-curi pandang dan berbisik-bisik saat Ghafi melewati mereka. Mereka terkagum kagum akan ketampanan dan pesona yang Ghafi pancarkan walau dengan wajahnya yang terlihat garang tak membuat para wanita itu berkedip saat menatapnya. Fahri pun hanya tersenyum sinis melihat para wanita yang terlihat mencari perhatian di depan Ghafi.
Selama ini para karyawan dan karyawati di perusahaan hanya mengetahui tentang Ghafi lewat sosial media, mereka tak pernah melihatnya. Karena Ghafi memang selama beberapa tahun ini tak pernah pulang ke Indonesia karena suatu hal. Jadi ini pertama kalinya para karyawan melihatnya lagi. Dan Ghafilah yang akan memimpin perusahaan ini.
Beberapa karyawan yang sudah bekerja lama di perusahaan banyak yang khawatir dengan kembalinya Ghafi. Karena dulu Ghafi terkenal dengan sikap sombong dan tidak akan mudah untuk memberi kesempatan kedua pada karyawan yang membuat kesalahan. Semua pekerjaan harus sempurrna seperti dirinya. Berbeda dengan Fahri para karyawan merasa santai dan Fahri tak seserius Ghafi, dia masih bisa memberikan kesempatan jika terjadi kesalahan walau harus dengan alas an yang logis.
Setelah tiba di dalam ruangan Fahri langsung memberikan jadwal Ghafi untuk hari ini. “ Ini jadwal pertemuan dan meeting untuk hari ini Bos” hanya di balas anggukan oleh Ghafi dan langsung meraih Tablet dari tangan Fahri.
Belum selesai ia melihat jadwalnya, Fahri meletakan amplop cokelat di atas meja Ghafi, belum sempat Ghafi bertanya apa isi dari amplop itu, Fahri langsung menjelaskan “ Ini informasi tentang yang kamu minta tentang keberadaan nyonya Adeeva Afhsen Meysa Pradipta, mereka sudah berhasil melacak keberadaannya.” Ghafi langsung menatap Fahri dengan tatapan yang sulit diartikan
Ghafi langsung membuka amplop dan yang didalamnya menampilkan beberapa foto wanita cantik yang berjilbab. Didalam foto tersebut juga ada yang menampilkan Adeeva sedang bersama dengan seorang wanita yang terlihat seumuran dengannya. Sambil Ghafi melihat lihat Fahri pun menjelaskan tentang keberadaan Adeeva.
“ Menurut infomasi yang aku dapat dari orang-orang kita, selama ini nyonya Adeeva tinggal di Semarang, dia tinggal dengan keluarga Andi Wijaya salah satu pengusaha batik disana. Wanita yang bersama nyonya di foto tersebut adalah sahabatnya dan juga putri dari bapak Andi namanya Cayra. Dan nyonya bersama sahabatnya menjadi salah satu guru di SDIT yang ada di Semarang Nyonya Adeeva tinggal di sebuah kontrakan di desa Rejasari. Setelah ia bekerja ia memutuskan untuk tinggal sendiri.” Belum selesai Fahri menjelaskan Ghafi langsung menunjukan foto Adeeva yang sedang berbincang dengan seorang lelaki dan terlihat sangat akrab raut wajah Ghafi pun langsung berubah seperti sedang menahan amarah.
“ Oh itu adalah Bara Ferdiansyah dia salah satu dosen muda di Universitas di Semarang, dan dia adalah kakak tingkat nyonya Adeeva saat kuliah dulu. Informasi lain tentang Bara yaitu bahwa dia pernah melamar nyonya Adeeva dia menyukai nyonya, tapi nyonya Adeeva menolaknya, sedangkan untuk lebih jelasnya tentang hubungan mereka sekarang saya kurang tahu bos .” Fahri melihat ada aura kemarahan pada wajah Ghafi saat mmemandang foto tersebut dan langsung meremasnya.
Ghafi langsung berjalan ke arah jendela dan menatap ke arah luar. “ Ri, kosongkan semua jadwalku untuk minggu depan, dan terus awasi Adeeva apapun yang dia lakukan.” Fahri yang langsung mengerti dengan maksud bosnya hanya mengangguk dan mendekati sahabatnya itu sambil menepuk pundak sahabanya itu.
“ Ghaf aku harap kamu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan untukmu lagi.” Fahri langsung keluar dari ruangan untuk melanjutkan pekerjaan lainnya
Ghafi masih berdiri termenung sambil menatap ke arah luar jedela. Sebenarnya ia bingung apa harus ia membawa Adeeva kembali atau tetap dengan keegoisannya yang membiarkan Adeeva pergi. Tapi saat ini yang Ghafi fikirkan hanya mamanya yang baru satu tahun ini dinyatakan sembuh total dan dokter yang merawat mamanya menyuruh Ghafi untuk tidak membuat mamanya merasa tertekan dan turuti semua kemauannya untuk kebaikan sang mama.
Flashback on
Sebelum beberapa hari kepergian Adeeva dari rumah. Keadaan mama Ghafi semakin memburuk. Jadi dari dokter menyarankan untuk membawa mamanya melakukan pengobatan di Singapura. Tanpa memberi tahu Adeeva Ghafi langsung membawa mamanya untuk berobat. Adeeva yang akan mengunjungi Mertuanya ke rumah sakit pun terkejut mendapat kabar bahwa mamanya sudah di pindahkan ke luar negeri. Tadinya Adeeva tak curiga dengan kepergian Ghafi karena ia tahu Ghafi sering melakukan perjalanan bisnis ke berbagai negara jadi ia tak menaruh kecurigaan apapun pada suaminya. Adeeva merasa kecewa karena Ghafi memutuskan masalah ini tanpa memberi tahunya dulu.
Setelah satu minggu di Singapura untuk mengurus pengobatan mamanya , akhirnya Ghafi pulang karena terjadi masalah dengan perusahaanya. Adeeva yang mengetahui suaminya kembali langsung menanyakan kedaan sang mama. Dan mengutarakan kekecewaanya pada Ghafi karena tak membicarakan masalah pengobatan mamanya pada Adeeva. Ghafi pun langsung menegaskan pada Adeeva bahwa urusan mamanya bukan urusan Adeeva jadi dia tak perlu ikut campur. Adeeva pun kembali kecewa dan sedih atas perkataan suaminya itu.
Selama melakukan pengobatan di Singapura dan mamanya berangsur membaik orang yang pertama ditanyakan mama Ghafi adalah Adeeva sampai keadaanya dinyatakan sembuh total pun selalu Adeeva yang ditanyakan. Karena dulu sebelum Adeeva pergi dari rumah, Deeva lah yang selalu merawat mamanya di rumah sakit. Ghafi akui Adeeva sangat sabar dan telaten merawat mamanya yang sakit dan perlu dirawat secara intensif oleh dokter jiwa. Ghafi yang bingung spontan menjawab bahwa Adeeva sedang belajar di Luar Negeri jadi tak bisa menengok mamanya untuk waktu itu.
Tapi mau bagaimanapun Ghafi menutupi kebohongannya, lama kelamaan sang mama mengetahui tentang hubungan Ghafi dan Adeeva yang sedang tidak baik-baik saja. Karena ia curiga pada Ghafi yang selalu mengelak jika di tanya tentang keberadaan Adeeva atau menyuruhnya untuk menelfon Adeeva. Akhirnya mama Ghafi mendesak bi Ani asisten rumah tangga di rumah Ghafi yang ikut tinggal di Singapura bersama mereka itu untuk mengatakan yang sebenarnya tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi. Bi Ani pun yang tadinya disuruh diam oleh Ghafi terpaksa membuka mulutnya dan menceritakan semua tentang hubungan Ghafi dan Adeeva pada majikannya. Mungkin dengan menceritakan semua pada majikannya akan mengubah kedaan menjadi lebih dan rumah tangga mereka bisa diperbaiki lagi itu yang difikirkan oleh bi Ani.
Malam itu Ghafi pun yang baru pulang dari kantor karena lembur, melihat mamanya jam segini belum istirahat pun heran. Ghafi yang mau menayakan mengapa mamanya belum istirahat tiba tiba sang mama mendekatinya dan lansung menamparnya. “ PLAAAK”
Ghafi yang terkejut atas tamparan mamanya pun langsung bertanya“ mama, kenapa mama tampar Ghafi, apa salah Ghafi ma?”
“ Kamu masih tanya apa salah kamu, kamu tega bohongi mama selama ini Ghafi, apa yang sudah kamu lakukan pada Adeeva sampai dia pergi dari rumah?” Pertanyaan mamanya membuat Ghafi membulatkan matanya dan bertanya tanya pada dirinya sendiri apa mamanya sudah tahu semuanya.
“ Apa maksud mama Ghafi ngga paham” jawab Ghafi dengan kepura-puraannya
“Jangan pura-pura tidak tahu Ghafi mama sudah tahu semuanya, perlakuan kamu terhadap Adeeva yang menyebabkan Adeeva pergi dari rumah ini.”
“ Ma Ghafi tak pernah mengusir dia, tapi dia yang pergi sendiri” Ghafi masih mencari pembelaan
“ Bodoh kamu, wanita mana yang kuat di sakiti terus oleh suaminya dan tak pernah dianggap sebagai isteri. Kalau mama di posisi Adeeva pun mungkin mama akan melakukan hal yang sama, mama dan papa tak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi laki-laki pengecut dan kejam Ghaf. Ingat Ghaf kamu sudah berdosa pada Adeeva, Ghaf ” Ghafi langsung duduk sambil menunduk seperti orang yang merasa bersalah
“ Tapi mah semua ini karena Adeeva hidup kita hancur” balas Ghafi
“ Bukan kesalahan Adeeva Ghaf ini semua takdir dari Allah jika kamu melakukan semua ini sama saja kamu menyalahkan Allah Ghaf. Adeeva pun ngga ingin semua ini terjadi dia juga hancur karena harus kehilangan banyak orang yang dia sayangi Ghaf, dan kamu malah melakukan hal yang membuat ia tersakiti lagi. Dengan kamu melakukan semua ini sama saja kamu telah menyakiti banyak orang Ghaf termasuk papa dan om Adib.”
“ Mama ngga mau tahu, kita harus pulang ke Indonesia, dan mama mau menantu mama kembali. Bagaimanapun caranya kamu harus menemukan Adeeva jika tidak jangan pernah kamu anggap diri kamu anak mama lagi, karena mama tak ingin memiliki anak yang penegcut seperti kamu.” Perkataan mamanya benar-benar membuat Ghafi tak bisa berkata-kata lagi. Karena mamanya langsung masuk kekamar sebelum Ghafi menjawab permintaan sang mama.
Flashback off
“Aku tak akan pernah melepaskanmu lagi Adeeva apapun yang akan terjadi akan aku hadapi demi mama, kamu harus kembali”ucap Ghafi dalam hati
***
Sebenarnya malam ini Ghafi malas untuk pulang ke rumah. Karena jika ia pulang kerumah ia akan selalu mendapat pertanyaan yang sama dari mamanya. Tapi ia ingat besok pagi adalah jadwal sang mama cek up jadi dia terpaksa pulang kerumah.
Setibanya di rumah ia melihat dan memasui rumah ia heran melihat bibi yang berlari kearah dapur dengan tergesa-gesa. Ghafi yang takut ada sesuatu yang buruk terjadi langsung mendekati bibinya.
“ Bibi ada apa kenapa buru buru begitu.”
“ Itu den Ghafi, ibu tadi teriak teriak jadi saya langsung ke kamarnya….” Belum selesai bi Ani menjelaskan Ghafi langsung berlari kearah kamar mamanya.
“ Ma… mama kenapa ada apa? Kenapa mama nangis apa ada yang sakit.” Utanya Ghafi dengan nada yang tersengal sengal karena berlari ke kamar mamanya dengan cepat ia terlalu khawatir dengan mamanya.
“ Mama Cuma mimpi kok Ghaf, kamu ngga perlu khawatir” ucap mamanya menenagkan Ghafi yang terlihat sangat khawatir padanya.
Bi Ani yang baru datang langsung memberikan air minum pada majikannya.
“ Memangnya Mama mimpi apa kenapa tadi kata bibi mama teriak-teriak.” Tanya Ghafi
Mama Ghafi langsung menjelaskan tentang mimpinya“ Mama mimpi aneh Ghaf, mama bertemu sama papa Ghaf, papa terlihat bahagia banget Ghaf. Tapi anehnya papa kamu bersama anak kecil Ghaf dia bermain dengan gadis kecil itu. Tapi saat mama mau mendekat papa dan anak kecil tu menjauh, mama manggil manggil papa, tapi papa terus menjauh, saat papa dan anak kecil itu membalikan badan mereka mama terkejut melihat wajah anak itu Ghaf. Dia mirip banget sama kamu. Tapi mereka terus menjauh dan lama kelamaan menghilang jadi mungkin karena itu tadi mama teriak.”
“ Ma itu kan Cuma mimpi jangan terlalu difikirkan mengkin mama sedang rindu dengan papa jadi mama mimpiin papa, kita doakan saja supaya benar dalam mimpi mama papa bahadia disana.”
“ Tapi Ghaf mugkin ini pertanda, kalau kamu harus membawa kembali Adeeva. Mungkin anak yang bersama papamu itu adalah calon cucu mama.”
“ Apaan sih ma kok nyambungin ke situ mama jangan mengada-ngada deh, itu Cuma mimpi ma” Ghafi langsung mengelak dengan persepsi mamanya.
“ Tapi Ghaf kamu harus menemukan Adeeva, mama sangat merindukannya. Mama mohon Ghaf bawa Aeeva kembali.” Pinta sang mamanya
“ Ya ma Ghafi janji akan bawa Adeeva kembali, sekarang mama ngga perlu khawatir lagi ya sekarang mama lanjuti istirahatnya.”
Kemudian Ghafi keluar dia membiarkan bi ani menemani mamanya dulu hingga tenang. Dia langsung masuk ke kamar yang baru beberapa hari ia gunakan lagi setelah beberapa tahun ia tinggalkan bersama kenangannya. Dia jadi mengingat dulu di pagi dan malam hari selalu wajah Adeeva yang ia lihat saat akan berangkat da pulang kerja. Walaupun dulu hubungan Ghafi dan Adeeva kurang baik, Ghafi tetap menyuruh Adeeva tidur bersamanya. Ghafi pun mengingat kejadian dulu saat pertama kalinya memaksa Adeeva untuk melakukan hubungan layaknya suami isteri. Ghafi tahu saat itu Adeeva masih terlalu muda tapi dulu dalam fikira Ghafi mungkin dengan ia merenggut kesucian Adeeva itu adalah salah satu balas dendam yang bisa ia lakukan. Tapi tak tahu mengapa setelah merenggut kesucian Adeeva dengan paksa bukannya dia bahagia justru merasa sakit dan bersalah melihat keadaan Adeeva yang sangat hancur saat itu.
“ Mungkin jika Adeeva masih tidak pergi sekarang aku dan dia sudah memiliki buah hati yang selalu di dambakan mama” Ghafi bergumam sendiri. Tapi langsung ia mengusir pikiran anehnya itu, dia langsung memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan setelah itu mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah.