Bab 39

1056 Words
Jangkrik yang mengeluarkan suara dikala malam. Menambah suasana sepi dalam kamar. Putri tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelahnya. Desi terlihat membenamkan kepalanya sembari memeluk lututnya. Putri duduk posisi menyilang di lantai dengan sapu yang di pegangnya tegak. Kamar ini terlihat rapi sekarang. Nandini memperhatikan tiap benda yang terpajang pada dinding. Berbagai foto dan beberapa hiasan dinding yang berwarna, membuat setiap benda dalam kamar terlihat banyak cerita. Hingga bola matanya terfokus pada sebuah foto yang retak tergeletak. Nandini pun menoleh ke arah Putri seraya menyuruhnya datang kepadanya. "Putri, sini!" ucap Putri. Putri berjalan menghampirinya, "Kenapa, Kak?" tanya Putri. Nandini menunjuk ke arah foto yang tergeletak. Terlihat serpihan kecil kaca yang di dekat foto. "Kenapa ini gak dibersihin?" tanya Nandini. "Emang aku pembantumu apa?" gerutu Putri mengambil sebuah bingkai foto di lantai. "Kalau capek, gak usah Kak. Aku bisa bersihin sendiri, kok..." ujar Desi yang mendengar ucapan Putri. Seketika Putri menoleh ke arahnya. Bukan dia yang diajak bicara. Putri harus mencari alasan lain agar dirinya tidak dianggap gila. "Oh... Nggak kok. Bukan kamu, tapi Devan tuh. Bisa-bisanya dia nyuruh, dasar..." ucap Putri berusaha menghilangkan kesalahpahaman yang ada. "Sama aja kayak kakaknya," sindir Putri menatap Nandini yang ada di hadapannya. Mendengar hal itu, Nandini hanya bisa berdecak kesal. Mereka saling menatap tajam, dan saling memalingkan wajah secara bersamaan. Desi yang melihat kelakuan Putri hanya bisa menatapnya dalam heran. Putri memegang bingkai foto itu. Terlihat retak tepat di wajah wanita paruh baya yang tengah merangkul Desi kecil. Jari jemarinya mengusap foto dari serpihan kaca. Terlihat wajah Desi yang tersenyum lebar dengan giginya tinggal beberapa di atas dan bawahnya. Putri mendongakan kepalanya melihat beberapa foto lagi yang terpampang. Terlihat foto seorang pria memegang bayi yang digendongnya sembari tersenyum. Di sampingnya juga terdapat wanita paruh baya dalam foto yang ia pegang. Mereka nampak senang dengan kelahiran sang buah hati waktu itu. Membuat Putri mengingat akan sosok ibunya yang tidak terlalu dia ingat dengan jelas wajahnya. Hanya foto-foto yang terpajang dan album foto yang selalu dia buka jika ingin tidur. Putri menatap Desi yang terlihat termenung. Putri menghampirinya sembari membawa fotonya. Dia naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Desi. Desi menatap Putri yang tersenyum padanya. Bola matanya langsung terfokus ke arah bingkai foto yang dipegang Putri. "Itu..." ucap Desi menunjuk foto dengan bola matanya. Putri mengikuti kemana arah bola mata itu melihat. Dia menunjuk foto yang dipegang Putri. "Oh... ini," ujar Putri. Desi mengangguk sebagai jawaban. Dia menatap Putri dalam tanya. "Kenapa Kak Putri ambil itu?" tanya Desi. Putri menghela nafasnya panjang, "Pertama... Jangan panggil aku dengan sebutan 'Kakak'," ujar Putri. "Heleh... Gak mau merasa tua apa gimana, sih?" ledek Nandini yang berjalan mendekat. Seketika nafas Putri memburu. Dia sangat kesal dengan hantu yang ada di hadapannya. Secara spontan Putri mengambil bantal yang ada di samping, kemudian dia melempar tepat ke arah Nandini. Namun, itu tidak berhasil. Bantal itu menembus tubuh Nandini. Bola matanya berkedip seolah tidak merasa bersalah. Membuat Putri semakin geram. "M-Maaf, Kak... Eh, Putri. Aku gak bermaksud," ucap Desi yang salah paham. Sontak Putri terkejut dengan Desi yang tiba-tiba bicara. Dia sudah salah paham kepada Putri. "Eh? I-Iya gak apa-apa... Tapi, bukan kamu yang aku maksud," ucap Putri sembari senyum yang dipaksakan. "Terus, siapa?" tanya Desi tidak mengerti. Nandini menaiki tempat tidur dan duduk di samping Putri. Bola mata Putri terus mengikuti gerak-gerik Nandini sampai ia duduk di sampingnya. "Hai," ucap Nandini tanpa merasa bersalah. "Ah... Bukan apa-apa, kok. Cuma ada kata-kata seseorang yang tiba-tiba muncul di kepala. Orang itu sudah tua, tapi keliatan muda. Kurang ajar pula," ujar Putri sembari tersenyum ke arah Desi. "O-Oh...Gitu ya... Haha..." ucap Desi sembari tertawa yang dipaksakan. "Lalu, kenapa Putri memegang foto milikku?" tanya Desi mengubah topik bicara. Putri memandang foto itu sejenak. Kemudian tangannya menyodorkan foto itu kepada Desi. "Kacanya retak, sebaiknya kamu ganti segera," saran Putri sembari tersenyum. Desi menatapnya, tangannya terlihat sedikit ragu mengambil foto itu dari tangan Putri. Bola matanya langsung terfokus pada kaca yang retak tepat di wajah Ibunya. Tangannya membalikkan foto itu. Dia membuka bingkainya dan mengambil selembar foto itu. Tangan kirinya memegang foto dirinya bersama sang Ibu. Tangan kanannya menaruh bingkai yang retak perlahan di sampingnya. Bola matanya terus memperhatikan foto itu. Tangan kanannya ikut memegang foto, jari-jemarinya mengusap foto sang Ibu. Hingga dia tidak sadar telah menjatuhkan air matanya. Putri merangkulnya serta mengusap punggungnya. Dia mencoba menenangkan Desi. Melihat air matanya jatuh tepat di fotonya. Desi cepat-cepat mengusap air matanya menggunakan kain lengannya. Dia terlihat sedikit tertawa sembari mengusap air matanya. Putri yang melihat itu terus mengusap punggung Desi. Berharap dia merasa lebih baik. "Maaf... Aku jadi menangis lagi," ujar Desi sembari memandangnya. Putri membalasnya dengan senyuman. Dia menatapnya dengan hangat. Tangannya ditarik, Putri memeluk lututnya dan menatap ke atas. Dia menghela nafasnya panjang. "Sepertinya kamu punya Ibu yang baik, ya?" ujar Putri kembali menatapnya. Desi mengangguk sembari tersenyum. Dia kembali menatap foto masa kecilnya. Senyumnya mengembang kala melihat fotonya. "Hari sebelum kecelakaan terlihat biasa saja. Saat hari kecelakaan itu tiba, aku sedang mengikuti lomba olimpiade matematika," ujarnya sembari memandang sebuah piala yang berada di atas lemari kayu. Pita yang biasa menghiasi piala. Terlihat terlepas dan tidak terpasang dengan baik. Piala itu seperti telah terbentur ke permukaan keras beberapa kali. "Piala olimpiade matematikanya, yang itu?" tanya Putri melihat arah bola matanya yang terus menatap piala itu. Desi mengangguk, "Aku menang olimpiade, rasanya seneng banget. Sampai depan pintu rumah, aku berkali-kali manggil Ibu. Tetapi gak ada sahutan, terus ada tetangga yang ngasih kabar itu," ucap Desi menatap piala itu sendu. Desi menunduk menatap foto, jari ibunya mengusap perlahan wajah sang Ibu. Mengingat bagaimana dirinya bisa tersenyum dalam foto. Membuat dirinya yang sekarang tersenyum kecut saat melihatnya. "Aku mengabaikan panggilannya saat itu," ucapnya lagi mengingat kejadian itu. "Aku selalu menunggu panggilannya datang sejak saat itu. Karena Ibu dinyatakan telah tiada di rumah sakit, tapi aku..." ucapnya menggantung. Desi kembali mengusap air matanya dengan lengannya. Nafasnya gusar kala akan menjelaskan apa yang ada di ingatannya. "Aku gak mau nerima kenyataan itu. Sampai aku terus mengurung diri dalam kamar dan menunggu ponsel itu berbunyi," jelasnya. Putri mengusap pucuk kepala Desi perlahan. Berharap itu akan membuatnya lebih tenang. "Hingga ponsel itu berbunyi keesokan harinya, aku sangat senang. Sampai aku mengangkatnya dan gak ada suara apa pun. Kegembiraanku terkikis oleh kenyataan yang aku lupakan," ucapnya yang tidak sanggup membendung air mata. "Bahwa, dia sudah gak ada..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD