Bab 38

1016 Words
Dalam situasi yang sangat cepat berbalik, membuat Devan panik. Dia tidak tahu jika ponselnya tidak ditemukan. Namun, dia hampir melupakan rencananya karena suara-suara mereka yang mencoba menyudutkannya. Devan hampir memundurkan langkahnya. "Arga, tanya sama Asih dimana dia sembunyikan," ucap Devan lirih. "Dia sudah memberitahu, tapi apa aku bilang sekarang?" tanya Arga mencari waktu yang tepat. Devan melihat ke segala arah. Vira terlihat datang ke arahnya. Jari telunjuknya yang diplester mengarah kepadanya. "Jangan seenaknya nuduh orang sembarangan!" ucap Vira kesal. Bola mata Devan terfokuskan pada plester yang terlihat baru beberapa waktu lalu dipakai. Bola matanya kembali bergerak ke arah meja belajar. Sebuah kilauan kecil di bawah meja terlihat jelas. "Jarimu kenapa?" tanya Devan. Pertanyaan itu membuat Vira kembali menarik tangannya. Dia langsung memegang jarinya yang diplester. "Kena serpihan kaca, ya?" tanya Devan. Pertanyaan itu membuat Arga teringat akan suatu peristiwa. Dengan ponsel yang sudah diketahui keberadaannya. Arga membuka mulutnya untuk menyudutkan Vira. "Ah! Jadi kamu yang jawab panggilan beberapa waktu yang lalu?" tanya Arga. "A-Apa maksudmu? J-Jangan asal tuduh orang," ucap Vira terbata-bata. "Beberapa waktu yang lalu, aku menelpon nomor ini," ujar Arga menunjuk kontak yang dia maksud. Vira menatap layar ponsel yang ditunjuk Arga. Ponsel itu milik Desi, dia membaca nama kontak yang terpampang jelas. "Kenapa kamu bisa yakin kalau itu aku?" tanya Vira menantang keyakinan Arga. "Karena di panggilan beberapa waktu yang lalu. Terdapat suara seperti barang yang pecah... Jadi, apa di sini..." ucap Arga menggantung. "Ada benda yang pecah?" tanya Arga. "Itu hanya kebetulan!" ucap Yati berusaha melindungi anaknya. Suasana kembali riuh, orang-orang itu jadi tidak tahu harus memihak siapa. Mereka saling berbicara sendiri karena bingung siapa yang benar dan yang salah. "Kenapa anda berpikir jika itu adalah sebuah kebetulan?" tanya Devan mulai geram. "Tentu saja itu kebetulan. Bagaimana dengan kalian?" ucap Yati berusaha memojokkan mereka. "Kalian?" gumam Devan tidak mengerti. "Kalian sendiri tiba-tiba mengatakan jika melihat Asih di sana. Sekarang, kalian membuat orang-orang mengacak rumah saya, karena bilang jika ponselnya ada di sini. Apa itu kebetulan?" ucap Yati panjang dan lebar. Devan terdiam sesaat, dia tahu jika Yati ingin memojokkannya. Devan berusaha menunggu momen yang tepat untuk mengeluarkan kartu AS miliknya. Devan menatap ke arah Arga, dia mengangguk sebagai isyarat untuk menunggu beberapa saat lagi. Devan kembali menatap Yati yang berdiri di belakang Vira. "Kebetulan," ucap Devan. Seketika perkataannya membuat Arga terheran. Dia menatap Devan tidak percaya. Kenapa dia mengatakan hal semacam itu. "Kebetulan kan..." ucap Yati sembari tersenyum percaya diri. Devan masih terdiam, menunggu Yati selesai bicara. Dia terus tertawa dengan rasa percaya dirinya yang tinggi. Arga terus bertanya kepada Devan. Namun, pertanyaannya tidak digubris olehnya. Dia terus diam, seolah menunggu sesuatu. Orang-orang itu ikut menyerangnya dengan kata-kata yang tidak pantas karena merasa dipermainkan oleh seorang anak SMA. Devan menatap Yati dalam diam. "Kebetulan!" seru Devan. Seruan itu membuat mulut orang-orang yang tidak mengerti terdiam. Mereka saling berbisik tidak mengerti apa yang dilakukan anak muda itu. "Kebetulan Asih datang kemari," ucap Devan menatap Yati. Tatapan tidak lepas sedikit pun darinya. Devan masih menatapnya tajam. "Arga, tolong cari dimana ponsel itu berada," ucap Devan masih menatap lurus. Arga terdiam sesaat mendengarnya. Kemudian dia menoleh ke arah Asih. Dia berbicara lirih kepadanya. Tetapi, apa yang orang lihat dia sedang berbicara sendiri. Membuat mereka merinding dibuatnya. Arga memantuk ke arah yang tidak ada orang. Itulah yang orang lain lihat. Kemudian dia berjalan ke arah meja belajar. Di saat itu, secara spontan Vira langsung menghampirinya. Vira tepat berada di hadapan Arga. Arga berusaha mencari jalan dengan bergerak ke sisi kanan dan kiri. Namun, Vira selalu berada di depannya. "Kamu ngapain?" tanya Arga. "Aku? Sudah cukup geledahnya! Ini rumahku!" ujar Vira. "Aku tau ini rumahmu," ucap Arga kembali berjalan melewati Vira. Kini dia tepat berada di depan meja belajar. Arga harus jongkok untuk mencari apa yang dia cari. Bola matanya terus bergerak mencarinya. Vira kembali menghalanginya, kali ini tangannya menarik Arga untuk menjauh dari meja. Arga memundurkan kakinya mengikuti tarikan Vira, dia menoleh ke arah Vira. "Kenapa terus menghalangiku?" tanya Arga. "Lepas," ucap Arga menunjuk tangan Vira yang menempel pada pundaknya. Vira melepasnya tangannya ragu, kini semua orang menatap padanya. Dia menatap ibunya, berharap dapat menolongnya. Namun, dia masih diam. Hingga keputusan terakhir diambilnya. Vira berjalan cepat ke arah mejanya. Tangannya mengambil sebuah ponsel di sela bawah mejanya yang tidak diketahui oleh orang. Sebuah ponsel ditangannya membuat orang-orang menganga melihatnya. Arga dan Devan terkejut dia mengambilnya sendiri. Vira berjalan di dekat jendela, tangannya langsung melempar ponsel itu keluar. Sontak hal itu membuat orang-orang kebingungan. "Semuanya keluar!" teriak Vira. Mereka masih terdiam, menatap Vira dalam heran. Hingga pengusiran untuk yang ke-dua kalinya harus dilakukan oleh Vira. "Cepat keluar! Hpnya di bawah, keluar sana!" usir Vira mengarahkan tangannya ke pintu berusaha mengusir mereka. Melihat Vira yang marah, orang-orang saling berbisik dan menatapnya sinis. Mereka akhirnya keluar dengan jawaban penelpon misterius yanh terungkap. Devan dan Arga masih setia berada di dalam. Begitu juga dengan Yati yang tidak percaya akan apa yang dilakukan anaknya. Devan berbalik dan berjalan keluar dari kamar itu. Sementara Arga masih terdiam di sana. Terlihat Vira yang amat kesal. Dia terus menatap Devan hingga punggungnya menjauh tidak terlihat lagi. Setelahnya dia menatap tajam Arga dengan nafas yang memburu. "Setelah ini minta maaflah kepada Desi," ujar Arga seraya meninggalkan mereka berdua. Arga berjalan menuruni tangga. Di bawah terlihat Devan yang menoleh ke arahnya. "Sudah selesai," ujar Devan. "Ibu Asih kemana?" tanya Arga tidak melihat wanita itu dimana pun setelahnya. "Dia gak ada di sini?" tanya Devan. "Perpisahan yang singkat," ucap Devan. Devan mengambil sebuah gantungan kunci berbentuk hati dari sakunya. Dia menatap benda itu yang berada dalam genggamannya. "Sepertinya ini harus dikembalikan," ujar Devan. "Memang harus," balas Arga. Devan kembali menaruh benda itu dalam sakunya. Devan senang karena ini bisa berakhir. "Jam berapa sekarang?" gumam Devan. Ponsel miliknya masih ada dalam tas di rumah Desi. Devan jadi tidak bisa membuka ponselnya untuk melihat waktu. Arga mengarahkan bola matanya ke arah jam dinding yang terus berjalan. Dia terkejut dengan waktu yang dihabiskan terlalu lama. Arga menepuk-nepuk bahu Devan sembari menatap jam dinding. Melihat Arga yang terus menepuknya, Devan mengikuti kemana Bola mata Arga melihat. "Jam tujuh?" gumam Devan. "Gawat..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD