"Pak Wirjo," ucap Devan kemudian.
"Pak Wirjo?" tanyanya memastikan.
"I-Iya bener," ucap Putri membenarkan.
"Nanti saya yang bilang, kalian pulang saja," ucapnya.
"Tapi pak," ucap Putri mencari alasan.
"Nanti dicariin orang tua, nanti bapak yang repot," ujar satpam itu.
"Tunggu sebentar lagi ya, pak?" pinta Devan.
"Hmm... Ya sudah, saya mau keliling dulu. Kalo kalian masih di sini, nanti saya telpon wali kelas kalian," peringatnya.
"Makasih, pak!" ucap Putri antusias.
Satpam itu mengangguk dan berjalan menjauh dari mereka. Putri terlihat gembira, senyum merekah di bibirnya.
Devan terlihat menatap Putri lekat-lekat. Putri yang tersadar akan tatapan dari Devan, seketika berhenti tersenyum.
"Kenapa?" tanya Putri.
"Gak ada," ucap Devan kembali menatap lurus ke depan.
"Hmm?"
Seorang paruh baya datang sambil berlari kecil. Menggunakan pakaian santainya, tetapi wajahnya tidak terlihat demikian. Dia terlihat sangat gelisah.
"Pak Wirjo beneran datang?" tanya Putri tidak percaya.
"Sepertinya iya," jawab Devan sembari menatap pria paruh baya yang makin dekat.
"Dimana Arga?" tanyanya dengan suara berat.
"Dia di-" ucap Putri terpotong oleh Devan.
"Ada apa Pak Wirjo datang kemari?" selidik Devan.
"Dimana Arga?" tanyanya lagi mengabaikan pertanyaan Devan.
Tanpa bertanya lagi, pria paruh baya itu melangkah maju pintu toilet. Putri yang berada di samping toilet. Melangkahkan kakinya ke samping, menghadang guru Bk itu masuk.
"Arga di sini kan?" tanya guru itu.
Putri menelan ludahnya sendiri, tidak ingin menjawab satu kata pun. Tangannya mengulur hendak memegang gagang pintu. Pria paruh baya itu memegang lengan Putri, dia menurunkannya dengan kasar.
Devan terlihat kesal melihat apa yang dilakukan guru itu. Putri mengusap lengannya berusaha menghilangkan rasa sakit.
Devan mencekal gurunya sendiri. Pak Wirjo menatapnya heran, apa yang disembunyikan di balik pintu. Membuatnya menduga jika Arga berada di dalamnya.
"Maaf, tapi saya hanya melakukan apa yang harusnya dilakukan," ujar Devan.
Tidak biasanya Devan berani melakukan itu. Putri hanya bisa takjub melihat sikap keberanian yang Devan tunjukan di depan matanya.
"Jika Arga di dalam, buka saja pintunya!" perintah Pak Wirjo.
"Nanti, kami pasti pulang. Jadi silahkan bapak pulang dulu," pinta Putri dengan tatapan serius.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu?" tanya Putri kemudian.
Guru BK yang terkenal garang itu seketika raut wajahnya berubah menjadi lesu. Dia terlihat memikirkan sesuatu dengan tatapan lurus ke depan.
"Apa hubungannya bapak dengan gadis itu?" selidik Putri.
Pria paruh baya itu diam membisu. Dia menatap orang yang berhasil membungkamnya. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tatapannya menjadi kosong, seperti tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
"Pak Wirjo?" panggil Putri.
Panggilannya membuyarkan lamunan. Kisah kelam terputar di otaknya sesaat. Keringat dingin menetes ke lantai. Jantungnya berdegup kencang melihat sekilas peristiwa itu.
Devan langsung melepas tangannya yang mencekal lengan Pak Wirjo. Lengannya perlahan menjadi dingin dan sedikit basah. Devan sedikit terkejut, jika seseorang dengan sadar mengubah suhunya menjadi dingin dan basah. Maka seperti dirinya yang sedang ketakutan ketika melihat hantu dan serangga.
Dalam otaknya menimbulkan satu pertanyaan. Apa yang ditakuti oleh Pak Wirjo?
"Saya mau lihat keadaan Arga," ucapnya menghilangkan rasa gelisah.
"Tunggu sebentar lagi," cegah Putri.
Suara gagang pintu yang diputar terdengar. Pintu membuka perlahan. Mereka yang ada di luar terlihat memperhatikan pintu yang mulai terbuka.
tangan seseorang keluar dari celah pintu dan menarik pintu dari dalam. Semuanya terdiam, tidak ada yang bicara sepatah kata pun.
Arga muncul hanya sebagian tubuhnya, pintunya hanya terbuka sedikit dan tidak terlalu lebar. Dengan tatapan mata yang tertuju padanya. Arga menghentikan pintunya yang sudah setengah terbuka.
"Kalian masih di sini?" tanya Arga melihat kedua temannya berada di depan pintu.
"Kak Nandini dimana?" tanya Putri.
Arga menatap Putri sebentar, bola matanya langsung tertuju kepada pria paruh baya di depannya. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Pak Wirjo?" ucapnya memastikan siapa yang ada di depannya.
Entah apa yang terjadi antara keduanya. Devan dan Putri hanya bisa saling menatap dengan tanda tanya yang sama.
Arga membuka pintunya lebar-lebar. Dia menyingkir dari pandangan mereka dengan berdiri di dekat pintu yang telah terbuka.
Hingga sosok gadis penunggu toilet itu, menampakan diri. Pria paruh baya itu terkejut. Dia membelalakan matanya melihat sesuatu yang tidak dipercayainya.
Gadis itu kembali muncul di hadapannya. Dengan pakaian yang sama ketika dia meninggal di tempat ini.
"Gak mungkin, gak mungkin," ucapnya sembari memundurkan langkah hingga jatuh terduduk di lantai.
Matanya memerah karena tidak sanggup membendung mata airnya, hingga mengalir di pipinya. Seseorang yang sudah tiada muncul kembali tepat di depan matanya.
Devan dan Putri dibuat terkejut oleh gurunya yang terkenal garang. Dia terlihat lemah di hadapan gadis itu.
"Nggak mungkin ada," ucapnya dengan suara kecil dan lemah.
Gadis itu berdiri tanpa tersenyum. Menatap lurus ke arah mantan gurunya.
Devan tidak mengerti apa yang terjadi di antara mereka. Langkah pelan berjalan keluar toilet. Dengan pakaian putih sampai mata kaki. Devan baru saja menoleh ke arah toilet.
"Woah!" kagetnya jatuh terduduk melihat sosok yang memakai pakain putih lusuh.
"Hah... Kupikir siapa," Devan menghela nafas lega melihat seseorang yang dikenalnya.
"Apa aku mengejutkanmu?" tanya Nandini tanpa rasa bersalah.
"Kak Nandini!" panggil antusias Putri melihat Nandini di depan matanya.
"Jangan mendekat!" teriak pria paruh baya itu sembari menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Kak, apa yang terjadi?" tanya Putri melihat sekilas pria paruh baya itu ketakutan.
"Ceritanya cukup panjang," jawab Nandini masih memandang pria paruh baya itu.
Putri menatap lawan bicaranya, bola mata Nandini yang mengarah ke arah lain. Membuatnya mengikuti kemana arah matanya tertuju.
Angin yang masuk ke dalam lorong dan terperangkap di sana. Membuat suhu semakin dingin, bahkan tembok yang terdiam menjadi lebih dingin. Keadaan itu menandakan sang mentari mulai terbenam. Cahaya lampu yang menerangi sedikit menghangatkan ruang.
Gadis itu mendekat perlahan ke arah mantan gurunya. Kakinya melangkah perlahan, hingga sampai tepat di depan matanya.
Pria paruh baya itu menarik tangannya yang menghalangi pandangan perlahan. Dengan raut wajah ketakutan yang masih terukir. Perlahan dia mundur menjauhi gadis itu.
Putri hendak berjalan maju, menghalangi gadis itu. Namun, tangannya dicekal Arga. Dia menggelengkan kepala sebagai isyarat untuk tidak melakukan apapun. Putri hanya bisa terdiam, lengannya dilepas Arga perlahan.
Gadis itu tetap melangkah maju, kini posisinya tepat di sampingnya. Tangannya meraih lengan pria paruh baya itu.
"Aku minta maaf" ucapnya.
"Kenapa?" tanyanya dengan suara yang lirih.
"Kenapa diam saja?"
tanya gadis itu sembari menatapnya dengan mata sendu.
Banyak tanya yang muncul dalam kepala Putri, namun satu hal yang hanya bisa dilakukannya saat ini.
Diam.