Bab 20

1038 Words
Semua orang yang ada di dekat Arga dan Nandini mulai mendekatinya. Tatapannya tajam dan selalu mengatakan hal yang sama. "Jangan bawa dia! Dia bagian dari kami!" ucap mereka hingga terdengar seperti menggema. "Lari!" seru Arga. Mereka berlari melewati celah di antara orang yang mulai mendekat. Arga mengenggam tangan Nandini erat. Suara orang-orang yang mencoba meraih Nandini menggema di sepanjang lorong. Membuat Arga mau tidak mau harus berlari menjauh dari kejaran mereka. Mereka mengejar hanya dengan berjalan kaki. Kecepatan yang lambat, tetapi jika selalu ada orang di setiap lorong yang mereka lewati. Maka, satu-satunya cara adalah berlari atau sembunyi. Kini langkahnya terhenti, Arga dan Nandini terkepung. Orang-orang yang ada di depan dan belakang mereka. Berjalan dengan mengatakan kalimat yang sama. Membuat Nandini hanya bisa bersembunyi di balik punggung Arga. Arga melihat ke berbagai arah. Dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Arga dipaksa keadaan untuk memikirkan cara keluar dari tempat ini. "Arga!" teriak Nandini memanggil namanya saat seseorang memegang lengannya. Nandini berusaha melepas genggaman wanita yang mencekalnya. Genggaman wanita itu sangat kuat, hingga menyakiti lengannya. Tangan Arga memegangi lengan kiri Nandini yang ditarik wanita itu. Arga menarik lengan Nandini hingga terlepas dari genggaman wanita itu. Dengan sekuat tenaga dia menendang wanita itu hingga membuat orang di belakangnya ikut jatuh. Membuat celah untuk Arga dan Nandini kabur. Tanpa basa-basi Arga langsung membopong Nandini. Dia melewati celah kerumunan orang-orang aneh itu. Nandini hanya bisa melihat dari belakang orang-orang yang mulai bangkit dan berjalan ke arah mereka. Arga berlari dengan sisa tenaganya, keringat tak henti-hentinya mengalir. Tempat ini terlihat sangat nyata, lelah yang dirasakan sangat nyata. Melihat Arga yang mulai kelelahan. Nandini menepuk-nepuk bahu Arga, mengisyaratkan ingin turun. Arga menurunkannya secara perlahan. "Arga, kita gak bisa lari terus," ujar Nandini. "Iya, tapi mereka juga gak berhenti buat ngejar kita," balas Arga dengan nafas tersengal. Nandini melihat ke arah belakang, "Gimana caranya buat keluar dari sini?" tanya Nandini mulai frustasi. "Satu-satunya cara, kita harus cari gadis itu," ucapnya menatap lurus ke depan. "Kamu tau dimana dia?" tanya Arga. "Aku gak tau, tiba-tiba udah masuk ke sini. Aku manggil nama kalian tapi gak ada yang nyahut. Aku seperti ada di kilas balik peristiwa tragisnya," ungkapnya sambil jongkok menutup wajahnya frustasi. "Aku takut..." rengeknya. "Makanya jangan ikut campur urusan orang lain. Kan jadi gini hasilnya," ucap Arga kesal. Seketika Nandini bangkit, dan menatap tajam Arga. Rasa takutnya padam oleh kemarahan yang ia tunjukan kepada Arga. "Jangan ikut campur katamu?" ucap Nandini mengulang kalimat yang baru saja dia dengar. Arga memundurkan kakinya, melihat Nandini semakin mendekat. Jari telunjuk Nandini menunjuk ke arahnya. "Kamu!" ucap Nandini kemudian. "Apa?" tanya Arga menelan saliva setelahnya. "Lalu, apa yang kamu lakukan saat ini?" tanya Nandini menurunkan tangannya. Pertanyaan itu berhasil membuat Arga bungkam seketika. Lagi-lagi dia berhasil dibungkam. Arga tidak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Nandini. Selama beberapa detik Nandini menunggu jawaban darinya. Sementara Arga terpaku oleh pertanyaan yang membuatnya tidak berani menjawab satu kata pun. Nandini melipat tangannya di depan d**a. Dia kembali menatap Arga dengan menaikan alis sebelahnya. "Jawab..." ucapnya menantang Arga untuk menjawabnya. "Kamu bukan anak SMP," balas Arga mengalihkan jawabannya. "Apa?" ucap Nandini tidak percaya akan jawaban yang ia dapat. "Mungkin dia di suatu tempat," ujar Arga berjalan menjauh dari Nandini. "Hei, tunggu!" teriak Nandini berlari kecil mengejar Arga yang makin menjauh. Suara yang menggema kembali terdengar dari arah belakang. Langkah mereka terhenti sesaat. Arga dan Nandini menoleh perlahan ke belakang. Telapak tangan Arga meraih lengan Nandini cepat. Tanpa kata-kata lain, Arga menariknya untuk ikut berlari. Nandini hanya bisa ikut melangkahkan kakinya berlari di belakang Arga. "Arga kita kemana?" tanya Nandini sambil berlari. "Ke toilet," ujar Arga. Langkahnya berhenti di depan pintu toilet yang tertutup. Tangannya meraih gagang pintu, memutarnya searah jarum jam. Pintu di dorong pelan, Arga menarik Nandini untuk masuk terlebih dahulu. Bola matanya terlihat waspada, memperhatikan daerah sekitar. Langkahnya memasuki ruang, dan menutup pintu rapat-rapat. "Hufft..." Arga membelakangi pintu dan menghela nafasnya lega sembari menatap ke atas. "Siapa yang dimaksud mereka?" tanya Nandini memastikan. "Kamu," balas Arga. Nandini menganga, kepalanya menjadi penuh dengan pertanyaan yang mengganjal. Namun, dia sudah menduga itu dirinya. Karena Nandini bukanlah manusia lagi, mungkin itu adalah hal yang wajar. "Sekarang kita harus cari tau dimana dia," ujar Arga. "Bukannya kamu bisa kembali tanpa memanggilnya?" tanya Nandini penasaran. Arga menatap ke bawa lantai, dia menghela nafas. Bola matanya kembali mengarah ke Nandini. "Bisa," ucap Arga singkat. "Tapi aku gak mungkin pulang dengan tangan kosong," ungkap Arga. "Apa?" ucap Nandini tidak mengerti. "Aku bisa kembali ke tubuhku, tapi kamu..." ucap Arga menjeda kalimatnya. "Kamu tau apa yang aku maksud," sambung Arga. Tatapan tertuju pada lawan bicara. Nandini memahami apa yang dibicarakan orang di depannya. Dia menunduk perlahan, memikirkan apa yang dikatakan Arga. "Aku tau," ujar Nandini. "Ayo cari dia," ujar Arga sambil menatap lawan bicara. Pintu dibukanya, Arga dan Nandini menengok kanan dan kiri di luar pintu. Memastikan tidak ada orang di depan mata. Mereka berjalan keluar, ke arah berlawanan dengan para orang aneh itu. "Cepetan!" ucap Nandini tidak sabar. "Aku kesana," ucap Arga berjalan di belakangnya. "Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Arga sambil berjalan. "Bagian yang mana?" tanya Nandini tanpa berpaling. "Gadis itu, dia kenapa?" tanya Arga. Nandini berhenti melangkahkan kakinya. Dia kini menoleh ke arah belakang dimana Arga berada. "Apa yang terjadi padamu sebelum aku sampai?" tanya Arga lagi. "Ceritanya cukup panjang, mau dengar?" ucap Nandini sembari salah satu tangan memegang pinggangnya. *** Dinginnya suhu luar, mulai masuk ke dalam ruang. Terdengar suara kicauan burung menjelang petang. "Ayo pulang dulu, nanti kamu pasti dicariin sama om Bara," ajak Devan merasakan suhu yang semakin dingin. "Dia pulang malam hari ini," jawab Putri yang masih duduk manis bersender pada tembok menatap lurus ke depan. Lampu berkelip beberapa kali, dan akhirnya menyala. Devan dan Nandini menatap ke atas bersamaan. Tatapan menuju sumber cahaya yang terpasang di atap. Langkah kaki terdengar dari semakin dekat. Pakaian hitam dan topi yang khas membuat siapapun mudah mengenalnya. "Kalian masih di sini?" tanya pria berseragam satpam itu. Putri hanya bisa tersenyum sambil mengangguk kecil mendengar pertanyaan itu. Sementara itu, Devan terdiam tanpa memberikan sedikit jawaban kepadanya. "Pulang sana!" usir pria paruh baya tersebut. "Tunggu dulu pak, ada seseorang yang kita tunggu," jelas Putri. "Siapa?" tanyanya lagi. Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Mereka saling menatap dalam tanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD