Memegang sebuah buku novel di kedua tangannya. Devan duduk di tempat tidurnya. Kakinya diluruskan, dia memposisikan tubuh senyaman yang dia bisa.
Bola matanya terus bergerak mengikuti setiap kata yang ada. Satu lembar telah dibaca. Kini Devan membalikkan lembarannya.
"Tunggu!" ucap Nandini di sampingnya.
Devan pun menghentikan aksinya. Dia mengembalikan lembaran ke semula. Tangannya masih memegang buku itu. Sementara bola matanya, menatap ke arah lain. Menunggu Nandini selesai membaca.
"Udah belum?" tanya Devan mulai bosan.
"Oke, sudah. Cepet dibalik!" ucap Nandini tidak sabar.
Devan menghela nafas gusar. Dengan pasrah dia membalik lembaran baru. Mereka berdua nampak membaca setiap kata dengan serius.
Kamar menjadi lebih senyap. Nandini tidak bersuara, dia terus membaca dalam diamnya.
Devan membaca lebih cepat dari Nandini. Melihat kakaknya yang masih serius. Devan mengurungkan niat untuk membalikkan halaman baru. Bola matanya kembali melihat ke arah lain. Bola matanya terfokus pada pemandangan luar jendela.
"Devan," panggil Nandini.
Devan mengalihkan pandangan ke arah Nandini. Melihat isyarat yang diberikan Nandini dengan jari yang selalu menunjuk ke arah bukunya.
Saat hendak meraih lembaran kertas pada buku. Suara notifikasi pesan dari ponselnya berbunyi. Tangan kanan yang hendak membuka lembaran, beralih mengambil ponsel di sampingnya.
Dia membuka ponselnya, terlihat pesan dari Putri muncul di ponsel. Nandini yang tidak sabar menunggu. Terus memanggil nama Devan. Tetapi, Devan terus menatap ponselnya.
"Devan, bukunya... Aku penasaran sama kelanjutannya," ucap Nandini kesal.
Mendengar hal itu, Devan turun dari kasurnya. Dia menaruh bukunya di kasur. Tanpa membuka halaman baru.
Devan mengetikkan sesuatu di ponselnya. Dia terlihat menelpon seseorang.
Nandini kesal tidak dibukakan halaman baru. Dia terus berusaha membuka halaman, agar rasa penasarannya bisa hilang.
Nandini mengubah posisinya berbagai arah. Berharap bisa membalikkan lembaran dari buku itu dengan sudut yang berbeda.
Devan masih menunggu suara yang keluar dari ponselnya. Dia menoleh ke arah belakangnya. Terlihat Nandini yang duduk menyilang di tempat tidurnya. Dia terlihat memejamkan matanya. Perlahan dia membuka matanya dan menatap tajam buku yang tergeletak di depannya.
Devan membalikkan badannya menatap saudara perempuannya itu. Dengan sekuat tenaga, Nandini membalikkan halaman baru dengan sekuat tenaga. Dengan raut wajah yang terlihat lucu bagi Devan.
Devan menutup mulutnya mencoba menahan tawanya. Suara orang dari seberang terdengar. Namun, tanpa sengaja Devan melepas tawanya.
"Kenapa ini?" tanya seseorang dari seberang.
"Hahaha..." tawa Devan yang masih didengar penerima panggilan.
Melihat Devan yang tertawa. Membuat Nandini menghentikan aksinya dan menatap tajam adiknya itu.
"Kenapa ketawa?!" ucap Nandini kesal.
Seketika Devan menutup mulutnya. Ponsel yang sedari tadi ia dekatkan di telinga. Dia jauhkan sementara agar tawanya tidak terdengar lagi.
"Maaf..." ucap Devan masih menahan tawanya.
Devan mengatur nafasnya perlahan. Setelah dirasa sudah lebih baik. Devan kembali mendekatkan ponsel ke telinga.
"Ah, iya. Halo Arga, maaf tadi," ucap Devan.
"Ada apa?" tanya Arga dari seberang.
"Ketemu di halte, 30 menit lagi," ujar Devan.
"Iya, oke..." ucap Devan menutup ponselnya kemudian.
Devan menatap ponselnya sejenak. Dia memandang Nandini kemudian.
"Aku mau ganti baju, cepetan pergi dulu sana," usir Devan.
"Ish..." ucap Nandini kesal.
Nandini pun berjalan keluar dengan wajah kesalnya. Dia dibuat penasaran dengan kisah selanjutnya dari novel yang dibaca tadi.
Nandini duduk di sofa, dia menonton acara televisi yang tidak disukainya. Remote di samping, hanya bisa dipandang. Nandini tidak bisa meraihnya atau bahkan hanya sekedar menyentuhnya.
Suara riuh dari televisi yang ditonton. Membuat ruang tidak terlalu sepi.
Devan berjalan dengan santai melewati ruang yang disinggah Nandini. Melihat adiknya lewat, Nandini mengikutinya dari belakang.
Devan menyadari Nandini yang sedang berjalan di belakangnya. Tetapi, Devan terus melangkah.
Sampai suara pancuran air dari dapur terdengar jelas. Devan menengok ke arah dapur yang berada di sampingnya. Terlihat sang Ibu yang sedang beradu dengan noda kotoran yang menempel pada peralatan dapur.
"Bu..." panggil Devan.
Ibunya pun menoleh ke sumber suara. Dia melihat anaknya yang sedang berdiri di pintu.
"Kenapa?" tanya Ibu mencuci tangannya dari sabun.
Ibunya pun membalikkan badan sembari mengeringkan tangannya dengan kain yang ada di dekatnya. Ibunya berjalan mendekat ke arah anaknya yang ada di pintu.
"Aku mau pergi dulu," ucap Devan berpamitan.
"Aku juga!" seru Nandini yang maju menunjukkan dirinya di depan Ibu.
"Loh, pada mau kemana ini?" tanya Ibu.
"Pergi ke makam Azkia," jawab Devan.
"Siapa Azkia?" tanya Ibu tidak mengerti.
"Wah... Ceritanya panjang," ujar Nandini yang kemudian berjalan pergi.
"Ayo Devan!" teriak Nandini.
"Siapa Azkia?" tanya Ibu kepada Devan.
"Sudah ya... Aku sama Putri dan Arga perginya. Aku pergi dulu," ujar Devan ikut meninggalkan sang Ibu dalam tanya.
Devan berjalan keluar rumahnya bersama Nandini. Terlihat Putri yang sedang berjalan sembari memegang ponsel ke arah rumahnya.
"Putri!" seru Nandini melihat kehadiran Putri.
Putri mendongakan wajahnya menatap Nandini. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan.
Setelah mereka bertemu, mereka melanjutkan perjalanan ke halte. Sepanjang perjalanan Nandini dan Putri yang membuat keriuhan.
"Kak Nandini," panggil Putri.
"Kenapa?" tanya Nandini sembari berjalan.
"Nanti hari minggu ikut ke mall, yuk!" ajak Putri.
"Wah, ikut!" balas cepat Nandini.
"Tapi... Di sana banyak banget hantunya," ucap Nandini.
"Oh iya... Tapi, aku bosan di rumah," ucap Putri dengan raut wajah sedih.
"Main aja ke rumah," ucap Nandini sembari tersenyum.
"Ah, benar juga!" ucap Putri membenarkan.
Mereka pun terdiam selama beberapa detik. Membuat Devan dapat tenang, karena tidak perlu mendengar celotehan mereka.
Baru saja Devan hendak mengucap rasa syukur. Dirinya dikejutkan oleh Nandini yang mulai mengejek Putri.
"Putri... Kak Putri," ucap Nandini sembari sedikit bersenandung.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu," peringat Putri.
"Kak Putri?" ucap Nandini pura-pura tidak tahu.
"Iya," jawab singkat Putri yang mulai kesal.
Jalanan cukup ramai, membuat Devan cukup khawatir akan keributan ini. Seperti yang Devan duga, keributan ini menjadi parah.
"Kak Nandini, awas kau ya!" geram Putri hendak melewati Devan yang berada di tengah.
Dengan cepat, Devan menghentikan langkahnya sembari menutup mulut Putri rapat. Nandini yang berada di samping Devan, malah masih mengejek Putri dengan antusiasnya.
"Sstt... Ada banyak orang di sini," ucap Devan lirih.
"Kak Putri..." ledek Nandini.
Devan langsung menoleh cepat ke arah kakaknya itu. Dia menatap tajam dan berkata, "Kakak juga sama!" ucap Devan sedikit berbisik.
Nandini terkejut dengan ucapan Devan. Akhirnya mereka pun terdiam.
Devan berjalan sembari tersenyum simpul kepada orang-orang yang melihatnya. Devan menggandeng Putri pergi sejauh mungkin dari banyaknya orang yang melihat.
Beberapa menit kemudian...
Mereka berjalan dalam sunyi. Devan nampak kesal kepada mereka berdua. Sampai di halte, mereka dapat bungkam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Terlihat Arga yang berdiri di halte sembari memainkan ponselnya. Menyadari kehadiran teman-temannya. Arga menoleh, dia tersenyum sembari melambaikan tangan. Dia merasa aneh, melihat dua orang yang bisa terdiam.
"Devan, mereka kenapa? Kok, tumben diem," ucap penasaran Arga.
"Ceritanya panjang," ujar Devan.
"Ini langka... Mereka bisa diem, kamu apain?" tanya Arga antusias.
"Apa maksudnya langka?" ucap Nandini dan Putri bersamaan.
Arga menelan ludahnya sendiri setelah mengatakan itu, "Wah... Bahaya," ucap lirih Arga.