Kini Devan berada di kelasnya. Tidak terlalu ramai, karena baru beberapa orang yang datang. Nandini masih seperti biasa. Dia selalu meliha-lihat sekitar kelasnya. Setiap nama pada jadwal piket di baca dengan suara keras untuk mengusir kebosanannya.
Devan duduk sembari menatap saudara perempuannya. Dagunya ditumpu dengan tangan kanannya. Jarinya mengetuk dagunya sesuai dengan detik waktu jarum jam.
Karena kebosanannya, Devan mengambil sebuah buku novel yang dia bawa. Dia menaruh bukunya di meja. Tangan kirinya meraih sampul buku dan membukanya perlahan.
Hanya berisi tulisan dalam bukunya. Devan membaca tiap kata dalam buku. Matanya terus bergerak dari kiri hingga bawah. Sampai satu halaman selesai dibaca.
Devan mengambil buku itu dengan kedua tangannya. Dia membaca bukunya mulai serius.
Sampai sebuah kepala dengan rambut yang menutupi wajahnya keluar dari buku. Sontak Devan langsung menjatuhkan buku itu.
"Lagi?" ucap Devan melihat Nandini ada di depan.
Nandini hanya terkekeh melihat wajah Devan yang terkejut tadi. Kini wajahnya terlihat kesal. Nandini masih terkekeh melihat wajah adiknya.
Tanpa diketahui, rupanya Devan kembali menjadi pusat perhatian. Dia dilihat oleh teman-teman sekelasnya. Mereka terlihat memandang Devan heran dan aneh.
Melihat hal itu, Devan dengan cepat membereskan rasa malunya. Dia mengambil bukunya, lalu membacanya lagi di meja. Buku ditaruh depan wajah, dia berusaha menutupi rasa malunya yang sudah tergambar jelas di wajahnya.
Sampai Arga datang membantunya mengalihkan pandangan orang yang menatap ke arahnya. Melihat Arga datang, Nandini melambai ke arahnya sembari tersenyum.
Arga berhenti melangkah melihat Nandini tersenyum. Dia terpaku beberapa saat melihatnya terus melambai ke arahnya.
Arga pun tanpa sadar menyunggingkan bibirnya. Dia tersenyum ke arah Nandini.
"Eh, Arga kenapa tuh?" bisik seorang gadis yang duduk di depan.
"Nggak tau..." bisik seorang gadis yang duduk di sampingnya.
Mendengar ada orang yang membicarakannya. Arga melenyapkan senyumnya. Bola matanya bergerak ke bawah sembari berjalan.
Dia menunduk sembari berjalan ke arah bangkunya. Arga menarik kursinya dan langsung duduk di tempat.
"Arga!" panggil Nandini.
Arga secara cepat menoleh ke arahnya. Dia melihat Nandini yang masih memasang senyumnya.
"Eh, tau gak? Tadi malam aku nonton film horor, loh!" ucap Nandini antusias.
Arga mengubah posisinya menatap Nandini. Dia memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan celotehan Nandini.
Melihat dirinya sudah tidak diperhatikan banyak orang. Devan pun menurunkan bukunya perlahan. Bola matanya melihat ke berbagai arah. Memastikan tidak ada yang melihat ke arahnya.
Devan langsung terfokus pada Arga yang terlihat memantuk sembari tersenyum melihat ke arah Nandini yang berceloteh. Nandini terus bercerita tanpa jeda. Dia menceritakan jalan cerita sebuah film yang baru ia tonton selama ini.
"Setannya bisa kayak beneran!" ucap Nandini bersemangat dengan bola mata yang melebar.
Arga masih tersenyum melihat ke arah Nandini. Dia hampir tertawa melihatnya bercerita.
"Devan ketakutan habis nonton film itu," ucap Nandini menunjuk Devan yang sedari tadi terdiam menatapnya.
"Eh, kok aku?" ucap Devan tidak terima.
"Buktinya, kamu takut pas liat aki tadi malam. Padahal kan, rambutku cuma aku urai ke depan aja," ucap Nandini tidak merasa bersalah.
Devan mendengus kesal mendengar ungkapan kakaknya itu. Seolah dia mengelak, jika Nandini memang mengerjainya secara sengaja.
"Pasti sengaja!" seru Devan sembari menunjuk ke arah Nandini.
Suaranya yang cukup keras membuatnya menjadi pusat perhatian lagi. Terlihat banyak pasang mata yang menatapnya.
"Kenapa menunjukku begitu?" ucap seorang laki-laki yang sedang duduk di kursinya sembari memegang ponsel.
Setelah Devan tersadar akan ucapannya. Dia menarik tangannya ragu.
"Nggak ada," ucap Devan menatap ke bawah.
"Hmph, aneh..." ucap laki-laki itu lirih tapi masih dapat terdengar oleh Devan.
Devan kembali berkutat pada buku novelnya. Melihat kegaduhan singkat yang membuat Devan menjadi pusat perhatian. Nandini dan Arga nampak menahan tawanya.
"Berhenti tertawa..." ucap setengah berbisik Devan yang kesal.
Mereka pun menghentikan tawanya perlahan. Kemudian, Nandini memandangnya sejenak.
"Lakukan lagi, itu menghiburku," ujar Nandini sembari tersenyum simpul.
"Nggak!" tolak Devan cepat.
Dia kembali membaca bukunya. Baru beberapa detik membaca. Suara ketukkan yang berasal dari pintu.
Terlihat seorang pria paruh baya berbadan gempal masuk membawa beberapa buku di tangan kanannya. Murid-murid yang sedang berbincang dan bermain ponsel langsung berlarian dan duduk di tempatnya masing-masing.
Pria berbadan gempal itu pun duduk di kursinya sembari menunggu para muridnya memberis salam pembuka. Setelah memberi salam pembuka, akhirnya pelajaran pun dimulai.
***
Suara bel istirahat berbunyi cukup keras. Membuat mereka yang menunggu lama, bersemangat untuk segera mengistirahatkan kepalanya. Mereka berbondong-bondong keluar kelas.
"Devan, ayo keluar!" ajak Nandini.
"Iya-iya..." ucap pasrah Devan.
Nandini menoleh ke arah Arga yang masih duduk di kursinya, "Arga, ayo!"
Arga sedikit terkejut mendengar namanya dipanggil. Entah apa yang difikirkan sebelumnya.
"O-Oh, iya," ucap Arga terbata-bata.
Mereka pun berjalan keluar kelas. Di depan pintu kelas, nampak beberapa orang yang berlalu lalang.
Devan melangkahkan kakinya mendahului yang lain. Arga dan Nandini berjalan mengekor padanya.
Dari kejauhan terlihat seorang pria paruh baya yang baru keluar dari ruang kelas. Dia terlihat menatap beberapa lembar kertas yang dibolak-balikkan. Bola matanya menoleh ke kanan dan kiri. Hingga matanya terfokus pada kehadiran Devan dan Arga yang sedang melangkah.
"Devan! Arga!" panggil Pak Wirjo sembari sedikit berteriak.
Mendengar namanya dipanggil. Devan dan Arga melihat ke arah sumber suara.
Mereka pun berjalan mendekat ke arah gurunya itu. Nampak Pak Wirjo yang menampilkan senyumnya ke arah mereka.
Sampai di depan Pak Wirjo, mereka menatapnya. Menunggu kata yang muncul dari mulutnya.
"Bapak mau bilang-" ucapan Pak Wirjo terpotong oleh teriakan Putri yang datang bersama temannya.
"Devan!" panggil Putri.
"Kamu duluan, gih. Aku mau ke sana dulu," ucap Putri sembari melambai ke arah temannya itu.
Putri sedikit berlari ke arah Devan. Dia melihat sang guru di sana. Sampai di depan Pak Wirjo. Putri pun menyapa gurunya dengan sopan.
"Kebetulan ada Putri juga," ucap Pak Wirjo.
"Eh, iya. Ada apa pak?" tanya Putri sembari tersenyum simpul.
Pak Wirjo pun ikut tersenyum. Dia kembali menatap dua murid lainnya.
Nandini hanya bisa menatapnya sembari menunggu kata yang akan diucapkan pria paruh baya itu. Meskipun dia tahu, jika pria paruh baya itu tidak bisa melihatnya.
"Karena kalian sudah berkumpul seperti ini," ucap Pak Wirjo menggantung.
"Nanti sore, ikut bapak ke makam Azkia, ya?" ucap Pak Wirjo.
Mereka pun saling memandang. Ini adalah kali pertama mereka mengunjungi makam Azkia. Pak Wirjo terlihat menunggu jawaban dari mereka.
"Kami setuju!" ucap Bersamaan Putri dan Nandini.
Sontak Devan dan Arga menatap mereka berdua yang menyetujui tanpa bertanya dahulu. Meskipun Nandini tidak bisa dilihat oleh Pak Wirjo. Nandini nampak antusias ingin ikut ke makam Azkia.
Pak Wirjo tersenyum kala melihat Putri menyetujuinya. Dia beralih pandang ke arah Devan dan Arga.
"Kalian bener-bener setuju?" tanya Pak Wirjo menatap Devan dan Arga.
"Setuju," ujar Arga sembari mengangguk.
Devan nampak terdiam menatap ke bawah. Dia tidak menjawab pertanyaan gurunya itu.
"Devan?" panggil Pak Wirjo.
"Bapak gak maksa, kok. Kalo kamu sibuk, ya sudah..." ucap Pak Wirjo memaklumi.
Devan menatap Pak Wirjo sejenak. Suara panggilan lirih dari dua orang perempuan membuatnya menoleh ke arah mereka.
"Devan, ikut!" ucap Nandini penuh penekanan.
"Awas aja kalo gak ikut," ucap Putri mengancam.
Devan kembali menatap sang guru. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Bagus deh kalo gitu," ucap Pak Wirjo menepukkan tangannya ke buku yang dipegang.
"Ya sudah... Tunggu di tempat yang bapak tentukan nanti, ya?" ucap Pak Wirjo.
Mereka pun mengiyakan ucapannya. Hanya Devan saja yang terdiam tanpa menjawab pertanyaan itu.
Pak Wirjo pun melanjutkan perjalanan. Hingga punggungnya semakin menjauh.
"Devan kamu harua ikut, ya!" ucap Putri kemudian.
Putri berjalan menjauh sembari berkata dengan keras, "Harus ikut!"
"Devan, harus ikut!" seru Nandini.
"Ayo Arga!" ajak Nandini berjalan ke kantin. Seolah-olah salah satu murid sekolah ini.
Arga hanya bisa mengikuti kemana dia pergi. Sementara itu, Devan menatap dua orang perempuan yang dikenalnya berjalan di persimpangan lorong yang berbeda.
Devan hanya bisa menghela nafasnya panjang, "Kenapa aku gak bisa nolak kalian berdua, sekali... aja," gumamnya.