Bab 59

1041 Words
Sinar matahari menunjukkam dirinya. Terbitnya sang mentari, membuat seluruh makhluk di muka bumi bangun dari tidurnya. Devan membuka matanya perlahan. Matanya masih berat untuk membuka secara lebar-lebar. Matanya mengerjapkan menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina. Devan menatap langit-langit mengumpulkan kesadaran. Dia mengubah posisinya menjadi duduk. Kedua tangannya mengucek mata. Bola mata bergerak ke arah kanan dan kiri sembari mengerjap beberapa kali. Dia menurunkan kakinya dari tempat tidur. Bola matanya melihat jam di dinding. Dia harus menyipitkan mata untuk melihat kebenaran waktu yang dilihat. "Aku kesiangan..." ucap lirih Devan. Bola matanya kembali bergerak menatap lurus. Suara detik waktu jarum jam yang berjalan. Menambah suasana sunyi yang membuat matanya menutup kembali. "Aku kesiangan!" teriak Devan sudah menyadari keadaan. Devan pun berlari membuka pintu kamarnya secara tergesa-gesa. Hingga dia berhasil mengejutkan orang lain dengan menutup pintunya keras. Membuat seisi ruang terkejut dengan suara gebrakan pintu yang begitu keras. "Devan, pelan-pelan nutup pintunya!" seru Ibu dari seberang ruang. Tanpa menjawab Devan berlari dan mengambil handuk di gantungan. Dia memasuki kamar mandi dan kembali menutupnya cepat. Ibunya yang melihat Devan berlarian cepat layaknya ninja. Hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Devan. Ibunya membawa beberapa piring ke meja. Terlihat Ayah yang sudah duduk manis sembari memegang sendok di tangan kanan. Sementara Nandini, berada di ruang keluarga. Menonton animasi di pagi hari. "Nasi goreng..." ucap antusias Ayah. "Jangan banyak komen, makan aja..." ujar Ibu menaruh piring di meja. "Eh, ini pujian loh!" ucap Ayah. "Terserah," balas singkat Ibu yang kemudian pergi ke dapur. Ayahnya hanya bisa menggaruk kepala karena bingung dengan ucapan yang dia katakan. Apakah perkataannya yang diutarakan salah. Begitulah yang selalu diputar dalam benaknya. Di ruang lain... Nandini nampak serius menonton kartun di depannya. Dia tersenyum sendiri melihat gambar yang bergerak di depannya. Sampai film kartunnya habis dan berganti ke acara lain. Nandini hanya bisa menatap remote tv di samping dia duduk. Tangannya mencoba meraih remote, tetapi dia selalu menembusnya tanpa bisa menggesernya sedikit pun. Nandini menghela nafasnya panjang. Kini dia menghadap ke remote. Suara tv yang membuat berisik diabaikan begitu saja. "Kapan aku bisa menyentuhmu?" gumam Nandini. Nandini pun akhirnya berusaha sekuat tenaga untuk mencoba meraihnya. Dia mengerutkan dahinya, sangat terlihat serius. Tangannya tanpa henti meraih benda persegi panjang dengan banyak tombol angka dan simbol di depannya. Namun, hasilnya masih nihil. Dia tidak bisa meraihnya sedikit pun. "Argh!" kesal Nandini. Melihat usahanya sia-sia, dia pun bangkit dari duduknya. Kemudian pergi menuju ruang makan. Di sana terlihat Ibu dan Ayahnya yang tengah menyantap makanan. Baru saja hendak melangkahkan kakinya ke dalam. Seseorang menembusnya dari belakang. Terlihat Devan yang tergesa-gesa duduk di meja. "Devan, jangan lari-lari!" ucap Nandini kesal karena Devan menembusnya begitu saja tanpa permisi. Namun, Devan tidak membalasnya. Dia malah sibuk memakan sarapannya cepat. Dentingan antara piring dan sendok yang cepat dari Devan. Meramaikan suasana ruang makan. "Devan pelan-pelan..." ingat Ibunya. Tetapi, Devan tetap melanjutkan makannya dengan tempo yang cepat. Hingga kejadian yang ditunggu Nandini pun terjadi. Devan tersedak makanannya sendiri. "Rasain..." ucap Nandini. Ibunya pun memberikan minum ke Devan sembari menepuk-nepuk punggungnya. Perlahan Devan membaik, dia menaruh gelasnya hingga berbunyi cukup keras. "Pelan-pelan... masih pagi, kok," ucap Ayahnya yang masih santai menyantap makanan Devan yang sedang mengatur nafasnya. Seketika menatap Ayahnya cepat. Melihat anaknya yang memandang dirinya seolah bertanya tentang kebenarannya. Ayahnya kemudian menunjuk jam diniding di sisi kirinya dengan dagunya. Devan menggerakan bola matanya sesuai arahan sang Ayah. Dia membelalakan matanya melihat waktu yang ditunjukkan jam dinding. "Itu jamnya bener?" tanya Devan memastikan. "Bener," jawab singkat sang Ayah yang menaruh sendoknya di piring. "Oke, Ayah pergi dulu ya!" seru Ayah sembari meninggalkan meja makan. Ibunya bangkit mengantarnya sampai depan pintu rumah dan menyium tangan suaminya sebelum pergi. Nandini pun ikut mengantar Ayah pergi sampai ke pintu. Sementara itu... Devan hanya bisa memegang kepalanya sambil menghela nafas panjang. Bisa-bisanya dia salah melihat waktu. Devan pun bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Langkahnya terhenti melihat jam dinding yang nampak bergerak. Setelah diperhatikan, jarum jamnya hanya bergerak maju dan mundur tanpa ada kesudahan. Devan mengalihkan pandangannya mengambil tas ransel. Mendengar suara detik waktu yang membuatnya risih. Dengan kesal, Devan mengambil sebuah pensil. Dia melemparnya tepat ke arah jam dinding itu. Devan berjalan keluar kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat. Tanpa diketahui, jam dindingnya berjalan kembali seperti biasa. Saat Devan sudah sampai di dekat pintu keluar. Devan mendengar suara orang yang berbincang. Devan melangkahkan kakinya berjalan keluar. Dia melihat ada seorang pria sembari tersenyum terlihat menanyakan sesuatu pada Ibunya. Devan duduk di sofa sembari memakai sepatunya. Saat Devan hendak berdiri. Terlihat Nandini yang berjalan ke dalam sembari melihat ke belakang sesekali. Seolah memperhatikan pria muda yang berbicara pada Ibunya. "Kak, dia siapa?" tanya Devan. Nandini nampak menghentikan langkahnya dan berbalik melihat pria itu dari balik jendela. Pria itu kemudian pergi setelah berbicara kepada Ibunya. "Ganteng banget..." ujar Nandini tanpa menatap Devan. "Gak bener jawabannya," gerutu Devan. Devan pun berjalan ke pintu. Baru sampai di luar pintu, Nandini sudah memanggilnya. "Devan!" panggil Nandini. "Ikut!" ucapnya lagi. Devan menghela nafasnya gusar. Dia sudah mempersiapkan bukunya dalam tas. Devan hanya membuka dan menunjukkan bukunya kepada Nandini. Terlihat Nandini nampak senang. Dia pun berjalan mengekor pada Devan. Devan menghampiri Ibunya, "Bu, aku berangkat," ucapnya sembari menyium punggung tangannya. "Oh, iya... Hati-hati di jalan," ujar sang Ibu yang sedang memegang sapu lidi di tangan kirinya. "Hati-hati bawa kakaknya," ucapnya lagi. "Iya-iya..." ucap pasrah Devan. Devan baru saja melangkahkan kakinya keluar pagar. Namun, suara teriakan yang memanggil namanya. Membuatnya menoleh, terlihat Putri yang melambaikan tangannya. "Cobaan apa lagi ini?" ucap Devan lirih. Nandini melambaikan tangan sembari tersenyum kepada Ibunya. Sang Ibu pun ikut membalasnya dengan senyuman. "Ayo Devan!" ajak Putri. "Eh, eh... Putri liat, gak? Cowok tinggi yang ngomong sama Ibu? Ganteng banget ya?" ucap Nandini mulai menggosip. Devan yang berada di tengah hanya bisa menghela nafas panjang. Dia harus berada di antara dua wanita yang sedang bergosip. "Iya, aku liat. Ganteng banget," ucap Putri antusias. "Tapi, aku belum pernah liat dia sebelumnya. Siapa dia?" ucap Putri kemudian. Tiba-tiba Devan mempercepat langkahnya. Sontak, Putri dan Nandini berusaha menyamai langkahnya. "Devan, tungguin!" panggil Nandini dan Putri secara bersamaan. "Kalau mau gosip, jangan deket-deket!" seru Devan sembari berjalan cepat. Mendengar hal itu, mereka berdua tetap mengejarnya. Sampai berhasil menyamai langkah Devan. Mereka terlihat menggerutu kepada Devan. Sampai jalan yang nampak sepi terlihat ramai dan berisik bagi Devan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD