Lampu yang dimatikan pada malam hari. Dengan hanya satu sinar yang keluar dari sebuah benda persegi dan mengeluarkan gambar bergerak di depan mata mereka. Satu kuarga itu nampak duduk di sebuah karpet yang cukup lebar. Mereka duduk di bawah, sementara sofa nampak seperti pajangan saja. Beberapa makanan ringan dan minuman berada di depan mereka.
Devan duduk di samping Ayahnya, sementara Ibunya berada di samping kiri bersama Nandini. Bola mata mereka seolah tidak berkedip melihatnya.
Saking fokusnya, Nandini merencanakan aksi jahilnya. Nandini menoleh ke kanan dan kiri. Melihat situasi yang aman, Nandini pun tersenyum.
Aaa!
Hingga teriakkan Nandini membuat mereka semua ikut berteriak. Mereka berteriak kencang sembari melihat ke arah sumber utamanya. Di saat itu pula, teriakkan Nandini berubah menjadi tawa puasnya.
Melihat tawa terbahak-bahaknya, membuat yang lain merasa dikerjai. Devan hanya bisa mendengus kesal melihat kelakuan kekanak-kanakkan.
"Kamu ini, ngagetin orang tua aja," ucap Ibunya kesal.
"Awas nanti kena batunya, loh!" tambah Ayahnya.
"..." sementara Devan terdiam dalam kesalnya.
"I-Iya... Maaf, habisnya serius banget," ujar Nandini menggaruk kepalanya.
"Sstt... Filmya lagi mulai," ucap Devan kembali menatap layar.
Mereka pun akhirnya kembali menonton dengan serius. Film yang mereka tonton sedang dalam klimaksnya. Jantung mereka berdebar-debar.
"Kok, setannya gak muncul-muncul sih?" tanya Nandini yang mulai bosan.
"Sstt..." secara bersamaan mereka melakukan hal yang sama terhadap Nandini.
Sontak Nandini hanya bisa terdiam. Kemudian kembali menonton filmnya.
Aaa!
Kali ini teriakkan Nandini begitu keras. Tetapi, kali ini hanya Nandini yang berteriak. Sementara yang lain malah tertawa terbahak-bahak melihat Nandini yang ketakutan karenanya.
Nandini hanya bisa memeluk lututnya sembari menelungkupkan wajahnya. Dia takut melihat hantu yang tiba-tiba muncul. Kedua tangannya menutup telinga.
"Masa setan takut sama setan, sih?" ledek Devan sembari terkekeh.
"Tuhkan, apa Ayah bilang? Kena batunya kan?" ucap Ayah yang ikut terkekeh.
"Hmm... Makanya jangan ngerjain orang tua," ucap Ibu mengambil keripik singkong di piring.
Nandini mendongak dengan air mata yang mengalir. Dia menangis karena ketakutan.
"Lah, malah nangis," ucap Devan melihat kakaknya menangis.
Nandini mengusap air matanya. Sang Ibu berusaha menenangkannya dengan kata-kata. Setelah kembali tenang mereka menontonnya lagi.
Mereka terus melanjutkan menontonnya hingga makanan ringan habis semua. Tangan Devan hendak mengambil keripik di piring. Tangannya meraba piring kosong di depannya. Bola matanya melihat ke arah piring yang diraba. Terlihat kosong melompong, tidak ada satu keping keripik di sana.
Devan kembali menarik tangannya. Bola matanya kembali melihat arah benda persegi yang cukup besar.
Devan mengambil gelasnya yang berisi air jahe hangat yang dibuat Ibunya. Dia menyeruputnya hingga membuat suara yang menarik perhatian Nandini. Terlihat dari raut wajah Nandini yang sangat menginginkannya.
Merasa dirinya dilihat oleh Nandini. Dengan secepat mungkin Devan menegak air jahe hangatnya. Melihat hal itu, Nandini mendengus kesal.
"Habis..." ucap Devan meledek Nandini.
Meskipun penuh, Nandini masih tidak tahu bagaimana cara meminumnya. Meskipun begitu, kelakuan Devan membuatnya iri dan kesal terhadapnya.
Nandini pun kembali menonton televisi di depannya. Dia melipat kedua tangannya di depan d**a sembari mendengus kesal. Hingga kekesalannya berubah menjadi ketegangan kala mendalami film yang dilihatnya.
Kini mereka nampak serius menonton. Sampai filmnya habis, sangat tidak terasa sudah hampir tengah malam.
Melihat itu Ibu menyuruh Devan untuk tidur sesegera mungkin. Sementara Ayah malah tidur dengan posisi duduk.
Ingin sekali Nandini membangunkannya. Tetapi melihatnya tertidur pulas. Membuatnya tidak tega untuk membangunkannya.
Ibu membereskan kekacauan itu sendirian. Karena Devan langsung disuruh pergi untuk tidur. Devan hanya bisa menurut, mengingat dirinya juga harus bersekolah besok.
Devan menyalakan lampunya agar lebih memudahkan dirinya untuk melihat ruang. Namun, tepat di depan mata ada seorang gadis dengan rambut yang diurai ke depan. Sontak melihat itu, dia langsung berteriak dan bersembunyi di balik Ibunya yang sedang membawa piring dan gelas di kedua tangannya.
"Eh, eh... Ati-ati, Ibu bawa gelas sama piring ini, loh!" ingat Ibu.
Tanpa ada yang menyadari Ayahnya bangun. Dia sedikit terkejut karena suata teriakan yang tiba-tiba. Dia menoleh ke kanan dan kiri melihat siapa yang berteriak. Dia mengucek mata sembari menguap. Bola matanya mengikuti sumber suara keributan di dekatnya.
Devan masih bersembunyi di balik sang Ibu. Dia hanya menunjuk ke arah yang dimaksud. Ibu pun menoleh ke arah yang dimaksud Devan.
Ibunya hanya bisa menggeleng melihat kejahilan anak satunya itu kepada adiknya. Nandini terlihat menutup mulutnya menahan tawa.
"Kamu jangan jahilin adiknya, udah malam tau. Sana ke tidur," tegur Ibu.
"Iya-iya..." ucap kecewa Nandini.
Menyadari yang menakut-nakuti adalah Nandini. Devan pun berjalan ke kamarnya dengan kesal. Setiap langkahnya diikuti Nandini yang sedari tadi mengikutinya.
"Kamarnya kan di sana, ngapain ngikutin, sih?" ucap risih Devan.
Mendengar ucapan Devan, Nandini hanya bisa mendengus kesal. Meskipun begitu Nandini tetap berjalan hingga mendahului Devan. Dia memasuki kamar Devan terlebih dahulu.
"Hei, kamarnya di sana," ucap Devan menunjuk ke arah lain.
Namun, Nandini tidak menggubris. Dia langsung masuk kamar tanpa menbuka pintunya terlebih dahulu. Melihat itu, Devan hanya bisa menghela nafas panjang.
Tepat di depan pintu, Devan memegang gagang pintu dan membukanya perlahan. Di sana sudah terlihat Nandini yang tidur di tempat tidurnya.
Setelah Devan masuk, dia kembali menutup pintunya. Dia berjalan dan menaruh tubuhnya di tempat tidur. Tepat di sampingnya ada Nandini yang terlihat memandang langit-langit.
Devan membelakangi Nandini, dia menarik selimutnya mencoba tidur. Tetapi, karena menonton film horor tadi. Dia menjadi kesulitan untuk tidur. Setiap kali menutup matanya, dia selalu teringat dengan wajah hantu di film yang dilihatnya.
"Devan," panggil Nandini.
Mendengar suara Nandini sontak Devan membalasnya, "Kenapa?"
"Aku lihat setan rambut panjang di mall. Terus ada anak kecil yang bocor di kepalanya," papar Nandini.
Mendengar hal itu, Devan menoleh ke arahnya. Dia menatapnya sejenak. Hingga tawanya tidak sengaja lepas begitu saja.
"Kok, ketawa?" tanya Nandini heran.
Devan pun menghentikan tawanya perlahan. Dia mengatur nafasnya sembari menatap langit.
"Kak Nandini itu setan, tapi takut sama setan lainnya. Kalo dipikir aneh banget gak, sih?" ucap Devan sembari menahan tawanya.
"Ish... Lucu banget buat kamu, ya?" ucap Nandini kesal.
"Banget," ucap Devan sambil tersenyum.
"Kamu tau gak, sih?" tanya Nandini.
Devan hanya berdehem sebagai jawaban, "Hari ini seru banget... Aku berharap bisa lebih lama, tapi..." ucap Nandini menggantung.
Nandini menoleh ke arah Devan yang sudah terlelap. Melihat itu, Nandini tidak jadi melanjutkan ucapannya. Dia tersenyum melihat adiknya tertidur pulas.
"Ck, cepet banget tidurnya..." ucap Nandini kembali menatap langit-langit.
"Menyenangkan," gumam Nandini.