Bab 17

1070 Words
Putri memegang dagunya seperti sedang berfikir, "tinggal ubah aja kalimat akhirnya," ucapnya sembari terkekeh. "Tapi mereka yang punya pemikiran sendiri dan mampu bergerak atas kemauannya, bukannya mereka hidup?" tanya Putri. "Jadi menurutmu, aku ini hidup?" tanya Nandini kebingungan. "Hanya beda dimensi," sambung Putri. "Malasih ya, aku jadi merasa lebih baik," ujar Nandini sembari tersenyum. "Beneran?" tanya Putri tidak percaya. Nandini hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman. Membuat Putri ikut tersenyum lebar. Nandini terdiam menunduk, sembari berjalan terus. Putri yang berada di belakangnya mengikuti tanpa diperintah. "Sampai," ucap Nandini tepat berada di depan pintu toilet. Entah apa yang membuat penunggu di toilet itu begitu marah. Tapi Nandini tidak bisa membiarkan dia mengganggu orang-orang sesuka hatinya. Itu sangatlah tidak benar bagi Nandini. Nandini meneguk salivanya, mencoba mengatur emosinya. Dia tidak mau rasa ketakutan mengendalikannya. "Putri, buka!" suruh Nandini. Tangan Putri meraih gagang pintu. Dia memutarnya dan mendorong pintu perlahan. Suara pintu yang membuat jantung berdegup kencang. Seolah memiliki durasi yang lama. Tetesan air dari kran sesuai dengan detik yang berjalan. Membuat toilet menjadi tidak terlalu hening. Tetapi, tempat ini masih terlihat seperti sebelumnya. Mencekam dan seolah ada yang mengawasi. "Keluar! Aku mau bicara!" seru Nandini kemudian. Tak ada jawaban, hanya bunyi tetes air yang menjawab. Nandini melhat ke segala arah. Mencari sosok yang dia cari. Namun, tidak ada siapapun selain dirinya dan Putri. "Aku ingin bicara!" seru Nandini sekali lagi. Gebrakan pintu mengagetkan Putri dan Nandini. Mereka langsung menoleh ke arah belakang. Pintu itu tertutup seketik, membuat mereka terkejut. Putri membelakangi cermin, kedua tangannya memegang bibir wastafel, menahan beban tubuhnya. Matanya mengawasi daerah sekitar, mewaspadai akan hadirnya sesosok yang mereka tunggu. Tiba-tiba sentuhan terasa di tangan Putri. Dia langsung menoleh mencari tahu siapa itu. Namun, ketika dia menoleh bersamaan dengan sentuhan itu menghilang. Tidak ada siapapun, Putri menghadap cermin. Dia melangkah mundur perlahan menjauhi cermin. "Ada apa Put?" tanya Nandini penasaran. "Ada yang megang tanganku," ujar Putri dengan wajah yang terlihat terkejut. "Dia ada di sekitar sini," gumam Nandini. "Keluar sekarang juga!" seru Nandini tidak mau menyerah untuk membuatnya keluar. Putri menghadap Nandini, dia menatapnya seolah berkata tidak ada apapun. Ketika Putri menghadap Nandini. Sosok gadis itu tepat berada di belakang Putri dengan rambut yang menutup sebagian wajahnya. Nandini membelalakan matanya, ketika dia tepat berada di belakang Putri. Gadis itu mulai berjalan dan mendekat. Putri yang melihat raut wajah Nandini yang terlihat terkejut. Menoleh kemana arah matanya melihat. Putri terkejut, dia menutup mulutnya tidak percaya. Hantu itu datang lagi dan dia mendekat. Putri memundurkan langkah kakinya berusaha menjauhi hantu gadis itu. "Kau!" ujarnya terlihat marah menunjuk Nandini perlahan. Nandini memundurkan langkah kakinya. Dia mulai takut saat ini. Tetapi, dia tidak mau dia itu menderita lebih lama sepertinya. Nandini memutuskan melangkahkan kakinya maju meski sedikit ragu. "Kak Nandini," panggil Putri mencoba menghentikan Nandini. Kini Nandini menghadap gadis berambut panjang itu. Mereka terlihat terdiam, ketegangan pun terlihat jelas. "Selesaikan apa yang membuatmu tetap di sini," ucap Nandini. "Aku tau, pasti menderita bukan? Kalau begitu, selesaikan dan pergilah segera," ucap Nandini lembut sembari tersenyum ramah. Gadis itu menatap Nandini, "Aku tidak menderita!" tegasnya sambil mengarahkan tangannya ke arah Nandini. Nandini kebingungan, apa yang akan gadis itu lakukan. Nandini memperhatikan tangan gadis itu yang mengarah padanya. Gadis itu menarik tangannya, kemudian dia mendorong tangannya yang membuat Nandini jatuh terduduk di lantai. Baru pertama kali dirinya merasakan sakit di tubuhnya setelah sekian lama. Gadis itu kemudian berjalan mendekat ke arah Putri. Dia berjalan perlahan, dan tersenyum lebar. Putri memundurkan langkahnya, dia merasa ini bukanlah sesuatu yang baik. Dia berusaha menjauh darinya dengan berjalan mundur perlahan. Nandini mencoba bangkit, dengan satu tangan yang menumpu badannya. Tangan yang lain mencoba menyeimbangkan. Sebelum Nandini berhasil berdiri. Hantu gadis itu sudah tidak ada di depan matanya. Nandini melihat ke segala arah. "Putri?" panggil Nandini memastikan. Nandini melihat Putri yang menunduk. Dia terlihat terdiam membisu tak menjawab panggilan dari Nandini. Putri mengangkat wajahnya, kemudian dia menatap Nandini. Dari matanya Nandini mengetahui satu hal. Dia bukan Putri. Tanpa fikir paniang Nandini langsung memasuki tubuh Putri. Dia berusaha mengeluarkan hantu gadis itu keluar dari tubuh Putri. Hingga pertikaian itu terjadi di dalam tubuh Putri. Beruntungnya Nandini berhasil mengeluarkan gadis itu. Namun, karena tidak kuat menahan hal itu. Putri akhirnya tumbang seketika. "Kak Nandini," panggil Putri dengan sisa tenaganya. Putri jatuh tersungkur di lantai. Membuat Nandini panik, tapi kelengahan Nandini membuat gadis itu memiliki kesempatan. Gadis itu mencekal tangan Nandini. Menghentikannya untuk mendekati Putri. Kemudian mereka menghilang seketika. Putri yang melihat dengan sedikit buram, tidak dapat melakukan apapun. Dia akhirnya pingsan tidak sadarkan diri. *** Putri menceritakan segala yang dia ketahui saat kejadian itu berlangsung. Mereka berdiri dengan satu penerangan yang digenggam Devan. "Apa?" ucap Devan tidak percaya setelah mendengar cerita langsung darinya. "Kalau gitu kamu pulang aja ya," suruh Devan. "Kenapa?" tanya Putri. "Kamu gak takut, sendirian gelap begini pula. Terus nanti semisal ada yang nyapa dari balik kegelapan gimana?" papar Putri membuat Devan berkeringat dingin. "Terus semisal ada yang merangkak, berdarah-darah manggil nama kamu, gimana?" sambungnya lagi. "Dia bilang gini," ujar Putri mengatur suaranya. Putri berdehem seraya berkata dengan suara yang dibuat serak, "Devan... Devan... To... Long..." bisiknya di telinga Devan. "Terr-" ucapannya dipotong oleh Devan. "Oke cukup!" ujar Devan mencoba menghentikan ceritanya. Devan berkeringat dingin dengan degup jantung yang cepat. "Kamu takut?" goda Putri. Selangkah Devan memundurkan kakinya. Dia memalingkan wajahnya dari Putri. Devan mengepalkan tangannya, menatap wajah Putri serius. "Pulang sekarang! Sebelum ada sesuatu yang lebih buruk lagi!" ucap Devan kesal. "Nggak akan!" balas Putri yang ikut kesal. Devan menghela nafas, Putri sama sekali tidak ingin pulang. Devan sangat khawair sesuatu yang buruk menimpa kepadanya. "Aku tetap ingin mencarinya!" tegas Putri. "Oke!" ucap Devan pasrah. "Tanpa seijinmu juga aku tetap nyari," ujar Putri mengambil ponselnya dari genggaman Devan. Devan hanya bisa mengekor padanya. Karena Putri yang memegang satu-satunya penerangan. Mereka berjalan perlahan, Putri menggerakan ke kanan dan kiri ponselnya. Hingga dia sampai di depan pintu toilet. Putri memandang Devan seolah bertanya siap atau tidak. Sementara Devan menelan ludahnya, berusaha menenangkan diri dari degup jantung yang terus memacu. Tanpa jawaban, Putri meraih gagang pintu perlahan. Dia menggenggamnya erat selama beberapa detik. Kemudian memutarnya perlahan, membuat suara gesekan dalam gagang pintu yang kekurangan minyak. Putri mengarahkan ponselnya di antara celah pintu yang dibuka. Cahayanya mengikuti pintu yang dibuka semakin lebar. Putri mengarahkan ponselnya ke segala arah. Dia menatap ke atas, dan ke bawah. Tidak ada siapapun di sana. Hingga suara dering ponsel yang dipegang membuat mereka sedikit terkejut, karena keheningan ini. Drrt... Drrt...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD