Gebrakan meja membuat orang yang sedang duduk di sofa terlonjak kaget. Dia menatap anak muda di depannya lekat-lekat.
Anak muda itu berdiri, dia mengerutkan dahinya. Alisnya betautan, dengan nafas yang memburu.
"Bagaimana bisa, bapak diam saja?!" tanya Arga kesal.
"Itu sudah lama, dan tidak perlu diungkit lagi. Dia sudah tiada, dan artinya masalahnya sudah tidak ada lagi," jawab Pak Wirjo penuh penekanan.
"Apa bapak tau?" tanya Arga menjeda kalimatnya.
Arga menarik nafasnya dalam-dalam. Dia mencoba menurunkan intonasinya. Arga memejamkan matanya, kemudian membuka matanya dengan tatapan tajam.
"Saat ini dia mungkin telah menderita selama itu. Tapi ada orang bodoh. Bukan," jedanya.
"Dia memiliki adik dan temannya untuk membantu menyelesaikan masalah yang harusnya sudah dikubur dalam-dalam dan sudah hilang tanpa jejak saat ini," papar Arga sambil menatapnya.
"Apa maksudmu?" tanyanya sembari mengatur posisi duduknya.
"Ke sekolah sekarang. Sebelum mereka buat masalah lebih besar, hanya karena satu orang di masa lalu," ujar Arga meninggalkan kediaman Pak Wirjo.
Perkataan Arga membuatnya diam seribu bahasa. Dia tidak tahu akan menjawab apalagi setelahnya. Ia hanya bisa menatap punggung Arga yang semakin jauh meninggalkan kediamannya.
Arga tidak percaya akan mengurus masalah orang lain semacam ini. Dia berjalan sambil menunduk, memikirkan tentang satu kata yang berarti banyak.
Kenapa?
Pertanyaan itu selalu muncul di setiap kakinya melangkah. Arga membuka gerbang besi yang menutup.
Beberapa anak lewat menggunakan sepeda. Mereka tertawa begitu terlihat bahagia saat melewati Arga.
Arga menoleh, tangannya berhenti menutup pintu pagar besi. Dia melihat anak-anak itu sesaat.
Arga memejamkan matanya, berusaha mengusir ingatan yang telah lama. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya.
Suara anak-anak itu semakin menjauh. Membuatnya membuka mata perlahan. Dia melanjutkan langkahnya di atas jalanan beraspal.
Suara kendaraan yang melaju kencang mulai terdengar. Saat Arga mulai dekat dengan jalan raya. Suara klakson kendaraan membuat bising yang tak terhindarkan.
Di trotoar dekat jalan raya. Dia melihat banyak kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang. Mereka terlihat memiliki tujuan masing-masing.
Orang-orang yang melewatinya sibuk bermain ponsel dan tertawa di depan layar benda persegi itu.
Bis yang ditunggu selama beberapa menit itu akhirnya berhenti tepat di halte dimana Arga menunggunya. Dia menaiki bis itu, dan duduk di dekat jendela. Hanya ada sedikit orang yang naik.
Memikirkan hal bodoh yang dia lakukan tadi. Arga mengacak rambutnya dan menundukan wajahnya. Dia tidak habis fikir, dirinya akan pergi jauh-jauh ke rumah guru yang paling dihindari banyak orang.
Arga merogoh saku celana mengambil ponselnya. Dia mengangkat wajahnya. Ibu jarinya mulai mengetik huruf depan nama seseorang.
Arga mendekatkan ponselnya di telinganya. Bukan suara Devan yang ia dengar, melainkan suara wanita operator yang menjawab.
Arga melihat layar ponselnya kembali. Dia mencari nama Putri di sana. Arga segera menghubunginya kali ini. Dia mendekatkan ponsel ke telinganya.
Suara panggilan yang tersambung membuatnya menunggu sampai Putri mengangkatnya. Suara dari seberang terdengar jelas.
"Jangan coba-coba masuk ke sana!" ucap Arga dengan nada rendah penuh penekanan.
"Udah kubuka," ujar Putri dari seberang.
"Jangan masuk!" perintah Arga.
"Tapi kak Nandini," ucap Putri menggantung.
Arga menghela nafas, "Jangan masuk, aku segera ke sana," ujar Arga menutup panggilannya.
Di waktu yang sama...
Putri kembali melihat ponselnya. Dia menoleh, menatap ke arah Devan.
"Kenapa?" tanya Devan bingung.
"Katanya kita gak boleh masuk," jawab Putri.
"Ya udah," balas Devan santai.
Putri yang mendengar balasan Devan mulai kesal, "Hei! Kamu gak mau cari kakakmu?" tanya Putri meninggikan nada suaranya.
Devan sedikit memundurkan kaki menjauh dari suara yang mengagetkannya. Mata yang terlihat menatap tajamnya. Membuatnya meneguk ludahnya sendiri.
"Tapi, kalau kita masuk. Kita gak akan tau apa yang akan terjadi selanjutnya," ucap Devan berusaha menghindari kemarahan Putri yang bisa meledak.
"Alasan!" ucap Putri yang masih kesal.
Kemudian Putri memasuki toilet tanpa sepatah kata pun. Devan menahannya dengan memegang bahunya.
"Tunggu Arga," ujar Devan.
Putri menghempas tangan Devan dari bahunya. Dia tetap berjalan memasuki ruangan ini. Satu penerangan dia arahkan kemana ia inginkan
Kini Putri berada di dalam toilet. Dia melihat ke segala arah dengan penerangan di ponsel yang dibawanya. Devan hanya bisa melihat di depan pintu.
"Kak Nandini!" panggil Putri dengan suara lantang.
"Jangan sekarang," ucap Devan dengan sedikit berbisik.
Putri hanya melirik Devan, kemudian dia melanjutkan apa yang sedari tadi dilakukannya. Putri terus memanggil tanpa henti. Meskipun mereka baru pertama bertemu, mereka terlihat sangat akrab.
Putri terus memanggilnya, namun tidak ada satu pun jawaban yang keluar. Putri akhirnya memutuskan untuk keluar dari toilet. Dia sama sekali tidak menemukan Nandini.
"Gak ada kan?" tanya Devan memastikan.
Putri menatap Devan dengan wajah kesal, "Kenapa kamu santai banget sih?" tanya Putri dengan meninggikan suaranya.
"Ya... Kan itu," ucap Devan berusaha mencari kalimat yang tepat.
"Itu... Mmm..." ucap Devan masih menggantung.
Sampai membuat Putri kesal, "Itu, itu! Ngomong yang jelas dong!" ucapnya meninggikan suara.
Devan mulai kebingungan menjawabnya. Dia memalingkan wajahnya, berusaha untuk tidak menatap orang yang ada di depannya saat ini.
Tap Tap Tap
Suara langkah dari tempat mereka masuk terdengar. Dalam kegelapan yang menyelimuti suara itu terdengar makin dekat.
Mereka melihat ke sumber suara, cahaya terang menyilaukan mata. Membuat mereka tidak dapat melihat siapa yang ada di balik cahaya.
Devan menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan untuk menghindari sinar. Hingga langkahnya makin dekat, Putri secara spontan mengarahkan lampu di ponselnya kepadanya.
"Matikan lampunya," ujar Arga sembari menutup matanya dari cahaya yang menyilaukan.
"Baru datang?" tanya Putri dengan raut wajah masih kesal.
Melihatnya seperti berada di depan guru BK. Arga hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.
"Dimana kak Nandini?" tanya Arga kemudian.
Putri memegang pinggangnya sembari menatap ke bawah.
Dia menghela nafas mendengar pertanyaan itu, keluar dari mulut Arga.
Putri kembali menatap Arga, "Nggak ada di sini," balasnya.
"Kak Put-" ucap Arga salah memanggil.
Putri seketika menatapnya tajam. Dia sama sekali tidak suka dipanggil 'Kakak'. Jika dipanggil demikian maka dia akan marah, atau tidak menyahut panggilannya.
"Maksudnya, Putri tolong ceritakan semuanya," pinta Arga memperbaiki kalimatnya.
Putri akhirnya menceritakannya dari awal bagaimana itu bisa terjadi, hingga akhir peristiwa dimana Nandini menghilang tanpa jejak. Arga hanya memantuk, mendengar cerita yang keluar dari mulutnya.
"Sekarang kalian keluar dulu," perintah Arga setelah mendengar ceritanya.
"Hah? Terus kak Nandini?" tanya Putri.
"Cuma aku yang bisa nyari," ujar Arga.
"Tapi-" ucapan Putri terpotong ketika Devan memegang pundaknya dan menggeleng kepadanya.
"Cuma dia yang bisa," ucap Devan percaya kepada Arga.
"Oke," jawabnya pasrah.
Putri mengarahkan jari telunjuknya di depan wajah Arga, "Harus ketemu!" perintahnya.
Anggukan kecil sebagai jawaban. Arga hanya bisa menjawabnya dengan itu.
"Jangan ada yang masuk, sebelum aku keluar," ujar Arga melangkah memasuki toilet.
Pintu pun menutup perlahan, wajah Arga mulai tertutup sebagian hingga benar-benar tertutup oleh pintu. Kini hanya menyisakan Devan dan Putri di luar toilet.