Bab 15

1052 Words
Tetapi mengingat keluarganya. Keegoisan muncul, dia tidak ingin pergi sebelum janji saat sebelum dia mati teringkar. Dia masih bertekad untuk memenuhi janjinya. Meskipun harus menunggu selama 16 tahun lamanya. Nandini benar-benar tidak bisa berfikir jernih saat ini. Dia tidak bisa melakukan apapun. Pintu terdengar diketuk dari luar. Ketukannya berkali-kali, membuat yang ada di dalam melihat ke arah sumber suara. "Arga? Kak Nandini?" panggil Devan sambil menggedor pintu. Gadis itu berhenti dan melihat ke arah sumber suara. Kemudian kembali menatap Nandini dengan penuh amarah. Tiba-tiba Arga mencekal tangan gadis itu dan menarik tangannya kemudian melepaskannya dengan kasar. Nandini yang melihat itu terkejut. Arga dapat menyentuh makhluk yang tak kasat mata seperti itu. Membuat Nandini menganga akan kejadian. Setelah itu, Arga langsung memegang lengan Nandini dan membuka pintunya dengan mudah. Karena hantu itu tidak menguasai pintu ini lagi. "Arga," panggil Putri. "Kita pulang sekarang!" seru Arga sembari berlari memegang lengan Nandini. Devan dan Putri tidak bisa banyak bertanya saat ini. Mereka hanya bisa ikut berlari di belakang Arga. Nandini memandang tangan Arga hingga ke punggungnya. Banyak pertanyaan muncul di kepalanya. Tangannya benar-benar hangat. Sudah lama dia tidak bisa merasakan kehangatan seperti ini dari orang lain. "Jelaskan padaku apa yang terjadi, hei! Berhenti dulu!" seru Devan yang terengah-engah. Tetapi hal itu tidak digubris Arga. Dia tetap berlari untuk menghindar dan berada di lingkup yang aman. Devan berdecak kesal, kata-katanya sama sekali tidak digubris. Kemudian dia melanjutkan larinya. Nandini lupa akan tujuannya kemari. Dia menghempas tangan Arga dengan kasar. Membuat Arga berhenti dari larinya. Dia menoleh ke belakang dimana Nandini berada. Nandini terihat menatapnya dengan kesal Arga membalikan badannya menghadap Nandini. Menunggu apa yang ingin dikatakan Nandini saat ini. Membuat Putri dan Devan yang tidak mengetahui apa yang telah terjadi tadi, ikut terdiam. Kesunyian ini membuat Devan dan Putri semakin penasaran. Apa yang telah terjadi selama kurang dari 5 menit yang mereka lewatkan. Yang pasti, mereka terlihat sedang tidak baik-baik saja. Seolah ada ketegangan yang membuat mereka terdiam selama beberapa detik ini. "Ada apa... ini?" tanya Putri yang penasaran akan apa yang menimpa mereka. Mereka sama sekali tidak menjawab. Membuat Putri menyesal untuk bertanya. "Aku akan kembali ke sana," ucap pelan Nandini membalikan badan dan berniat kembali ke toilet tadi. "Jangan macam-macam!" seru Arga. Membuat Nandini berhenti melangkah, kemudian dia menoleh. Tatapan Nandini yang menajam seolah tidak suka dengan apa yang dilakukan Arga. Setelah itu, dia kembali melanjutkan langkahnya. "Nggak semua masalah, bisa diselesaikan dengan hanya bicara!" ucapnya sedikit berteriak. Nandini kembali menghentikan langkahnya. Dia mengerti, jika Arga mengatakan hal yang benar. Kembali sunyi, Arga berharap Nandini akan mengerti dengan apa yang dikatakannya tadi. Nandini menoleh, dia membalikan tubuhnya dan menghadap ke arah Arga. Mereka masih terdiam, hingga Nandini mulai melangkah maju mendekati Arga. Entah apa yang difikirkan Nandini membuat Arga gugup ketika dia mulai mendekatkan wajahnya. "Kamu memang benar. Nggak semua masalah dapat diselesaikan dengan hanya bicara," ucap Nandini membenarkan. "Tapi, nggak semua masalah yang dikubur dalam-dalam bisa hilang begitu saja," ucap Nandini penuh penekanan. Setelah mengatakan itu, Nandini kembali melanjutkan langkahnya. Kali ini, Arga tidak bisa menjawab apapun. Dia hanya bisa diam terpaku di sana. "Kak Nandini! Ikut!" seru Putri sedikit berlari mengikuti langkah Nandini. Devan melipat tangannya di depan d**a, dengan kaki kanan yang sedikit menekuk. Dia melihat Putri dan Nandini semakin menjauh. Kemudian dia menoleh ke arah Arga yang masih terdiam. Devan tidak mengerti apa yang terjadi di antara Arga dan Nandini saat ini. Devan melangkahkan kakinya, mendekati Arga. Dia menepuk bahu Arga pelan. Arga sedikit terkejut, membuat Devan ikut terkejut. "Ngagetin!" ucap Devan. Seharusnya Arga yang mengatakan itu, tapi dia mengurungkan apa yang ingin dia katakan. Dia berbalik dan meninggalkan Devan. "Arga! Toilet sebelah sana!" ingat Devan menunjuk arah sebaliknya. Namun, ucapan Devan diabaikan begitu saja. Entah apa yang sedang mengganggu fikirannya. Arga tetap berjalan dengan tenggelam dalam fikirannya saat ini. "Arga!" panggil Devan yang masih diabaikan. Mengetahui panggilannya benar-benar diabaikan. Devan berlari kecil untuk menyamai langkah Arga. "Arga?" panggil Devan. Arga masih sibuk dengan fikirannya. Hal ini membuat Devan semakin kesal. Devan ikut melangkah, sambil memikirkan bagaimana caranya agar temannya ini mau mendengarkan dirinya. Tiba-tiba ide cemerlang dalam fikirannya muncul. "Arga duitnya jatuh," ujar Devan menunjuk ke arah lantai Arga menghentikan langkahnya, dia melihat ke berbagai sisi mencari apa yang Devan maksud. Ternyata rencana sederhana Devan sungguh berhasil. Arga menatap Devan kebingungan. Dia sama sekali tidak menemukan apa yang dikatakan Devan sama sekali. "Mana?" tanya Arga. "Mata duitan!" ucap Devan kesal. Tidak dapat dipercaya, panggilannya diabaikan. Sedangkan uang yang tidak pernah memanggil nama maupun bicara, dicari dengan seksama olehnya. "Devan, kamu bohong?" tanya kesal Arga. "Makanya kalau ada orang manggil disahut dong," ucap Devan. Arga hanya bisa berdecak kesal melihat dirinya ditipu oleh temanya sendiri. Arga kembali melangkahkan kakinya menuju suatu tempat. "Hei! Arga!" panggil Devan. "Nih, anak mau kemana sih?" gumam Devan. "Kamu mau kemana? Arga!" tanya Devan sambil sedikit berteriak melihat punggung Arga mulai menjauh. Devan sungguh tidak mengerti. Beberapa kali melihat ke depan dan belakang. Devan sangat kebingungan kemana jala yang harus dia lalui. Dia akhirnya pergi ke arah sebaliknya menuju dimana Nandini dan Putri berada. Meski Devan mengerti, jika dirinya tidak suka dengan rencana Nandini. Entah apa yang membuatnya tetap melangkah menuju ide bodoh kakaknya itu. Dengan lari kecil, Devan menuju toilet itu. Kakinya tetap berjalan, meskipun dalam otaknya ingin menghentikan langkah kakinya ini. Gelap, tempat ini kembali gelap. Lorong ini hanya sedikit bercahaya. Kembali seperti saat Devan berada di sini. Devan mematung, melihat seisi ruang gelap. Devan mengambil ponsel dari sakunya. Menyalakan lampu diponsel, mengarahkan ke arah depannya. Devan mencoba melangkahkan kakinya maju ke depan. Cahaya dari ponselnya yang cukup terang dia arahkan ke berbagai arah. Untuk mencari keberadaan Putri dan Nandini. Waktu yang menunjukan pukul empat sore di ponselnya. Lorong ini begitu gelap, Devan merasa seperti diawasi. Devan mengarahkan ponselnya ke sisi kiri. Dia menemukan tempat yang mungkin saja, keberadaan mereka ada di sana. Devan menyinari pintu toilet itu dengan ponselnya. Dia mulai mendekat hingga hanya tinggal setengah meter jaraknya dari pintu. Tangannya mencoba meraih gagang pintu, meskipun beberapa kali Devan menarik tangannya kembali karena ragu. Devan meneguk salivanya, tangannya memutar gagang pintu ke bawah. Perlahan dia buka, suara pintu yang dibuka pelan sangat khas. Dengan jantungnya yang mulai berdegup kencang. Membuat Devan berusaha menenangkan diri. Dengan sedikit terbuka, Devan mengarahkan ponselnya ke arah toilet. Semakin lebar dia membukanya, semakin kencang jantungnya memacu. "Putri!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD