"Ini kelakuanmu kan kakak?" tanya Devan lirih.
"Aku serius itu bukan aku, tanganku masih di sini," jawab Nandini mengangkat kedua tangannya ke depan.
Devan menoleh ke kiri, dia melihat tatapan tajam. Meski dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Senyuman perlahan terukir semakin lebar.
Aaa!
Devan berteriak keras mengetahui wajah hantu itu tepat di belakangnya dan cukup dekat.
Dia tertawa lirih dan semakin keras. Memekakan telinga, suaranya begitu jelas.
"Hehehe... Hahaha!" tawanya keras.
Ketika dia tertawa makin keras, lampunya padam. Sekarang lorong dan toiletnya benar-benar gelap.
"Lampunya mati!" ucap Putri terkejut.
"Ada yang bisa dengar aku?" suara Arga terdengar jelas.
"Aku dengar," jawab Nandini.
"Devan?" panggil Arga memastikan semuanya tetap di tempat.
"A-Aku di sini!" ucap Devan sedikit berteriak.
Tiba-tiba lampu kembali hidup. Semua pasang mata melihat ke atas. Lampu yang terang itu kembali menarik perhatian.
Suara menggema tawa hantu gadis itu terdengar. Tapi wujudnya sudah tidak ada di tempat ini. Dalam kesunyian yang pudar oleh tawa yang menggema.
Kini mereka benar-benar terdiam, melihat ke berbagai arah. Mencari tahu dari mana suara itu berasal.
Rasa takut menyeruak, menghasilkan keringat dingin yang mengalir di pelipis. Devan mencoba mengatur nafasnya sebisa mungkin agar ketakutannya reda.
Tawanya kembali lenyap, membuat lorong ini kembali sunyi. Membingungkan, seolah dia benar-benar menyambut kedatangan mereka dengan caranya sendiri.
"Kalau kau ada di sini! Tunjukan wajahmu!" ucap Nandini membuka suara.
Tempat sampah di samping Devan jatuh pada saat Nandini baru menyelesaikan kalimatnya. Semua pasang mata tertuju pada tempat sampah itu.
Lampu berkelip dengan sangat cepat secara bergantian. Hingga lampu benar-benar padam.
"Kau sama sepertiku..." bisik seseorang di dekat telinga Nandini.
Nandini terbelalak mendengar hal itu dari seseorang. Dia tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang membisikan itu dari telinga kirinya.
Lampunya kembali menyala. Kran air wastafel di toilet itu berputar. Derasnya air mengalir dari kran. Suaranya menarik perhatian mereka, tetapi tidak ada siapapun di sana.
Hingga Nandini memberanikan diri untuk memasukinya. Diikuti Putri dan Arga di belakangnya. Sementara, Devan masih ragu untuk masuk ke dalam. Dia hanya dapat melihat dari balik pintu.
"Devan," panggil pelan Putri.
"Ngapain di sana?" tanyanya kemudian.
"Tapi," ucap Devan mencari alasan.
"Masuk!" suruh Nandini.
"Ng-Nggak makasih," jawab Devan melangkah mundur menjauhi toilet.
Ketika Devan sudah menjauh dari pintu, seperti ada telapak tangan yang menyentuh pundaknya. Membuat Devan langsung berbalik, tapi dalam sekejap sentuhan telapak tangan itu hilang. Sehingga Devan tidak sempat melihat siapa yang menyentuhnya.
Pintu toilet tertutup keras. Devan kembali membalikan badannya ketika mendengar suara pintu toilet yang tertutup.
Tanpa diberi aba-aba Putri langsung mendekati pintunya. Dia mencoba membuka pintunya. Tetapi hasilnya nihil.
Putri menggedor pintu, sambil berusaha membuka dengan memutar gagang pintu sembari memanggil Devan dari balik pintu. Devan langsung mendekati pintunya. Dia mencoba membuka pintu seperti yang dilakukan Putri. Tanpa menjawab panggilan dari Putri, Devan mendobrak pintunya beberapa kali. Tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk hal ini.
"Devan!" panggilnya lagi.
"Menjauh dari situ!" ucap Devan sedikit berteriak.
Kali ini Devan mengambil ancang-ancang. Dia memberi jarak agar dapat sedikit berlari untuk memberinya lebih banyak tenaga. Supaya dirinya dapat membuka pintunya kali ini.
Brak!
Tidak dapat dihindarkan, Devan jatuh tersungkur. Dia meringis kesakitan memegangi bahu kanannya yang menghantam keras pintu itu. Putri mendekat, mereka mencoba membantu Devan berdiri.
"Akh," pekik Devan kesakitan.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Putri khawatir sembari menaruh tangan kanan Devan di pundaknya.
Kemudian Putri membawanya keluar dari toilet. Mereka duduk bersender pada tembok. Di samping toilet, Putri terlihat khawatir.
"Aduh, sakit gak?" tanya Putri sambil menggigit jarinya.
"Sakitlah! Pake nanya," kesal Devan.
"Aih... Jawabnya biasa aja dong," ucap Putri sembari memukul bahu kanan Devan karena kesal dengan jawabannya itu.
"Akh, aw... Jangan dipukul dong," ucapnya meringis kesakitan.
Putri menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia lupa jika bahu kanannya Devan sedang kesakitan saat ini. Dia mengelus lembut bahu Devan sambil meminta maaf atas kelakuannya.
"Maaf, Devan. Maaf," ucapnya mengelus bahu kanan Devan.
"Oke cukup," ucap Devan menyudahi sembari menyingkirkan tangan Putri dari bahunya.
"Maaf Devan," sesal Putri.
Melihat raut wajahnya yang terlihat menyesal, "Iya, aku udah gak apa-apa. Lihat nih," ujar Devan sambil memutar bahunya meski terasa sedikit sakit agar terlihat baik-baik saja di depan Putri.
Pintu toilet tertutup pelan, membuat Putri dan Devan tidak menyadarinya. Begitu pula dengan Arga dan Nandini. Tidak ada yang menyadari suara decit pintu yang menutup pintu pelan.
Arga baru menyadari setelah pintu itu sudah menutup. Dia hanya bisa menghela nafas. Arga tahu hal ini akan terjadi. Berbicara kepada yang kasat mata bukanlah ide bagus.
"Dia gak bisa diajak bicara yah," ujar Arga.
"Keluar! Jangan sembunyi!" teriak Nandini mulai kesal.
"Aku hanya ingin bicara padamu!" serunya lagi.
Arga melihat kran air uang sedari tadi masih menyala. Dia mendekat ke arah wastafel itu. Tangannya menyentuh kran dan memutar perlahan.
Perlahan air yang mengalir mulai sedikit dan berhenti mengalir. Arga melihat ke arah cermin di depannya. Dia masih bisa melihat Nandini yang tengah mengawasi sekitarnya. Menunggu seseorang yang sama dengannya untuk datang.
"Akhirnya datang juga," ucap Nandini membuat Arga terkejut dan langsung menoleh.
Dia melihat sosok hantu yang pernah dijumpainya di gerbang. Dia hantu yang sama di sini. Arga memposisikan dirinya menghadap ke arah mereka.
Nandini dan gadis dengan rambut panjang yang menutup sebagian wajahnya itu saling menghadap. Tidak ada satu kata pun terlontar dari mulut Nandini.
Gadis dengan rambut panjang yang menutupi sebagian wajahnya mendongak. Nandini memundurkan langkahnya. Dia cukup terintimidasi dengan tatapan gadis itu.
"Apa yang kau lakukan di wilayahku!" bentak hantu itu sambil maju melangkah demi langkah mendekati Nandini.
Nandini mundur beberapa langkah, hingga dia jatuh terduduk di lantai. Arga yang melihat itu, kemudian berjalan dan menghadang gadis penunggu di toilet ini. Meski dia mengetahui, jika hantu itu bisa saja menembus badannya.
Tetapi itu sudah cukup untuk menghentikan langkah kakinya yang berusaha mengusir Nandini. Gadis itu menghentikan langkah kakinya, dia mendongak menyesuaikan Arga yang lebih tinggi dari dirinya.
“Manusia! Pergilah!" serunya hingga membuat telinga Arga mendenging.
Arga memegang kedua telinganya yang berdenging selama beberapa detik. Gadis itu melewati Arga dan mendekati Nandini sambil menunduk.
"Pergi," ucapnya lirih.
Nandini masih terdiam mendongak, melihat ke arahnya. Dia terlihat takut, kekuatannya terlihat lebih besar darinya. Nandini ingat bagaimana dia bisa mengendalikan lampu sesuka hatinya. Menyalakan kran air, membuat tempat sampah jatuh, dan menyentuh Devan yang bahkan dirinya sendiri belum dapat melakukannya dengan tangannya sendiri hingga detik ini.
Terkurung di kamarnya, tanpa bisa menyentuh buku yang ia suka. Selalu sendirian, membuatnya sangat frustasi. Ini membuatnya kesal, takut, dan sangat ingin segera pergi.