Nandini menembus pintu kamar Devan. Dia menemukan adiknya yang sedang membaca novel dengan serius. Devan terlihat sedang duduk di tempat tidurnya, sembari bersender di tembok dengan kepala sedikit menunduk menyesuaikan buku yang di pegangnya. Nandini mendekat dan duduk tepat di depan Devan. Dia membaca judul buku yang dibaca adiknya.
Kemudian memandang wajah adiknya itu. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran kakaknya. Nandini baru menyadari bahwa novel itu berasal dari kamarnya.
"Devan!" teriak Nandini di depan Devan.
Devan yang melihat dan mendengar teriakan keras dari dekat. Membuatnya terkejut, dan kepalanya membentur tembok di belakangnya. Devan meringis kesakitan, tangan kanan memegangi kepala bagian belakangnya.
"Ish... Bisa gak ketok pintu dulu?" tanya Devan kesal sembari meringis kesakitan.
"Kenapa buku novel detektifku di sini?" tanya Nandini.
"Pinjem," jawab Devan singkat yang masih memegangi kepala bagian belakangnya.
"Kenapa gak bilang?" tanya Nandini mulai geram.
"Lupa," jawabnya singkat lagi.
"Jangan sentuh barangku!" kesal Nandini.
"Karena kamu udah gak ada itu jadi milikku," ucap Devan santai.
"Hah... Bener juga yah," jawabnya lesu.
Devan terkejut dengan jawabannya. Dia berfikir, apakah dia salah bicara. Devan mengubah posisi duduknya dengan melipat kakinya.
"Kukembalikan setelah selesai baca ya?" ucapnya mencoba mengubah situasi membahayakan ini.
"Kamu bener kok," ujarnya sembari tersenyum kecut.
"Ma-Maaf kak, aku gak bermaksud-" ucap Devan terpotong.
"Besok, akan menjadi hari yang seru!" seru Nandini mengangkat tangannya seperti telah memenangkan sesuatu.
"Ah? Oh yeay..." heran Devan tapi ikut merayakannya dengan suara pelan dan ragu.
"Ok, selamat tidur adik kecilku," ucapnya sembari tersenyum ke arahnya kemudian pergi menembus pintu meninggalkan Devan.
"Siapa yang masih kecil coba?" heran Devan.
Di balik pintu, Nandini menunduk tenggelam dalam fikirannya. Entah, apakah kehadirannya membawa kebahagiaan atau sebaliknya. Tapi kini, sebisa mungkin dia akan membuat keluarganya tersenyum.
"Nandini?" panggil Ibunya.
"Eh Ibu," sahut Nandini.
Nandini menyambut kehadiran Ibunya. Dia berbincang dan berjalan mengikuti kemana Ibunya pergi.
***
Di bawah sinar mentari, mereka berdiri. Memandang gerbang sekolah yang terbuka. Siswa dan siswi berduyun-duyun memasuki sekolah. Di tengah-tengah orang yang berjalan memasuki sekolah sambil berbincang dan asik dengan dunianya sendiri. Ada orang yang was-was dengan apa yang akan dilakukannya nanti.
Devan sama sekali tidak percaya dengan teman-temannya. Mereka mau ikut rencana yang sama sekali tidak penting baginya. Dengan terpaksa Devan harus ikut ide konyol semacam ini.
Di sampingnya kiri ada Arga dan Putri. Sementara di sisi kanan ada Nandini. Devan benar-benar tidak percaya apa yang akan dia lakukan nanti. Dia hanya bisa menghela nafas panjang.
"Dan apa ini? Kenapa rasanya aku akan ikut berperang? Barisnya rapi banget lagi," batin Devan melihat sisi kanan dan kirinya.
"Kalian yakin mau ngelakuin hal ini? Secara nyata dia hantu, dan kita mau bantu dia?" tanya Devan mempertanyakan keyakinan teman-temannya.
"Terus kalau dia hantu, aku ini apa?" ucap Nandini kesal.
"Jangan bawa-bawa nama hantu deh," dengus kesal Nandini.
"Iya-iya," jawab Devan mengiyakan.
"Ayo masuk, bentar lagi bel," ingat Arga jalan di depan.
Mereka pun mengikuti langkah Arga di belakang. Entah, apa yang dilakukan hari ini tepat atau tidak. Yang pasti mereka tidak bisa lepas dalam hal ini.
"Eit... Tunggu-tunggu!" ucap Devan menghentikan langkah mereka.
Merek menoleh ke arah Devan dengan kompak, "Apa?" tanya Nandini.
"Kapan kita bantu hantunya? Sedangkan jam segini ada pelajaran," tanya Devan menunduk sambil memegang dagunya.
"Otak pinter tapi kadang bodoh juga," celetuk Nandini melanjutkan perjalnannya.
"Pelupa!" seru Putri kemudian mengikuti langkah nandini dari belakang.
"Yang bener aja Devan, kita udah bahas ini tadi sebelum berangkat. Kamu malah baca buku melulu," jelas Arga ikut pergi meninggalkan Devan.
"Beneran?" tanya Devan memastikan.
Namun, pertanyaannya sama sekali tidak digubris oleh mereka. Devan benar-benar diacuhkan. Meskipun Devan berkali-kali memanggilnya. Dia hanya bisa menghela nafas, dan berjalan di belakang mereka.
"Apakah aku melewatkan sesuatu tadi?" gumam Devan.
Devan benar-benar dimanjakan oleh novel milik kakaknya yang dia baca. Novel horor lanjutan yang tadi malam dia baca, benar-benar membuatnya penasaran bagaimana akhirnya. Hingga Devan harus membacanya sambil berjalan, demi mengetahui akhir cerita.
***
Waktu terus berjalan, detik tidak pernah berhenti. Semua murid menunggu detik-detik bel berbunyi tanda jam sekolah telah usai. Sementara Devan, dia sangat ingin waktu untuk berhenti.
Ketika bel berbunyi, penjelasan guru terhenti. Berbagai macam selebrasi karena bel berbunyi dilakukan secara diam-diam. Ada yang berkata tanpa bersuara, bersorak dalam hati, dan ada yang sudah mempersiapkan diri untuk pulang dengan menggendong tasnya.
Bagaimana dengan Devan? Dia sama sekali tidak merayakan selebrasi apapun. Dia juga tidak mempersiapkan diri untuk pulang. Devan sangat resah, dia sangat ingin pulang. Tapi karena keputusannya untuk ikut, dia malah membuat diri sendiri kerepotan. Keinginan untuk membaca novel dan komik milik kakaknya dengan tenang, tidak dapat tercapai hari ini.
Teman-teman sekelasnya berbondong-bondong keluar setelah sang guru keluar terlebih dahulu. Meskipun mereka tidak terlalu suka pelajaran sejarah ini dan hanya sedikit yang menyukai. Mereka tetap menghormati guru sejarah itu.
Devan memandang Nandini yang sedang membaca tulisan panjang di papan tulis. Dia sangat senang membaca, apalagi sejarah. Banyak cerita dengan kisah yang nyata. Membuatnya tertarik dengan cerita sejarah orang-orang berpengaruh di dunia.
Kelas begitu hening, karena hanya tersisa Devan, Arga dan Nandini di kelas. Mereka terlihat sibuk dengan fikiran dan kesibukan yang dibuatnya sendiri. Setelah beberapa menit menunggu, dalam sekejap sekolah terlihat sepi. Tidak terlihat orang yang lalu lalang di lorong sekolah.
"Siap?" tanya Arga menoleh kepada Devan di belakangnya.
"Untuk pulang? Aku sangat siap!" ujar Devan mantap.
"Ehh... Pulang? Jangan dulu!" ingat Nandini yang mendengar percakapan antara Devan dan Arga.
"Iya, jangan dulu!" seru Putri yang entah sejak kapan berada di depan pintu.
"Ngapain sih?" tanya Devan merasa tidak puas dengan alasan sekedar 'membantu'.
"Kalo gak ikut, aku laporin kejadian kemarin yang hampir ngilangin bukunya kak Nandini!" ancam Putri.
"Ck," decak kesal Devan tak mampu beradu argumennya.
"Oke, ayo!" ajak Putri memimpin di depan.
"Ini bukan jalan-jalan ke taman safari, hentikan sikap bersemangatmu," ucap Devan kesal dengan sikap bersemangatnya.
"Ck, sewot mulu deh nih anak," gumam Putri.
"Aku denger yah," ucap Devan yang masih dapat mendengar ucapan lirih Putri.
"Ribut terus!" ucap Nandini yang mulai risih.
"Cepetan, keburu malem. Cuman ngomong aja kan?" tanya Arga berharap ini segera selesai.
"Iya, cuma ngomong," ucap Nandini membenarkan.
Mereka melangkah keluar kelas. Lorong terlihat lebih sepi. Terlihat lebih gelap dan hening jika tidak ada siapapun. Cukup banyak rumor tentang sekolah ini. Dan cukup banyak cerita tentang berbagai penampakan di setiap malam saat melewatinya.
Penerangan yang sedikit karena tidak ada kegiatan dalam sekolah. Membuat lorong terlihat lebih mencekam dari biasanya. Entah apakah karena akan berbicara pada hantu lain, atau Devan terlalu banyak membaca novel horor.
Putri dan Nandini berjalan di depan, sementara Devan paling belakang bersama Arga. Devan sangat tidak suka adu nyali dan Arga sebenarnya tidak mau berurusan lagi dengan hantu. Mereka paling tidak antusias dalam hal ini. Tapi mereka tetap melakukannya.
Kini mereka sampai di kamar mandi laki-laki. Hal ini membuat Putri tersadar akan seauatu.
"Kalau hantu itu perempuan, kenapa dia bisa terjebak di kamar mandi laki-laki?" heran Putri.
"Ceritanya panjang," jawab Arga tidak mau bercerita panjang lebar, meski dia tau jalan ceritanya.
"Tanyakan saja langsung," ujar nandini.
"Oke, aku buka," ucap Putri membuka pintunya.
Pintu terbuka lebar, beruntung karena tidak ada siapapun di sini. Rasa penasaran Putri bisa terbayarkan dengan melihatnya secara langsung dari dalam.
Lampu kamar mandi tiba-tiba berkelip selama tiga detik tanpa henti. Seolah-olah, sang penunggu menyambut kedatangan mereka.
Devan mundur satu langkah menjauhi kamar mandi ini. Saat ini dia benar-benar ingin pergi dari sini secepat mungkin.
Sebuah tangan tiba-tiba seperti meraba punggung Devan. Kemudian menggeser hingga sampai ke pundak kiri Devan. Dia terkejut, tapi tidak mau bertindak gegabah.
Devan mencoba tenang dan melihat sisi pundak kirinya. Tangan pucat itu, ada di pundaknya.
"Hahaha..." tawa hambar Devan membuat yang lain menoleh.
Tatapan mereka membuat Devan mengetahui akan jawabannya. Tetapi, Devan tidak ingin mempercayainya.
"Ini kelakuanmu kan kakak?" tanya Devan lirih.
"Aku serius itu bukan aku, tanganku masih di sini," jawab Nandini mengangkat kedua tangannya ke depan.
Devan menoleh ke kiri, dia melihat tatapan tajam. Meski dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Senyuman perlahan terukir semakin lebar.
Aaa!