Mereka menatap Nandini, menunggu jawaban. Selama beberapa detik mereka masih dalam posisinya. Suasana hening tercipta secara alami selama beberapa detik itu.
"Apa rencananya?" tanya Arga.
"Sederhana," ujar Nandini.
Nandini terdiam sejenak, "Kita bicara padanya," ucapnya kemudian.
"Rencana yang sangat... Hebat," ucap Devan kecewa setelah menunggu lama.
Langit mulai gelap, tetesan air membasahi jalanan. Bau khas tanah yang terkena hujan semerbak memenuhi ruang.
"Hujan," ucap Putri.
"Cepet pulang sebelum nambah deras hujannya!" ajak Putri.
Devan dan Putri meninggalkan uang di meja. Kemudian mereka berdiri di teras tempat makan. Melihat awan mendung yang membuat seisi kota menjadi agak gelap. Waktu sore hari menambah suasana gelapnya. Sembari menunggu angkutan umum, Devan mengadahkan telapak tangan menunggu tetesan air yang turun dari atap jatuh ke tangannya.
Tetesan air berhasil jatuh tepat ke telapak tangannya. Menimbulkan tetesan air membentuk bulatan seperti embun di dedaunan pada pagi hari. Devan melihat dari beberapa sisi, melihat gelembung udara yang sangat kecil dari tetesan air tersebut rasanya menyenangkan baginya.
Hingga kesenangan itu harus pupus. Ketika tangan seseorang mendarat di telapak tangan Devan. Tepat di tetes air yang berbentuk bulatan pada telapaknya. Menjadi bentuk yang tidak teratur. Mendatar dan tidak berbentuk.
Devan menganga melihat kesenangan sederhananya pupus seketika. Dia menoleh ke arah pemilik tangan yang merusak kebahagiaannya.
"Putri!" geram Devan.
"Maaf," ucap Putri sembari terkekeh seperti tidak berniat meminta maaf.
"Aih..." dengus kesal Devan.
"Lagian, asik banget liatin bulir air," ujarnya masih terkekeh.
"Ayo pulang," ajak Arga melihat angkutan umum itu sedang menepi.
Arga masuk terlebih dahulu, disusul yang lain dibelakangnya. Tetesan air yang mengalir dari balik jendela. Memburamkan pandangan jalanan di luar.
Melewati jalan aspal yang basah terkena air. Pengendara motor yang menerjang rintik hujan. Orang-orang yang berteduh dari hujan di depan warung. Mereka melipat tangan mencoba menghangatkan diri.
Anak-anak yang berteduh mengadahkan tangannya menunggu air menetes tepat di telapak tangannya. Tepat seperti yang dilakukan Devan. Kesederhanaan sekecil itu dapat membuat seseorang atau banyak orang tenang. Karena mereka mau menunggu dan hanya fokus pada setiap tetes yang jatuh.
Mobil dan motor berlalu lalang melewati jalan aspal yang basah. Mendungnya langit didukung waktu menjelang malam. Terlihat gelap dengan sedikit sinar matahari yang masih bersinar.
Tidak terasa, menikmati pemandangan dikala hujan membuat siapapun seolah terhipnotis. Membuat mereka lupa jika tempat yang dituju sudah di depan mata.
Tepat saat hujan mulai reda, mereka turun dari angkutan umum. Langit mendung kini sedikit bersinar oleh sinar matahari yang mulai tenggelam.
Mereka berjalan santai menuju rumah. Berbicara dan tertawa bersama seperti tidak ada penghalang di antara mereka.
Arga berpisah di persimpangan jalan. Kini hanya ada Devan dan Putri. Mereka terlihat sangat akrab. Meski terkadang keributan dibuat oleh mereka berdua.
"Kalian, buat aku iri aja," ucap Nandini sembari tersenyum tipis.
"Apanya?" tanya Putri.
"Bagian mana?" heran Devan.
"Rumahnya udah deket," tunjuk Nandini.
Ucapan Nandini membuat Devan dan Putri bertanya-tanya. Mereka tidak mengetahui apa yang dibicarakan. Mereka hanya bisa berjalan mengikuti langkahnya dari belakang.
Tepat di depan halaman rumah, Ibunya Devan sedang menyapu halaman sambil bersenandung. Nandini yang melihat langsung memanggilnya dengan antusias sambil melambai.
"Ibu!" panggilnya.
"Eh, Nandini!" sahut Ibu sambil tersenyum.
"Kenapa baru pulang?" tanya Ibu mengubah senyumnya menjadi datar.
"Eh!" Nandini menghentikan langkahnya seketika.
"Main di rumah Arga," jawab santai Devan dan langsung melewati Ibunya itu.
"Bener nih?" tanya Ibu penasaran.
"Bener kok tante," jawab Putri di samping rumah.
"Putri, gak makan di sini?" tawar Ibunya Devan.
"Nggak makasih tante, hari ini papah pulang cepet," balasnya sambil tersenyum ramah.
Nandini melihat keharmonisan antar tetangga yang nyata. Dia sangat penasaran apa saja yang terjadi saat dia pergi waktu itu.
Waktu malam tiba, Nasi panas di depan mata. Makan malam dimulai, dentingan suara sendok dan piring yang beradu di meja makan memenuhi ruang.
"Mana Nandini?" tanya Ibu melihat anak pertamanya tidak ada di tempat.
"Oh, lagi di kamar tuh," jawab Devan mengambil sesendok nasi di piringnya.
"Gimana Nandini ikut kamu sekolah? Seneng gak?" tanya Ibu penasaran.
"Daripada dibilang seneng, lebih tepat dibilang repot ya?" ujar Devan sembari senyum dengan terpaksa.
"Sepertinya berat ya?" tebak Ayah.
"Sepertinya gitu," jawab Devan yang hampir memasukan sesendok nasi ke mulutnya.
"Tapi seneng gak? Bisa ngerasain rasa yang belum pernah ada?" tanya Ibu yang membuat Devan bingung sekaligus tidak dapat menyantap santapannya untuk yang ke sekian kalinya.
"Ibu ngomong apaan sih? Gak jelas banget," ucap Devan kesal dan langsung menyantap santapannya yang tertunda.
Ibu melihat Nandini turun dari tangga, meskipun dia bisa saja terbang tanpa harus menyentuh anak tangga. Dia menyuruh anak pertamanya duduk bersama.
Kini mereka duduk bersama, meski Nandini tidak makan. Sang Ibu adalah yang paling antusias menyambut anak pertamanya. Mereka terlihat bahagia ketika berjumpa dan duduk bersama. Seperti tidak ada yang terjadi di antara mereka. Layaknya hubungan Ibu dan anak seperti biasanya.
"Ketika melihatnya, sejujurnya hatiku benar-benar teriris. Tapi juga senang, namun hal ini tidaklah benar," batin Ayah yang melihat istri dan anaknya tertawa di meja makan ini.
"Ayah? Kenapa?" tanya Nandini melihat Ayahnya yang melamun.
"Ah, Nggak kok. Cuma lagi mikirin kerjaan," jawab Ayah memijat keningnya.
"Aduh, sayangnya gak bisa mijit Ayah," sesal Nandini.
"Hehehe... Udah gak usah," jawabnya sembari terkekeh.
"Devan! Pijitan Ayah tuh," suruh Nandini seenaknya.
"Eh, kok aku?" tany Devan tidak suka.
"Iyalah, adek harus nurut sama kakaknya!" seru Nandini.
"Hahah..." tawa hambar Devan menaruh sendoknya pelan dan berjalan pergi kamar.
"Adik durhaka," gumam Nandini.
"Hush! Gitu juga dia adekmu," ingat Ibu.
"Iya-iya," jawabnya mengiyakan.
"Nilainya juga bagus-bagus," puji Ibu kepada Devan.
"Eh, aku juga bagus-bagus bu!" kesal Nandini.
"Oh ya?"ucapnya pura-pura tidak ingat.
"Ibu, masa sama anak sendiri lupa?" heran Ayah yang meraih segelas air di depannya.
Air yang diminum seketika keluar kembali. Ketika istrinya menginjak kaki kirinya. Sang Ayah beberapa kali batuk karena air tidak masuk sempurna ke dalam kerongkongannya. Dengan secepat mungkin, dia kembali meminum air dalam gelas sampai habis tak tersisa.
Ayah menaruh gelas di meja hingga berbunyi cukup keras. Dia mengusap pipinya yang basah terkena air minum. Ayah menghela nafas lega, mengingat dia sudah tidak tersedak kembali.
"Udah baikan?" tanya sang istri menepuk-nepuk punggungnya.
Ayah hanya bisa memandangnya kesal, "Ibu," geramnya.
"Iya?" jawabnya dengan lembut membuat Ayah tidak dapat berkata-kata dan memilih diam.
Nandini yang melihat hanya bisa terkekeh. Mengetahui kelakuan mereka seperti pasangan muda dalam cerita novel yang pernah dia baca.
"Udah ah! Jangan ribut depan anak kita. Gak baik," ucap Ibu menyudahi keributan kecil yang dibuat.
"Hehe... Lanjutin aja, aku mau ke kamar Devan," ujarnya sembari terkekeh.
Kemudian Nandini berjalan pergi meninggalkan ruang makan. Melihat anaknya pergi mereka terdiam sejenak. Sang Ayah memandang istrinya dengan senyum yang belum pudar dari wajahnya. Memandang punggung anak pertamanya, entah harus senang atau prihatin dalam keadaan yang cukup sulit untuk dipercaya ini.