Bab 11

1003 Words
"Tumben anteng?" heran Devan. Bola mata Nandini langsung tertuju pada makanan milik Devan yang masih cukup banyak. Dia memikirkan sesuatu yang dianggapnya cemerlang. Dengan sigap, Nandini mengambil piring milik Devan. Kemudian memakannya tanpa permisi kepada Devan. "Hei, bagianku itu!" ucap Devan tidak terima bagiannya diambil. Tangan Devan hendak meraih piring itu, tapi terhenti oleh Nandini. Dia menggunakan tubuh Putri seperti miliknya sendiri. Dengan telapak tangannya, Nandini memukul tangan Devan yang sudah bersiap mengambil dengan cukup keras. Hingga Devan harus mengibaskan tangannya yang sedikit mati rasa. Sambil meringis kesakitan, Devan memandang kesal Putri yang sebenarnya adalah Nandini. Dan Devan masih belum menyadari itu. Nandini mengambil sesendok dan mengarahkannya kepada Devan. Dia menaikan turunkan alisnya seperti menawarkan. Sembari tersenyum, membuat Devan semakin heran. "Kamu siapa?" tanya Devan mulai bingung siapa yang di depannya. "Ini kakakmu loh!" ujar Nandini. Devan mencari keberadaan Nandini, ternyata memang tidak ada. Dia kembali melihat ke arahnya. Tangannya yang masih memegang pada posisi dan belum berubah. Dengan senyuman yang sama, membuat Devan sedikit takut. "Kak Nandini?" panggil Devan memastikan. "Iya... Ini aku," jawab Nandini. "Kenapa wajahnya takut banget kaya lihat hantu?" tanya Nandini. Devan sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu. Dia malah menatap Nandini semakin heran. "Jarang-jarang aku nyuapin kamu. Sekali-kali kek," ucap Nandini membujuk Devan agar mau disuapi. "Tapi kak, aku sudah SMA. Mana mungkin?" tolak Devan. "Mungkin, yakin nih? Masa sama kakak sendiri gak mau? Cuma sekali ini aja, karena belum tentu kakak bakal kayak gini lagi," ucap Nandini berusaha membujuk. Dia sangat ingin memberikan rasa kasih sayangnya terhadap adik kecilnya. Namun hal itu harus pupus ketika tragedi itu terjadi. Tetapi dengan sesuatu yang dia anggap sebagai keajaiban membuatnya dapat melihat adiknya. Nandini tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dia akan berusaha membuat kenangan yang indah di sini. Untuk yang ke dua kalinya. "Devan, tanganku pegel nih!" kesal Nandini dengan senyuman yang berubah mendatar. Dengan ragu, Devan melahap makanannya. Nandini tersenyum, kemudian mengusap rambut Devan dengan lembut. Devan merasakan suasana aneh yang baru dirasakannya. Sentuhan lembut itu menenangkan hatinya sejenak. Membuatnya hanya bisa menatap si pemilik tangan yang mengusap rambutnya. "Gimana? Enak?" tanya Nandini menghamburkan pemikiran Devan. "Eh, nggak. Bi-Biasa aja," ucap Devan mengalihkan pandangan. "Wah, apa ini? Pemandangan yang sangat manis," ujar Arga yang melihat peristiwa langka di depan matanya. Dengan kesal Devan menendang kaki Arga. Membuatnya Arga harus menjauhkan kakinya dari Devan. Arga hanya bisa terkekeh melihat kelakuan Devan yang lucu baginya. "Ok, udahan ah. Nih, lanjutin makannya. Makasih ya?" ucap Nandini menyudahi makannya. "Eh, kok kasih ke aku?" tanya Devan. "Emang mau ke mana?" selidik Devan melihat gelagat Nandini seperti akan pergi. "Si pemilik tubuh rupanya galak juga," sindir Nandini. Nandini pun meninggalkan tubuh Putri. Dia kembali duduk di sebelah Devan. Rasanya menyenangkan bisa merasakan makanan setelah sekian lama. Putri membuka matanya perlahan. Devan dan Arga menatapnya. "Kenapa?" tanya Putri. "Apa ini? Aku makan lagi?" tanya Putri melihat sendok masih dipegang di tangannya. "Kak Nandini," geram Putri. Nandini membalas dengan senyumnya. Dia sama sekali tidak menyesal melakukan itu. "Udah ah, aku mau makan jangan berisik!" ucap Devan melanjutkan makannya. Putri yang masih kesal, memainkan ponselnya untuk menghilangkan kekesalannya. Sambil menggulir berita dan status orang di ponselnya. Dia teringat dengan pertanyaan Devan waktu itu. Putri langsung mencari beritanya dari ponsel miliknya. "Ada!" seru Putri membuat yang lain menatapnya. "Apa?" tanya Devan dengan sendok yang baru menyentuh bibirnya. "Lihat deh," ujar Putri menunjuk berita di ponselnya. Arga dan Devan harus sedikit menyipitkan matanya melihat ponselnya yang jauh dari pandangan. Devan membacanya dalam hati, berita itu ada di internet. Kasus kematian seorang siswi di sekolahnya. Arga segera mengambil ponsel dari tangan Putri. Dia membacanya dengan teliti. Arga memantuk seolah sedang memahami sesuatu. "Kenapa Arga?" tanya Devan. "Hantu yang ada di kamar mandi itu dia," ucap Arga menunjuk foto orang yang bunuh diri di artikel tersebut. "Tunggu! Kamar mandi yang mana?" tanya Devan memastikan. "Kamar mandi yang kamu bersihin," ucap Arga apa adanya. Devan meneguk salivanya, dia telah menduga semua itu. Membayangkan tangan pucat di bahu kirinya membuatnya merinding. Devan terdiam, ingatannya memutar ulang kejadian. Membuatnya semakin takut. "Devan? Devan? Hei!" panggil Putri yang sedari tadi tidak digubris Devan. Devan sedikit terkejut dengan panggilan Putri. Dia melihat ke arahnya. "Kamu lihat dia?" tanya Arga. "Aku cuma lihat tangannya," jawab Devan. "Sepertinya, kasus itu ada hubungannya juga sama beberapa guru. Salah satunya Pak Wirjo, dia wali kelasnya dulu," jelas Arga menaruh ponsel milik Putri di meja menunjuk apa yang dimaksud. "Tapi kenapa dia masih di sana, setelah bertahun-tahun?" tanya Nandini mulai penasaran. "Itu, aku gak tau pasti. Karena aku gak mau ikut campur masalah hantu," ucap Arga. Nandini menaikan alis sebelahnya menatap Arga lekat-lekat. Arga menyadari dia salah bicara. Dia mengalihkan pandangan, "Te-Tentu saja ada pengecualian untuk beberapa hantu," ujarnya. "Yaudah kita bantu dia," ucap Nandini santai. "Dia?" tanya Devan. "Iya, dia yang naruh tangan pucatnya di bahumu itu," jelas Nandini. "Ih, serius? Gak ah!" tolak Devan. "Aku ikut!" seru Putri mengangkat tangan kanannya. Nandini menatap Arga, tatapannya lebih menakutkan dibanding bicara. Dengan pasrah Arga mengangkat tangan kanannya. Devan terkejut Arga mau ikut hal semacam ini. Karena dia selalu berusaha mengabaikan hantu yang ada. "Hah? serius? Kalian semua?" tanya Devan tidak percaya dengan apa yang dilihat. "Kalo gak ikut gak apa-apa, tapi..." ucap Nandini menggantung. "Tapi?" tanya Devan penasaran. "Tapi kalo gak, kamu bakal diikutin. Jelas-jelas kamu udah dipegang bahunya waktu bersihin kamar mandi, iya kan?" ucap Nandini. "Beneran?" tanya Devan memastikan. Nandini memberi kode dengan anggukan kepada Arga dan Putri. Mereka menurut, dan mengatakan itu benar dengan sedikit ragu. Devan pun mempercayainya, dia bersedia ikut dalam hal semacam ini. Meskipun dalam hatinya tidak setuju. "Jadi kita ngapain?" tanya Devan. "Iya, kita ngapain?" tanya Putri penasaran. "Tapi aneh gak sih?" tanya Nandini serius. "Apanya?" tanya balik Arga. "Putri udah sekolah di sana dua tahun tapi dia gak tau berita ini?" heran Nandini. "Benar juga," ucap Devan memantuk. "Iya yah," ucap Arga baru menyadari. "Hei! Ini bukan saatnya!" kesal Putri. "Oke, cuma bercanda," ucap Nandini sambil terkekeh. "Apa rencananya?" tanya Arga. "Sederhana," ujar Nandini. Nandini terdiam sejenak, "Kita bicara padanya," ucapnya kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD