Bab 10

1128 Words
"Aku gak ngerjain kamu di kamar mandi," jelas Nandini. "Hah?" Devan terhenti dari langkahnya, memikirkan tangan siapa itu. Dia semakin merinding mengetahui itu bukanlah kakaknya. Masih dengan tatapan kebingungan yang bertanya-tanya mengarah ke Devan. "Kita pergi dulu deh," ajak Arga memecah keheningan. Kemudian mereka terdiam dengan fikirannya masing-masing. Berjalan tanpa bicara, kebingungan dengan apa yang terjadi. Sampai di tempat Pak Wirjo, Arga dan Devan mengucapkan salam sebelum memasuki ruangannya. Ruangan BK yang terlihat, benar-benar sepi. Tidak terlihat ada keberadaan orang lain selain Devan dan Arga. Tumpukan buku dan kertas yang menumpuk di beberapa meja. Lampu yang masih menyala di saat mentari bersinar terang. Bola matanya tiada henti melihat ke sana dan kemari. Langkah pelan mengitari ruangan, memandang setiap tumpukan kertas. Devan terkejut, melihat surat kabar yang tertulis tahun 2009 berada di antara tumpukan kertas di meja ini. Dia mengambil perlahan agar dapat melihat jelas apa isi koran itu. Tangan kiri menahan tumpukan lembaran kertaa dan tangan kanan menarik surat kabar itu secara perlahan. Sedikit demi sedikit mulai nampak tulisan lain dalam surat kabar itu. Surat kabar berhasil didapatnya. Devan membolak-balikan surat kabar, dia kembali ke halaman depan. Di sana tertulis kasus 'Ditemukannya siswi tewas di toilet' nama sekolah yang tertera adalah sekolahnya yaitu, 'SMA Purnama Semarang' sekolah yang disinggahi Devan. Dia mengerutkan dahinya, Devan belum pernah mendengar berita ini. Telapak tangan menepuk bahu Devan yang sedang membaca surat yang diambil di meja. Devan memperhatikan tangan yang berada di bahunya. Telapak tangan itu terasa berat, seperti milik orang dewasa. Devan meneguk salivanya melihat pemilik tangan itu. "Pak Wirjo?" gumam Devan melihat si pemilik tangan. "Ngapain kamu?" pertanyaan dengan suara beratnya membuat Devan gugup. "Eh, enggak pak," jawab Devan menyembunyika surat kabar di belakangnya. "Baca apa kamu?" tanyanya lagi. "Ko-Koran," jawab Devan gugup. "Sini," perintah singkat Pak Wirjo. Devan pun menyerahkan surat kabar itu. Pak Wirjo mengambilnya dengan sedikit kasar. Tanpa basa-basi Pak Wirjo menyuruh Devan dan Arga segera pulang sekolah. Dengan sedikit heran, Devan tetap menuruti ucapan pria paruh baya itu. Dia mencium punggung tangan dan pergi dari ruang BK bersama Arga. "Devan?" panggil Putri. Sepanjang perjalanan menuju rumah, Devan hanya terdiam. Seolah-olah Devan sedang terganggu akan sesuatu. Begitu juga dengan Arga yang terlihat diam dengan fikirannya. Membuat Putri bingung apa yang dia lewatkan selama bermain ponsel tadi. Putri memandang Nandini, dalam tatapan itu seperti saling bertanya 'Kenapa?'. Putri memukul punggung Devan dan Arga cukup keras, membuat mereka terkejut sekaligus meringis kesakitan. Mengingat telapak tangan Putri yang sangat pedas jika memukul orang. "Itu sakit," ucap Devan kesal. "Makanya, kalau ada apa-apa bilang!" teriak Putri kesal. "Iya tapi jangan mukul juga," ucap Devan kesal. "Oh iya, kalian tau kasus tahun 2009 di sekolah kita?" tanya Devan terlihat serius. Pertanyaan Devan membuat keadaan hening. Mereka terdiam sejenak, memikirkan tentang apa yang Devan katakan. Putri melipat tangannya depan d**a, melihat ke atas. Kemudian memandang Devan selama beberapa detik, membuatnya harus mengalihkan pandangan. "Aku tidak tau," ujar Putri. "Aa..." Devan menepuk dahinya, karena dia berfikir Putri mengerti apa yang di tanyakan. "Aku pikir Putri tau loh," ucap Nandini. "Kak Nandini tau?" tanya Putri tanpa berfikir. "Pertanyaan macam apa itu?" heran Nandini. "Emang kenapa Van?" selidik Nandini. "Cuma penasaran," ujar Devan. Pertanyaan Devan membuat yang lain terheran. Sebuah angkutan umum datang mendekati mereka. Angkutan umum berhenti tepat di depan mereka. Menunggu mereka melangkahkan kaki untuk naik. Belum sempat Devan naik, lengannya dicekal. Dia melihat tangan yang mencekalnya, kemudian menoleh ke arah si pemilik tangan. "Janjinya Devan," ucap Putri. "Janji apa?" tanya Devan merasa lupa akan sesuatu. "..." bisik Putri. "Hah?" "Beli sendiri," seru Devan. "Aku bilang ke tante ya?" ancam Putri. "Eh, jangan!" ucap Devan menghentikan Putri. "Yaudah, ayo anterin!" ajak Putri. "Ahh! iya deh," pasrah Devan. "Ini jadi naik gak?" tanya supir angkutan umum yang memunculkan kepala di jendelanya. "Eh, gak jadi pak. Maaf," ucap Devan tidak enak. *** Tahu gimbal yang ditaruh di pring putih. Tahu dan bahan pelengkap lainnya berada di piring yang sama. Sambal kacang yang melumuri, membuat siapapun ketagihan. Makanan khas semarang yang menggiurkan. Kini Arga dan Putri sedang makan dengan lahapnya. Sementara Devan, hanya bisa melipat tangan di depan d**a memandangi mereka yang sedang makan. Uang sakunya habis untuk membelikan Putri dan Arga makanan sebagai tanda tutup mulut. Devan tidak ingin jika saat pulang nanti harus diceramahi oleh Ibunya. Sangat merepotkan bila hal itu terjadi. Suara dentingan sendok yang bersentuhan dengan piring sangat nyaring. Devan kembali melihat uang yang ada di sakunya. Tersisa lima ribu rupiah yang cukup untuk ongkos pulang dan sisanya membeli es. "Devan, aaa..." panggil Putri mengarahkan sendok ke arah Devan. "Nggak! Kamu kira aku anak kecil?" tolak Devan mentah-mentah. "Devan, kamu sering disuapin?" tanya Nandini. "Nggaklah!" ucap Devan tidak membenarkan. "Ohh... Jadi yang waktu kecil maunya disuapin sama aku siapa?" ledek Putri. Nandini melirik Devan dengan senyuman yang mengejek. Dia baru tahu jika Devan sangatlah manja waktu kecil jika bersama Putri. Hal ini membuatnya tertawa geli. Di sela tawanya, dia sedikit lega karena banyak yang menyayangi adiknya. Tapi, dia sedikit resah karena mungkin dia tidak akan melihat peristiwa semacam ini lagi. Arga dan Putri tertawa melihat wajah Devan yang mulai memerah seperti tomat yang matang. Devan menjadi malu, hari ini adalah hari yang memalukan baginya. Hari ini terasa lebih lama untuknya. "Cepet habisin makanannya, terus kita pulang!" kesal Devan menyela tawa mereka yang belum terhenti. "Iya sabar dong," ucap Putri. "Mau aku beliin juga?" tawar Putri. Melihat tawaran yang cukup menggiurkan, ditambah suara perut yang kelaparan dari Devan. Membuatnya tidak bisa menolak. Akhirnya dia pun menerima dengan sedikit rasa malu. Setelah pesanan datang, Putri dan Arga selesai makan. Dengan kejahilan Putri, dia berdiri dan hendak pergi meninggalkan Devan yang baru makan. "Ayo Arga, kita pulang!" ajak Putri. "Loh, aku ditinggalin gitu?" tanya Devan. "Tadi kamu bilang apa?" tanya Putri mencoba membuat Devan mengingat. "Apa?" tanya Devan tidak tahu. "Cepet habisin, setelah itu kita pulang!" ucap Putri menirukan Devan sambil melipat tangan di depan d**a. "Kan aku belum selesai makan," ujar Devan. "Kan kamu cuma nyuruh kita berdua buat cepet-cepet ngabisin makanan," ucap Putri tidak mau kalah. "Iya kan Arga?" tanya Putri membuat Arga memihaknya. "Ah..." Arga hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena dia tidak ingin terlibat juga dalam keributan antara dua orang yang sudah saling mengenal sejak kecil. Nandini yang melihat hanya bisa menggelengkan kepala. Mengetahui kelakuan mereka tidak ada bedanya dengan anak SMP. Saling serang adu argumen pun terjadi. Membuat sedikit keributan di rumah makan yang sederhana ini. Sedikit mengganggu orang-orang yang menikmati hidangannya. Melihat situasi yang tidak menyenangkan. Arga mencoba menghentikan mereka. Kedua tangannya memberi jarak agar Devan dan Putri yang duduk dipisahkan oleh meja, untuk lebih menjauh. Sesekali Arga menyuruh mereka untuk tenang. Dengan sangat terpaksa, Nandini mengambil tindakan cepat. Dia mengambil alih tubuh Putri, kemudian duduk dengan tenang. Membuat Devan sedikit bingung, dia belum menyadari bahwa itu Nandini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD