Bab 9

1662 Words
"Gerbang terbuka lebar!" Kini Arga dan Devan berada di depan truk pengangkut sampah. Devan semakin tidak percaya apa yang akan dilakukan Arga. "Serius?" tanya Devan memastikan. "Ayo masuk!" ajak Arga masuk ke dalam tumpukan sampah. "Gak, gak!" tolak Devan. Drrt...Drrt... Devan terselamatkan oleh bunyi Ponsel miliknya yang bergetar. Devan mengambil ponsel di saku celananya. Menerka siapa nama yang menelponnya. "Devan! Cepet balik gak!" suara Putri yang keras dari balik ponsel memekakan telinga. Tangan Devan menjauhkan ponsel dari telinganya. Dengan suara keras Putri dari balik ponsel, membuatnya hanya bisa berharap ini bukan masalah. "Ada apa?" "Kenapa buku punya kak Nandini bisa ada di tong sampah?!" tanya Putri meninggikan suaranya. "Hah?!" "Masa sih? Aku pikir ada di TPS," ucap Devan tidak percaya. "Kamu bolos?" tanya Putri. "Kamu sekarang di TPS? Cepet balik!" perintah Putri kesal. "I-Iya aku ke sekolah lagi," ucap Devan. Arga memandang Devan yang menghela nafasnya. Arga penasaran siapa yang menelpon. Arga mendekat ke arah Devan, dia bertanya siapa yang menelpon. "Siapa Van?" tanya penasaran Arga. "Ayo balik," ajak Devan tanpa kalimat penjelas lain. *** Angin menerpa yang menerpa, tatapan tajam membuat suasana makin mencekam. Kali ini Devan harus berhadapan dengan Putri. Di hadapan Putri, Devan hanya bisa menunduk mendengarkan ceramah dari Putri yang panjang. Sementara Arga, sedang asik bercerita tentang apa yang dilakukan Devan ketika bukunya hilang. "Singkatnya aku gak akan ulangi lagi," ucap Devan berharap Putri selesai. "Oke, kali ini aku akan maafkan. Kalo terulang lagi, aku laporin!" ingat Putri sembari jari telunjuk yang menujuk Devan sebagai tanda peringatan. "O-Oke, sebentar lagi ada pelajaran. Nanti ketinggalan pelajaran, loh!" ucap Devan berniat mengusir dengan halus. "Awas ya!" peringat Putri kemudian berbalik dan berjalan menuju kelasnya. Devan menatap punggung Putri, "Dasar pengadu," ucapnya lirih. Suara Devan yang lirih, rupanya masih terdengar oleh Putri. Dia menoleh dengan tatapan tajam menusuknya. Membuat Devan terkejut, kemudian pura-pura tidak melihat Putri. Putri yang melihat kelakuan Devan, hanya bisa menghela nafas. Dia melanjutkan perjalanannya. Devan dapat bernafas lega, melihat Putri segera menjauh. Sampai pada suara tawa ria dari arah sampingnya yang sangat mengganggu. Devan menoleh ke arah sumber suara, dia melihat Arga yang tertawa puas dengan Nandini. "Kenapa Arga gak dimarahin juga?" kesal Devan membuat tawa mereka terhenti dan tertuju padanya. Seketika Arga dan Nandini saling menatap, kemudian tertawa kembali. Membuat Devan semakin kesal, dia tidak mengerti apa yang membuatnya lucu. Dengan kesal Devan pergi menuju kelasnya sendirian. Membawa buku berwarna merah muda di tangan kanannya. Waktunya kembali di saat jam istirahat sangatlah tepat. Di waktu ini para murid tengah bermain dan makan di luar kelas. Devan berjalan di lorong, mungkin tidak ada yang tahu jika dia membolos. Tetapi tatapan mereka tertuju kepada buku yang dibawa Devan. Membuatnya harus berjalan cepat ke kelasnya. Sampai di kelas tatapan heran kepadanya kembali dilihat. Devan terpaku beberapa detik di pintu. Dia melihat ke beberapa orang lainnya. Kemudian melanjutkan langkah menuju bangkunya. Devan duduk, setelah itu membuka ranselnya dan menaruh bukunya. Melihat tatapan yang terlihat akan memberikan banyak pertanyaan kepadanya. Devan membenamkan kepalanya di antara tangannya yang dilipat di meja. Dan benar saja, beberapa orang mengerubungi Devan. Mereka bertanya darimana saja selama dua jam berlalu. Tapi hal itu sama sekali tidak digubrisnya. Devan berpura-pura tidur, agar mereka segera pergi. Karena baru pertama kali mereka melihat Devan membolos. Akhirnya mereka membicarakan Devan, dengan suara lirih. Namun, bisa didengar oleh Devan. Suara derap langkah yang kecil semakin besar. Tepukan pelan di pundak Devan, membuatnya membuka mata. Mendongak, melihat ke arah orang yang menepuknya. Terlihat Arga yang tersenyum sumringah, tidak biasanya dia begitu. Kemudian dia duduk, dengan masih tersenyum. Membuat Devan sedikit takut. "Kenapa senyum-senyum? Bikin takut aja," tanya Devan sedikit menjauh. "Kakakmu keren banget," puji Arga. "Hah? Dia?" heran Devan menunjuk Nandini yang sedang berada di depan papan tulis, membaca sembari kedua tangan yang menepuk pahanya menikmati apa yang dibaca. Arga hanya mengangguk, sedangkan Devan menggelengkan kepalanya setelah melihat jawaban Arga yang tidak selaras dengannya. Arga menaikan sebelah alisnya tidak mengerti. Devan menghela nafas, dia kembali membenamkan kepalanya. Tangan kanannya mengibas ke arah Arga, sebelum Arga bertanya lebih banyak kepadanya. Seorang pria paruh baya memasuki kelas. Semua murid yang tengah asik berbincang mendadak diam seketika. Mereka berlarian untuk duduk di tempatnya masing-masing. Kegaduhan itu membuat Devan terbangun, melihat siapa yang datang. Tatapan tajamnya tertuju kepada Devan dan Arga. Membuatnya merinding seketika, ini lebih menyeramkan daripada melihat hantu bagi Devan. Pria itu mendekat, membawa sebuah buku tulis ditangannya. Dia adalah pak Wirjo, guru BK yang paling menakutkan. Entah apa yang dia lakukan disini. Ini bukanlah pelajarannya, membuat Devan gugup. "Kalian berdua, setelah pulang sekolah bersihin kamar mandi!" perintah guru BK itu. Sial! Itulah yang ada dalam benak Devan. Dia tidak bisa membaca buku novel kesukaannya. Devan harus membersihkan kamar mandi karena membolos ke Tempat Pembuangan Sampah? Itu sangat aneh dan menghamburkan waktu berharganya. Baru pertama kali dia dihukum, dan harus membersihkan kamar mandi di sekolahnya. "I-Iya pak," jawab ragu Devan. Semua pasang mata yang ada di ruang ini tertuju padanya. Pria paruh baya itu kembali keluar kelas. Membuat yang lain bernafas lega. Tapi tidak dengan Devan, yang mendapat hukuman pertamanya. Kelas kembali gaduh setelah kepergian guru BK itu. Mereka kembali membuat keributan seperti biasanya. Nandini mendekati Devan, "Mampus!" ledeknya disertai tawa kecil. Devan hanya bisa mendengus kesal. Jika dia membalas perkataanya, tentu dia akan menjadi pusat perhatian. Arga pun ikut menahan tawanya, padahal dirinya juga kena hukuman. Entah ada apa dengannya hari ini. "Ada apa denganmu?" heran Devan. "Aku? Ketawa gak boleh?" tanya balik Arga. Devan tidak dapat berkata-kata. Dia menghela nafas panjang. Entah apa yang dia lakukan semalam, sehingga bisa sesial hari ini. *** Suara bel pulang menggema di sekolahnya. Suara itu membuat siapapun yang letih dan mengantuk menjadi berenergi seketika. Termasuk orang-orang di kelasnya. Pelajaran sejarah yang dirasa lama, membuat yang lain bosan. Tetapi tidak dengan Devan, karena dia menyukai cerita. Ketika suara bel berbunyi, itu menjadi kenikmatan yang indah bagi yang lain. Sementara Devan, harus membersihkan kamar mandi yang kotor. "Devan!" panggil Putri melambaikan tangan. Devan menoleh ke arah sumber suara. Putri sedikit berlari ke arah Devan. Dia tidak membalas lambaian Putri. Melihatnya raut wajahnya terlihat sedih, Putri bertanya kepada Arga tanpa suara. Sebelum Arga dapat menjawab Devan menyela, "Kamu mau ikut bersihin toilet?" tanya Devan kepada Putri. "Eh? Kamu dihukum?" tanya Putri. "Nggak, makasih atas tawarannya," balas Putri sembari tersenyum. "Kak Nandini ikut aku pulang atau mau sama Devan?" tawar Putri kepada Nandini. "Nemenin adikku yang tampan ini dulu deh," jawabnya. "Oke, aku pulang!" pamit Putri. "Nanti aku ke rumah tante ya! Mau aku ceritain kelakuan Devan!" ujarnya sambil berjalan. Devan membelalakan matanya, mendengar apa yang akan dilakukan Putri. Dengan sigap Devan berlari menghadang Putri dengan kedua tangan yang menghalangi jalan. "Apa maumu?" tanya Devan mengetahui sikap Putri yang ada maunya. Putri yang sedikit terkejut karena kehadiran Devan di depannya. Mendengar pertanyaan Devan, Putri tersenyum simpul. Kini mereka berada di tempat yang cukup banyak dikunjungi orang. Tetapi juga banyak dihindari. Kamar mandi yang terlihat sedikit berlumut, dan sedikit berbau tidak sedap. Membuat mereka yang berada di depan pintu melangkah mundur perlahan. Tatapan pak Wirjo membuat Devan tertawa hambar, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian dia melangkah maju, dengan tangan kanan memegang alat pel dan tangan kiri yang membawa ember hitam berisi air sabun. "Yang bersih ya! Nanti kalau sudah, datang ke kantor," ujarnya. Pak Wirjo melangkah pergi menjauh meninggalkan mereka. Sementara Putri sedang asik bermain ponsel bersama Nandini duduk di lantai bersender pada tembok di sebelah kamar mandi. "Ayo bersihin ini, terus kita pulang!" ajak Devan memegang erat pel dan embernya. "Kamu bersihin yang dua itu, aku bersihin yang pojok sana," suruh Devan tanpa meminta persetujuan. "Tapi-" ucapannya terpotong oleh Devan. "Cepetan! Aku gak mau pulang-pulang disuruh langsung belajar," ujar Devan. Arga hanya bisa menghela nafas, membiarkan Devan menyuruh sesuka hatinya. Devan dengan serius membersihkan kotoran yang menempel. Mengepel kamar mandi dengan telaten. Sesekali mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangannya. Jari-jemari menyentuh pundaknya, terlihat tangan yang pucat. Membuatnya tidak terkejut, dia tau itu siapa. Devan sama sekali tidak menoleh dan tetap sibuk mengepel lantainya. "Jangan kagetkan aku, pergilah!" perintah Devan sedikit kesal. Perlahan tangan itu mulai lepas, seperti ditarik oleh pemiliknya. Devan tidak mengindahkan hal ini, dia tetap sibuk mengepel. Hingga dia selesai mengerjakannya, membuatnya dapat bernafas lega. Kamar mandi terlihat bersih. Devan menaruh pel dan ember dipojok dekat pintu keluar. Tangan kanan memegang bahu kirinya, memutar persendian. Meregangkan otot setelah lama mengepel dengan gerakan yang berulang-ulang. Arga sudah berada di luar bersama Putri dan Nandini. Sedang asik berbincang di saat senggangnya. Devan yang memunculkan batang hidungnya, membuat yang lain menoleh. "Udah?" tanya Putri. "Udah," balas Devan mengambil ranselnya di samping Putri. Kemudian mereka berjalan menuju ruang BK, untuk melaporkan apa yang sudah dikerjakan. Sembari berjalan mereka berbincang ringan. Sekolah nampak sepi, sehingga suara mereka, seolah dapat terdengar ke seluruh tempat di sekolah. "Devan ternyata penakut juga ya?" ucap Nandini memegang dagu seperti berfikir. "Ah, anak itu? Iya memang, dia penakut. Waktu kecil dulu, dia takut sama berbagai macam serangga. Ya, kecuali nyamuk. Sepertinya," jelas Putri melihat ke arah Devan. "Hei... Itu-" ucapan Devan terpotong oleh Arga yang ikut menyambung. "Dia juga takut sama keterlambatan sekolah dan takut melanggar peraturan sekolah, intinya dia benar-benar anak teladan," sambung Arga. "Hei, kenapa semuanya menceritakan tentangku yang memalukan?" kesal Devan. "Apa kalian pernah membayangkan, gimana raut wajahnya. Waktu aku kerjain pagi tadi? Wajah takutnya lucu banget!" jelas Nandini heboh. "Aku tau," jawab Putri mengangguk. "Benarkah?" tanya antusias Nandini. "Iya, aku tau. Aku juga pernah ngerjain anak cengeng ini," ledek Putri disertai tawa kecil. "Jangan cerita!" ucap Devan menolak. "Lagian lucu sih," ujar Nandini. "Bangun tidur dikerjain, di kamar mandi tadi juga dikerjain. Kakak pengangguran ya?" ucap Devan sedikit kesal. "Aku ini hantu, ya jelaslah kerjaanku nakutin orang. Itu menyenangkan, tapi..." ucapan Nandini menggantung. "Apa? Mau ngelak?" kesal Devan. Nandini menghentikan langkahnya, dia memandang Devan selama beberapa detik. Membuat yang lain ikut berhenti melangkah, dan saling menatap heran. "Aku gak ngerjain kamu di kamar mandi," jelas Nandini. "Hah?" Devan semakin kebingungan dengan hal ini. Jika bukan Nandini, lalu tangan pucat milik siapa itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD