Bab 8

1003 Words
"I-iya, pak. Saya-" ucapan Devan terpotong oleh genggaman tangan di lengannya. "Maaf pak!" teriak Arga menarik lengan Devan sembari berlari menghindar dari guru BK itu. "Hei, kurang ajar!" kesal pak Wirjo. Arga berlari secepat mungkin menjauh dari murka guru paling galak di sekolah. Setelah dirasa cukup jauh, Arga berhenti dengan nafas terengah-engah. "Hufft... Kenapa gak lari, sih?" tanya Arga yang masih mengatur nafas. "Gak kepikiran," ujar Devan dengan kedua tangan memegang pinggang mengatur nafasnya. "Anak teladan," ucap Arga lirih. "Cepetan, ke gerbang!" ajak Devan melanjutkan larinya. Halaman depan sekolah terlihat sepi, hanya ada beberapa siswa dan guru yang berlalu lalang. Di dekat gerbang, ada satpam yang tengah meminum secangkir kopi di pos jaganya. "Tempat sampahnya!" tunjuk Arga. Mereka langsung memeriksa isi tempat sampah. Suka atau tidak suka, tangan Devan masuk ke dalam tempat sampah yang berisi makanan sisa dan plastik. Semakin dalam tangannya meraba, tidak menemukan apa yang dicari. Seketika keringat dingin kembali menetes dari pelipisnya. "Gak ada," ucap lirih Devan. Arga yang mencari di tempat sampah sebelahnya menoleh ke arah Devan. Dia juga tidak menemukan apapun. Satpam yang risih mendengar suara berisik seperti tikus yang kelaparan, menghampiri sumber suara. Dia melihat dua pemuda yang sibuk mengorek sampah. Satpam itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka. "Ngapain kalian?" tanya satpam itu. "Eh, bapak. Lihat buku pink sekitar sini gak?" tanya Arga sopan. "Loh, buku apa toh? Bapak gak liat," jawab satpam tersebut. Devan mulai kebingungan, matanya melihat ke sekitarnya. Matanya terfokus pada satu tempat sampah yang kosong berjejeran di seberang. Dia mendekat dan melihat ke dalam, benar-benar kosong. "Pak," panggil Devan kepada pria paruh baya itu. "Iya?" sahut satpam tersebut. "Sampah yang ada disini kemana?" tanya Devan menunjuk tempat sampah di sampingnya. "Oh itu, karena kemarin pengangkutan sampah gak dateng. Jadi, baru hari ini diangkut," jelas pria paruh baya yang memakai seragam hitam tersebut. "Oh, keberuntunganku!" ucap Devan menepuk dahinya. "Kamu kenapa? Ada apa memang?" heran satpam itu. "Berapa lama truk sampahnya pergi?" tanya Arga mencari informasi. "Sekitar 10 menit yang lalu," jawabnya sembari memegang dagunya melihat ke atas. "Pak, bukain gerbang!" ucap Devan yang sudah menempel di gerbang seperti seekor cicak. "Gak boleh, ini belum jamnya," tolak satpam. Arga hanya bisa menghela nafas melihat keputus asaan Devan. Dia menarik Devan pergi, dan meminta maaf kepada satpam. Kemudian pergi ke belakang sekolah, dengan diiringi keputus asaan yang selalu diucapkan Devan. "Bodohnya aku, Kenapa harus secepat ini Kak Nandini hilang?" sesal Devan yang menunduk lesu. "Harusnya aku nurut tadi," ucapnya lagi. "Devan!" panggil Arga. "Lihat tuh!" tunjuk Arga kesal. "Kenapa?" tanya Devan hanya melihat tembok di depan matanya. "Ayo bolos sekolah, kita cari di tempat pembuangan sampah!" ajak Arga. "Kenapa gak tanya hantu sekitar sini aja sih? Itu lebih efisien," saran Devan. "Mana mungkin aku tanya mereka?" kesal Arga. "Mungkinlah," jawab Devan tak mau kalah. "Lebih pilih kehilangan waktu buat nanya ke setan kayak wartawan, atau kehilangan Nandini selamanya?" tanya Arga memberi pilihan yang sulit. Memang benar, waktu tidak banyak. Jika Nandini pergi lagi, entah apa yang akan terjadi terhadap Devan saat dia tiba di rumah nanti. Devan memandang Arga, kemudian dia mengangguk setuju untuk bolos sekolah hari ini. Hanya untuk hari ini saja. "Udah cepetan!" ajak Arga yang sedang menyusun berbagai kayu dan benda yang terlihat kokoh untuk pijakan. Devan mengikuti Arga yang menaruh kursi rusak dan benda kokoh di sekitarnya untuk pijakan. Kini, semuanya telah tersusun. Setidaknya cukup untuk melewati tembok setinggi dua meter. Arga mulai menaiki tumpukan kayu yang disusunnya, "Hup!" kemudian sedikit melompat untuk meraih puncak tembok. Meski sedikit kesulitan, tapi dapat diatasinya. Arga berhasil naik dan duduk di atas, dia mengulurkan tanganya ke arah Devan. "Ayo!" ajak Arga sembari mengulurkan tangan ke bawahnya. Devan mulai memijakan kakinya, untuk naik ke atas. Dia meraih tangan Arga, dan duduk di atas. "Aku harap ini ide bagus," gumam Devan. "Ayok! Sebelum ada orang lihat kita di atas," ajak Arga yang bersiap turun. Dap! "Cepetan turun!" seru Arga. "O-Oke," jawab Devan sedikit ragu. Dap! Baru beberapa langkah Arga berjalan, Devan menghentikannya, "Tunggu! "Kenapa?" tanya Arga. "Seragam kita?" ucap Devan menarik-narik baju seragamnya. "Udah gak papa! Ayo!" ucap Arga. Devan hanya mengikuti langkah Arga yang terlihat panik juga dan ingin segera menemukan bukunya. Berjalan menuju pinggir jalan raya, kemudian mereka langsung menaiki angkutan umum yang berhenti. Beruntung bagi mereka, karena tidak banyak orang yang naik. Hanya beberapa orang yang menyibukan diri dengan ponselnya. Ini adalah kali pertama bagi Devan membolos. Dia tidak percaya hari ini akan terjadi. Mungkin jika bolos untuk bermain itu sudah biasa, tapi bolos ke tempat pembuangan sampah? Ini adalah hal gila bagi Devan. Devan duduk dekat jendela, sikunya memijak di sudut jendela dengan telapak tangan menumpu dagunya memandang ke luar jendela. Suara klakson berbunyi, terlihat jalanan mulai padat. Musibah tidak ada yang tahu, adanya kecelakaan kendaraan bermotor yang menyebabkan jalanan padat menjadikan musibah bagi Devan juga. Di saat seperti ini dia tidak bisa berhenti. Devan mulai cemas, sesuatu hal yang buruk akan terjadi padanya. Devan tidak berhenti menghentakan kakinya karena gelisah. Tanpa berfikir lebih lama, Devan beranjak dari duduknya. "Devan!" panggil Arga yang tidak digubris oleh Devan. Devan berjalan cepat keluar angkutan umum. Arga mengikutinya, beruntung karena tempatnya sudah dekat. Devan berlari melewati orang-orang yang berdiri di trotoar untuk melihat kecelakaan. Bruk! "Hei!" ucap seorang pria yang tidak sengaja ditabrak oleh Devan. "Ma-Maaf!" teriak Devan sambil berlari. Arga hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Devan. Arga masih mengikuti di belakangnya. "Cepet banget tuh anak larinya," gumam Arga yang tidak bisa menyamai kecepatan Devan. "Hufft... Hufft..." nafas Devan terengah-engah karena berlari kencang. Kini tempat yang dia tuju sudah berada di depan mata. Dengan gerbang berwarna hijau yang tinggi. Pintu gerbang yang terbuka lebar, terdapat satpam yang berjaga. "Devan! Hufft..." panggil Arga yang kelelahan mengikuti Devan berlari. "Gimana cara masuknya?" tanya Devan. Arga mengubah posisinya menjadi duduk dengan kaki yang diluruskan dan kedua tangan menumpu badannya di belakang. Arga masih mengatur nafasnya, sambil melihat pintu gerbang yang terbuka lebar. Kemudian memandang Devan, "Gerbang terbuka lebar!" ucapnya sambil merentangkan tangan menggambarkan pintu yang terbuka lebar. “Semoga semua akan baik saja.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD