Bab 7

1026 Words
Brak! Pintu kelas dibuka Devan dengan keras, sepasang bola matanya mencari wujud kakaknya. Tapi hasilnya nihil, dia berlari ke bangkunya. Sreet... Resleting dibuka secara terburu-buru. Tangannya memilah buku dalam tas ransel miliknya itu. Berkali-kali melakukan hal yang sama, memilah buku-buku yang ada dalam tas. Resleting ranselnya yang lain dibuka secara paksa. Keringat dingin tak henti mengalir, dia terus berharap bukunya masih ada. "Bukunya," gumam Devan. "Bukunya kenapa?" tanya panik Arga. "Bukunya hilang," ucap Devan menatap Arga. 10 menit yang lalu... Semua orang dikelasnya sudah pergi lebih dulu, hingga kelas terasa hening Devan dan Arga baru saja pergi meninggalkan kelas. Dua anak laki-laki teman sekelas Devan masuk tepat di belakang mereka, setelah mereka pergi. "Devan sombong banget tadi, ditanya jawabnya singkat bener," ucap laki-laki berbadan kurus dengan korek api gas yang dimainkan sedari tadi. "Udahlah, liat-liat barang bagus aja yuk!" ajak laki-laki berbadan tinggi dengan kulit sawo matang. "Oke!" balasnya setuju. Setiap laci diperiksanya, semua meja diceknya. Tak satupun dapat dilewatkan dari pengawasannya. Mereka melakukan aksinya dari arah yang berlawanan. Laki-laki bertubuh kurus itu berhenti di bangku Devan. Awalnya dia hanya melihat isi laci Devan. Hingga tercetus fikiran untuk membongkar isi tas Devan. Selain membalas kelakuan Devan yang baginya membuat kesal. Dia juga berharap menemukan sesuatu yang menarik. Sreet... "Wah... Apa yang kutemukan disini?" ujarnya mengangkat tinggi-tinggi barang yang menarik perhatiannya. Temannya yang berbadan tinggi menghampiri dengan membawa 4 buah pulpen ditangan kanannya. Perasaan antara terkejut dan kagum terlukis di wajahnya. "Wah... Devan bawa ginian ke sekolah? Bisa jadi berita besar nih," ujarnya. "Aku simpan dulu ini," ucapnya dengan senyum miring di wajahnya. Mereka pergi membawa bukunya keluar kelas. Beberapa menit setelah mereka keluar, Nandini menghilang dalam sekejap. *** Kring... Devan berkeringat dingin saat ini, dia berusaha menenangkan diri. Bel yang berbunyi membuat Devan cukup sulit untuk tenang. Beberapa orang mulai memasuki kelas, sampai beberapa menit kemudian semua orang telah memasuki kelas. Tanpa diduga Devan bangkit dari duduknya, "Ada yang lihat buku berwarna merah muda di tasku?" tanyanya lantang. "Jika ada yang lihat segera kembalikan!" ucap tegas Arga membantu Devan. Semua orang dikelas melihat ke arah mereka berdua. Beberapa orang bertanya-tanya, yang lainnya hanya berbisik tidak jelas. Tatapan mereka sama sekali tidak membantu. "Apakah ada yang melihat?!" tanya kesal Devan sekali lagi. Mereka terkejut, karena baru kali ini mereka melihat Devan semarah ini. Hingga beberapa detik mereka terdiam. "Pfft... Buku merah muda?" ledek laki-laki bertubuh kurus itu menahan tawa. Kemarahan Devan mulai memuncak, dia ingin maju. Tetapi, tangan Arga yang menghadang menghentikan langkahnya. "tenang dulu," ingat Arga. "Devan punya buku merah muda? Menarik bukan?" ucapnya berniat mempermalukan Devan. Devan bukan menahan malu, tapi menahan amarah karena dia membawa suatu barang milik orang yang berharga baginya. Devan menunggu celotehannya berhenti. Devan duduk kembali, celotehannya membuat yang lain menertawakan Devan. Tanpa sadar, Arga melangkahkan kaki menuju orang yang sedari tadi berceloteh. Arga berjalan di antara tawa keras yang memekakan telinga. "Indigo, ada apa?" tanya remeh laki-laki kurus itu. Arga mendekat ke telinga laki-laki kurus itu, "Ada mba kunti di belakangmu," bisik Arga. "Aaa! Mana-mana?" laki-laki itu terbelalak terlonjak dari duduknya. Dia bersembunyi di balik punggung Arga, seperti seorang perempuan. Tawa yang lain pun lenyap seketika, kebingingungan dengan laki-laki kurus itu yang bernama Leo. Nama yang sangat cocok, menurut Arga. "Ikut aku deh, kalo ikutin aku pasti dia gak akan ganggu," ucap Arga. "Kamu diikutin setan?" heran salah seorang wanita yang duduk di meja. "Wahh... Setan apa tuh Ga?" tanya antusias laki-laki di sampingnya. Arga hanya tersenyum simpul, dia berbohong. Tapi kebohongan tentang hantu yang mengikuti Leo, dan ditambah kemampuan terkutuk baginya membuat dapat berbohong dengan mulus. Orang-orang sangat suka menyukai hal mistis, ini membuat Arga sangat mudah memanfaatkan kesempatan ini. Banyak orang yang tidak terlalu suka dengan Arga, karena kemampuan ini. Tapi Devan hanya menganggap ini hal yang biasa, dan mau berteman tanpa rasa takut terhadap dirinya. Arga mengajak Leo keluar kelas, derap langkah menggema di lorong. Semua murid telah masuk ke kelas masing-masing. Lorong yang minim akan cahaya, dengan dua sisi gelap terang. Leo selalu bertanya, tapi tidak pernah dihgubris oleh Arga. "Arga, setannya udah pergi belum?" tanya Leo. "Arga, setannya masih ada di belakang?" tanyanya sekali lagi. "Woy, jawab kek!" kesal Leo. Arga terlihat membuka ponselnya. Dia mengetik sesuatu, mengabaikan Leo yang mulai kesal. Arga menaruh ponselnya kembali di saku celana sebelah kanannya. Kemudian Arga membalikan badan, menghadap ke arah Leo. "Tunggu," ucap singkat Arga. Leo tidak mengerti apa yang dikatakan Arga, meski sudah jelas. "Apa?" tanya Leo. "Tunggu, sebentar lagi. Ok?" ucap Arga. "O-Ok," balas Leo mengangguk. Derap langkah terdengar samar-samar. Langkah kaki dengan tempo yang semakin keras seperti memdekat. Membuat Leo melihat ke arah sumber suara. Orang yang membuat suara langkah menggema di lorong, mulai menampakan dirinya. Leo melihat dari bawah hingga ke atas. Menerka-nerka siapa itu. Dap Dap Dap Tiba-tiba Devan melangkahkan kakinya cepat ke arah Leo. Bunyi hentakan kakinya menggema keras. Devan memegang kerah baju Leo dengan erat. Kemudian mendorongnya ke tembok. "Dimana bukunya?" tanya Devan. "A-Apa maksudnya?" tanya terbata-bata Leo. "Dimana bukunya?" tanya Devan. "Da-darimana kamu tau, aku yang ambil?" tanya Leo mulai panik. "Dimana bukunya?!" tanya Devan dengan suara keras di akhir kata. "Ku-Kubuang di tempat sampah," jelasnya pasrah. "Apa?!" ucap bersamaan Devan dan Arga. "Tong sampah yang mana?" tanya Devan berusaha tenang. "Tong sampah di dekat gerbang sekolah. Bisakah aku pergi sekarang?" jelasnya. "Aih... Sialan," ucap Devan melepas kerah Leo kasar. "Udah, ayo Devan!" ucap Arga sambil berlari. Devan mengikuti Arga yang berlari dari belakang. Mereka berlari secepat mungkin melewati lorong menuju gerbang sekolah. Bruk! Devan menabrak seseorang hingga jatuh terduduk. Dia memegang sikunya yang terbentur lantai, seperti tersengat listrik. Membuatnya meringis kesakitan. Devan memperhatikan lekat-lekat orang yang ditabraknya. "Pak Wirjo?" ucap Devan terkejut melihat siapa yang ditabraknya hingga jatuh. "Hei, kamu! Kenapa gak masuk kelas?" tanya pak Wirjo yang masih dalam posisinya. "Ah, i-itu. Sa-saya mi-minta maaf pak," ucap Devan terbata-bata. "Masuk kelas sekarang!" perintah pak Wirjo menggema. Arga yang tidak mendengar suara langkah kaki selain dirinya, menoleh ke arah belakangnya. Dia tidak menemukan Devan, tapi suara teriakan pak Wirjo yang menggema sangat khas. Membuatnya harus kembali ke jalan sebelumnya. Arga melihat Devan yang tetunduk di depan seorang pria paruh baya, tanpa berfikir panjang Arga berlari ke arah Devan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD