4. Saksi Kematian

1052 Words
"Aku berlari kembali untuk menarik kata-kataku, tapi semuanya sudah terlambat." (Sky) *** Mudah bagi Sky untuk meloloskan diri dari pengejarnya, tetapi dia tidak mau, orang-orang itu harus diberi pelajaran karena sudah menyentuh Kalina. Sky menghentikan motornya begitu sampai di depan gedung terbengkalai yang memang menjadi tujuannya. Dia menoleh ke belakang, mobil pengejarnya sedang mengarah kepadanya. Sky melompat dari motornya kemudian bergegas menuju gedung itu. Dia baru akan memasuki pintunya yang terbuka lebar saat matanya menangkap sesosok lelaki muda berdiri di atas tumpukan peti kayu sambil menggenggam tali yang ujungnya sudah diikatkan di tiang penyangga atap. Sky terkejut, berkali-kali dia mengedipkan mata, meyakinkan dirinya sendiri tentang apa yang dilihatnya. Hantu atau manusia? Seketika ingatan Sky terlempar pada masa sepuluh tahun lampau yang membuat dadanya sesak dan wajahnya memucat. Mimpi buruk itu datang lagi. Semua berawal saat Sky baru berusia tiga belas tahun, seorang remaja tampan dan cerdas dari keluarga terpandang dan kaya raya. Dia mengira hidupnya sempurna sampai suatu hari saat kelasnya selesai lebih awal dan dia bergegas pulang hanya demi disambut sebuah pemandangan mengerikan: ibunya yang tergantung di ruang tengah dengan leher terikat dan lidah menjulur. Tidak boleh ada lagi yang mati di hadapannya! Sky melempar sebuah pipa besi tua yang ada di sana, membuat keributan demi mencegah sebuah kematian. * “Kita naik ini?” Janu meringis. “Perkenalkan, Black Lion---pacarku." Sky tersenyum bangga memamerkan motornya yang terparkir di sana. "Tapi warnanya merah dan memangnya ada singa warna hitam?" "Ck! Dasar tukang protes! Naik sajalah!" Sky menstarter motor. "Aman?" Sky memutar bola matanya. "Kita membuang banyak waktu di sini." Rambut merah, motor merah, Janu tidak pernah bertemu dengan seseorang seperti Sky. Sky seakan-akan datang dari dunia lain. Janu menarik napas panjang, tersenyum geli. Baru beberapa menit yang lalu dia ingin mati, seharusnya tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya lagi. Membonceng orang asing? Janu hanya ingin lari. Janu naik ke atas motor. "Pegangan!" Sky menyeringai. Motor yang ditumpangi mereka berdua melaju kencang membelah jalanan. Janu memejamkan mata, merasakan embusan angin di wajahnya yang juga menerbangkan secuil demi secuil beban kelam dari dalam hati dan kepalanya. Sesaat dia merasa ringan. Sky membawa Janu berputar-putar sebelum menghentikan kendaraannya di depan kedai makan yang sebelumnya dia datangi bersama Kalina. Dia meminta Janu turun. "Kita berhenti di sini?" "Sudah lewat jam sebelas. Aku harus makan. Ayok!" Sky memasuki kedai. Sang pemilik kedai segera menyambutnya. "Mas, yang tadi pagi uangnya masih kurang." Sky meringis. "Dasar Kalina! Sorry, Bang, nanti dia yang bayar." Dia menunjuk Janu. "Sekalian saya pesan lontong sayurnya satu, ya? Sambalnya yang banyak, minumnya es teh tawar. Kamu mau makan juga?" Janu memelotot. "Ayolah, jangan pelit sama teman." Sky cengengesan. "Tambah satu porsi lagi lontongnya, Bang!" Sky kembali memesan makanan tanpa menunggu persetujuan Janu. Janu menggeleng-geleng kepala, tak ada pilihan selain mengikuti Sky. "Aku tidak ingat kalau kita berteman," kata Janu setelah mereka berdua duduk. "Hei! Aku tidak akan mengizinkan siapa pun membonceng Black Lion, kecuali dia temanku." Sky merangkul bahu Janu. "Seharusnya kau bilang saja kalau ingin makan siang gratis." Janu berkata sinis. Sky tertawa. Pesanan makanan dihidangkan, Janu baru menyadari betapa lapar perutnya, begitu juga dengan Sky. Pertarungannya tadi benar-benar menghabiskan energinya. Mereka berdua makan dengan lahap tanpa suara. "Merasa lebih baik?" Sky bertanya setelah makanannya habis. Janu memandang Sky, sedikit terkejut dengan pertanyaan Sky dan caranya bertanya yang terdengar sangat serius. "Aku tadi melihatmu di gudang, berdiri di atas tumpukan peti." Sky menatap Janu tajam. Janu menunduk, berusaha menghindar dari tatapan Sky. "Sejauh apa kau melihatku di sana?" Sky menggeser tempat duduknya mendekat, kemudian berbisik, "Saat kau hendak mengalungkan tali gantungan ke lehermu. Apa kau sudah gila?" "Bukan urusanmu." Janu meraih gelas yang masih berisi separuh teh hangat, meminumnya habis, lalu berdiri. "Aku mau pulang." Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, dan meletakkannya di meja. "Tunggu!" Sky menahan tangan Janu. "Kita masih belum selesai bicara. Aku belum menunjukkan kepadamu sesuatu yang keren." "Aku sudah tidak tertarik lagi." Janu mengangkat bahu. "Kau bukan yang pertama kali ...." "Apa maksudmu?" "Ibuku juga." Sky membisu sesaat, menimbang-nimbang apakah dia perlu menceritakan mimpi-mimpi buruknya kepada Janu. Dia tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun, bahkan kepada Kalina. Ada duka yang Janu kenali dari roman wajah Sky, dari kata-katanya yang menggantung di udara. Janu tergerak untuk kembali duduk. "Kejadiannya sudah lama. Aku masih terlalu kecil untuk mampu memahami apa yang terjadi. Saat aku pamit berangkat sekolah, ibuku terlihat baik-baik saja, seperti biasanya, tidak ada masalah, atau mungkin memang aku yang tidak tahu apa-apa. Namun, ketika aku kembali, Ibu sudah menggantung di sana. Sampai detik ini aku masih ingat bagaimana rupa terakhir kali ibuku. Dia tampak kesakitan, menderita." Sky menutupi wajah dengan kedua tangan seakan-akan dengan begitu dia bisa menghilangkan bayangan ibunya yang sudah meninggal. "Kupikir, semua salahku." "Kau hanya anak kecil, bagaimana bisa kau bilang semua salahmu?" "Kau tahu apa kalimat terakhir yang aku katakan kepada ibuku pagi itu, sebelum aku berangkat sekolah?" Suara Sky gemetaran. "Aku bilang kepada Ibu untuk mati saja dan itu semua hanya karena Ibu tidak mengizinkan aku pergi menonton konser." "Masa remaja sialan, heh? Tetap saja, orang tidak akan mati hanya karena seseorang menyuruhnya untuk mati." Sky tersenyum pahit. "Mungkin aku yang menyulut apinya." "Sky ...." Janu menyebut nama Sky, tetapi di telinganya seakan-akan namanya sendiri yang dia panggil. "Ayahku punya banyak wanita. Aku tahu sejak lama, tapi aku tidak peduli. Aku marah kepada Ayah, tapi aku malah melampiaskannya kepada Ibu karena hanya Ibu yang ada. Pria tua itu tidak pernah ada di rumah." Tangan Sky mengepal. Dia kemudian melirik Janu yang tengah disibukkan oleh pikirannya sendiri. "Sorry, ocehanku membosankan. Harusnya aku yang mendengarmu bercerita." Janu tersenyum, lalu menggeleng lemah. Hari itu mereka berdua bertemu sebagai orang asing, tetapi takdir tahu bahwa mereka sama-sama terjebak oleh bayangan kematian orang terkasih. Sky menepuk-nepuk pundak Janu. "Thanks, Sky." Janu memandangi Sky, baru saat itulah dia merasa tertarik memerhatikan lelaki bertato itu lebih dekat. Sky memakai celana hitam yang ukurannya terlalu besar untuknya, dengan kaos oranye tanpa lengan bergambar Bob Marley. Rambut gondrongnya di-hightlight merah. Telinganya ditindik berderet, hidungnya yang juga diberi anting mengingatkan Janu pada hidung kerbau. Tatonya ada di mana-mana, di tangan, bahu, leher, dan mungkin di tempat lain. “Pohon?” Janu mengamati tato berbentuk pohon besar yang mendominasi lengan Sky. Sky terkekeh sambil melirik tato di lengannya. "Ini bagian dari hal keren yang tadi mau aku tunjukkan kepadamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD