Robert masih terus tersenyum setelah pertemuannya bersama dengan Jeslyn dan Damien. David yang tidak bisa ikut menemani Robert karena permintaan Jeslyn, terus menatap Robert dengan heran karena pria dingin dan egois di hadapannya ini tak pernah lepas menyunggingkan senyuman. ‘’Aku tau jika kamu tengah bahagia, tetapi jika kamu terus tersenyum seperti itu gigimu bisa kering,’’ sindir David dengan tersenyum singkat. David senang melihat Robert yang bahagia, namun karena karakter dirinya yang datar, membuat David enggan menunjukkan kebahagiaan itu secara gamblang.
‘’Aku masih tidak percaya jika aku telah memiliki seorang putra. Dia nampak tampan dan cerdas, sama sepertiku,’’ puji Robert dengan sombong.
‘’Kamu sudah mengatakan hal ini lebih dari sepuluh kali padaku,’’ dengus David yang justru membuat Robert tertawa.
‘’Aku tidak tau bagaimana mengekpresikan kebahagiaanku ini,’’ ucap Robert sembari tersenyum lebar.
‘’Kamu tidak bisa menunjukkan wajah putramu itu padaku, bagaimana aku bisa percaya,’’ ucap David dengan sinis.
‘’Aku bahkan tidak bisa memeluknya dengan leluasa, bagaimana aku bisa memotretnya. Lagi pula, aku tidak ingin membuat putraku takut di awal pertemuan kami,’’ jawab Robert sembari terkekeh.
‘’Aku tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya Nyonya Jeslyn jika putramu itu memiliki karakter keras kepala sepertimu,’’ ucap David sembari tersenyum miring.
‘’Aku yakin jika dia adalah duplikat diriku,’’ jawab Robert sembari tertawa.
‘’Lalu apa rencanamu ke depan setelah bertemu dengan mantan istri dan putramu?’’ tanya David yang kini berubah lebih serius.
‘’Aku masih belum tau akan seperti apa kita nantinya. Tapi yang jelas, aku tidak akan lagi memkasa Jeslyn. Aku menyadari jika dia sudah cukup menderita selama bersama denganku. Aku hanya ingin lebih dekat dengan putraku, karena dia sudah cukup menderita tanpa kehadiran seorang daddy di sampingnya.’’ David bisa melihat sinar penyesalan di mata Robert. Karena dirinya adalah saksi yang melihat bagaimana menderitanya Robert untuk mencari Jeslyn dan Damien.
‘’Apakah kamu memiliki izin untuk bertemu dengan putramu lagi?’’ tanya David.
‘’Aku belum tau, tapi Jeslyn mengatakan jika kita masih bisa bertemu lagi di waktu yang tepat, meskipun aku tidak tau itu kapan,’’ lirih Robert berubah lesu.
‘’Apakah kamu menginginkan putramu?’’ tanya David yang membuat Robert seketika mentapnya dengan serius.
‘’Ya, aku sangat menginginkannya. Aku ingin kami bisa kembali bersama. Tapi, bolehkah aku bersikap egois? Aku yakin aku tidak pantas, aku ingin Jeslyn mendapatkan sosok pendamping yang baik. Namun membayangkan Jeslyn akan memiliki pendamping hidup mengantikanku, lalu Damien yang akan memiliki sosok daddy yang baru, entah mengapa membuatku marah dan tidak terima. Mereka hanya milikku dan hanya untukku. Bolehkan aku egois seperti ini David?’’ ucap Robert dengan sendu.
David paham jika membahas perihat hubungan Robert dengan Jeslyn pastilah akan berakhir dengan topik yang sensitif seperti ini. Baru saja David bisa melihat binar bahagia di mata Robert, namun kini dirinya harus kembali melihat Robert yang begitu lemah dan tak percaya diri seperti ini.
‘’Setiap manusia berhak mendapatkan pengampunan. Tunjukkan jika kamu telah berubah, bukan sosok Robert yang dulu. Aku yakin putramu juga bisa menjadi jembatan untuk hubungan kalian. Karena anak adalah sosok penghubung orang tuanya,’’ jelas David yang membuat Robert kembali menyunggingkan senyum tipis.
‘’Taukah kamu, aku sampai masih belum percaya jika Jeslyn akan memperkenalkan aku sebagai daddy Damien. Aku tau dia sangat membenciku, tetapi mengetahui jika dia masih menganggap keberadaanku bahkan masih menyematkan nama Hamilton di belakang nama Damien membuatku terharu.’’ Kini Robert kembali menunjukkan sinar bahagianya hanya dengan membayangkan Damien.
‘’Aku sudah tau jika dia adalah sosok wanita yang baik, bahkan sebelum kamu menyadari kebodohanmu. Padahal aku sudah berulang kali mengingatkanmu,’’ sindir David dengan berdecih sinis.
‘’Jika ada pintu waktu, aku hanya ingin kembali ke masa lalu di mana aku akan memperlakukan Jeslyn dengan baik. Mencintainya secara gamblang tanpa harus merasa sungkan hanya karena dendam di masa lalu.’’
‘’Tak perlu kembali ke masa lalu, kamu hanya perlu berubah dengan berkaca dari masa lalu. Jika masa depanmu harus lebih baik dari sebelumnya,’’ petuah David masih dengan ekspresi datar dan dinginnya.
‘’Di usiamu yang sekarang, apa kamu masih belum mau jatuh cinta? Jangan jadikan pengalaman pilu kisah cintaku membuatmu trauma. Aku tau jika kamu tidak seburuk aku,’’ celoteh Robert dengan santai.
‘’Tapi aku juga sadar jika aku juga tidak mungkin akan mendapatkan wanita sebodoh Nyonya Jeslyn yang mau saja bertahan meski terus tersakiti, jadi pada akhirnya nasibku akan sama denganmu, ditinggalkan,’’ jawab David dengan santai.
‘’Maka kamu jangan menyakitinya dengan menjadi b******k sepetiku,’’ jawab Robert.
‘’Aku tidak sebodoh itu,’’ dengus David dengan sinis.
‘’Lalu kapan kamu akan jatuh cinta, aku takut jika ternyata cintamu adalah aku,’’ ucap Robert dengan ekspresi takut yang di buat-buat. David yang kesal lalu melempar Robert dengan bolpoint yang berada di atas meja.
‘’Aku menyukai seseorang, tapi aku tidak melihat masa depan kita di sana,’’ celetuk David sembari menatap hamparan pemandangan lalu lintas New York yang ramai dari ruangan kerja Robert.
‘’Kamu bukan cenayang, bagaimana kamu bisa melihat masa depan,’’ ejek Robert sembari menyenggol bahu David cukup keras.
‘’Kami terlalu berbeda, aku bahkan sangsi jika kamu akan memberikan restumu juga. Maka lebih baik mundur sebelum terluka.’’
‘’Mengapa kamu berpikir seperti itu.’’
‘’Karena memang begitulah faktanya.’’
‘’Kenapa kamu terus memberikanku semangat tetapi kamu sendiri mudah menyerah? Bahkan sebelum kamu benar-benar mencobanya? Kamu bukan Tuhan yang tau bagaimana masa depan,’’ jawab Robert.
‘’Bukankah kasta juga menentukan dengan siapa kita bersanding nantinya?’’ tanya David sembari menatap Robert dengan serius yang membuat Robert salah tingkah dengan tatapan David padanya.
Pembicaraan mereke terinterupsi dengan deringan ponselnya yang menunjukkan jika Joycelline tengah menghubunginya. Raut muka Robert seketika mengeras. David yang melihat Robert langsung menutup panggilan di ponselnya dengan raut mukanya yang mengeras seketika merasa heran.
‘’Siapa?’’ tanya David penasaran.
‘’Joycelline!’’ jawab Robert dingin. David lalu mengangkat alisnya singkat melihat perubahan sikap Robert yang signifikan.
‘’Apa kalian sedang ada masalah?’’ tanya David. Belum sempat Robert menjawab, Joycelline kembali menghubungnya namun melalui panggilan video. David melihat Robert kembali mematikannya. Bahkan Robert kini mengenggam ponselnya dengan erat. David hanya tinggal menghitung mundur sampai Robert menghancurkan ponselnya itu.
Dan benar saja hanya dalam hitungan 5 detik, Robert langsung menghancurkan ponselnya setelah deringan ponselnya yang ke tiga. David sendiri tidak tau apa yang menyebabkan Robert sampai harus semarah ini hanya karena Joycelline menghubunginya. Karena yang David tau, meskipun Robert memutuskan hubungan keluarga dengan kedua orang tuanya, tapi hubungan Robert dan Joycelline masih terjalin dengan baik hingga sekarang. Lalu melihat Robert yang tiba-tiba membenci adiknya membuat David tak mengerti.
Kini giliran ponsel David yang berbunyi, matanya langsung melirik ke arah Robert yang kini juga tengah menatap ke arah ponsel David. ‘’Jika itu Joycelline, maka matikan!’’ perintah Robert dengan tegas.
‘’Aku tidak tau apa yang terjadi dengan kalian berdua, tapi aku tidak memiliki masalah apa pun dengannya. Jadi aku tidak harus menghindarinya,’’ jawab David dengan santai lalu menjawab panggilan Joycelline di hadapan Robert yang kini menatap marah ke arahnya.
‘’Hallo,’’ sapa David dengan datar seperti biasanya.
‘’Kenapa Kak Robert tidak menjawab panggilanku? Apakah dia sibuk?’’ tanya Joycelline dari balik panggilan.
‘’Ya, apakah ada hal yang penting?’’ jawab David sembari melirik ke arah Robert.
‘’Aku sudah berada di John F, Kennedy Airport, bisakah kamu menjemputku?’’ tanya Joycelline yang membuat David ketika melirik ke arah Robert yang terlihat membuang muka.
‘’Aku akan menjemputmu sekarang,’’ jawab David sebelum mematikan sambungan teleponnya. David bahkan tak menunggu izin Robert untuk menjemput Joycelline. Karena David merasa sudah melakukan sesuatu yang benar.
‘’Aku tidak masalah jika kamu tidak ingin memberi tahuku apa yang terjadi antara kau dan Joycelline. Tetapi adikmu sekarang berada di New York, aku tidak membutuhkan izinmu untuk menjemputnya bukan?’’ tanya David yang diacuhkan Robert dengan Robert yang kembali duduk di kursi kebesarannya.
‘’Selesaikan semuanya secara baik-baik. Dia bahkan tidak tau jika kamu tengah marah padanya, aku harap kamu tidak bersikap berlebihan,’’ ucap David sebelum meninggalkan Robert pergi untuk menjemput Joycelline.
‘’David!’’ pangil Robert yang membuat David seketika menghentikan langkahnya.
‘’Apakah kamu juga sama seperti mereka yang menyembunyikan informasi keberadaan Jeslyn selama ini dariku?’’ tanya Robert dengan tatapan menghunus ke arah David.
‘’Aku tidak mengerti apa maksudmu, tetapi aku cukup kecewa jika kamu sampai meragukan kesetiaanku padamu,’’ jawab David tak kalah serius.
‘’Mereka semua tau di mana keberadaan Jeslyn selama ini. Mereka ikut menyembunyikan Jeslyn dariku, padahal mereka jelas tau bagaimana kehilanganku setelah Jeslyn pergi meninggalkanku,’’ ucap Robert dengan raut kecewa.
‘’Joycelline?’’ tebak David yang mulai memahami kemarahan Robert yang tiba-tiba pada adiknya.
‘’Ya, karena Jeslyn dan Damien selama ini berada di Sisilia,’’ jawab Robert dengan senyum pedihnya.
‘’Menghindari bukan menjadi jalan keluar yang bagus. Kamu harus berbicara padanya, menanyakan mengapa mereka semua harus menyembunyikan Nyonya Jeslyn darimu. Aku sangat tau jika keluargamu bukanlah pengkhianat, aku yakin mereka memiliki alasan yang kuat untuk melakukanya. Jadi izinkan aku untuk menjemput Joycelline, supaya kamu bisa mendengar kebenaran darinya,’’ ucap David.
Robert lalu perlahan menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan David jika dirinya memang tidak bisa menyimpulkan sesuatu dengan cepat, Robert tidak ingin lagi menyesali sesuatu seperti dendamnya di masa lalu pada Jeslyn. David lalu segera pergi meninggalkan Robert setelah mendapatkan izin yang dia butuhkan.
Tidak boleh ada lagi kesalah pahaman, karena aku muak terus merasa bersalah. Aku akan mencoba untuk memahami penjelasan Joycelline nantinya, meskipun aku masih akan tetap kecewa. Seharusnya melihatmu telah kembali dengan kondisi yang baik-baik saja sudah lebih dari cukup untukku. Tetapi mengetahui jika keluargaku berperan dalam persembunyianmu juga tak bisa aku abaikan dengan mudah. Karena tidak seharusnya mereka melakukan itu.