BAB 71 – Jalan Kecil Menuju Peta Besar Langit masih kelabu. Embun belum sempat lepas dari dedaunan pisang yang menggantung rendah. Di tanah lapang kecil, tempat anak-anak biasa berkumpul, bayangan pagi mulai membentuk siluet dari wujud-wujud kecil yang berlari—dengan sandal jepit, rambut acak, dan mata yang penuh semangat. Arka berdiri di tengah lapangan itu. Napasnya dalam. Matanya menatap jauh, bukan ke anak-anak, bukan ke langit, tapi ke dalam dirinya sendiri. Sudah berbulan-bulan sejak ia memutuskan berjalan di jalur ini—jalan yang tak pernah terpeta sebelumnya. Jalan yang membuatnya bertanya ulang, berkali-kali, siapa dirinya dan apa makna menjadi manusia. Anak-anak mulai duduk di atas tikar yang dilapisi spanduk bekas. Beberapa membawa buku catatan yang mereka jaga seakan itu kunc

