BAB 73 – Bayang-Bayang Pilihan Malam itu, kota terasa dingin. Lampu-lampu jalan berkelip redup, menembus kabut tipis yang menyelimuti aspal. Arka berjalan perlahan di trotoar, menatap kosong ke arah langit hitam. Suara riuh kampus di siang hari kini berubah jadi sunyi yang mengerikan. Dia membawa beban yang tak terlihat, tapi terasa berat sekali. Tawaran lembaga besar kemarin masih terngiang-ngiang di kepala. Dukungan itu memang besar, tapi imbalannya terasa seperti belenggu yang mulai menjerat kebebasannya. Arka menengadahkan kepala, menarik napas panjang. “Apa yang harus aku pilih?” tanyanya pada diri sendiri. --- Memori yang Mengusik Kenangan tentang anak-anak di kampung muncul di pikirannya. Bayu yang selalu ceria, Putri yang ingin jadi guru, dan wajah-wajah polos yang penuh hara

