‘Aku mohon angkat’ batin Grizelle frustasi
Matanya mulai berkaca-kaca saat Gerald mengangkat panggilannya.
“Halo” ucap Gerald dengan suara parau khas orang bangun tidur
“Ger, tolong” bisik Grizelle
“Kenapa?”
“Ada dua laki-laki yang ikutin aku”
“Kau di mana sekarang?”
“Aku masih satu jalan dengan minimarket”
“Oke. Aku akan segera ke sana”
Gerald segera memutuskan panggilan itu. Ketakutan Grizelle semakin menjadi saat mengetahui laki-laki itu mengetahui tempat persembunyian Grizelle.
“Keluar” perintah laki-laki itu
Grizelle hanya diam dan mencoba untuk tetap bersembunyi sambil menahan kantuknya.
“WOI!” teriak seorang laki-laki yang ternyata adalah Gerald
Gerald berlari sangat kencang, nafasnya tidak teratur.
Kedua laki-laki itu melihat Gerald.
“Siapa kau?” tanya laki-laki itu
“Gak penting aku siapa” jawab Gerald
“Hei, pergi sana” ujar laki-laki itu
“Kau yang pergi” ucap Gerald sambil melayangkan kakinya ke wajah laki-laki itu
Laki-laki itu meringis kesakitan.
Laki-laki satunya mencoba memukul Gerald tapi gagal karena Gerald menghindari pukulan itu. Gerald segera kembali melayangkan pukulannya dan mengenai wajah laki-laki itu. Merasa kalah, laki-laki itu segera pergi berlari.
‘Dasar mental tempe’ batin Gerald
Gerald segera menghampiri Grizelle.
Gadis itu sedang terduduk di balik dinding besar dan menutup wajahnya dengan lengannya.
“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Gerald
Grizelle mengangkat wajahnya dan menatap Gerald. Ia menangis.
“Kenapa menangis?” tanya Gerald
Grizelle semakin menangis.
“Hei, tenang. Mereka sudah pergi” ucap Gerald
Grizelle menggeleng.
“Bukan itu” ucap Grizelle
“Jadi?” tanya Gerald
“Aku mengantuk. Aku hanya ingin tidur, tapi kenapa rasanya susah sekali? Kenapa banyak halangan? Padahal aku hanya ingin tidur” rengek Grizelle
Gerald tersenyum tipis saat mendengar rengekan Grizelle.
Gerald menepuk pelan pundak Grizelle untuk menenangkannya.
Grizelle berhenti menangis saat kepalanya terasa nyeri. Ia merasa pusing. Entah karena Ia menangis atau karena Ia kurang tidur.
Gerald menyerngitkan dahinya saat melihat Grizelle memegang kepalanya.
“Kena-“
Ucapan Gerald terpotong saat Grizelle pingsan. Gerald segera menggendong Grizelle dan membawa gadis itu ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Kaila yang membuka pintu terkejut.
“Kak Grizelle kenapa?” tanya Kaila
Gerald diam dan segera membawa Grizelle masuk.
“Jadi karena ini tadi kakak lari-lari?” tanya Kaila
Gerald tidak menggubris pertanyaan Kaila. Gerald membawa Grizelle ke kamar tamu dan meletakkan Grizelle di tempat tidur.
Gerald menatap Grizelle sejenak sambil bernafas lega.
“Biarin aja dulu istirahat kak” ujar Kaila
Gerald mengangguk dan segera keluar dari kamar tamu itu.
*****
Gerald melirik jam dinding rumahnya yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. Grizelle tak kunjung bangun. Rachel, ibu Gerald keluar dari kamar tamu itu. Saat awal tau, Rachel sangat terkejut. Gerald menceritakan apa yang terjadi.
“Nanti, kalau dia bangun kasih obat yang di atas meja ya” ujar Rachel
“Emang kenapa bunda?” tanya Gerald
“Dia sedikit demam” jawab Rachel
Gerald segera berlari ke kamar itu dan memeriksa kening Grizelle. Dan benar saja, kening Grizelle terasa sedikit panas.
Rachel tersenyum tipis saat melihat anak laki-lakinya itu menunjukkan wajah khawatir kepada Grizelle.
“Pacar kamu?” tanya Rachel
“Enggak, bun” jawab Gerald
Rachel hanya mengangguk sambil tersenyum penuh arti.
“Bunda, aku pulang” ucap Kaila yang baru pulang dari kuliahnya
Rachel hanya membalas dengan senyuman.
“Gimana bun? Udah bangun?” tanya Kaila
“Bentar lagi mungkin” jawab Rachel
Kaila hanya ber-oh saja.
Grizelle membuka matanya secara perlahan dan menemukan Gerald.
“A-aku di mana?” tanya Grizelle
“Di rumahku” jawab Gerald
Mata Grizelle terbelalak kaget.
“Kau gak macam-macam denganku kan?” tanya Grizelle
“Kau sudah ku tolong, tapi kau malah mencurigaiku?” tanya Gerald
“Eh, udah bangun kak?” tanya Kaila
Grizelle menghembus nafas lega saat melihat Kaila. Tadinya, Ia kira hanya dia dan Gerald yang berada di rumah itu.
Gerald menatap Grizelle kesal.
“Maaf” ucap Grizelle
“Terimakasih juga” sambung Grizelle
Gerald mengambil obat yang berada di atas meja dan memberikannya pada Grizelle beserta segelas air.
“Untuk apa?” tanya Grizelle
“Kau demam” jawab Gerald
Grizelle menerima obat itu dan segera meminumnya.
“Kau sudah tidak tidur berapa hari?” tanya Gerald
“Tidur kok, cuma sebentar. Kadang kalau terbangun tengah malam bakalan gak bisa tidur lagi” jawab Grizelle
“Kamu mau makan, sayang?” tanya Rachel
Grizelle diam.
“Bunda nanya sama kamu” ucap Rachel sambil menunjuk Grizelle
“Eh- Enggak perlu tante” jawab Grizelle
“Panggil bunda aja, kamu makan ya? Biar tenaganya pulih lagi” tanya Rachel
“B-Boleh deh bunda” jawab Grizelle
“Oke. Bunda ambilin ya” ucap Rachel dan segera berlalu pergi
“Gak usah ambil shift malam lagi lah” ucap Gerald
“Iya, aku juga rencananya gitu” ujar Grizelle
Rachel datang membawa semangkok bubur ayam dan segelas air putih.
“Kalian keluar sana” usir Rachel
Gerald dan Kaila keluar dari kamar.
“Bunda suapin ya” ucap Rachel
“Grizelle bisa sendiri kok, bunda” tolak Grizelle
“Nama kamu Grizelle, panggilan pendeknya apa?” tanya Rachel
“Ay, bunda” jawab Grizelle
“Oke. Ay, biar bunda suapin ya” ucap Rachel dan menyendokkan satu suapan yang akhirnya diterima oleh Grizelle.
“Kapan-kapan kamu ke sini lagi ya. Kita masak-masak bareng, gimana?” tanya Rachel
Grizelle hanya mengangguk canggung.
“Gerald udah cerita tentang kamu, termasuk tentang orangtua kamu” ujar Rachel
Grizelle berhenti mengunyah makanannya sejenak.
“Kalau kamu butuh sesuatu, kamu ke sini aja ya? Rumah ini terbuka lebar untuk kamu” ucap Rachel
“Kita kan baru kenal, bun. Kalau ternyata aku bukan orang yang baik gimana?” tanya Grizelle
“Bunda kenal banget sama Gerald, dia gak mungkin sekhawatir itu sama orang yang gak penting” jawab Rachel
“Kamu itu penting bagi Gerald, rasanya Gerald gak pernah mementingkan hal yang gak baik. Jadi bunda percaya sama Gerald” jelas Rachel lagi
Grizelle tersenyum samar. Mendadak Ia merindukan ibunya.
Setelah selesai makan dan beristirahat sebentar, akhirnya Grizelle merasa baikan dan akan segera pulang ke kos nya.
“Jangan lupa main ke sini lagi ya” ucap Rachel
Grizelle hanya mengangguk sambil tersenyum.
Grizelle masuk ke dalam mobil Gerald. Gerald sudah berada di mobil itu untuk mengantarkannya pulang.
“Kapan-kapan aku main ke sini rumahmu lagi deh” ucap Grizelle
“Gak. Gak boleh” tolak Gerald
Grizelle mengerucutkan bibirnya.
“Pokoknya main! Aku udah janji sama bunda mau masak-masak bareng, hehe” ucap Grizelle
“Gak boleh” tolak Gerald lagi
“Wah, kau jahat banget” ucap Grizelle
“Padahal aku udah merasa punya ibu lagi” sambung Grizelle
Gerald melirik Grizelle sejenak dan kembali fokus menyetir.
Sesampainya di kos, Grizelle keluar dari mobil itu.
“Terimakasih” ucap Grizelle
Grizelle yang mulai melangkahkan kakinya pergi terhenti saat mendengar panggilan Gerald.
“Kenapa?” tanya Grizelle
“Yaudah boleh” jawab Gerald
“Boleh apanya?” tanya Grizelle
“Main kerumah” jawab Gerald
“Serius?” tanya Grizelle dengan mata yang berbinar-binar
Gerald mengulum senyum saat melihat tatapan Grizelle.
“Iya, boleh” jawab Gerald
Grizelle berteriak senang. Gerald pun pamit untuk pulang.
‘WAH, JADI GINI RASANYA DIRESTUI SAMA CALON MERTUA, HIHI’ batin Grizelle senang sambil tak berhenti untuk terus tersenyum
******
Grizelle kembali memulai kehidupan kuliahnya. Kali ini dia benar-benar segar karena tidurnya sangat nyenyak.
Grizelle memasuki ruang kelas yang di penuhi oleh banyak orang. Grizelle menyerngitkan dahinya bingung.
‘Ada apa nih ramai-ramai?’ batin Grizelle
Grizelle menerobos orang-orang yang berada di sana untuk memasuki kelas. Setelah masuk, baru dia menyadari alasan keramaian ini.
Terlihat seorang laki-laki yang berlutut di depan seorang perempuan yang tidak asing bagi Grizelle. Perempuan itu adalah Kiara. Seorang laki-laki yang tidak Grizelle kenal menyatakan perasaannya pada Kiara.
‘Cowok aneh, bisa-bisanya dia suka sama boneka horror kayak Kiara’ batin Grizelle
Grizelle segera duduk dan meletakkan tasnya. Sebentar lagi kelas akan dimulai, tetapi drama yang ada didepannya tak kunjung selesai.
Grizelle melirik Kiara yang tampak tidak menyukai laki-laki itu tapi tidak tau cara menolaknya.
“Maaf, aku gak bisa” tolak Kiara
Laki-laki itu langsung tampak murung.
“Kenapa? Kau menyukai orang lain?” tanya laki-laki itu
Kiara mengangguk.
“Siapa?” tanya laki-laki itu
“Kau tak perlu tau siapa” jawab Kiara
Laki-laki itu bangkit berdiri sambil memperlihatkan kekecewaannya.
“Berarti kau menolakku?” tanya laki-laki itu
Kiara mengangguk.
“Maaf ya” ucap Kiara
“Lalu kenapa kau merespon ku selama ini?” tanya laki-laki itu
Grizelle tertawa di dalam hatinya.
“Karena kita teman, aku pikir gak baik untuk mengabaikan mu” jawab Kiara
Grizelle berdecih kesal saat mendengar ucapan Kiara.
Laki-laki itu segera berlari sambil menahan rasa malu dan juga kekecewaan yang mendalam.
‘Sukanya sama cewek horror sih, jadi ikutan horror kan pengalaman hidupmu!’ batin Grizelle
Keramaian itu segera bubar sesaat laki-laki itu pergi.
Kiara menatap Grizelle dari tempatnya berdiri. Begitu juga dengan Grizelle. Mereka saling menatap satu sama lain hingga dosen datang dan kelas di mulai.