“Kau sedang memerasku ya?” tanya Gerald
Grizelle kaget saat mendengar itu.
“K-kau menganggap ku begitu?” tanya Grizelle dengan nada berat seperti terdengar sedang sakit hati
Sadar dengan Grizelle yang sakit hati dengan ucapannya, Gerald menatap Grizelle. Dan benar saja, Grizelle sedang menatapnya dengan pandangan kecewa.
“Baiklah, aku traktir” ucap Gerald dan bangkit berdiri
“Enggak! Jawab pertanyaanku! Kau menganggapku begitu?” tanya Grizelle
“Aku hanya bertanya tadi, untuk memastikan” jawab Gerald
Grizelle mematung sejenak.
“Ah, ternyata kau memang menganggap begitu” ujar Grizelle
Grizelle menundukkan kepalanya dan memandang ke arah bawah menatap tanah.
Melihat hal itu, Gerald tersenyum.
“Kau sakit hati? Maaf” ucap Gerald
“Aku sudah bilang, aku hanya bertanya. Tak ada niatan untuk mengatakan kau orang yang seperti itu” sambung Gerald
Grizelle mengangkat kepalanya dan kembali menatap Gerald yang juga sedang menatapnya.
“Karena kau pernah memaafkan aku, maka aku juga akan memaafkanmu kali ini” ucap Grizelle
Gerald tersenyum.
Melihat Gerald tersenyum, suasana hati Grizelle mulai membaik.
“Ger, aku tadi sudah meminta maaf secara langsung sama kedua teman Kaila yang lain” ucap Grizelle
“Mereka memaafkanmu?” tanya Gerald
Grizelle mengangguk senang.
“Pasti karena mereka takut padamu” ucap Gerald bercanda
“Tuh kan, kau mulai lagi” ujar Grizelle kesal
Gerald tertawa kecil.
Grizelle mengeluarkan handphone nya dan membuka aplikasi kamera. Dia mengarahkan ke arah Gerald untuk memotret Gerald yang tengah tertawa kecil.
Melihat itu, Gerald langsung menghentikan tawanya.
“Kok berhenti? Aku belum ada foto satu pun” ucap Grizelle
“Aku tidak suka difoto” ujar Gerald
“Oh gitu” ucap Grizelle sambil memasukkan kembali handphone nya ke dalam tasnya.
“Ayo!” ajak Gerald
“Ke mana?” tanya Grizelle
“Membelikanmu ice cream” jawab Gerald
“Sungguh?” tanya Grizelle dengan mata berbinar
Gerald kembali tersenyum tipis.
‘Tatapan yang sama dengan Kaila saat ku belikan ice cream’ batin Gerald
”Iya, ayo!” ajak Gerald
Grizelle mengangguk dan menuju ke minimarket terdekat. Gerald masuk ke dalam dan membeli beberapa macam ice cream. Setelah selesai, Gerald keluar dan memberikannya pada Grizelle.
“Terima kasih” ucap Grizelle sambil tersenyum senang
Gerald mengangguk.
“Kau juga suka ice cream?” tanya Gerald
Grizelle menangguk.
“Sangat suka” jawab Grizelle
“Juga? Apa ada orang yang kau kenal juga menyukai ice cream?” tanya Grizelle
Gerald mengangguk.
“Siapa?” tanya Grizelle
“Kaila” jawab Gerald
Grizelle hanya ber-oh ria.
“Hari ini kau bekerja lagi?” tanya Gerald
Grizelle mengangguk.
“Shift apa?” tanya Gerald
“Malam” jawab Grizelle
“Malam? Sampai jam berapa?” tanya Gerald
“Dari jam Sembilan malam sampai paginya jam delapan” jawab Grizelle
“Serius? Kau tak apa?” tanya Gerald
Grizelle mengangguk.
“Pulang dari sini, aku akan segera pulang dan tidur” ucap Grizelle
“Memangnya besok tidak ada kelas?” tanya Gerald
“Ada. Siang. Jadi pulang dari kerja nanti aku akan tidur dulu sebentar” jawab Grizelle
“Oh begitu” ucap Gerald
“Kalau begitu, pulanglah! Kau harus banyak beristirahat” ucap Gerald
Grizelle mengangguk dan segera berlalu pergi.
Tapi setelah beberapa langkah, dia kembali menoleh ke belakang menatap Gerald.
“Ada apa?” tanya Gerald
“Lain kali, jangan abaikan aku lagi” jawab Grizelle
Gerald menatap Grizelle dengan pandangan terkejut. Grizelle tersenyum dan segera berlalu pergi.
Tanpa sadar, Gerald tersenyum tipis. Saking tipisnya, tidak akan ada yang tau kalau dia sedang tersenyum saat ini.
******
Grizelle bangun dari tidurnya, walaupun tadi sempat tidak bisa tertidur tapi Grizelle memaksa matanya untuk tidur.
Grizelle segera bersiap-siap dan setelah selesai, Grizelle segera menuju ke minimarket tempatnya bekerja.
‘Bakalan jadi kalelawar malam ini’ batin Grizelle
*****
Gerald mengambil beberapa novel yang belum Ia baca. Ya. Gerald menyukai novel. Dan sekarang adalah novel kedua yang Ia baca dalam beberapa jam ini.
Ting!
Sebuah notifikasi tanda chat masuk terdengar dari handphone Gerald. Gerald segera mengambil handphonenya dan melihat dari siapa chat tersebut. Gerald meletakkan kembali handphone nya di atas meja saat melihat nama Kiara yang tertera di sana.
Kiara Diana : Ger, Apa aku boleh ke rumahmu sekarang?
Itulah isi chatnya.
Ting!
Sebuah notifikasi terdengar kembali. Gerald kembali melihat dari siapa chat tersebut. Dan ternyata kali ini dari Grizelle.
Grizelle Aileen : Ger, tidak ke minimarket hari ini?
Gerald yang berniat membalas tidak, terhenti saat mendengar suara Kaila.
“Bunda, aku ingin membeli beberapa makanan ringan” ucap Kaila
“Ini sudah jam setengah sepuluh malam, gak baik anak gadis keluar malam-malam kayak begini” ucap Rachel
“Tapi aku lagi pengen” ucap Kaila
“Biar aku saja yang beli” ucap Gerald yang muncul ikut pembicaraan
Rachel dan Kaila kompak menatap Gerald.
“Apa ini? Biasanya sangat malas ke minimarket” ucap Kaila
“Oh ya sudah, tidak jadi ku belikan” ujar Gerald santai
“Eh iya-iya, aku tadi cuma bercanda” ucap Kaila mencegah Gerald yang ingin kembali ke kamarnya
Kaila memberikan sejumlah uang.
“Belikan juga sedikit cokelat ya?” pinta Kaila
Gerald mengangguk dan segera berlalu pergi.
*****
Gerald hampir tiba di minimarket. Dari kejauhan, Gerald melihat Grizelle yang sedang berdiri sambil menunggu pelanggan yang mungkin akan datang.
Gerald tersenyum. Dan segera mempercepat langkahnya untuk sampai ke minimarket. Setelah sampai, Gerald masuk ke minimarket tersebut.
“Selamat datang” sambut Grizelle
“Oh! Gerald” seru Grizelle
Gerald berlalu pergi melangkah menuju ke rak makanan ringan dan juga rak yang berisi berbagai cokelat. Setelah selesai, Gerald menuju ke arah kasir untuk membayar.
Grizelle menatap kesal Gerald sambil memindai barang belanjaan Gerald.
“Kenapa tidak membalas pesanku?” tanya Grizelle
“Aku tidak sempat membalasnya tadi” jawab Gerald beralasan
“Kenapa?” tanya Grizelle
“Aku disuruh Kaila ke minimarket” jawab Gerald
“Oh makanya kau ke minimarket sekarang?” tanya Grizelle
Gerald mengangguk.
Grizelle memberikan bungkusan belanjaan Gerald kepadanya. Setelah selesai membayar, Gerald segera berlalu pergi.
“Padahal sudah kubilang supaya jangan mengabaikan aku” gumam Grizelle pelan
Gerald tersenyum karena masih bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Grizelle.
Sesampainya dirumah, Gerald memberikan belanjaan tersebut kepada Kaila. Kaila berterimakasih dan Gerald hanya mengangguk dan segera pergi menuju kamarnya.
Gerald kembali membaca novelnya.
Ting!
Sebuah chat masuk datang lagi. Gerald melihat nama Grizelle yang tertera di sana.
Grizelle Aileen : Sudah sampai rumah?
“Kak?” panggil Kaila
Gerald segera mematikan handphonenya.
“Kenapa?” tanya Gerald
“Apa kak Kiara ada mengirim pesan padamu?” tanya Kaila
Gerald mengangguk.
“Lalu kenapa tidak membalasnya? Dia tadi menghubungiku dan terlihat sangat sedih. Padahal dia sangat ingin mampir ke rumah” tanya Kaila
“Ini sudah malam, bukankah tidak baik mampir jam segini?” tanya Gerald balik
“Iya sih, kalau begitu tinggal jawab tidak saja apa susahnya sih?” tanya Kaila kesal
“Kalau tidak ku balas artinya tidak” jawab Gerald
Kaila menghembuskan nafas dan mencoba untuk memaklumi kakaknya ini. Dia pun pergi dari kamar kakaknya.
Gerald kembali membaca novelnya.
‘Lain kali, jangan abaikan aku lagi’
‘Padahal sudah kubilang supaya jangan mengabaikan aku’
Dua kalimat itu kembali terlintas di pikiran Gerald. Dia segera membuka chatnya dengan Grizelle.
Gerald Kyler : Iya, aku sudah sampai
Grizelle Aileen : Ya
Gerald Kyler : Maaf, tadi Kaila mengajakku bicara
Grizelle Aileen : Ya, tidak apa-apa. Aku sudah mulai terbiasa
Gerald Kyler : Tolong jangan marah lagi
Grizelle Aileen : Hehee iya
Gerald Kyler : Oke.
Gerald tersenyum kembali dan meletakkan handphonenya lagi di atas meja. Gerald kembali membaca novelnya. Gerald tidak sadar, ini sudah kesekian kalinya dia tersenyum hari ini hanya karena Grizelle.
Sementara di minimarket yang sepi, terdapat seorang perempuan yang sedang tersenyum senang. Perempuan itu adalah Grizelle Aileen.
‘Tolong jangan marah lagi’
Grizelle kembali membaca pesan dari Gerald. Senyumnya semakin mengembang dan rasa ngantuknya seketika hilang.
Senyum Grizelle terhenti saat menyadari sesuatu.
‘Apa ini? Apa aku menyukai dia?’ batin Grizelle
‘Masa iya sih?’ batin Grizelle lagi
‘Enggak, aku hanya senang saja karena ternyata dia orang yang baik’ batin Grizelle lagi dan lagi
‘Iya-iya, hanya karena itu saja’ batin Grizelle lagi