Part 9

1836 Words
Grizelle melangkahkan kakinya untuk menuju perpustakaan kampus. Tadi pagi sekitar jam tujuh, Gerald kembali menghubunginya dan mengatakan untuk bertemu di perpustakaan saja. Sesampainya di perpustakaan, Grizelle langsung mencari keberadaan Gerald dan ternyata Gerald ada di pojok perpustakaan. Grizelle menghampiri Gerald. “Sudah menunggu lama?” tanya Grizelle “Enggak” jawab Gerald “Ayo kita kerjakan!” ajak Gerald Grizelle mengangguk dan mengeluarkan laptopnya. “Sampai mana yang kau kerjakan?” tanya Gerald “Sampai sini” jawab Grizelle sambil menunjuk bagian akhir pengerjaannya Gerald dan Grizelle berdiskusi untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dari samping rak satunya, terdengar suara beberapa perempuan yang baru datang. “Gak sia-sia kita meninggalkan Grizelle” ujar perempuan itu Gadis satunya tertawa. Gerald dan Grizelle yang mendengar hal itu saling melirik satu sama lain. ‘Kayaknya Shella dan Bintang deh’ batin Grizelle “Ula lebih mudah dibodohi” ucap Shella “Benar! Setidaknya Ula tidak sombong dan kasar seperti Grizelle” ujar Bintang “Ah kenapa tidak dari dulu kita tinggalkan Grizelle dan beralih ke Ula?” tanya Shella Grizelle menghembus nafas kasar. “Entahlah” jawab Bintang Gerald melirik Grizelle yang sedang mematung masih mendengarkan perkataan Shella dan Bintang. “Bodohnya kita” ucap Shella Brakk! Shella, Bintang dan Grizelle sangat terkejut saat ada suara gebrakan rak. “Ah ada orang ternyata di samping, ayo pergi!” ajak Shella “Iya” jawab Bintang Mereka pun pergi. Grizelle masih melihat Gerald yang terlihat tetap tenang setelah memukul keras rak buku tadi. Merasa dirinya diperhatikan, Gerald menatap Grizelle balik. “Kenapa?” tanya Gerald “Gak, aku hanya kaget” jawab Grizelle “Mereka menjelek-jelekkan mu seperti itu, kenapa kau dengarkan dari awal sampai akhir sih?” tanya Gerald kesal “Aku hanya ingin tahu pendapat mereka tentangku selama ini” jawab Grizelle “Aku tak menyangka mereka sebenci itu padaku” sambung Grizelle “Lain kali tidak usah dengar! Langsung pergi saja” ucap Gerald Grizelle mengangguk. Mereka melanjutkan kerjaan mereka. Setelah beberapa jam terlewat, akhirnya tugas mereka selesai. “Kau langsung pulang?” tanya Grizelle Gerald mengangguk. “Ger” panggil Grizelle Gerald menoleh. “Terima kasih” ujar Grizelle “Atas dasar?” tanya Gerald “Gebrakan rak mu tadi” jawab Grizelle Gerald mengangguk. “Tapi” ucap Grizelle menggantung Gerald kembali menoleh ke arah Grizelle dan menunggu kelanjutan ucapan Grizelle. “Tapi, apa aku ada salah dengan mu?” tanya Grizelle “Memangnya kenapa?” tanya Gerald balik “Tatapan matamu terkadang seperti tidak suka melihatku” jawab Grizelle “Apa sangat jelas?” tanya Gerald Grizelle mengangguk. “B-berarti ada ya?” tanya Grizelle Gerald mengedikkan bahunya. Grizelle menundukkan kepalanya. “Oh iya” ucap Gerald “Apa?” tanya Grizelle “Untuk orang yang sangat membutuhkan uang, bukankah seharusnya kau mencari pekerjaan?” tanya Gerald Mata Grizelle membulat sempurna. “Sial! Aku tidak pernah terpikir soal itu” umpat Grizelle Gerald tertawa. ‘Gadis bodoh’ batin Gerald Grizelle melihat Gerald yang tertawa kecil. ‘Wah, ke mana saja aku selama ini? Aku baru tahu dia setampan ini’ batin Grizelle sambil tersenyum “Bukan seperti itu sih, jadwal kuliah ku padat” ujar Grizelle “Ya cari pekerja paruh waktulah, yang bisa menyesuaikan dengan jadwalmu” ucap Gerald “Iya juga ya” ucap Grizelle “Apa kau ada saran?” tanya Grizelle “Bekerja di minimarket mungkin” jawab Gerald “Oh baiklah! Nanti akan ku cari” ucap Grizelle Gerald mengangguk. “Terima kasih sekali lagi” ujar Grizelle Gerald kembali mengangguk. “Aku pergi” pamit Gerald dan melangkahkan kakinya meninggalkan Grizelle sendiri di depan perusahaan Grizelle hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. “Hei” sapa seorang perempuan yang ternyata adalah Kiara Grizelle memutar bola matanya malas. “Ada apa ya tuan putri repot-repot menemuiku seperti ini?” tanya Grizelle dengan pandangan sinis “Ku dengar kau sedang membutuhkan uang” ucap Kiara “Mau ku pinjamkan?” tanya Kiara dengan senyum penuh kemenangan “Tidak usah tuan putri, aku sudah ada uang” jawab Grizelle dengan senyuman penuh paksaan “Lagi pula aku tak tahu kau dapat dari mana uang itu” sambung Grizelle “Apa?” tanya Kiara “Kau pasti sangat susah mendapatkan uang itu, jadi tidak perlu meminjamkannya padaku” jawab Grizelle dengan senyum penuh kemenangan Kiara terdiam. “T-tadi aku melihatmu bersama Gerald. Kau sejak kapan dekat dengan Gerald?” tanya Kiara mengganti topik “Apa urusanmu?” tanya Grizelle balik “Aku menyukai Gerald” jawab Kiara “Gerald menyukaimu juga?” tanya Grizelle Kiara terdiam. “Sepertinya tidak” ucap Grizelle Grizelle menghembuskan nafas lega. “Syukurlah, laki-laki baik seperti dia tidak seharusnya menyukai orang sepertimu” ujar Grizelle “Dia akan segera menyukaiku” ucap Kiara tak terima “Oh ya? Sungguh?” tanya Grizelle Kiara mengangguk. “Oke. Akan kutunggu kabar baiknya” ucap Grizelle “Ya. Lagi pula ngapain aku cemburu denganmu. Dia tidak akan menyukaimu” ujar Kiara “Kau tahu dari mana?” tanya Grizelle “Dia itu benci padamu karena suatu hal” jawab Kiara Grizelle membulatkan matanya. “Kau tahu apa kesalahanku itu?” tanya Grizelle “Entahlah, dia melarang ku membicarakannya” jawab Kiara dengan nada mengejek dan segera berlalu meninggalkan Grizelle Grizelle hanya bisa menatap Kiara dengan penuh pandangan kekesalan. ***** “Aku coba cari di sini” ucap Grizelle saat melihat minimarket yang kelima dikungjunginya Dari tadi, Grizelle sudah mencari tempat yang tepat tapi tak dapat. Ada yang karena sedang tidak mencari tambahan pekerja dan juga ada yang tidak bisa sesuai dengan jadwalnya. Grizelle berdoa sebelum masuk ke dalam minimarket tersebut. Setelah selesai, Grizelle melangkahkan kakinya masuk sambil terus berharap bisa diterima. “Permisi” salam Grizelle Pekerja yang sedang bertugas seketika melihat Grizelle. “Ada apa ya?” tanya perempuan itu “S-saya mau ngelamar kerja, apa ada tersedia lowongan?” tanya Grizelle “Langsung bicara dengan pemilik minimarketnya aja kak” jawab perempuan itu “Oh baik kak” balas Grizelle “Pemiliknya mana ya?” tanya Grizelle “Itu” ucap perempuan itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang sudah berumur “Terima kasih” ucap Grizelle Grizelle segera menghampiri laki-laki itu. Setelah lama berbincang, akhirnya keberuntungan menghampiri Grizelle. Grizelle diterima bekerja di sana. Dan bisa mulai bekerja besok. Kebetulan besok dia tidak ada kelas juga. “Terima kasih pak sekali lagi” ucap Grizelle Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum. “Kalau begitu saya permisi” pamit Grizelle “Ya, besok pegawai saya yang lain akan mengajarkan dan menjelaskan tugas-tugas yang saya sudah saya sebut tadi” ujar laki-laki itu “Baik pak” ucap Grizelle Laki-laki itu pergi berlalu meninggalkan Grizelle yang masih tersenyum karena merasa sangat senang. Grizelle melangkahkan kakinya untuk pulang. Walaupun jarak minimarket itu agak jauh dengan kos nya, tapi Grizelle merasa tak apa. Daripada tidak ada sama sekali. Saat dalam perjalanan pulang, Grizelle melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang tidak asing baginya. Laki-laki dan perempuan itu berjalan menuju ke arah minimarket tadi. “Ger” panggil Grizelle Ya. Laki-laki itu adalah Gerald dan perempuannya adalah Kaila. Gerald terkejut dan melirik ke arah Kaila yang juga sama terkejutnya. Kaila segera berdiri di belakang Gerald karena merasa takut saat melihat Grizelle menghampiri mereka. “Kau ngapain ada di sini?” tanya Grizelle “Mau ke minimarket” jawab Gerald “Rumahmu dekat sini?” tanya Grizelle Gerald mengangguk. Grizelle melirik ke arah perempuan yang ada di belakang Gerald. “Kaila juga rumahnya sekitar sini?” tanya Grizelle “Kalian dekat?” sambung Grizelle bertanya “Dia adikku” jawab Gerald Mata Grizelle membulat sempurna. Dia sangat terkejut. ‘Ternyata ini kesalahanku’ batin Grizelle yang masih mematung “H-halo kak” sapa Kaila “Ah iya halo” sapa Grizelle balik “Sudahkan? Aku harus ke minimarket sekarang” ujar Gerald “T-tunggu” ucap Grizelle “Apa?” tanya Gerald Grizelle mendekati Kaila, dia menggenggam tangan Kaila. “Maaf” ujar Grizelle Kaila terdiam. “Tolong maafkan aku! Aku tahu aku salah, maaf karena mengganggu mu dan teman-temanmu” sambung Grizelle “Ah anu-“ “A-apa aku perlu berlutut? Aku akan berlutut sekarang” potong Grizelle dan bersiap akan berlutut “Ah jangan” ucap Kaila menghentikan Grizelle “Iya kak, sudah ku maafkan” ujar Kaila “Sungguh?” tanya Grizelle Kaila mengangguk. “Syukurlah” ucap Grizelle bernafas lega “Kenapa kau tidak bilang Kaila adikmu?” tanya Grizelle “Kau meminta maaf hanya karena dia adikku?” tanya Gerald balik “Ah bukan seperti itu” jawab Grizelle “Aku tahu minta maaf saja tidak cukup” ujar Grizelle “Waktu itu Shella menjambakmu kan? Nah, sekarang kau jambak saja aku” sambung Grizelle sambil menawarkan kepalanya Gerald dan Kaila hanya menatap kepala Grizelle. “Kenapa?” tanya Grizelle “Yang jambak bukan kakak, kenapa kakak yang menawarkan?” tanya Kaila “Ya sama saja kan, aku juga sudah berkata kasar. Sekali lagi minta maaf” jawab Grizelle Kaila mengangguk. “Kau juga kan?” tanya Grizelle “Apa?” tanya Gerald balik “Kau juga sudah memaafkan ku kan?” tanya Grizelle “Ya, anggap saja begitu” jawab Gerald “Kau masih marah rupanya” ujar Grizelle sedih Gerald menatap Grizelle yang murung. Dia jadi merasa tidak enak. ‘Sial! Kenapa jadi aku yang merasa tidak enak?’ batin Gerald kesal Kaila menatap kakaknya yang tengah memandang Grizelle. ‘Mereka kayaknya dekat. Tapi, sejak kapan?’ batin Kaila “Iya-iya sudah ku maafkan” ujar Gerald Grizelle yang tadinya murung menjadi tersenyum senang. “Sudah! Kami mau ke minimarket” ucap Gerald “Kalian sering ke minimarket itu?” tanya Grizelle “Lumayan” jawab Kaila “Aku bekerja di sana mulai besok! Semoga kita bisa sering ketemu” ucap Grizelle sambil tersenyum Gerald memutar bola matanya malas dan segera berlalu pergi. Sementara, Kaila tersenyum. “Ger, tunggu!” ucap Grizelle “Apa lagi?” tanya Gerald Grizelle menatap ke arah Kaila. Mengerti maksud Grizelle yang ingin berbicara empat mata, Gerald menyuruh Kaila untuk pergi lebih dulu ke minimarket. Kaila pun pamit pada Grizelle dan segera berlalu pergi. “Kenapa?” tanya Gerald “Anu” ucap Grizelle ragu “Apa sih?” tanya Gerald kesal “Aku ingin meminjam uang” gumam Grizelle pelan “Apa?” tanya Gerald “Kuatkan suaramu” sambung Gerald “Apa aku boleh meminjam uang padamu?” tanya Grizelle Gerald diam sambil menatap Grizelle. “Aku tidak ada uang. Sementara gaji pertamaku kan bulan depan” ucap Grizelle “Ku mohon, aku janji akan membayarnya ketika aku gajian” ucap Grizelle lagi dengan mata memelas Gerald menghembus nafas pelan. Gerald segera mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada Grizelle. “Terima kasih. Aku janji, aku pasti akan mengembalikannya!” seru Grizelle sambil tersenyum senang Gerald mengangguk dan segera berlalu dari Grizelle. Grizelle menatap kepergian Gerald sambil tersenyum. ‘Semakin aku mengenalnya, aku jadi semakin yakin Gerald adalah laki-laki yang baik’ batin Grizelle ‘Kenapa aku mudah sekali sih meminjamkan uang padanya?’ batin Gerald kesal sambil terus melangkahkan kakinya menuju minimarket
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD