Grizelle terbaring di kasurnya. Dia masih memikirkan kejadian yang Ia alami.
‘Berarti sekarang Gerald masih benci aku dong’ batin Grizelle
Grizelle menggelengkan kepalanya.
“Enggak bisa, pokoknya aku harus dekatin Gerald” ucap Grizelle
Grizelle bangkit dari tempat tidurnya saat ibunya berteriak untuk mengajaknya makan malam.
Grizelle segera turun dan duduk di tempat yang telah disiapkan ibunya.
“Ma” panggi Grizelle
“Iya, sayang?” tanya Natasya
“Besok pagi paman dan bibi mau ke sini ya?” tanya Grizelle
“Iya, kamu kok tau?” tanya Natasya
“Ada deh” jawab Grizelle
“Ay boleh kasih saran gak?” tanya Grizelle
“Saran apa?” tanya Romi
“Besok kalau paman dan bibi mau kerja sama dengan papa, tolak aja ya pa” jawab Grizelle
“Kenapa gitu?” tanya Romi
“Pokoknya jangan! Perasaan Ay gak enak” jawab Grizelle
“Paman dan bibi kamu sendiri loh padahal” ujar Romi
“Iya, awalnya juga Ay gak nyangka mereka menipu papa” ucap Grizelle
“Menipu?” tanya Romi
“Sejak kapan mereka menipu papa?” tanya Romi lagi
“Pokoknya Ay mohon banget sama papa” jawab Grizelle
“Jangan mau kerja sama dengan mereka, mereka itu gak baik” sambung Grizelle lagi
Natasya dan Romi saling melirik satu sama lain.
‘Aku Cuma takut mimpi itu jadi nyata’ batin Grizelle
“Papa pikirin aja dulu, tapi saran Ay jangan pernah terima” ucap Grizelle
Grizelle segera menyelesaikan makannya dan kembali ke kamar.
“Kok kayak ada yang beda ya dari Ay” ujar Natasya
“Jadi gimana? Kamu tetap kerja sama dengan mereka?” tanya Natasya
Romi menggeleng.
“Enggak biasanya Ay kayak gitu, kali ini aku coba dengarin dia” jawab Romi
Natasya megangguk paham.
*****
Keesokan paginya, Grizelle turun dan tidak menemukan paman dan bibinya. Grizelle menghampiri Natasya.
“Paman dan bibi mana, ma?” tanya Grizelle
“Mereka gak jadi datang?” tanya Grizelle lagi
“Iya, papa kamu batalin kerja samanya. Jadi mereka gak jadi ke sini” jawab Natasya
Grizelle menghembuskan nafas lega.
“Ma?” panggil Grizelle
“Iya?” tanya Natasya
“Minggu ini kita main ke Mall yuk, ma!” ajak Grizelle
“Biasanya kamu mau waktu ulang tahun kamu aja” ucap Grizelle
“Hehe, enggak lagi. Grizelle mau banyakin waktu bareng mama dan papa” ucap Grizelle
“Jadi gimana ma? Mau gak?” tanya Grizelle
Natasya tersenyum lalu mengangguk. Grizelle tersenyum senang melihat anggukan Natasya. Grizelle pamit untuk pergi ke kampus.
Sesampainya di kampus, dua orang perempuan melambai kepadanya. Grizelle memutar bola matanya malas. Grizelle tidak menggubris lambaian Shella dan Bintang.
Melihat itu, Shella dan Bintang sama-sama menyerngitkan dahinya bingung.
“Ay, kau-“
“Jangan panggil aku Ay” potong Grizelle
“Kau kenapa?” tanya Shella
“Kami ada salah?” tanya Bintang
“Kalau aku bangkrut, apa kalian akan tetap berteman denganku?” tanya Grizelle
“Tentu saja” jawab Shella dan Bintang
“Benarkah? Soalnya aku bangkrut” ujar Grizelle
“Apa?” tanya Shella
“Orangtua ku bangkrut” jawab Grizelle mengulangi perkataannya
“S-sungguh?” tanya Bintang
Grizelle mengangguk.
“Apa aku boleh meminjam uang kalian? Aku tidak ada uang” tanya Grizelle
“Kami juga enggak ada” jawab Shella
“Kalian keberatan bukan?” tanya Grizelle
“Aku hanya bohong, gak usah anggap serius” sambung Grizelle
“Oh ya?” tanya Shella
“Tapi sepertinya aku tak bisa berteman dengan kalian lagi” ujar Grizelle
“Kenapa?” tanya Bintang
“Kenapa? Itu karena kalian hanya ingin uangku saja” jawab Grizelle
“E-enggak gitu kok” ucap Shella
“Udah! Aku pamit dulu ya” ucap Grizelle dan segera pergi
“Sial!” umpat Shella
*****
Kelas Grizelle telah selesai. Grizelle pergi ke kantin untuk mencari Gerald.
Dalam perjalanan ke kantin, seseorang menabrak Grizelle dan menumpahkan sedikit air ke baju Grizelle secara tidak sengaja. Semua orang yang ada di kantin reflek melihat ke arah Grizelle.
“M-maaf kak” ucap perempuan yang ternyata junior Grizelle
“Ah iya gak apa-apa” ucap Grizelle
Melihat wajah Grizelle yang masih kesal, perempuan itu makin berasa bersalah. Ia takut Grizelle akan mengerjainya nanti.
“S-sekali lagi aku minta maaf ya kak” ucap perempuan itu sambil membantu Grizelle mengeringkan bagian basah dengan tisu
“Ku bilang tak apa!” ucap Grizelle sambil menepis kasar tangan perempuan itu
Perempuan itu terkejut dengan perlakuan Grizelle.
“Ah maaf” ucap Grizelle
Perempuan itu segera mengangguk takut dan pergi berlalu meninggalkan Grizelle.
Grizelle melihat ke arah sekitarnya, semua orang memandang dia dengan tatapan tak suka. Paling menyakitkan, salah satu dari mereka adalah Gerald. Grizelle langsung menundukkan kepalanya. Dia berniat pergi dari kantin itu. Tetapi terhenti saat memikirkan sesuatu.
‘Kalau aku menghindar, aku akan selalu dipandang seperti itu’ batin Grizelle
Grizelle memutuskan untuk masuk kembali ke kantin dan duduk di samping Gerald.
“Halo” sapa Grizelle pada Gerald sambil tersenyum
Gerald menatap tajam Grizelle karena merasa Grizelle sok dekat dengannya.
“K-kalian sejak kapan dekat?” tanya Gio
“Sekarang” jawab Grizelle
“Iya kan?” tanya Grizelle pada Gerald
Gerald diam dan pergi meninggalkan Grizelle.
‘Dingin banget’ batin Grizelle
Dari jauh, Grizelle melihat Kiara yang mendatangi Gerald dan berjalan bersama-sama. Grizelle segera mengikuti mereka.
“Kau dekat dengan Grizelle?” tanya Kiara
“Enggak” jawab Gerald
“Terus tadi aku lihat dia dekat-dekat dengan mu” ujar Kiara
“Sok dekat” ucap Gerald
“Kau sebentar lagi masuk kelas kan?” tanya Gerald
Kiara mengangguk.
“Pergilah! Aku ingin sendiri” ucap Gerald
Kiara mengangguk dan segera pergi berlalu meninggalkan Gerald.
Grizelle menghampiri Gerald. Gerald menatap kesal Grizelle.
“Jangan galak dong om” canda Grizelle
“Pergi!” usir Gerald
“Kayak cewek ih sensi amat” ucap Grizelle
Gerald memutar bola matanya malas.
“Aku ke sini mau minta maaf” ucap Grizelle
Gerald menyerngitkan dahinya bingung.
“Aku minta maaf karena pernah membuli adikmu” ucap Grizelle
“Kau seharusnya minta maaf pada orang yang kau buli” ucap Gerald
“Tapi, aku mau terlebih dulu kau yang memaafkan ku” ucap Grizelle
“Kenapa?” tanya Gerald
“Tolong maafkan aku” ucap Grizelle memohon
Gerald memutar bola matanya kesal.
“Enggak” tolak Gerald
“K-kenapa?” tanya Grizelle
“Kau bertanya kenapa? Kalau bukan karena Kaila yang melarangku untuk menghabisimu, aku pasti sudah membuatmu mengalami hal yang sama” ucap Gerald
“Kau ingin apa? Kau ingin menamparku? Kau ingin memukulku? Kau ingin menjambak rambutku?” tanya Grizelle
“Ya” jawab Gerald
Grizelle menyerahkan pipinya.
“Silahkan! Sekuat mungkin kalau perlu” ujar Grizelle
“Aku tak ingin dilaporkan kekerasan” ucap Gerald
“Tolong maafkan aku” ucap Grizelle memelas
Gerald ingin sekali berkata tidak, tapi entah kenapa saat melihat tatapan Grizelle hatinya berkata lain.
“Yaudahlah, terserah” ucap Gerald
“Beneran nih? Yeay!” ucap Grizelle senang
Gerald segera pergi meninggalkan Grizelle sendiri.
“Main pergi aja” ucap Grizelle kesal
Grizelle segera mencoba untuk menyusul Gerald.
Gerald duduk di taman disusul oleh Grizelle.
“Kau kenapa ikut-ikut sih?” tanya Gerald kesal
Grizelle tersenyum.
“Pergilah!” usir Gerald
“Enggak mau!” tolak Grizelle
“Keras kepala banget!” ucap Gerald
“Emang! Kenapa? Gak suka?” tanya Grizelle
Gerald menatap Grizelle kesal.
Gerald bangkit dari duduknya dan pergi. Namun, Grizelle tetap mengikutinya.
“Kau gak ada kerjaan lain?” tanya Gerald kesal
“Gak ada, hihi” jawab Grizelle
Gerald mengepalkan tangannya menahan kesal.
Melihat itu, Grizelle terkekeh pelan.
“Baiklah, aku akan pergi” ujar Grizelle
“Lagi pula, sepertinya kita akan ada tugas kelompok bersama” ucap Grizelle
“Apa kau bilang?” tanya Gerald
“Gak ada. Aku asal ngomong aja tadi, hihi” jawab Grizelle dan segera pamit pergi meninggalkan Gerald yang masih bingung dengan ucapan Grizelle tadi.
‘Sampai jumpa di tugas kelompok’ batin Grizelle senang