bc

Kamulah Takdirku

book_age18+
13
FOLLOW
1K
READ
fated
arranged marriage
goodgirl
inspirational
drama
city
tricky
intersex
colleagues to lovers
Neglected
like
intro-logo
Blurb

Veronica Tambayong seorang arsitek muda yang cantik juga sangat menarik, memiliki pembawaan sangan santun dalam bertutur kata dengan siapapun dan juga sangat anggun.

Mula-Mula kehidupannya berubah setelah bertemu dengan seorang direktur perusahaan properti, yang memiliki wajah tampan dan sangat menggoda bagi kaum hawa. Pembawaan dirinya yang sangat tegas dan kehidupannya yang mapan yaitu Devandra Putra Djojoningrat.

Ve dan Devan bertemu pada saat sama-sama baru saja mengalami kegagalan dalam hal asmara. Rasa trauma akan kisah cintanya yang baru saja kandas dengan tragis membuat mereka sangat sulit untuk percaya dengan adanya cinta diantara mereka. Meski Dev sudah lebih dulu merasakan getaran cinta pada ve yang baru saja dia lihat untuk yang kedua kalinya.

Tanpa ia sadari pertemuan mereka disalah satu proyek yang cukup besar dan melibatkan Veronica sebagai arsitek kepercayaan perusahaan Djojoningrat Building, memaksa dua anak manusia itu sering bertemu dan saling jatuh cinta. Bagaiamana lika-liku perjalanan cinta mereka berdua?

Mari kita baca.

chap-preview
Free preview
Panggilan Misterius
Seorang gadis berusia 24 tahun sedang bercermin didepan meja riasnya. Pagi ini masih pukul 07.00 WIB dan seorang gadis cantik sudah siap dengan kemeja berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam. “Dreeet…dreeet…dreeeet” Ponsel dengan logo apel sisa gigitan putri salju it uterus memborbardir bergetar diatas nakas tanpa henti. Veronica segera mengambilnya dan menerima panggilan misterius itu. Ya memang misterius karena dilayar tidak Nampak ada namanya. “Selamat pagi, disini dengan Veronica Tambayong ada yang bisa saya bantu?” Jawab Vero dengan nada santunnya. “Selamat pagi ibu, ini dari Djojoningrat Building mau memberi kabar bahwa meeting hari ini dengan anda diajukan.” Jawab suara seorang wanita dari balik benda pipih yang sekarang menempel ditelinga Vero. “Oh baik ibu, kebetulan sekali saya sudah mau berangkat. Terima kasih telah memberi kabar.” Balas Veronica tidak kalah professional dengan orang dibalik benda pipih itu. Ia segera memasukkan benda pipih itu ke dalam tas berwarna putih yang terletak diatas tempat tidur. Tak lupa ia juga segera mengambil arloji berwarna silver yang ia ambil dari dalam laci. Hari ini adalah hari pertama Veronica akan menghadiri kerjasama dengan perusahaan yang cukup besar di bidang property. S Setelah satu bulan yang lalu ia baru saja menyelesaikan studynya di Kanada dengan jalur beasiswa. “Braaak...!!!” “Aduh” Ucap Veronica yang tengah mengusap-usap keningnya yang beberapa detik yang lalu berbenturan dengan seorang pria yang sangat tampat. “Maaf saya tidak sengaja.” Ucapanya sembari mebungkukkan badannya. Tanpa disadari ada sepasang mata tajam yang sedang mengamati gerak-gerik tingkah Veronica. “Apa tidak apa-apa?” ucap pria tampan itu empati. “Iya tidak apa-apa, maaf pak saya buru-buru.” Setelah mengucapkan permohonan maafnya yang kedua kalinya itu, ia langsung bergegas melangkahkan kaki menuju lift. Sebelum memencet tombol menunjukkan arah naik ke lantai 6, Veronika mengangkat kepalanya dan tanpa disadari kedua bola mata itu beradu tepat di manik mata elangnya yang tajam. Bahkan pria tampan itu juga merasakan ada sengatan listrik yang berhasil membuat jantungnya berdegub cukup kencang. Pria tampan itu segera menyusul masuk ke lift khusus untuk para pemimpin perusahaan itu. Jadi di gedung milik perusahaan Djojoningrat Building itu ada salah satu lift VIP yang hanya digunakan untuk para petinggi diperusahaan itu. Sesampainya diruang meeting yang memang waktunya maju dari sebelumnya Devandra masuk, dan betapa terkejutnya dia karena melihat wanita yang tadi sempat berpapasan di lobby gedung belantai 25 itu. Bukan hanya berpapasan akan tetapi lebih tepatnya bertabrakan dengannya. Diruang meeting. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit akhirnya CEO dari Djojoningrat Building masuk ke ruang meeting. “Perkenalkan ini adalah putra saya namanya Devandra Putra Djojoningrat dia yang akan menangani proyek hotel dan resort di Bali.” Jelas seorang yang sudah berusia cukup tua tapi masih terlihat sangat gagah perkasa. “Owh.. jadi dia adalah putra dari pak Leon.” Gumam Veronica dalam batinnya. “Dan saya ucapkan terima kasih sekali kepada nona Veronica Tambayong yang sudah mau bekerja sama dalam proyek mega ini.” Ucapnya pria tua itu lagi. “Oh jadi namanya Veronica, cantik sepertinya juga sangat menarik orangnya.” Gumam Devandra yang sorot matanya tidak beralih memandang gerak-gerik Veronica. “Suatu kehormatan bagi saya bisa bergabung diperusahaan besar ini. Saya Ucapkan terima kasih pak Leon.” Jawab Veronica yang masih membungkukan badannya menunjukkan sebagai rasa hormat. Meeting itu berjalan cukup lama hingga membuat perut Veronica terasa cukup lapar. Apalagi sepanjang perjalan meeting berlangsung ada sosok mata tajam yang memandang Veronica tanpa henti. Hal itu juga membuat jantung Veronica bekerja lebih cepat dari biasanya. Satu minggu kemudian Veronica yang masih belum bisa move on dengan penghianatan kisah cintanya yang dulu perlahan semakin memudar dengan hadirnya Devandra yang semakin hari semakin bertambah akrab. Meski dua anak manusia itu yang terlihat semakin hari semakin bertambah akrab, akan tetapi masing-masing pada dirirnya belum ada yang berusaha untuk membuka diri. Mereka hanya sepasang partner kerja yang terikat kontrak bagi Veronika diperusahaan tersebut. Seperti saat sekarang ini mereka berdua baru saja keluar dari ruang meeting untuk proyek mega yang ada di pulau Dewata Bali. Mereka sudah tidak canggung hanya untuk menanyakan sekedar lapar atau yang lainnya. Bahkan di waktu yang sudah cukup larut mereka baru saja keluar dari ruang meeting dengan para jajaran pemegang proyek mega itu . Apalagi dengan Veronica yang memang posisinya sebagai arsitek utama di proyek tersebut. Author POV. Terlihat Devan dan Vero berjalan menuju lift, dan sebelum sampai kelantai dasar ternyata Devan menekan tombol dimana ruangan Vero berada. "Ayo keluar." Ajak Devan ke Vero dengan nada yang cukup datar. "Katanya mau makan pak, tapi kenapa malah keruangan saya?" Vero yang merasa bingung dengan Devan dan bertanya dengan nada yang cukup bingung. "Apa kamu tidak ingin mengambil tas dan sepatu dan barang-barang milik kamu yang ada diruangan?" Jawabnya dengan tatapan yang cukup menyakinkan. Dengan cepat Vero berlari berhamburan untuk mengambil barang-barangnya dan kembali menuju Devan yang terlihat sedang menunggu dengan memainkan ponselnya. Setelah sampai dilobby kantor mereka berdua keluar dan masuk kedalam mobil milik Devan. Perlahan Devan melajukan mobil Mercedes Benz tipe CLS-Class berwarna hitam legam terbarunya. "Kita mau makan dimana?" Devan yang tiba-tiba bertanya keVero. "Saya nurut Bapak aja mau makan dimana." Jawabku dengan hati-hati. "Ya, kamu seharusnya tentukan saja mau makan dimana, saya belum tahu selera kamu apa." Jawab Devan sedikit frustasi. "Emmm... kalau menurut saya sih pak, malam-malam gini enaknya makan bakso aja, pakai sambel yang pedes." Jawabku dengan apa adanya. "Boleh juga tuh, ada rekomendasi tempat yang tidak terlalu rame?" Tanya Devan kembali. "Dimana ya, saya kurang paham daerah sini pak, Saya baru satu tahun pindah diJakarta." "Oya, memangnya tadinya kamu tinggal dimana?" "Di Bandung pak Devan." Jawabku singkat. Tiba-tiba Devan memarkirkan mobilnya didepan restoran seafood yang cukup hight class. Tempatnya cukup mewah dan tidak begitu rame. "Makan baksonya kita tunda dulu aja ya, malam ini kita makan disini dulu. Tidak apa-apa kan?" "Yaa, saya nurut Bapak aja deh." "Kenapa coba tadi nanya-nanya mau makan apa kalau ujungnya juga pilihan dia. Dasar orang aneh." Gumamku dalam hati yang sedikit kesel. Sebenarnya aku tidak begitu suka dengan makanan laut, tapi apa boleh buat karena ini kemauan pak Bos yang ternyata aneh dan penuh misteri juga sangat sulit ditebak akhirnya aku nurut saja. "Oya, nanti kamu sekalian saya antar pulang kerumah aja," Tawarnya dia ke Vero. "Tidak usah pak terima kasih sebelumnya." "Lho kenapa? ini sudah malam lho Ve." "Iya, karena saya takut merepotkan bapak saja." "Tapi saya tidak merasa seperti itu, anggap saja sebagai perkenalan kita." "Ta..tapi Pak, saya benar-benar tidak enak." Jawabku terbata dan wajah yang menunduk merasa tidak enak hati. "Tapi, saya tidak menerima penolakan. Cepat tulis alamat rumahmu dan nomor ponsel disini." Jawab Devan sedikit memaksa sambil menyodorkan smartphone miliknya dengan wajah yang cukup datar. Kemudian Vero menuliskan apa yang diminta Devan dengan lengkap. Lalu mengembalikan benda pipih itu lagi kepada empunya dan langsung dimasukkan kedalam saku jas yang dikenakan oleh Devan. Tanpa menunggu lama seorang waiter menghampiri tempat duduk Devan dan Vero. Devan memesan cukup banyak makanan seafood seperti memesankan makanan untuk orang yang sudah satu minggu tidak makan. Dan tak lama mereka berdua makan malam untuk yang pertama kalinya. Lalu menyantap semua makanan dengan cukup lahap. Hati Devan saat ini benar-benar sedang berbunga-bunga karena bisa dekat dengan Vero sang pujaan hati. Meski Devan cenderung sosok yang dingin dan juga kaku, tapi itu tidak berlaku pada Vero. Sesekali Dev menarik ekor matanya untuk mencuri-curi pandang dengan wanita yang sedang berada didepannya itu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.6K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook