Rapat Dengan Investor

1496 Words
Sang surya sudah benar-benar sudah tenggelam diufuk barat dan telah tergantikan dengan berubahnya warna langit yang menjadi hitam legam. Tak sedikit bintang yang sudah mulai nampak dilangit yang menghiasi gelapnya malam dengan sang rembulan. Di perjalanan menuju rumah Vero, entah kenapa jalannya nampak begitu ramai dan sedikit mengalami kemacetan meski hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi penghuni kota metropolitan. Sesekali Vero menguap karena perutnya yang sudah kenyang membuat dirinya terserang kantuk yang tak tertahankan. “Apa kamu sudah tahu kalau besok kita ada rapat dengan investor proyek yang ada di Bali?” Sebuah pertanyaan yang berhasil keluar dari mulut Devan untuk memecah kesunyian diantara mereka. “Sudah Pak.” Jawabku singkat sembari mengulas senyum manis dan menampakkan lesung pipi khas milik Ve. "Kalau tidak salah kita akan sering terlibat diproyek itu. Karena rancangan bangunannya yang diminta sedikit rumit." “Oya.”Jawab Vero sedikit terkejut. “Apa kamu belum tahu?" “Maaf pak, saya belum sempat membacanya tadi.”Jawab Vero ke Dev yang memang begitu adanya. “Ini juga semua gara-gara kamu pak, aku belum membaca tugasku besok. Kenapa juga aku dikurung diruangan terkutuk itu." Gerutu Vero dalam hati. Tidak masalah, saya percaya sama kemampuanmu." Jawab Devan sambil tersenyum dan menatapku sekilas. Devan POV. Aku terus melajukan mobilku kearah rumah Vero.Aku menoleh kearah Vero yang ternyata memang sudah sangat mengantuk. Aku berusaha mengajaknya mengobrol, tapi lama-lama kelamaan obrolanku sudah tidak digubris olehnya. Lalu aku membiarkan Vero untuk terlelap sejenak sebelum sampai rumah. Berulang kali aku melihat kearah Vero, sepertinya dia sangat damai dengan tidurnya. Setelah tadi aku berusaha untuk mengajak bicara dengan sedikit topic obrolan tentang pekerjaan. Cukup lama aku sampai didepan rumah Vero, rumah yang sepertinya masih baru ini terlihat sangat indah dengan model minimalis dan terlihat elegan. Tidak terlalu besar tapi sepertinya sangat nyaman. Rumah yang terdiri dari dua lantai dan terdapat taman bunga dan kolam ikan hias dengan dihiasi sedikit aksen air mengalir menambah kesan sejuk dan damai dengan rumah itu dan terdapat beberapa aksen lampu yang menyorot dari bawah tanah menambah kesan elegan tersendiri dari rumah itu ketika terlihat dimalam hari. “Sepertinya sangat cocok rumah model seperti ini untuk aku dan Vero setelah menikah.” Gumamku dalam hati. Kenapa aku yakin sekali dengan Vero. Mungkin sedikit menghayal tidak apa-apa. Siapa tahu besok benar-benar jadi nyata. “Emak anakmu ini pengen kawin mak.” Gumamnya bergeming dalam hati. Ketika aku sudah sampai didepan rumah Vero, aku menoleh kearahnya. Ternyata dia masih sangat pulas dan nyaman dengan tidurnya. Terdengar hembusan nafasnya yang cukup teratur. Sejenak aku mengamati dan menikmati kecantikan Vero, dia memang benar-benar cantik. Bahkan dengan penampilannya yang sudah luntur makeupnya dia tetap terlihat sangat cantik. Pokoknya kalau mau melihat wajah wanita cantik itu ketika makeupnya sudah luntur. Bahkan keinginanku untuk segera memiliki Vero semakin menggebu-gebu. Dia benar-benar wanita yang sangat sempurna. Dia sangat sopan sekali dengan siapa saja cara bicaranya yang santun, pembawaan dirinya juga sangat elegan, dan satu lagi dia berkulit putih berambut hitam legam menambah kesan anggun. Aku ingin membangunkan Vero, tapi niatku terhenti karena rasanya tidak tega tidurnya yang damai terusik. Bahkan hampir satu jam Vero masih terlihat damai sekali dengan tidurnya. Dan apa yang aku lakukan selain menikmati keindahan wajahnya yang sangat cantik. Bahkan dalam waktu yang cukup lama aku masih memandanginya. Tiba-tiba ponsel Vero berbunyi dan membuat Vero terbangun dari tidurnya. Sepertinya itu mama nya yang menelpon. “Apa sudah sampai dari tadi?" Ve bertanya kepadaku dengan nada yang sangat lembut. Mendengar pertanyaan dari Vero aku segera mengalihkan pandanganku ke sembarang arah, karena aku malu kalau ketahuan diam-diam aku sedang mencuri pandang. Dan setiap aku medengar apapun yang keluar dari bibirnya yang sangat seksi itu dadaku terasa sangat tidak karuan. Jantungku seperti ingin lari dari tempatnya. Untung saja jantung ini buatan dalam negeri kalau buatan china bisa-bisa sudah berkeping-keping tuh. “Belum lama, mungkin baru lima menit yang lalu kita sampai." Jawabku sedikit berbohong. “Oya, terima kasih sudah mengantar saya sampai rumah pak Devan." Jawab Vero dengan membungkukan sedikit tubuhnya. “Emm... apa ini rumah masih baru?" Tanyaku ke Vero lagi. Berniat untuk menghilangkan rasa gugupku. “Iya, ini rumah baru satu tahun saya tinggal dirumah ini. Ini rumah rancangan saya yang pertama kali. Dan karena rancangan rumah ini saya bisa lulus gelar S3." Jawab Vero dengan perasaan bangganya dan memandangi rumah yang sudah ada didepan mata dengan sorot mata kagum. Lalu Vero bergegas melepas seatbelt untuk segera keluar dari dalam mobil. “Ve....” Panggil ku dengan nada lembut. “Iya?” Jawab Ve yang tiba-tiba menoleh kearahku dengan tatapan penuh arti. Karena takut terlihat gugup aku mengalihkan pandanganku ke sembarang arah di luar mobil. “Terima kasih untuk malam ini.” Vero hanya tersenyum memperlihatkan lesung pipi khasnya dan bergegas keluar tanpa kata-kata apapun. Setelah melihat Ve sudah benar-benar masuk kerumah, aku langsung bergegas pulang. Berniat malam ini untuk menginap dirumah mama. Vero POV. Saat ini rapat sedang berlangsung, dan terlihat Pak Leon sangat serius memaparkan kerjasama yang akan segera terealisasi. Disela-sela pemaparannya terdengar bahwa aku mendapat tugas dengan Devan untuk mengontrol langsung proses pembangunan resort yang ada di Bali selama satu minggu. Dalam batinku aku sangat bahagia karena aku bisa bekerja sekaligus liburan ke pulau Dewata Bali. Membayangkan saja sudah membuat good mood. Rapat ini berlangsung cukup lama dan cukup menguras banyak energi. Aku dengan semangat memaparkan apa yang perlu aku sampaikan kepada semua peserta rapat siang ini. Sesekali aku melihat kearah Devan yang ternyata dari tadi dia senyum-senyum tidak jelas. Dan hal itu sedikit membuatku tidak percaya diri. Maksudnya apa coba, setelah kemarin mengurungku diruang kerjanya selama tiga jam. Flasback on. Jadi kemarin itu, karena Dev sangat terobsesi ingin dekat dengan Veronica akhirnya dengan alasan berunding diruang kerja milik Devan. Ia mengurung Veronica diruangannya hingga cukup lama dan membuat perut Veronica keroncongan karena cacing yang ada dalam perutnya sudah demo minta di kasih makan. Padahal hal itu sudah dibahas di acara meeting sebelumnya. Akan tetapi Vero tidak bisa berbuat apa-apa selain harus tetap professional dalam keadaan apapun itu. Flasback off. Malahan sekarang si Bos aneh itu bahkan tanpa berkedip sedikitpun memeperhatikanku memaparkan semua materi yang perlu aku sampaikan pada para peserta rapat. Sesekali tatapan kita beradu,dan itu membuat ku semakin gugup. Syukurlah aku bisa menyelesaikan pemaparan rapat ini dengan lancar tanpa halangan apapun tanpa ada kesalahan yang fatal. Mengingat kejadian kemarin sedikit membuatku terhibur sih, biar lebih cepat bisa melupakan si b******k itu. “Kenapa tiba-tiba malah jadi mengingat Alex.” Gumamku dalam batin. Devan POV. Setiap aku melihat Vero, rasanya tidak ingin udahan memandangnya. Hari ini Vero mengenakan kemeja warna putih bawahan warna pink muda, dan masih dengan model rambut Bob polisi yang lama. Hanya saja sepertinya itu bagian poni sudah cukup panjang. Begitulah aku mendeskripsikan Vero, Karena memang aku benar-benar mengaguminya. Jadi ingat pesan emak tadi pagi untuk segera mengenalkan pada mama. Flash Back On. Aku keluar dari kamarku menuju ruang makan, terlihat mama sedang menyiapkan sarapan. Betapa terkejutnya mama melihatku yang sekarang sudah ada di rumah mama. “Kapan kau pulang Dev?" tanya mama kepdaku. “Semalem aku datang, tapi mama sepertinya sudah istirahat. Jadinya aku diam aja. Ini papa kemana?" "Papa udah berangkat barusan katanya buru-buru mau nyiapin buat rapat nanti. Ada apa tumben kau pulang kerumah mama, ada masalah kah?" "Heemmm.. " Jawabku dengan gumaman dan senyum kecut. "Kan aku mamamu, mana mungkin kau pulang kalau tidak ada sesuatu hal yang ingin kau ceritakan pada mama." Lalu mama berjalan menuju kursi kosong disebelahku untuk mengisinya, mama mengelus punggungku dengan kasih sayang. Sentuhan yang selalu aku rindukan, sentuhan yang penuh kasih sayang. Mama melipat kedua tanganya diantara kedua tanganku, itu artinya mama memang sudah benar-benar siap mendengarkan ocehanku pagi ini. “Ceritakan Dev mama mendengarkanmu.” “Dev ingin nikah ma.” Satu kata berhasil keluar dari mulutku setelah cukup lama aku menimbang-nimbang. “Bagus itu.” Jawab mama dengan nada lembutnya dan wajah yang selalu mengukir senyum manis. “Siapa gadis yang sudah berani merebut hati anaku dari mama?” lanjut mama lagi. “Emm dia partner kerjaku, bisa dikatakan sebagai karyawan barunya papa yang sepertinya terikat kontrak satu tahun dengan perusahaan papa. Dia sangat cantik, lembut dan juga sangat santun. Tapi Dev tidak yakin kalau dia mau denganku.” Jelasku ke mama sembari mengukir senyuman khas orang yang sedang jatuh cinta. “Lho kenapa kau sudah menyimpulkan dia tidak mau denganmu?” “Dia begitu cantik dan sempurna ma, orangnya lembut anggun dan santun sekali dengan siapapun. Pemikirannya juga sangat luas dan cerdas. Baru kali ini aku melihat wanita sesempurna Veronica.” “Apa perlu mama sama papa langsung melamarka saja buat kamu.” “Jangan ma, itu tidak mungkin.” “Lho kenapa?” “Aku hanya ingin dia mau karena persaan cinta, bukan karena paksaan.” “Coba besok sepulang kalian dari Bali, kamu bawa Veronica kesini. Mama coba berkenalan dengannya dan menggali lebih lagi tentang dia.” Saran mama yang ingin bertemu dengan Vero. “Ok ma, nanti coba saya bicarakan langsung dengan Veronica.” Balasku ke mama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD