Semakin Yakin

1304 Words
Flash Back off Devan POV. Mengingat petuah mama tadi pagi membuatku semakin yakin dengan Vero. Syukur lah minggu depan aku akan bertemu dengan Vero setiap hari. Bahkan pasti akan sangat menyenangkan di satu proyek di pulau Dewata Bali dengan Ve. Membayangkan saja aku sudah merasa sangat bahagia. Rasanya sudah tidak sabar pengen cepat-cepat hari Senin. Dan akhirnya rapat ini selesai, semua peserta rapat berhamburan keluar, kecuali Vero yang masih sibuk dengan berkas-berkasnya dimeja yang sedikit berantakan. Lalu aku mendekat menuju Vero. “Butuh bantuan?" Tanyaku pada Vero. “Oh pak Devan, ti tidak pak terima kasih.” Jawab Vero sedikit terbata sambil tersenyum manis sekali. Aku menarik lengan tanganku untuk melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan kiriku, dan ternyata waktu sudah menunjukkan waktu istirahat. “Mau makan siang bersama, mungkin kita bisa makan bakso kali ini?" Tanyaku lagi padanya. “Apa tidak apa-apa jika saya makan siang bersama dengan pak Devan?" Jawab Vero. “Lho memang kenapa?" “Ya saya takut saja, kalau istri bapak nanti marah.” Aku memicingkan alisku mencoba mencerna kata yang baru saja keluar dari mulut Vero. Berarti selama ini Vero menganggap kalau aku sudah berkeluarga. “Apa menurutmu aku sudah setua itu kah?" Tanyaku padanya sambil tersenyum heran. Vero malah hanya membalas dengan senyuman saja. Lalu dengan cepat aku menarik tangannya. Untuk mengajaknya keluar dari ruang rapat tersebut. "Asal kau tahu Ve kalau aku tidak menerima penolakan. Jadi kamu harus mau saya ajak makan siang bersama." Ucapku sedikit memaksa Vero. Vero hanya menunduk saja dan mengikuti langkahku dari belakang. Setelah selesai makan siang bersama aku memutuskan untuk mengajak Vero ke mall sebentar. Karena ingin membeli beberapa kebutuhan yang akan kami bawa. "Ve, temenin aku sebentar yuk." "Kemana?" Jawab Vero dengan sedikit penasaran. "Aku mau membeli beberapa kebutuhan." Jawabku santai. "Ta...tapi pak Devan kita harus segera kembali kekantor, bahkan ini waktu istirahat juga sudah habis." "Helooo.... Bos nya aku, jadi kamu tidak perlu khawatir, tinggal nurut aja. Oke!" Jawab Devan meyakinkan. Akhirnya mereka berdua benar-benar menikmati belanjanya, dan sesekali yang memilihkan barang Devan malah justru Vero. Hari itu memang benar-benar menyenangkan bagi mereka berdua. Karena hubungan mereka semakin dekat dan akrab. Vero POV. Tiba-tiba dadaku berdetak sangat kencang ketika pak Devan menarik tanganku. Apa maksudnya ini. Aku sungguh tidak mengerti dengan pak Devan. Jika aku sering bareng seperti ini bisa-bisa aku jatuh cinta dengannya. Dan itu sepertinya tidak mungkin. Karena aku juga lebih sadar diri, aku hanya orang biasa. Dan dia adalah orang yang memiliki kasta tidak sepertiku. Akhirnya kami benar-benar makan siang dengan menu bakso yang di ucapakan tadi sama Devan. Entah dari mana Devan bisa tahu tempat favoritku makan bakso milik orang solo. Dan setelah makan bakso Devan malah mengajak belanja ke mall. Sesekali dia meminta pendapatku untuk mengambil suatu barang. Bahkan dalam hal pilihan memilih parfum saja harus melibatkan pendapatku. Benar-benar manusia aneh, tapi aku suka. Dan Ketika dalam perjalan menuju kantor Devan memberikanku kotak hitam entah apa itu, dia hanya berpesan kalau boleh di buka jika aku sudah sampai rumah. Akhirnya aku menyimpannya di dalam tas. Dalam batinku hanya bisa berdoa kepada Alloh. Berharap kalau Devan memang jodohku. Meski rasanya itu sungguh tidak mungkin. Tapi Alloh yang berhak membolak balikkan hati seseorang. Dan hari ini berakhir dengan Devan mengantarkan aku pulang kerumah lagi, setelah tadi ada sedikit pekerjaan yang harus dipersiapkan untuk besok hari Senin menuju Bali. Kami memang sudah semakin akrab, bahkan aku sudah merasa terbiasa dan nyaman dengan perlakuannya. Vero POV. Sesampainya di rumah aku melihat mama yang yang masih di ruang keluarga. Terlihat mama yang sedang menonton sinetron kesayangannya. "Met malem ma," Sapaku ke mama. "Katanya mau lembur, kog pulangnya cepat?" Balas mama sambil melihat ke arahku. "Enggak jadi ma, tadi udah di beresin bareng sama pak bos. Makanya Ve pulang cepet." "Besok Senin kamu jadi ke Bali nya?" tanya mama lagi. "Ya jadilah ma, mungkin satu minggu Ve di sana ma." Jawab Ve ke mama sembari berhamburan memeluk tubuh mamanya yang sedikit gemuk. "Asik bener, bisa kerja sambil liburan." "Iya dong." Jawabku sambil tersenyum sumringah. "Mama cuma pesan kalau kamu ada waktu, tolong kunjungi tuh Tante Vera di Ubud. Tadi mama juga telepon Tante Vera terus cerita kalau kamu ada tugas di Bali." "Ya baguslah, semoga saja Ve ada waktu buat kunjungi rumah Tante Vera." Jawabku penuh harap. "Dah sana buruan mandi, terus makan malamnya masih ada rendang kesukaanmu di meja makan." Sembur mama dengan nada khas emak-emak nya. Aku berdiri dan bergegas masuk ke kamar yang terletak di lantai dua. Sebelum pergi meninggalkan mama yang masih asik dengan tayangan sinetron kesukaannya aku mencium pipi mama dengan manja. Setelah selesai mandi dan melakukan ritual anak gadis pada umunya. Aku meraih tas dan mengambil kotak berwarna hitam dan berbalut kain bludru itu. Perlahan aku membuka kotak itu dan betapa terkejutnya aku kalau isinya adalah liontin berinisial huruf V. "Bagus sekali, sepertinya ini sangat mahal." ucapku dengan wajah sumringah. Perlahan aku mengambil liontin itu dan memakainya. "Ini sangat cocok dengan ku." Ucap ku di depan cermin meja rias. Tapi aku berniat untuk belum memakai terlebih dahulu. Dan menyimpannya di laci nakas. Karena aku akan bekerja cukup lama di Bali takutnya malah nanti hilang disana. "Dreeet....dreeeet.... dreeeet...." Getaran terkutuk itu sungguh sangat menggangguku, aku terbangun dan ternyata ponselku berulang kali bergetar. Segera aku mengambil ponsel itu di atas nakas. "Hay gadis, apa kau masih mengurung diri di kamar?" Suara itu sungguh tidak asing di telingaku. Itu Devan, ya benar itu Devan. "Ha.halo pak Devan" jawaabku terbata. "Apa kau masih belum bangun?" "Belum pak, ada apa? Bukankah penerbangan nya masih besok ya?" Tanyaku dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Iya betul, aku hanya memastikan kalau kau memang benar belum bangun." Kemudian telepon yang sungguh sangat tidak bermutu itu di tutup secara sepihak. Dan membuatku rasanya aneh sekali. Karena aku melihat jam yang ada di ponselku masih cukup pagi. Dan ini hari libur aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku. Tak lama kemudian ponselku berbunyi lagi, ya benar itu adalah Tsania. Aku bahkan hampir lupa kalau memiliki janji dengan Tsania. Setelah menerima telepon dari Tsania akhirnya aku bergegas untuk beranjak dari tempat tidur ku dan berendam di bathtub dengan sabun beraroma melati keraton yang selalu membuat hidupku lebih rileks. Setelah selesai mandi dan merias wajahku dengan makeup tipis-tipis, lalu aku keluar dari kamar dan menuju dapur untuk sarapan. Tak lama setelah aku selesai sarapan, Tsania datang menjemputmu. Tsania itu sahabat dan berasa saudara, semenjak menikah sekitar empat tahun yang lalu Tsania menetap di Singapura bersama suaminya. Dan sekarang ini Tsania sedang liburan dan urusan usaha restoran seafood milik suaminya yang akan buka cabang di Indonesia. Akhirnya kita bertiga berjalan-jalan cukup lama di mall. Karena hampi tiga jam kita berbelanja membuat perut terasa cukup lapar. Dan kami memutuskan untuk makan di salah satu restoran cepat saji. "Ve, aku titip Starla bentar ya, aku mau ke toilet sebentar. Udah gak tahan." Pamit Tsania ke aku dan Starla. Starla itu anak pertama Tsania yang masih berumur tiga tahun. Dia gadis yang manis dan juga sangat nurut sama aku. Starla juga biasa memanggilku Mommy, kayak manggil Mommy Tsania. Mungkin karena aku dan Tsania yang masih seumuran kali ya. Ketika sedang menunggu Tsania di toilet, aku dan Starla masih setia menunggu pesanan makanan datang. Dan betapa terkejutnya aku, ketika pandanganku tak sengaja melihat Devan dengan seorang wanita. Wanita itu sangat cantik. Mungkin itu kekasihnya. Mereka sangat serasi ketika berjalan bersama. Mendadak dadaku terasa sesak sekali. Baru saja aku mau membuka hatiku untuk pria itu ternyata dia sudah memiliki kekasih. Dengan cepat aku memalingkan pandanganku, ke arah lain. Berharap kalau Devan tidak melihatku. "Sabar Ve, mungkin saja itu hanya temannya saja." Gumamku dalam hati untuk menetralkan perasaanku. Dan dugaan ku ternyata salah, bahkan Devan melihatku yang sedang duduk dengan Starla. Terlihat Devan yang tersenyum ketika melihat keberadaan ku, bahkan Devan berjalan menuju ke arahku. Ketika wanita yang bersama Devan tadi sedang membeli entah apa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD