Episode 6

1081 Words
"Aaduhhh sial banget, ini gara-gara Mila nih, cewek racun!" gerutuku dalam hati, aku yang masih berada didepan papan tulis membuat diri ini sangat malu. "Kenapa..gak bisa!makanya jangan suka gobrol kalau ada guru menerangkan!" tegas pak Yogi "Hemz pak Yogi, pak Yogi..ini muka mau ditaruh dimana!" kataku dalam hati yang malu sampai memejamkan mata, "uuh mana dia ngliatin aku lagih!dalam hatinya dia pasti menertawakanku" "Ya sudah kamu boleh duduk!" "Nah, sekarang kalian dengarkan semua!perhatikan baik-baik!!" "Iyah pakkk" seru para siswa yang segera memperhatikannya. Suasana tenang diruang kelas mendamaikan hati yang panas akan rasa yang telah dipermalukan sampai bel istarahat berbunyi semua tampak lelah menunggu ketegangan yang ingin segera berakhir. "Huh, akhirnya bisa bernafas juga" "Emang dari tadi kamu gak bernafas Sis? " tanya Askia "Tahan nafas dia ha ha ha ha.." celotehku, "huah ha ha ha ha.. " "Bisa ajah" sahut Sisca "Kantin yuk lapar" kataku dengan menepuk perut "Kamu Nin, kalau kekantin ajah garcep" "Ninn diii!! Hah ha ha ha ha.." seru Askia dan Riana kompak "Hust jangan berisik ada yang diam-diam ngliatin kita" bisik Sisca "Siapa?!" "Iya siapa" tanya Riana dan Askia penasaran, Ku lihat ketiga temanku memperhatikan Anggara yang nampak memperhatikan kami, dengan mempebincangkan seakan-akan Anggara tertarik dengan salah satu dari mereka. Sorot matanya menatap sinis kepadaku namun aku merasa malas menatapnya ku palingkan wajahku mengalihkan pembicaraannya "Ayo..cepat!! lapar aku" dengan beranjak meninggalkan mereka, "Eeh..tunggu Nin!" teriak Askia lari padaku dan membuat yang lain ikut berlari. Aku berjalan dengan santainya melintas didepan Anggara yang masih menatap sinis tidak peduli aku dengan dia yang penting aku meras lega melewatinya "Eh Nin! Anggara ganteng yah, pintar lagi" Mendengarnya aku sedikit heran dengan temanku yang satu ini Sisca "Naksir??" tanyaku "Oh engak cuma kagum ajah" jawabnya sambil tersenyum "Kali..naksirrr" ku coba menggodanya Kulihat Sisca emang beneran naksir dari caranya dia yang mencuri pandang dan bertanya padaku dia nampak malu dan salting tapi entah kenapa hati seakan tidak rela kalau Anggara dimiliki wanita lain. Oh Nindi kamu stop deh mengharap dia apalagi harus memikirkannya oh..tidak Nindi..masih banyak cowok ganteng dan baik diluaran sana...kamu pasti bisa Nindi.. "Iyah aku pasti bisa" "Apa Nin?bisa apah!!" tanya Sisca yang mendengar celotehku yang keluar begitu saja "Oh tidak apa-apa! haiy ngomong-ngomong kita akan makan apah!!" "Kesana ajah Nin! aku pengin baksonya pak Kimin" tunjuk Riana "Oh yah okeh! kita kesana yuk!" #### Aku kayuh sepedaku dengan sangat pelan karena hari ini sangat melelahkan semua teman-temanku telah dijemput dengan sopir mereka mungkin hanya beberapa siswa yang menggunakan sepeda seperti diriku ini karena memang mereka suka bersepada. Sebagian besar siswa dari sekolahan ini merupakan anak dari pengusaha atau pembesar lainnya dari kelas menengah keatas maka dari itulah jarang sekali anak-anak yang mau bersusah-susah mengeluarkan keringat hanya untuk mengayuh sepeda. "Ih kurang ajar amat sih!!" teriakku yang kesal dengan sebuah mobil mewah yang hampir menyerempetku. Lalu mobil itu berhenti dan seseorang keluar dari mobil itu dengan sangat arogan, angkuh dan sombong. "Kenapa??marah!!!" teriaknya "Hemz..males banget! kenapa dia yang muncul! cowok ganteng kek, malah cewek gila ini" kataku dalam hati membuatku malas untuk melihatnya "Hem..kau pikir kamu siapa mau menabrakku!!" "Memangnya kamu sendiri siapa! berteriak padaku" katanya dengan sombong "Sanahlah! kamu pergi! males aku berdebat!" usirku "Sombong sekali kau! anak pembantu!" "Heyy mau kemana kau!! main kabur ajah" teriaknya kesal Namun aku tidak memperdulikannya, aku segera kayuh secepat mungkin agar segera sampai rumah karena aku ingin sekali berbaring dan tidur. "Dasar cewek gila" Cewek gila yang aku sebut itu adalah Luna anak paman Erik yang merupakan orang kepercayaan nenek, paman Eriklah yang mengurus semua perusahaan miliki nenek namun selama ini Luna tidak pernah tahu tentang aku yang merupakan cucu satu-satunya nenek. Selama ini Luna telah salah mengerti tentangku yang dia tahu bahwa pewaris perusahaan adalah Ayu sasmita boedi yaitu ibuku dan baginya aku adalah anak seorang pembantu yang telah dianggap cucu oleh nenek pasalnya saat paman Erik sekeluarga berkunjung kerumah, akulah yang membuka pintu gerbang untuk mereka dan dari situlah Luna menganggapku sebagai pembantu. Ditengah teriknya matahari membuat keringat bercucuran dimana-mana namun itu tidak membuatku malas untuk bersepada, kalau dipikir-pikir aku sangatlah lucu banyak fasilitas yang bisa aku gunakan untuk hidup lebih nyaman namun diriku ini lebih menyukai yang sedikit menyiksa karena bagiku itu sangat menyenangkan dengan begitu hidupku lebih menantang dan akan banyak cerita yang aku alami. "Anggara.." Melintas sebuah mobil dan berhenti didepanku sehingga aku hentikan laju sepedaku Dengan kaca mobil terbuka ku lihat wajahnya menatapku memberi isyarat menyuruhku untuk masuk kedalam mobilnya namun aku tak peduli dan ku peloti dia karena kesal tubuhku yang hampir terbakar dan lelahku harus berhenti ditengah jalan. Seseorang datang memaksaku untuk mengambil sepeda dari tanganku yang membuat aku terpaksa menurutinya walau kesal dibuatnya. "Ada apah?" tanyaku kesal "Masuk!!" Anggara menggeser tubuhnya dan menyuruhku duduk disampingnya saat itu hatiku sangatlah risau dag dig dug tidak karuan karena harus duduk berdekatan "Ahh sejuknya hampir sajah aku mati kepanasan" kataku sambil melotot Aku berusaha tenang untuk tidak menunjukan betapa diri ini sangatlah gundah "Jalan pak!" katanya dengan wajah yang datar Aku hanya melihat keacuhnya kepadaku, berbicara tanpa menatapku sedikitpun hanya memandang lurus kedepan pada sang sopir melihatnya hanya bisa menelan ludahku saja. "Sebenarnya aku mau dibawa kemana?" tanyaku pelan (krik..krik..krik..) hening "Kau menculikku" "Nanti dicari polisi loh! kamu gak takut!!" Kikuk, kikuk Tidak ada reaksi apapun melihatku pun tidak apalagi bersuara.. mata terpejam dan kepala bersender Aku menunggunya untuk bersuara bagaikan menghitung jarum jam detik demi detik terdengar jelas ditelinga... Kreessss..... Terdengar suara jendela pembatas mobil yang tertutup sehingga semua aktivitas kami didalam mobil tidak dapat dilihat maupun didengar oleh sang sopir otakku mulai berpikir tidak jelas sampai aku panik. Wajahku yang mulai memerah dan tegang membuat dia menatap sinis "Ada apa kamu melihatku seperti itu" tanyaku sedikit takut "Jangan narsis! aku tidak akan menyukaimu" jawabnya dingin "Terus..apa masalahnya?" "Gak jelas gituh" "Ih!!" "Lihat dirimu seperti mau makan orang ajah!" "Berisik!!sebaiknya kamu gak usah banyak ngomong!" Mendengarnya membuatku kesal, masa iya aku harus diam mematung melihat Dia yang sesekali memejamkan mata diam seperti orang yang mengantuk ajah ngak asik banget " Terus..mau sampai kapan kamu diamin aku ajah?" "Itu..nanti sepedaku kamu pulangin kerumah! karena itu bukan sepedaku! jangan sampai ilang" Entah kenapa dia langsung menolehku seperti terkejut "Kamu pinjam??" "Iyah!! memangnya kenapa! mau tertawa! silahkan! pokoknya kamu suruh orangmu kembalikan kerumah mengerti!!" "Hemh hahahahahaha.....khahahaha.." tawanya terpikal-pingkal akupun ikut tertawa Tawaku antara malu dan lucu "Kenapa kamu juga tertawa??" Aku hanya tersenyum seakan aku menyadari bahwa memang perbuatanku itu lucu kalau diceritakan "pokoknya jangan tanya yah!" Akupun segera membalikan wajahku kejendela sambil memikirkan perbuatanku yang konyol itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD