Kami berdua duduk disebuah meja taman yang menghadap kolam renang. Begitu canggungnya aku sampai tidak bisa mengungkapkan kata-kata untuk membuka pembicaraan. Dengan gagu kami ingin memulai yang pada akhirnya membuat kami tersenyum malu.
"emmm..selamat datang dirumah kami," kataku dengan tersenyum malu,
Akhirnya aku yang pertama memulai walau aku sendiri tidak tahu harus bagaimana, yang pasti saat ini perasaanku merasa senang saat bersamanya. Mungkinkah aku jatuh hati padanya.
Dia hanya mengangguk malu dan matanya tertuju pada taman sekitar kolam renang yang nampak indah menurutku.
"menurutku taman ini terlihat indah! semua ini ibuku yang membuatnya! bagaimana menurutmu?" tanyaku
Dia hanya menganguk dan tersenyum padaku, sungguh membuatku terkesima sampai-sampai jantungku serasa jatuh kebawah.
"mari bicara tentang kita selanjutnya!" ucapnya, yang mengalihkan pandanganku tertuju padanya.
Dan tak sabar aku ingin mendengarkanya, akupun mendekat sambil menatap wajah tampannya yang membuat jantungku berdetak kencang.
"aku tidak ingin semua anak disekolah tau tentang kita! masalah pertunangan ini! dan anggap saja kita tidak memiliki hubungan apa-apa dan tidak saling kenal! hanya teman biasa yang kebetulan saja!"
Prakkk!!
Retak hati ini bagaikan gelas kaca yang terkena panas lalu dituangnya air es yang teramat dingin.
Pupus sudah rasa ini! hilang harapanku tentang dia dan aku merasakan kesedih dalam hati mungkinkah aku berharap banyak tentang dia?
"baiklah!!" kataku tersenyum, "dan selanjutnya apa yang harus aku lakukan?"
"dan pertunangan ini kita apakan?" tanyaku
"kita jalani sajah, namun bukan berarti kita akan menikah nantinya! kita sama-sama tau bahwa kita masih muda dan tidak mungkin akan menikah sekarang! tapi seperti kakekku dan nenekmu pasti mengingikan sebuah pernikahan untuk selanjutnya! saya harap kamu jangan berharap tentang diriku dan akupun tidak berharap tentangmu!"
Cetarrr!!!
Bagai petir yang menyambar di siang hari langit yang begitu cerah! tiba-tiba mendung dan gelap seperti gambaran hatiku saat ini.
ingin sekali aku menangis namun aku malu untuk menunjukannya. Aku berusaha menahan air mata yang hampir jatuh, kurasakan dia yang berhati dingin sedingin salju.
"owh, begitu! yah yah aku mengerti," jawabku menahan sedih,
"baiklah kalau kamu mengerti, kita diel!!" ucapnya dengan menjulurkan tangan untuk bersalaman.
Akupun menerimanya, dan tak lupa aku tersenyum tajam untuk mengingatnya, namun hatiku merasakan sesuatu yang tidak aku mengerti.
"kenapa hatiku berasa sakit yah! sangat sakit, apakah ini yang dinamakan cinta bertepuk sebelah tangan? aku tidak pernah merasa senang seperti itu dan baru sedikit aku rasakan, tidak lama! hanya sebentar!! sebentar sajah!!!aku seperti tersayat belatih tajam mengiris-iris jantungku"
###
Semenjak saat itu aku menjadi sedikit pendiam, tidak banyak bicara dan tidak banyak tingkah. Mungkin nenek dan ibuku merasa sedikit aneh melihatku karena aku yang ceriwis sekarang sukar bicara hanya bila ditanya aku cukup menjawab seperlunya dan itupun dengan nada yang sangat rendah.
Dan aku kini lebih suka mengurung diri di kamar karena malas bertemu banyak orang, tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan dari teman ataupun orang-orang, tidak b*******h dan tidak bersemangat bagaikan sipecundang yang pemalas.
Aku tau teman-temanku mungkin merasa kecewa terhadapku karena sikapku yang aneh dan tidak seperti biasanya namun apalah daya hati ini terlanjur kecewa walau bukan karena teman-temanku.
Aku merasa terlihat sangat konyol atas sikapku ini yang jauh berbeda, nampaknya cinta telah membuatku sakit yang tak berdarah.
"hezmm"
Kuhempaskan nafas panjangku dengan memasang muka jelek terasa malas kaki ini untuk melangkah masuk kelas, yang mengharus untuk bertemu si Dia dan aku harus menjawab banyak pertanyaan dari teman-temanku.
Inginku menangis tapi malu hanya bisa menggaruk-garuk kepala ini yang terasa pusing jika dipikirkan kembali.
Naman mata ini kembali melihat si Dia dan teman-temannya bercengkraman diloby dan beberapa teman wanitanya mengikuti mereka.
"hemm kenapa aku yang jadi bengini..dia terlihat bahagia..sedangkan aku..kenapa bersusah hati! ini tidak adil!!" gerutuku dalam hati,
"sadar Nin, sadarr!kenapa kamu harus menderita dengan perasaan ini hanya karena seorang laki-laki? kamu..lihat saja nanti!!" kuatku dalam hati agar aku tidak terlihat lemah.
Kumantapkan langkah kakiku dengan rasa percaya diri, tatapan mata yang tajam dan d**a yang membusung untuk lebih tegas dalam berjalan rasa takut dan malu ku lempar jauh-jauh dari dalam diriku.
"hai gaess" sapaku yang ringan dan cuek membuat keketiga temanku terperanga, pasalnya sudah satu minggu aku telah menjauhi mereka.
"Nin, nindi!!!" tanya Askia girang,
"iyah Nindi!beneran ini Nindi gaess" timpal Siska senang
"Ninndiii...." seru mereka memeluk Nindi yang akhirnya mereka bisa tertawa bersama.
"akhirnya kamu kembali Nindi" seru Riana
"iyah, seneng banget!samapai terharu aku" Askia menangis.
"ya ilah..kalian ini tiap hari ge ketemu lebay deh!!" kata Nindi dengan tersenyum gembira.
"hai kalian! konyol banget sih!!" teriak Milla yang merasa terganggu.
"ups..ada yang marah hah ha ha..." seru Nindi,
###
Akhirnya aku bisa melepas perasaan ini walau masih membekas, ku buat semua itu bukanlah beban yang harus aku tanggung biarlah semua berjalan apa adanya..aku tidak perlu repot atau berpikir pusing.
Kulakukan aktivitas seperti biasanya tak perlu canggung ataupun malu kepada siapapun yang terpenting, buat diri ini bahagia sepenuhnya toh diapun tak ragu untuk tidak mengenalku sebagai tunangannya.
Dengan acuh saya abaikan dia tak usah berusaha mengenal ataupun ingin dekat dengannya, dia hanyalah seorang murid baru yang biasa tak perlu dikenal lebih! cukup tau saja bahwa ada teman lagi dikelasku.
"nih!" kataku meletakan buku tugas Anggara,
Dengan sedikit menatap Anggra diam tertunduk saat ku abaikan tatapan itu, dan aku melanjutkan tugasku membagikan buku tugas yang sudah dinilai.
"bu.." tanyaku mendekat, "emm buku tugasku ko gak ada"
"apakah kamu sudah kumpulkan tugasmu?"
"sudah bu" jawabku dengan mengingat kembali
"yakin kamu mengumpulkan tugas?"
Aku mulai terdiam mengingat-ingat kembali, sementara ibu stella sibuk dengan buku-bukunya.
"ah...iiya.. itu yang saya sobek-sobek kemarin aaduhh!" kataku dalam hati dengan mengkerutkan dahi.
"kenapa..kenapa diam!
"oh, itu bu saya lupa! hi..." jawabku mrigis
"lupa tidak mengerjakan!!" seru bu stella yang membuat semua teman menatapku.
Aku yang malu hanya bisa tersenyum didepan kelas.
"nah, sekarang kamu duduk disini dan kerjakan ini! ibu tunggu sampai bell istirahat"
"baik bu.."
Akupun langsung mengerjakan tugas yang diberikannya dengan duduk didepan, tepatnya dimeja guru.
"wah, ada guru baru nih! huah ha..ha.." seru sigembul yang membuat semua tertawa dan akupun ikut tertawa.
"ternyata hanya gadis tengil yang tak pantas!kakek..kakek, gadis seperti itu kau jadikan calon istriku!" sinis Anggara dalam hati.
Dua jam sudah pelajaran berlangsung dan akhirnya bell istirahatpun berbunyi, semua teman kelasku keluar untuk pergi kekantin sementara aku masih berusah untuk menyelesaikan tugas yang belum selesai.
"sedikit lagi selesai" grutuku
"Nin, kita keluar duluan!" kata Riana, "laperr"
"ya sudah kalian duluan ajah!"
"masih kurang banyak Nin?" tanya Siska
"gak dikit lagi!kalian pergi sanah.." usirku, dengan aku yang masih fokus menulis sebuah rangkuman yang merupakan hukuman dari bu stella.
Tidak lama kemudian seseorang menghampiriku
"hai Nindi!sendirian ajah!yang lain manah?" tanya seorang cowok yang duduk diatas meja.
"ih!kamu jangan duduk disinih!!ganggu ajah!!sanah!sanah!!!" usirku
Seorang cowok tinggi, beralis tebal, hidungnya mancung dengan gaya rambut yang agak acak-acakan namun masih cukup tampan bila dilihat ia selalu berlagak keren.