8. Detektif Swasta Terbaik

1507 Words
Pikiran Lakeswara benar-benar kacau. Tidak hanya dibuat heran dengan kedekatan Reswara dan Ragana. Pria itu juga dibuat terkejut dengan kemiripan keduanya. Jika dilihat dari jauh ataupun dengan sekilas. Memang Ragana tidak terlalu mirip dengan Reswara. Mungkin karena Reswara masih terlalu kecil. Tapi, jika dilihat dari dekat dengan seksama. Mereka berdua benar-benar mirip layaknya sepasang ayah dan anak. "Pak? Pak Lake?" panggil Ragana karena lagi-lagi pria itu melamun. Ternyata, pertanyaan yang baru saja Lakeswara lontarkan hanya ada dalam khayalan pria itu saja. Astaga! Padahal jantung semua pembaca sudah berdegup kencang. Tapi ternyata, Lakeswara hanya ingin mengatakannya tanpa bisa mewujudkannya. "Astaga!" Lakeswara terkejut dari lamunannya. Pria itu tidak bisa berhenti melamun memikirkan kemungkinan siapa Ragana bagi keponakannya. Apa ia harus mengambil satu helai rambut Ragana dan Reswara untuk melakukan tes DNA? Ia bahkan belum sempat mencari tahu informasi pribadi Ragana. Dan sekarang, sudah ada banyak teka-teki di depan matanya yang meminta Lakeswara untuk memecahkannya. "Sejak tadi saya perhatikan, Pak Lake, ini sering sekali melamun. Kalau saya boleh lancang, apa Bapak sedang ada masalah?" tanya Ragana. Lakeswara mengajaknya berbicara empat mata dan katanya ingin mengatakan sesuatu yang penting. Tapi pada kenyataannya, pria itu hanya sibuk melamun dan melamun. "Tidak, tidak ada masalah apa-apa kok. Sebenarnya, maksudku mengajakmu berbicara karena aku ingin menjadi dekat denganmu. Aku ingin tahu seperti apa pria yang mengurus Res. Itu saja. Karena sebelumnya, aku sempat meragukanmu karena kau seorang laki-laki." Tidak bisa mengungkapkan isi hatinya, membuat Lakeswara mengatakan apa saja yang baru saja muncul di benaknya. Setidaknya, ia tidak akan menimbulkan kecurigaan. "Tidak ada yang spesial dalam diri saya, Pak. Saya hanya seorang yatim piatu yang kesulitan mencari pekerjaan. Pokoknya, kelebihan saya hanya satu," balas Ragana merendah. Selain banyaknya kekurangan, Ragana juga memiliki kelebihan yang cukup menonjol. Fisiknya yang tinggi kekar, wajahnya yang rupawan, pekerja keras, pantang menyerah, dan masih banyak lagi. Hanya saja, pria itu tidak menyadari kelebihannya. "Apa itu?" tanya Lakeswara penasaran. "Disukai Res. Selain itu, tidak ada kelebihan yang saya miliki," sahut Ragana tersenyum manis merasa bersyukur telah disukai gadis mungil itu. Jika pada pandangan pertama Reswara tidak menyukainya. Mungkin sampai saat ini Ragana masih sibuk ke sana ke mari melamar pekerjaan. "Aku pikir apa. Tapi, sepertinya kau bahagia sekali, Raga, dilihat dari caramu tersenyum." Lakeswara tidak menyangka bahwa Ragana akan berkata seperti itu. Biasanya, orang akan mengatakan kelebihannya seperti, pandai dalam suatu hal. Tapi Ragana, kelebihannya disukai Reswara. Betul-betul jawaban yang sama sekali tidak bisa orang lain tebak. "Iyakah? Jujur, saya merasa sangat nyaman bisa selalu berada di sisi Res. Meskipun saya belum pernah memiliki anak, tapi saya merasa bahwa Res adalah anak kandung saya sendiri," sanggah Ragana membuat Lakeswara tercengang. Baru beberapa menit berhadap-hadapan dengan Ragana. Lakeswara banyak mendapat informasi. Entah itu kemiripan Ragana dan Reswara. Pemikirannya untuk melakukan tes DNA dan yang lainnya. "Apa itu yang dinamakan ikatan batin? Tapi, apa benar Raga benar-benar ayah biologis Res? Ah, sudahlah. Lebih baik aku mencari informasi pribadi Ragana terlebih dahulu. Setelah itu, baru aku akan melakukan tes DNA," batin Lakeswara berkecamuk. "Baguslah kalau kau menganggap Res sebagai putrimu sendiri. Itu artinya kau akan merawat Res dengan sangat baik," kata Lakeswara menilai. "Tentu saja, Pak," balas Ragana. "Baiklah. Pembicaraan kita sudah selesai dan kau boleh keluar," ujar Lakeswara sudah tidak sabar ingin menghubungi detektif swasta. "Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi." Setelah Ragana keluar, Lakeswara memeriksa hasil rekaman kamera pengawas. Mengambil gambar Ragana dan menyimpannya untuk ditunjukkan pada detektif swasta agar mudah dalam pencarian informasi. "Aku dengar, pekerjaanmu dalam mencari informasi tidak bisa diragukan lagi." "Tentu saja, karena aku detektif swasta terbaik di negeri ini. Aku tebak, pasti kau sedang membutuhkan jasaku." "Tidak ada sesuatu yang bisa membuatku menghubungimu selain membutuhkan jasamu." "Baiklah. Saya, Ragen, siap mendapatkan tugas." "Aku akan mengirimkan sebuah foto dan kau harus menggali informasi pribadinya secara detail." "Itu sangat mudah. Berapa lama waktu yang Anda berikan untukku, Tuan?" "Paling cepat tiga hari dan paling lambat lima hari. Dalam waktu lima hari, kau sudah harus mendapatkan informasi mengenai pria itu." "Tenang saja. Dalam waktu tiga hari, aku akan menyerahkan semua informasi tentang orang yang ada di foto." "Bagus. Aku tunggu kabar baik darimu, Ragen." Selesai menghubungi detektif swasta, Lakeswara keluar dan pergi ke kamar keponakannya. Di sana, sudah ada Reswara dan Ozawara. Akan tetapi, pria itu tidak mendapati Ragana di sana. "Suster Raga mana, Res?" tanya Lakeswara. Ia pikir, setelah selesai menemuinya. Ragana kembali menemani Reswara mengingat betapa dekatnya keponakannya dengan sang pengasuh. Tapi ternyata, ia salah. "Aku suruh dia istirahat, Lake. Aku tidak mau seluruh waktu Res dihabiskan dengannya. Aku juga tidak mau kalau Res sampai melupakanku, ibunya sendiri. Kau juga tidak mau kalau Res sampai melupakanmu 'kan, Lake?" jelas Ozawara. Melihat bagaimana dekatnya gadis mungilnya dengan sang pengasuh, membuat Ozawara sedia payung sebelum hujan. Baru satu hari Ragana mengurus Reswara. Ozawara merasa, pria itu telah merebut putri yang ia lahirkan darinya. Jadi, sebelum hal itu benar-benar terjadi. Ozawara akan memberikan waktu lebih untuk putrinya selagi ia memiliki waktu luang. "Tentu saja, tidak. Res itu hidupku dan aku tidak ingin dilupakan. Tapi, Za ..." Lakeswara menghentikan kata-katanya membuat sang kakak penasaran. "Tapi, apa?" tanya Ozawara meminta agar adiknya melanjutkan kata-katanya. "Seandainya, ini cuma seandainya saja dan kau tidak boleh marah," balas Lakeswara mengingatkan. Lakeswara takut ucapannya akan membuat sang kakak murka. Dan dari caranya berbicara, pria itu terlihat ingin membahas mengenai Ragana atau ayah biologis Reswara. "Jangan berbelit-belit dan katakan saja, Lake. Heran deh, kau ini hobi sekali membuatku penasaran," sanggah Ozawara kesal. "Ah, tidak jadi deh. Aku takut akan menyulut emosimu," kata Lakeswara mengurungkan kata-katanya. "Breng-- Lakeswara!" geram Ozawara. Hampir saja ia mengumpat jika tidak mengingat ada gadis mungilnya di sana. Sangat menyebalkan bagi Ozawara jika ada orang yang ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi. Apalagi orang itu adalah Lakeswara. Adik menyebalkan yang sering sekali menyulut emosinya. Sebelum-sebelumnya, mungkin ia membiarkannya begitu saja. Akan tetapi, tidak dengan hari ini. Lihat saja apa yang bisa wanita itu lakukan. "Aku mengantuk dan aku harus tidur. Selamat malam, Res," pamit Lakeswara membuat Ozawara semakin marah. "Pergilah. Karena setelah Res tidur, aku tidak akan mengampunimu, Lakeswara, hahaha," desis Ozawara tertawa dalam hati. *** Kamar Ozawara, Reswara, dan Lakeswara letaknya berdekatan. Sementara kamar Ragana ada di lantai tiga. Ketika pria itu hendak pergi ke kamar. Ia mendapati Ozawara mengendap-endap masuk ke sebuah kamar sambil bergumam, "Hari ini akan menjadi akhir riwayat hidupmu, Lake." "Ibu Oza ngapain pakai mengendap-endap? Apa karena jarang bertemu, jadi Ibu Oza mau menyerang Pak Lake?" tanya Ragana pada diri sendiri. Menyerang yang dimaksud Ragana adalah adegan di atas tempat tidur. Ya, meskipun belum pernah melakukannya. Tapi, sebagai pria dewasa Ragana mengerti arti dari semua itu. Setidaknya, ia pernah menonton sekedar untuk pembelajaran ketika ia menikah nanti. Ragana kembali melangkah dan berjalan menaiki anak tangga ke lantai tiga. Baru saja mau melangkah di anak tangga terakhir, ia mendengar suara teriakan Lakeswara. "Astaga! Ternyata Ibu Oza ganas juga, ya. Pasti seru kalau memiliki pasangan yang tangguh seperti Ibu Oza." Hanya mendengar suara teriakan Lakeswara saja sudah membuat Ragana traveling. Pikirannya ke arah di mana ia sedang menonton video pembelajaran untuk malam pertama. "Kalau begini terus, yang ada aku harus bermain sabun dulu sebelum tidur. Nasib, nasib masih bujangan. Coba saja aku sudah menikah. Mendengar Pak Lake berteriak, aku bisa langsung eksekusi dan ikut berteriak juga." Naluri kebujangan Ragana meronta-ronta. Ia bahkan berandai-andai jika ia sudah menikah pasti sudah langsung mengeksekusinya. "Daripada aku membayangkan hal yang tidak-tidak. Lebih baik aku ke kamar mandi dan bermain sabun. Setelah itu, aku harus istirahat dan tidur." Sementara Ragana bermain sabun di kamar mandi yang terletak di kamarnya. Ozawara sedang duduk di atas tubuh adiknya sambil mencekik lehernya. Jadi, alasan mengapa Lakeswara berteriak karena tiba-tiba sang kakak mencekik lehernya di tengah mimpi indahnya. "Uhuk, uhuk!" Lakeswara terbatuk sambil menyentuh lehernya, "Apa yang kau lakukan, Ozawara?! Apa kau ingin membunuhku, hah?!" bentak pria itu emosi. "Kalau iya, memangnya kenapa? Daripada kau suka sekali membuatku kesal. Lebih baik aku bunuh saja adik sepertimu." Ozawara kembali mencekik leher adiknya hingga sang empu murka. Lalu, Lakeswara membalikkan tubuh kakaknya dan mengungkungnya hendak membalas perbuatannya. Namun, menyadari akan kesalahannya. Lakeswara lekas menghempaskan tubuhnya dan berbaring di samping Ozawara. "Apa yang membuatmu menjadi gila seperti ini?" tanya Lakeswara dengan nafas yang tersengal. "Seandainya yang kau katakan sebelumnya. Seandainya apa yang kau maksud?" Entah mengapa, Ozawara sangat penasaran dengan kata-kata Lakeswara yang hanya setengah. Firasatnya mengatakan bahwa apa yang akan adiknya katakan bukan hal yang baik. "Ya ampun, Oza! Hanya karena hal sepele itu dan kau ingin membunuhku?" Ozawara mengangguk mantap mengiyakan ucapan sang adik, "Benar-benar tidak bisa dipercaya," tambahnya sambil menggelengkan kepalanya. "Makanya cepat katakan padaku! Kalau tidak, akan kucekik lagi lehermu. Bila perlu, kucabut nyawamu sekarang juga," ancam Ozawara sambil mendekatkan kembali tangannya ke leher adiknya. Ucapannya terdengar seperti sekarang malaikat maut yang bisa mencabut nyawa seseorang kapan saja dan di mana saja. "Oke, oke. Tapi, aku sudah mengingatkanmu sebelumnya agar kau tidak marah. Jadi, kau harus berjanji dulu kalau kau tidak akan marah," pinta Lakeswara. "Iya, aku janji." Ozawara mengangguk mengerti dan ia pun melanjutkan kata-katanya, "Cepat katakan padaku!" "Seandainya ayah biologis Res datang. Apa yang akan kau lakukan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD