7. Alibi Lakeswara

2104 Words
"Ada apa lagi?" tanya Ozawara malas. Tadi pagi, adiknya sudah datang dan mempertanyakan banyak hal yang sama sekali tidak masuk akal. Dan sekarang, di saat ia hendak pulang, sang adik datang lagi. Entah apa yang akan adiknya tanyakan lagi padanya. "Mau mengajakmu pulang bareng. Apa kau tidak mau?" sahut Lakeswara sambil mengetuk-ngetuk meja. "Memangnya kau jadi menginap di rumah selama satu Minggu?" tanya Ozawara dengan tangan yang sibuk merapikan dokumen-dokumen di atas meja. "Bisa dibilang begitu. Tapi setelah aku pikir-pikir, kalian para wanita membutuhkanku untuk dijadikan pelindung. Jadi, aku memutuskan untuk kembali tinggal di rumah," alibi Lakeswara. Padahal, ia ingin mengawasi Ragana agar tahu lebih dalam, orang seperti apa pria itu. Ozawara menghentikan aktivitasnya terkejut. "Kau tidak sedang bercanda 'kan, Lake?" tanya Ozawara kembali merapikan dokumen. "Siapa yang bercanda? Aku serius, Ibu Oza," balas Lakeswara. Berjalan memutari meja, Ozawara langsung melompat ke pelukan sang adik. "Kau memang adik, paman, dan cucu yang baik." Ozawara melepas pelukannya dan menyambar tas miliknya di meja. Lalu, melempar kunci mobil dan Lakeswara pun langsung menangkapnya. "Kita pulang sekarang, Lake. Aku sudah tidak tahan ingin bertemu Res." "Lalu, bagaimana dengan mobilku?" tanya Lakeswara berjalan "Mobil bututmu tinggal di sini saja," balas Ozawara. "Sial! Itu mobil baru aku beli tiga bulan yang lalu dan kau bilang butut? Astaga, Oza!" Lakeswara mengejar kakaknya dan menyamai langakahnya. "Aku lebih suka mobil lamamu, Lake. Mobil itu mobil terbaik yang pernah kau miliki dan dengan seenaknya kau menggantinya dengan yang baru. Dasar Adik, bodoh!" Mobil lama Lakeswara memiliki banyak kelebihan. Seperti, anti peluru, memiliki senapan tersembunyi, dan kelebihan lainnya. Ozawara sangat menyukai mobil itu karena memiliki keamanan yang tidak bisa disadari oleh orang lain. Tapi belom lama ini, sang adik malah membeli mobil baru dan entah dijual ke mana mobil lamanya. "Aku tidak menggantinya, Oza. Mobil lamaku ada di apartemen dan mobil baruku itu hanya untuk bergonta-ganti saja," sanggah Lakeswara. Mobil lama Lakeswara hasil pemberian dari sang ayah, untuk hadiah ulang tahunnya yang ke dua puluh dua, tepat di hari kelulusannya di universitas. Jadi, selama tujuh tahun itu, Lakeswara tidak pernah mengganti mobil. Agar tidak bosan, pria itu membeli mobil baru sekedar untuk bergonti-ganti saja. "Buktinya selama tiga bulan ini kau selalu menggunakan mobil butut itu. Aku yakin, kau sudah menjualnya," ujar Ozawara tidak percaya. "Kau pikir adikmu ini butuh uang, sampai-sampai harus menjual mobil?" tanya Lakeswara tidak habis pikir. Ia sudah menjelaskannya, tapi sang kakak tetap tidak mempercayainya. "Tentu saja, untuk membeli mobil butut itu kau menjual mobil lamamu," kekeh Ozawara menilai. "Uangku jauh lebih banyak melebihi uangmu, Oza. Bahkan, untuk membeli sepuluh mobil seperti mobil milikmu pun aku sanggup. Lalu, kenapa aku harus menjual mobil terbaikku? Terlebih, mobil itu hadiah ulang tahun terbaik dari Papa. Jadi, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menjualnya," jelas Lakeswara lagi. Tentu saja uang Lakeswara lebih banyak, karena pria itu tidak memiliki tanggungan apa-apa. Sementara Ozawara harus membiayai putri semata wayangnya dan Oma Rinda. Ada banyak pengurus rumah yang harus dibayar. Misalnya seperti, Sati dan ibunya, Siti. Tukang kebun dan penjaga rumah. "Sudah jangan bawel. Cepat jalankan mobilnya karena aku sudah rindu ingin memeluk Res," kata Ozawara sambil mencubit bibir Lakeswara. "Kau yang mulai duluan, kenapa jadi aku yang bawel. Dasar ibu-ibu di mana-mana sama," protes Lakeswara. "Hei, hei, hei ... Aku memang sudah menjadi seorang ibu, tapi aku bukan ibu biasa. Aku seorang ibu yang kecantikannya melebihi kecantikan seorang bidadari," puji Ozawara pada dirinya sendiri. Penampilan Ozawara masih sangat cantik dan awet muda. Usianya yang menginjak tiga puluh tahun dan beranak satu sama sekali tidak terlihat. Wanita itu justru terlihat seperti mahasiswi semester tujuh atau delapan. Benar-benar masih terlihat sangat imut dan cantik. Di luar sana, tidak akan ada yang percaya jika ternyata Ozawara sudah memiliki seorang putri. "Terserah dan terserah. Terserah kau saja mau bilang apa, hahaha," timpal Lakeswara tertawa terbahak-bahak, tapi langsung dibekap oleh Ozawara. "Dasar Adik tidak ada akhlak," ujar Ozawara sambil menoyor kepala Lakeswara. "Cepat jalankan mobilnya atau kau mau kugigit?" tambah Ozawara mengancam. "Dasar ibu dan anak sama-sama suka gigit," umpat Lakeswara dalam hati. "Cepat jalan, bodoh!" "Bagaimana aku bisa menjalankan mobilnya, kalau tanganmu saja tidak bisa diam?" ketus Lakeswara kesal. "Oke, aku mengerti," balas Ozawara tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya. *** "Res, kau di mana, Sayang? Mommy sudah pulang," panggil Ozawara ketika masuk ke dalam rumah. "Aku ke kamar dulu," kata Lakeswara. Pria itu berjalan melewati kakaknya menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Ozawara pun ikut berjalan mengikuti adiknya. Ia bukan ingin pergi ke kamarnya sendiri, tapi ingin ke kamar putrinya. Karena teriakannya tak mendapat jawaban. Ia berpikir bahwa putrinya sedang berada di kamarnya. "Di kamar tidak ada dan di bawah pun aku panggil tidak ada yang jawab. Jadi, Res dan Suster Raga ada di mana?" tanya Ozawara bergumam. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali turun ke bawah. Pergi ke arah dapur dan mencari Sati. Barangkali saja gadis itu tahu di mana keberadaan Reswara dan Ragana. "Res mana Sati?" tanya Ozawara. "Sati tidak tahu, Bu," jawab Sati yang saat ini sedang sibuk membantu ibunya menyiangi sayuran. "Nona Bos sedang ada di ruang tamu bersama Suster Raga, Non," timpal Mbok Siti. "Masa, sih, Mbok. Tapi, tadi Oza panggil pas baru pulang kerja tidak ada yang menyahut," ujar Ozawara. "Iya, Non. Sejak tadi setelah makan, Suster Raga mengajak Nona Bos nonton kartun," jawab Mbok Siti. "Oh ya sudah, Oza ke ruang santai dulu. Terima kasih, Mbok," pamit Ozawara bergegas pergi ke ruang santai. Baru sampai di depan pintu ruang santai. Ozawara mendengar suara putrinya dan juga suara Ragana sedang bersenandung. Mengikuti lagu acara kartun yang saat ini sedang mereka tonton. Mereka berdua terlihat sangat kompak sekali. Melebihi kekompakan Res ketika sedang bersama Lakeswara. "Sayang?" panggil Ozawara sambil berjalan mendekat. Reswara dan Ragana menoleh ke belakang. "Aku panggil Res dan bukan memanggilmu, Raga," ketus Ozawara. "Iya, Bu, saya juga tahu," sungut Ragana. "Terus, kenapa kau ikut menoleh?" tanya Ozawara dingin. "Refleks saja, Bu. Sejak tadi kami sibuk menonton dan tiba-tiba ada suara. Jadi, saya langsung menoleh saja tanpa berpikir," jelas Ragana. Pria itu berkata jujur alasan ia menoleh. Semula, ia dan Reswara benar-benar sedang fokus bernyanyi. Tiba-tiba, mereka dikejutkan dengan suara Ozawara yang tiba-tiba memanggil. Jadi, tanpa disengaja Ragana menoleh ke belakang berbarengan dengan Reswara. "Alasan saja," ketus Ozawara tidak menerima alasan Ragana. "Saya serius, Bu," kata Ragana berusaha menjelaskan agar Ozawara mau mempercayainya. "Stop! Berhenti bicara, Raga!" sergah Ozawara sambil mengangkat jari telunjuknya. "Baiklah." Ragana menyerah dengan raut sedih. "No, no, no, Mommy," kata Reswara sambil memeluk lengan Ragana. Gadis itu memberingsut ketika ibunya hendak mendekat. "Kenapa, Sayang?" tanya Ozawara. "Mommy bau asem, jauh-jauh sana," sahut Reswara sambil menjepit hidungnya. "Asem?" Ozawara mengendus-endus aroma di tubuhnya, "Tidak, kok, Sayang. Mommy sama sekali tidak bau asem, mommy masih wangi," imbuhnya. "Oh, iya. Ibu Oza sudah cuci tangan belum? Kalau belum, lebih baik Ibu Oza sekalian membersihkan diri. Setelah itu, baru boleh memeluk atau mencium Res," tanya Ragana. Pria itu melihat penampilan Ozawara masih sama seperti tadi pagi ketika berangkat bekerja. Jadi, ia meminta wanita itu untuk bersih-bersih terlebih dahulu. Ia takut kuman-kuman dari luar akan menempel di tubuh Reswara, jika Ozawara memeluk atau mencium putrinya. "Memangnya kenapa? Res ini 'kan putriku. Kenapa aku tidak boleh memeluk dan mencium putriku sendiri?" Ozawara bertanya tanpa memikirkan logika. Yang ia pikirkan hanya emosinya saja. "Ya ampun, Bu Oza bagaimana, sih? Ibu 'kan baru pulang dari kantor. Otomatis Ibu membawa banyak kuman. Apa Ibu mau, kalau Res sakit karena kuman yang Ibu bawa?" jelas Ragana benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Ozawara. "Ah iya, benar." Ozawara tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kalau begitu, mommy mandi dulu ya, Sayang. Nanti mommy kembali dan kita akan main bersama," sambung Ozawara berlari menjauh. Sementara Ozawara pergi membersihkan diri. Ragana dan Reswara kembali sibuk menonton kartun. Sesekali mereka berbicara di tengah datangnya iklan. "Dari ketujuh Oddbods yang sejak tadi kita tonton. Res paling suka yang warna apa?" tanya Ragana. "Kuning, Daddy," sahut Reswara. Oddbods berwarna kuning merupakan seorang ilmuan yang cerdas. Oddbods itu yang paling membuat seorang Reswara tertarik. "Kuning berarti Bubbles dong, Res." Gadis mungil itu mengangguk mantap, "Kalau daddy lebih suka Pogo, Oddbods berwarna biru. Daddy paling suka kejahilannya, hehehe," lanjut Ragana sambil terkekeh. "Apa yang kalian bicarakan? Kenapa kelihatannya seru sekali?" tanya Lakeswara yang entah sejak kapan sudah berada di sana. Setelah membersihkan diri, Lakeswara langsung ke kamar keponakannya. Namun, karena tidak mendapati Reswara di kamarnya. Pria itu turun ke bawah dan mencari di setiap sudut ruangan yang memungkinkan ada keponakannya di sana. Ketika ia memeriksa di ruang santai, ia mendapati Reswara dengan pengasuhnya sedang sibuk mengobrol. "Kami hanya membicarakan tentang kartun, Pak," sahut Ragana. Lakeswara ikut bergabung dan duduk di samping keponakannya. "Res sekarang sombong banget nih sama daddy Lake," kata Lakeswara. "No, no, no, Daddy. Res tetap sayang Daddy, kok," balas Reswara. Kata tidak, tidak, tidak, selalu menjadi andalan gadis mungil itu. "Benarkah?" Reswara langsung mengangguk, "Kalau begitu, Res harus peluk daddy," pinta Lakeswara sambil merentangkan kedua tangannya. "Daddy manja, ih," cetus Reswara meskipun tetap masuk ke dalam dekapan pamannya. "Masa manja, sih, Res. Daddy kangen tahu beberapa hari ini tidak peluk Res," sanggah Lakeswara sambil merapatkan hidungnya dengan hidup keponakannya. "Hidung Daddy besar, hahaha ..." tawa Reswara terbahak-bahak dibarengi tawa Ragana yang sengaja ditahan. Bisa-bisanya gadis mungil itu mengomentari hidung pamannya. Jika kecil, maka itu hidung anak-anak. Hidung Lakeswara sangat mancung dan sama sekali tidak besar. Cocok sekali dengan wajah tampannya. "Kalau mau tertawa, tertawa saja tidak apa-apa," kata Lakeswara pada Ragana. "Tidak, Pak," balas Ragana. "Res nakal nih, ya. Kita ke atas yuk, cari Mommy," ajak Lakeswara. "Ayo," balas Reswara. Lakeswara pun langsung berdiri sambil menggendong keponakannya. Berjalan menuju pintu dan sampai di sana pria itu menoleh ke belakang. Seolah ada sesuatu yang tertinggal. "Setelah makan malam nanti, kita bicara sebentar. Ada beberapa hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu," ujar Lakeswara pada Ragana. "Baik, Pak," jawab Ragana. Pria itu nampak kebingungan. Ia berpikir, apa masalah tertidur tadi pagi. Tapi, bukankah masalah itu sudah selesai karena ia sudah menjelaskannya. Lalu, hal penting apa yang ingin Lakeswara bicarakan padanya? *** Setelah selesai makan malam, Lakeswara memberi kode agar Ragana mengikutinya ke ruang kerja yang ada di kediaman Candramawa. Lakeswara tidak ingin pembicaraannya dengan Ragana didengar oleh orang lain termasuk Ozawara. Sampai di sana, pria itu duduk di kursi kerjanya dan Ragana pun duduk di seberang mejanya. "Jadi, hal penting apa yang ingin Anda bicarakan, Pak?" tanya Ragana. Lakeswara duduk di kursi kerja sambil bersandar. Pria itu menatap ke meja di mana tangan kirinya terus bergerak mengetuk meja. "Aku tidak bisa bertanya langsung padanya. Yang ada nanti malah menimbulkan kecurigaan. Apa sebaiknya aku menyewa detektif swasta saja untuk mencari informasi pribadi Raga?" bisik Lakeswara dalam hati. Pria itu benar-benar bingung tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya memikirkan bagaimana bisa Reswara langsung lengket dengan Ragana. Menuruti semua ucapannya dan melupakan ibu dan juga dirinya. "Pak?" panggil Ragana karena Lakeswara hanya melamun dan tak kunjung menjawab pertanyaannya. "Ah, iya," terkejut Lakeswara. Pria itu mengangkat kepalanya dan menatap Ragana lekat. Kebetulan sekali pria itu tepat berada di depannya. Dari mata, hidung, bibir, dagu, dan semuanya ia tatap dengan seksama. Tiba-tiba, ia teringat akan sosok gadis mungilnya. Lalu, tubuhnya membeku melihat wajah keponakannya ada dalam wajah Ragana. "Res? Kebetulan macam apa ini? Tidak mungkin Res memiliki kemiripan yang signifikan dengan Raga," gumam Lakeswara. Ada orang di luar sana yang mengatakan bahwa seiring berjalannya waktu, bayi akan menjadi mirip dengan pengurusnya. Namun, Ragana baru mengurus Reswara selama satu hari. Tidak mungkin bukan, jika alasan itu yang membuat Reswara dan Ragana mirip? "Apa ada yang salah dengan wajah saya?" tanya Ragana. "Tidak, tidak ada." Lakeswara mengalihkan pandangan dengan canggung, "Sebelumnya kau pernah bekerja menjadi baby sitter tidak?" "Tidak, Pak. Ini baru pertama kalinya saya bekerja menjadi baby sitter. Sebenarnya, saya terpaksa melamar karena tidak ada pekerjaan lain. Asalkan halal, jadi saya coba. Tapi ternyata, saya diterima dengan baik meski saya tidak memiliki pengalaman apa-apa," jelas Ragana. Jika setiap melamar pekerjaan ada yang mau menerimanya. Mungkin saat ini, ia tidak akan mengenal Reswara dan keluarganya. Entah itu pekerjaan kecil hingga pekerjaan yang melibatkan ijazah sarjananya. Semua langsung menolak tanpa mau memberi tes terlebih dahulu untuk Ragana. "Oh, gitu. Tapi, jujur aku penasaran dengan apa yang membuatmu begitu disukai oleh Res?" "Saya juga tidak tahu, Pak. Bahkan, saya merasa heran dengan diri saya sendiri," balas Ragana tersenyum bingung. "Heran kenapa?" tanya Lakeswara menyatukan jemarinya dan menyangga dagunya. "Sebelumnya, saya tidak pernah dekat dengan anak kecil. Dan entah mengapa, saya merasa sangat cocok dan nyaman dengan Res. Padahal, baru saja saya bertemu dan berinteraksi dengan Res," jelas Ragana mengulas senyuman. "Oh, begitu," kata Lakeswara sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya, Pak," balas Ragana. "Jadi, apa kau pernah menjual spermamu di Bank s****a?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD