"Apa pendapatmu tentang Suster Raga?" tanya Lakeswara pada sang kakak. Sebelum mencari tahu tentang siapa sebenarnya Ragana. Ia ingin tahu pendapat sang kakak terlebih dahulu.
Ketika sampai di perusahaan, Lakeswara tidak langsung menuju ruangannya sendiri, melainkan ke ruangan sang kakak. Pria itu begitu penasaran dengan pendapat kakaknya mengenai Ragana. Apakah ia mendapatkan perlakuan yang sama dari Reswara atau hanya Lakeswara saja?
"Pendapat bagaimana maksudmu?" Ozawara balik bertanya karena tidak tahu maksud dari pertanyaan sang adik. Dengan dahi yang berkerut dalam, Ozawara menatap adiknya.
"Maksud aku, perubahan sikap Res semenjak ada Suster Raga di sisinya," jelas Lakeswara.
"Oh, itu. Hmm ... Sikap Res sedikit berubah padaku." Ozawara terdiam sejenak sambil memikirkan sesuatu dan Lakeswara pun semakin dibuat penasaran, "Res sedikit melupakanku, Lake. Dia lebih menyayangi dan lebih mendengarkan kata-kata Suster Raga daripada kata-kataku, ibunya," imbuh Ozawara.
"Res juga bersikap seperti itu padaku, Za. Apa kau tidak curiga kalau Suster Raga melakukan sesuatu pada Res? Misalnya seperti, mengguna-gunai Res gitu," tanya Lakeswara dengan nada suara yang tiba-tiba semakin pelan. Itu artinya, pria itu pun merasa tidak yakin dengan ucapannya sendiri.
"Jangan ngaco kau, Lake. Di zaman modern seperti ini mana ada hal-hal yang seperti itu. Ucapanmu itu benar-benar konyol," sergah Ozawara lebih berpikir logis.
"Aku juga berpikir seperti itu, Za. Tapi, melihat bagaimana perubahan sikap Res membuat aku curiga." Di zaman modern seperti ini siapa yang akan mempercayai ucapannya yang tidak masuk akal seperti itu. Bahkan, pria itu sendiri sedikit meragu.
Lakeswara berjalan ke arah jendela dan menatap ke bawah. Kendaraan lalu lalang bagaikan semut yang sedang berkejar-kejaran. Memikirkan kemungkinan apa saja yang membuat keponakannya berubah drastis seperti itu. Padahal, dibandingkan dengan anggota keluarga yang lain, Reswara paling menyukainya. Ketika ia datang ke rumah, gadis itu akan selalu menempel seperti lem.
"Apa yang perlu dicurigai, sih, Lake?" tanya Ozawara malas. Mengangkat kepalanya dan kembali menundukkan kepalanya fokus pada berkas-berkas yang ada di depan matanya.
"Tentu saja, Suster Raga. Aku tidak bisa percaya, Res bisa semudah itu berubah dan bersikap seolah Suster Raga itu ayah kandungnya," sahut Lakeswara menoleh ke belakang menatap punggung sang kakak.
"Tidak ada yang perlu dicurigai, Lake. Mungkin Res memang menyukai Suster Raga karena merasa nyaman. Mungkin juga, aura yang ditunjukkan Suster Raga membuat Res menyukainya. Jadi, kau tidak perlu khawatir dan jangan berpikir yang tidak-tidak," ucap Ozawara.
Wanita itu tidak terlalu memikirkannya, karena putrinya merasa nyaman dengan Ragana. Ia juga tidak khawatir Ragana akan mendominasi putrinya, karena ia juga akan berusaha lebih keras lagi menjadi sosok ibu yang baik bagi Reswara.
"Ternyata Oza bukan orang yang tepat untuk aku ajak bicara," batin Lakeswara.
"Kalau kau mencurigai Suster Raga. Kau bisa memeriksa apa-apa saja yang sedang pria itu lakukan bersama Res di rumah," saran Ozawara.
Salah satu hal yang membuat Ozawara terlihat lebih tenang, meski sikap putrinya telah berubah drastis yaitu kamera pengawas. Di setiap sudut rumahnya terpasang kamera pengawas, dari semenjak mendiang Kakek Candramawa masih hidup. Entah sudah diganti berapa kali karena sudah berpuluh-puluh tahun lamanya. Jadi, setiap saat ia bisa memeriksanya, untuk memastikan seperti apa Suster Ragana, ketika sedang mengasuh putrinya.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, aku pergi ke ruanganku dulu," pamit Lakeswara. Pria itu berjalan menuju pintu hendak keluar. Namun, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Pria itu berbalik dan berkata, "Nanti malam sampai satu Minggu ke depan aku akan menginap di rumah."
"Hmm." Ozawara belum menyadari ucapan adiknya. Ketika sadar, wanita itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap sang adik, "Menginap? Satu Minggu?"
"Iya. Memangnya kenapa? Tidak boleh?" Lakeswara nampak curiga dengan pertanyaan yang Ozawara lontarkan.
"Tentu saja, boleh. Bila perlu, kau kembali ke rumah dan tidak perlu kembali lagi ke apartemenmu," sahut Ozawara bersemangat.
Jika Lakeswara terus tinggal di rumah. Maka, Ragana tidak akan bertanya lagi mengenai ayah Reswara. Kalau masalah tidur bersama atau tidak. Ozawara masih bisa mengakalinya dengan cara apa saja.
"Apa-apaan kau ini? Aku bilang aku menginap selama satu Minggu. Itu artinya aku hanya akan menginap selama satu Minggu. Apa kau mengerti?" tanya Lakeswara heran.
"Sebenarnya kau ini punya perasaan atau tidak, sih, Lake? Semua penghuni rumah kita itu perempuan. Aku, Res, dan Oma. Sudah jelas kalau rumah butuh sosok pria untuk melindungi kami para wanita."
Sudah tiga bulan ayah dan ibu mereka mengembara ke luar negeri. Menikmati masa tua mereka dengan menjelajahi setiap tempat-tempat romantis. Sementara Lakeswara, sudah satu tahun keluar dari rumah dan memilih tinggal di apartemen.
"Nanti akan aku pikirkan lagi. Jadi, selama aku berpikir, aku akan sering menginap. Oke?"
Lakeswara merasa apa yang kakaknya katakan benar. Ia sebagai satu-satunya pria di keluarganya, selain sang ayah yang sedang mengembara bersama ibunya. Lakeswara bertanggung jawab untuk melindungi dan menjaga kakak, keponakan, dan neneknya di rumah. Jadi, sebelum ia benar-benar kembali ke rumah. Ia akan memikirkannya lebih dulu.
"Awas saja kalau sampai kau berbohong," ancam Ozawara.
"Tenang saja karena aku tidak akan berbohong. Ya sudah, aku kembali ke ruanganku dulu," balas Lakeswara kemudian keluar dan pergi ke ruangannya.
Lakeswara langsung duduk di kursi kerjanya. Menyandarkan punggungnya sambil menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan. Kemudian, merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya. Mengusap layar ponselnya dan memeriksa apa yang sedang keponakannya dan pengasuhnya lakukan.
Lakeswara memeriksa di tempat terakhir melihat Ragana dan Reswara. Tidak mendapati mereka berdua di sana membuat pria itu beralih pada kamera pengawas yang ada kamar keponakannya. Tentu saja karena ia mengingat ucapan keponakannya tadi ketika berusaha membangunkan Ragana yang sedang tertidur.
Layar ponselnya menunjukkan bahwa saat ini Ragana sedang bermain kuda-kudaan dan bercanda sambil tertawa terbahak-bahak. Merasa sangat kelelahan, Ragana berbaring terlentang di atas karpet. Lalu, Reswara mengikuti dengan menjadikan lengan Ragana sebagai bantal. Gadis mungil itu tersenyum sambil menendang-nendang kakinya ke atas.
Mendengar nafas Ragana yang memburu membuat gadis mungil itu tertarik. Memiringkan tubuhnya menatap wajah tampan Ragana. "Apa Daddy lelah?" tanya Reswara.
Ragana sedikit menggerakkan kepalanya menatap Reswara dan menjawab sambil tersenyum, "Tidak. Daddy sama sekali tidak lelah."
Reswara sedikit bergerak mendekat dan mengecup pipi Ragana. Sebelum itu, gadis mungil itu membasahi bibirnya. "Daddy bohong, katanya tidak lelah. Tapi, kenapa pipi Daddy berkeringat?"
"Daddy tidak mengerti Res ngomong apa," balas Ragana menatap gadis mungil itu lekat.
Membuat posisi duduk sambil mengerucutkan bibirnya. Menarik rok gaun yang melekat di tubuhnya. Lalu, menyeka pipi Ragana yang basah. Beralih pada dahi dan akhirnya Ragana pun mengerti.
"Astaga, Res!" Ragana beranjak duduk dan mengangkat tubuh mungil Reswara kemudian memangkunya, "Daddy tidak lelah dan daddy juga tidak berkeringat. Pipi daddy basah karena ulah Res sendiri," tambah Ragana sambil mencubit pipi Reswara gemas.
Pria itu benar-benar tidak menyangka bisa mengasuh gadis mungil secerdas Reswara. Ia pikir, bagaimana bisa gadis sekecil Reswara memiliki ide semerlang itu?
"Sakit, Daddy," protes Reswara sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sakit?" tanya Ragana yang kemudian diangguki oleh Reswara.
"Hmm ... Kau ini kecil-kecil tapi pandai berbohong, yah. Apa Res mau daddy gelitiki?"
Ragana menggelengkan kepalanya pelan sambil mengangkat tangannya dan menggerakkan jemarinya. Lalu, mulai menggelitiki perut Reswara hingga sang empu tertawa kegelian.
"Ampun, Daddy, ampun! Geli, Daddy, ampun geli," teriak Reswara diiringi suara tawa yang menggema.
"Mau bohong lagi?" tanya Ragana.
"Tidak, Daddy," sahut Reswara menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Awas saja kalau bohong. Nanti daddy gelitiki lagi, terus Res ketawa sampai sakit perut. Mau?" ancam Ragana.
"Tidak, Daddy, geli. Res janji tidak akan mengulanginya lagi," balas Res sambil mengangkat tangannya.
"Bagus. Ini baru anak daddy yang pintar," puji Ragana meski tidak begitu memahami ucapan anak asuhnya. Ia hanya menebak sesuai dengan pembicaraan sebelumnya.
"Daddy, Res haus. Res mau minum s**u," cetus Reswara menggenggam tangannya dan menempelkannya ke bibir.
"Oke, kita turun ke bawah cari Sati Eonni."
Ragana beranjak berdiri sambil menggendong Reswara. Berjalan ke arah pintu dan keluar. Sedangkan Lakeswara, pria itu tidak bisa berhenti menatap layar ponselnya, meski Ragana dan Reswara sudah tidak terlihat lagi di layar ponselnya.
"Gila! Aku berasa sedang menonton adegan ayah dan anak bermain."
Lakeswara benar-benar dibuat terheran-heran hanya karena melihat interaksi antara Ragana dan Reswara. Cara mereka bermain, berbicara, dan bercanda. Benar-benar terlihat seperti sepasang ayah dan anak. Jika mereka berada di tempat umum. Mungkin orang-orang yang melihatnya akan beranggapan bahwa mereka berdua memang pasangan ayah dan anak.
"Tapi, kenapa harus dia yang baru saja masuk ke dalam kehidupan Res, ke dalam kehidupan kami? Bahkan baru beberapa jam saja dia ada di antara kami. Apa jangan-jangan ... Ah, tidak, ini tidak mungkin. Tidak mungkin dia ayah biologis Res."
Antara percaya dan tidak percaya. Lakeswara asal menebak karena melihat keponakannya begitu dekat dan sangat lengket dengan Ragana. Jadi, pemikiran seperti itu tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Sepertinya aku harus menerima tawaran Oza untuk kembali ke rumah. Sekalian saja, agar aku bisa dengan mudah mengawasi Suster Ragana."