5. Aku harus Menyelidiki

1171 Words
"Pagi, Pak." Ragana menyapa Lakeswara sambil mengelap sudut bibirnya. Barangkali saja ada air liur di sana yang menetes, "Bapak nyari Ibu Oza? Ibu Oza sudah berangkat ke kantor sejak tadi?" tanya Ragana seolah ia tahu isi pikiran Lakeswara. "Aku ke sini karena cari Res dan kebetulan sekali memergokimu tertidur. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Bagaimana bisa kau tertidur di hari pertamamu bekerja? Apa kau ingin dipecat di hari pertamamu bekerja?" Lakeswara berjalan maju dengan langkah kecil. Pria itu menatap Ragana dengan tatapan mengejek. "Saya tertidur? Saya tidak tertidur, Pak. Saya hanya berpura-pura tertidur saja," bohong Ragana. "Jika kau hanya berpura-pura tertidur. Lalu, kenapa kau sampai digigit Res? Hayo, kau mau jawab apa?" tanya Lakeswara penasaran dengan jawaban apa yang akan Ragana lontarkan. Reswara sudah berkali-kali membangunkan Ragana. Bahkan, gadis mungil itu sudah mengancamnya beberapa kali. Namun, Ragana tetap tidak mau mendengar karena pria itu benar-benar tertidur. Tentu saja karena tadi pagi-pagi sekali sekitar pukul empat pria itu sudah terbangun. Apalagi dengan cuaca dan suasana yang mendukung. Membuat mata pria itu menjadi berat dan tertidur. "Ah itu, sih, hanya akting saja, Pak. Saya memang sengaja ingin tahu seberapa kuat ingatan Res," sanggah Ragana sambil tersenyum canggung. "Ingatan tentang apa?" tanya Lakeswara dengan dahi yang berkerut. "Jadi gini, Pak. Tadi pagi, Ibu Oza mengatakan pada Res. Kalau seandainya saya tertidur atau sibuk main handphone. Maka, Res boleh menggigit pipi saya. Sekarang, saya sedang menguji ingatan Res dan ternyata Res masih ingat," jelas Ragana berbohong. "Benarkah?" tanya Lakeswara semakin mendekat. "Tentu saja. Benar begitu 'kan, Res?" Ragana meminta dukungan anak asuhnya agar Lakeswara mempercayai ucapannya. Jika tidak, maka ia bisa dipecat di hari pertamanya bekerja. "Iya, Daddy," balas Reswara membuat Ragana bernafas lega. "Daddy? Jadi benar Res memanggilmu Daddy?" tanya Lakeswara sedikit terkejut karena sebelumnya sudah mendengar dari sang kakak, mengenai panggilan keponakannya pada Ragana. "I-iya, Pak." Ragana terbata dengan raut canggung, "Maaf, untuk masalah ini. Saya tidak tahu kenapa Res memanggil saya dengan sebutan daddy," sambungnya dengan nada tidak enak. Pria itu tidak ingin Lakeswara salah paham dan beranggapan bahwa ia yang mengajari Reswara agar memanggilnya ayah. Ia juga tidak ingin Lakeswara berpikir bahwa ia berusaha merebut posisinya di hati putrinya. "Tidak apa-apa, santai saja. Mungkin Res terlalu menyukaimu, Raga," kata Lakeswara sambil menepuk bahu Ragana. "Terima kasih atas pengertiannya, Pak." Untuk kali kedua Ragana bisa bernafas dengan lega di hadapan Lakeswara. "Res gendong daddy, yuk!" Lakeswara mengulurkan kedua tangannya agar Reswara beralih ke dalam rengkuhannya. "No, Daddy," tolak Reswara sambil membalikkan tubuhnya memeluk Ragana. "Kenapa, Sayang? Biasanya Res paling suka daddy gendong," tanya Lakeswara heran. Biasanya, gadis mungil itu akan langsung meminta gendong jika Lakeswara datang berkunjung. Tapi kali ini, Reswara benar-benar terlihat aneh. Baru kali ini ia menolak ketika pamannya menawarkan diri untuk menggendongnya. "No, no, no, Daddy," tolak Reswara tegas sambil menggerak-gerakkan telunjuknya "Baiklah, baiklah, kalau kau mang tidak mau." Lakeswara berhenti menatap keponakannya dan beralih pada Ragana, "Apa Res bersikap seperti ini juga pada ibunya?" "I-iya, Pak. Lagi-lagi saya juga tidak tahu alasannya," sungut Ragana. Lakeswara menarik nafas panjang dan berkata, "Kau tidak mengguna-gunai Res 'kan, Raga?" "Astaga! Tidak, Pak, tidak sama sekali." Ragana tidak menyangka kata-kata seperti itu akan keluar dari mulut Lakeswara, "Sebenarnya, saya tidak yakin bekerja mengurus anak. Saya terpaksa karena tidak ada pekerjaan lain yang mau menerima saya. Karena setiap saya melamar, saya selalu ditolak meskipun itu hanya pekerjaan di restoran. Padahal, saya menggunakan ijazah sarjana." "Baguslah kalau kau memang tidak mengguna-gunai Res. Tapi, kau kuliah jurusan apa?" Bagi Lakeswara, Ragana cukup menarik dilihat dari pendidikannya yang lumayan tinggi untuk seorang baby sitter. "Manajemen dan Kewirausahaan, Pak. Saya juga menyematkan fotokopi ijazah saya di CV. Entah Ibu Oza membacanya atau tidak, saya tidak tahu," jelas Ragana. "Ehm, begitu." Lakeswara nampak menyentuh dagunya sambil menganggukkan kepalanya. Lalu, melanjutkan kata-katanya dengan bertanya, "Apa kau mau bekerja di perusahaanku alih-alih menjadi seorang pengasuh?" "Apa boleh?" tanya Ragana nampak ragu-ragu. Sudah mendapatkan pekerjaan saja membuat Ragana merasa sangat bersyukur. Yah, meskipun hanya seorang baby sitter saja. Namun, meskipun hanya seorang pengasuh. Gaji yang Ozawara tawarkan tidak main-main. Mungkin gajinya akan jauh lebih besar dibandingkan dengan bekerja dengan Lakeswara di perusahaan. "No, no, no, Daddy. Daddy hanya milik Res dan tidak boleh bekerja sama Daddy Lake," timpal Reswara kesal. Gadis mungil itu memeluk erat Ragana seolah pria itu akan pergi jauh meninggalkannya. Bagaimana bisa sang paman berusaha merebut Ragana darinya? Bahkan Sati yang hanya berbisik saja sudah kena omel bocah mungil itu. Apalagi ini yang sudah jelas-jelas ingin merebut secara terang-terangan. "Tidak, Sayang. Daddy hanya bercanda kok. Tidak mungkin Daddy bekerja di perusahaan Daddy Lake dan meninggalkan Res sendirian," balas Ragana menenangkan. Ia mengusap lembut puncak kepala Reswara dan mengecupnya perlahan. "Daddy Lake dengar? Lebih baik Daddy Lake pergi bekerja. Jangan ganggu Res sama Daddy," usir Reswara menatap pamannya dengan tatapan marah. Bibirnya dimajukan ke depan dengan air mata yang mengembun di pelupuk matanya. Ragana nampak kebingungan. Ia tidak tahu apa yang anak asuhnya bicarakan. Ia hanya mendengar kata ayah dan yang lainnya ia tidak bisa mengartikannya. Sementara Lakeswara sedang dilanda kebingungan. Untuk pertama kalinya Reswara mengusirnya hanya karena baby sitter yang baru saja dikenalinya. Ia merasa heran dengan apa yang membuat keponakannya begitu menyayangi Ragana. "Res sayang ngomong apa, sih? Daddy tidak mengerti," tanya Ragana penasaran. Bagaimana tidak? Melihat ekspresi wajah Lakeswara yang berubah serius membuat Ragana ingin tahu kata-kata apa yang terlontar dari mulut anak asuhnya. "Res sayang Daddy," balas Reswara tersenyum sambil mengecup pipi Ragana berulang-ulang. "Res?" panggil Lakeswara. Sejak tadi, pria itu hanya diam memperhatikan. Ia merasa ada yang tidak beres dengan dua orang yang ada di depannya. Bagaimana mungkin Reswara langsung menyukai dan begitu dekat dengan Ragana? Selama ini, hampir ratusan berganti baby sitter. Alih-alih menjadi dekat dengan baby sitternya, gadis mungil itu justru selalu sakit. "Hmm, apa?" ketus Reswara. Sepertinya gadis mungil itu masih marah dengan pamannya. Tentu saja karena sang paman berusaha memisahkannya dari Ragana. "Res sayang tidak boleh ketus seperti ini sama Daddy Res sendiri. Itu namanya tidak sopan dan Daddy tidak suka itu. Bisakah Res lebih lembut pada Daddy Res?" peringat Ragana agar Reswara bersikap lebih lembut dan sopan. Meskipun Reswara masih kecil, Ragana merasa harus mengingatkannya. Karena apa? Karena anak kecil adalah kamera pengawas yang akan merekam setiap kejadian yang ada di depan matanya. Reswara menatap mata Ragana yang kemudian mendapat anggukan. Lalu, menoleh dan menatap sang paman dan berkata, "Ada apa, Daddy? Maaf karena Res sudah bersikap tidak sopan." "Tidak ada, Sayang. Daddy akan memaafkan Res, tapi lain kali Res tidak boleh melakukannya lagi. Janji?" sahut Lakeswara sambil mengulurkan jari kelingkingnya yang kemudian dibalas dengan uluran kelingking Reswara. Lalu, diapit dan dikunci dengan ibu jari mereka. Itu artinya, Reswara harus menepati janjinya. Lakeswara berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Bagaimana bisa Reswara menjadi sangat penurut di depan Ragana? Pokoknya, sikap keponakannya benar-benar tidak seperti biasanya. Terlebih dengan sikap posesif yang gadis mungil itu tunjukkan pada Ragana. "Berhubung daddy sudah sangat terlambat. Jadi, daddy harus pergi ke kantor. Res hati-hati di rumah, ya? Sampai ketemu nanti," pamit Lakeswara sambil berbalik dan melambaikan tangannya pergi. "Aku harus menyelidiki siapa sebenarnya Raga," bisik Lakeswara dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD