4. Jangan Sentuh Aku!

1037 Words
"Mmm ... Anu ... Itu, Ayah Res memang jarang pulang. Hampir setiap hari pergi bekerja di luar kota. Jadi, jarang sekali ayah Res ada di rumah," bohong Ozawara. Tentu saja jarang kelihatan karena Lakeswara tinggal di apartemennya sendiri. Pria itu hanya akan datang sesekali saja jika merindukan Reswara. Entah sampai kapan Ozawara harus terus berbohong pada Ragana. "Oh, seperti itu. Baiklah, hati-hati di jalan dan tidak perlu mengkhawatirkan Res karena ada saya yang akan menjaganya dengan baik," ujar Ragana. "Baiklah, aku titip Res padamu," ujar Ozawara. "Iya, Bu." Ragana mengangkat tangan Res sambil menggoyangkannya dan berkata, "Sampai jumpa nanti sore, Mommy." Ozawara pun menoleh ke belakang sambil mengerutkan keningnya menatap Ragana, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan pergi. Lalu, Ragana dan Reswara kembali masuk ke dalam. "Di mana sarapan Res, Sati?" tanya Ragana. "Sebentar, Oppa, biar Sati ambil dulu," sahut Sati. Pria itu berjalan ke arah ruang makan dan mendapati Sati sedang menyiapkan kursi untuk majikan kecilnya. "Apa ini kursi untuk Res?" tanya Ragana sambil menunjuk ke arah kursi yang memiliki meja tersambung. Sati berjalan ke arah Ragana sambil menyodorkan piring berisi nasi, sup, dan nugget ikan salmon. "Iya, Oppa. Mana mungkin kursi makan sekecil ini buat Sati makan, hehe." Sati terkekeh geli membayangkan dirinya duduk di kursi itu, "Ini menu makan Res pagi ini," imbuh Sati. "Oke." Ragana meletakkan Reswara di kursi makan, "Saatnya kita makan," sambung Ragana. Pria itu mulai menuntun Reswara untuk berdoa. Setelah itu, menyodorkan gelas minum berisi air putih, agar gadis kecil itu minum terlebih dulu sebelum makan. Lalu, Ragana mulai memotong nugget, menyendok nasi, dan sayur. Meniupnya perlahan dan menyuapkannya pada Res. Sontak gadis mungil itu membuka mulutnya lebar-lebar. Suap demi suap Ragana lontarkan dan Reswara pun tidak pernah sekalipun menolak. Bahkan mengunyahnya dengan sangat cepat. Tidak seperti sebelumnya ketika disuapi oleh Sati maupun baby sitter lainnya, yang selalu didiamkan saja di dalam mulut. Dalam waktu lebih dari lima menit, piring makan Reswara sudah kosong, bersih tanpa sisa satu butir nasi pun. Gadis mungil itu benar-benar menjadi sangat penurut membuat Sati terheran-heran. "Ada apa denganmu, Nona Bos? Kenapa kau pintar sekali pagi ini?" tanya Sati heran sambil mencubit pipi, Reswara. Gadis mungil itu menunjukkan taringnya dengan kedua tangan yang diletakkan di pinggang. Ternyata, sikap Sati membuatnya marah dan gadis itu bersikap seolah berkata, "Jangan sentuh aku!" "Astaga, Res! Kenapa kau galak sekali? Apa kau juga sudah melupakan Sati Eonni?" Sati tiba-tiba terkejut dengan perubahan sikap bos kecilnya. "Daddy, Res haus," kata Reswara sambil menunjuk ke arah gelas minumnya. Padahal biasanya, gadis mungil itu akan langsung mengambilnya sendiri dan meminumnya. "Sepertinya Res benar-benar menyukaimu, Oppa," bisik Sati sambil melirik ke arah Reswara. "Sati Eonni!" geram Reswara. Ragana tersenyum menatap anak asuhnya. Apalagi mendengar suara gadis mungil itu yang belum lancar, membuatnya ingin mencubit pipinya gemas. Namun, ia tidak berniat untuk melakukannya takut menyakiti gadis mungil itu. "Iya, iya, Sati eonni tahu. Sati eonni tidak akan merebut Daddy dari Res," balas Sati mengerti maksud dari sikap gadis mungil itu. "Berhubung Res sudah selesai sarapan. Apa Res mau menemani daddy keliling rumah ini?" tanya Ragana. "Mau," balas Reswara sambil mengangkat tangannya agar digendong. "Oke, let's go!" Ragana mengangkat tubuh mungil Reswara dan menggendongnya. Lalu, berjalan ke arah pintu samping. Di sana ada ayunan kayu dan tidak jauh dari sana ada kolam renang. Pria itu duduk di ayunan sambil memangku Reswara. "Kita duduk santai di sini dulu ya, Res?" ujar Ragana. Pria itu menggerakkan ayunan sambil menyanyikan lagu anak-anak. Dari lagu satu ke lagu lainnya. Pria itu benar-benar pandai menyanyikan lagu anak-anak yang terkenal pada masanya. Ketika Ragana berhenti bernyanyi, Reswara memprotes dan meminta agar pengasuhnya itu terus bernyanyi. Cahaya matahari di pagi hari ditemani angin semilir, juga suara kicau burung membuat Ragana mengantuk Ragana berkali-kali menguap sambil menutup mulutnya. "Ya ampun, Res. Kalau terus begini, bisa-bisa daddy mengantuk dan tertidur," katanya. Sayangnya, Reswara tidak mau mengerti dan terus meminta Ragana untuk terus bernyanyi. Beberapa lagu anak-anak dari Tasya Kamila terus Ragana nyanyikan. Terakhir pada lagu jangan takut gelap dan tidak sengaja pria itu tertidur. Terdengar suara seorang pria berteriak memanggil-manggil Sati. Ternyata, pemilik suara itu adalah Lakeswara. Semalam, Ozawara menghubunginya dan memintanya untuk datang menjemput karena sang kakak malas menyetir mobil. Namun ketika sampai, ia tidak mendapati sang kakak di rumah. "Oza mana, Sati?" tanya Lakeswara tidak mendapati kakak di kamarya. "Ibu sudah berangkat ke kantor, Pak," jawab Sati. "Loh! Kok sudah berangkat. Oza gimana, sih?" Kalau saja ia tahu sang kakak sudah berangkat ke kantor. Ia tidak akan datang dan membuang-buang waktu untuk pergi bolak-balik karena letak apartemennya dengan rumah sang kakak berlawanan arah. "Kalau Res mana?" tanya Lakeswara tidak mendapati keponakannya di kamar. Bahkan, Oma Rinda pun tidak sedang bersama gadis mungil itu. "Nona Bos sedang menemani Suster Raga keliling rumah, Pak," jawab Sati mendengar percakapan antara Ragana dan Reswara ketika gadis mungil itu selesai sarapan. "Oh, gitu. Ya sudah, biar aku cari Res sendiri." Lakeswara langsung keluar mencari Ragana dan Reswara. Tidak mendapati mereka berdua di taman depan rumah. Pria itu bergegas menuju taman samping. Kemudian, ia mendapati Reswara sedang berdiri di pangkuan pengasuhnya. "Daddy, bangun." Reswara memukul-mukul d**a bidang Ragana berusaha untuk membangunkannya, "Bangun Daddy, jangan tidur," imbuhnya. Tiba-tiba, Reswara mengingat akan ucapan ibunya. Jika Ragana tertidur, maka ia boleh menggigit pipi pria itu sampai berdarah. Jadi, gadis mungil itu mendekatkan wajahnya ke pipi kanan Ragana. Alih-alih menggigit, Reswara justru mengecupnya perlahan. Mengusap lembut pipi pria yang ia anggap sebagai ayahnya. "Daddy mau bangun atau mau Res gigit?" ancam Reswara. "Daddy, bangun. Res bosan ingin main mainan di kamar," rengek Reswara. "Daddy? Res gigit pipi Daddy nih, ya," ancam Reswara lagi. Namun lagi-lagi, Ragana tetap tidak membuka matanya. Gadis mungil itu kembali mengusap pipi Ragana berulang-ulang. Namun, karena tak kunjung membuka mata, membuat Reswara gemas. Lalu, kembali mendekatkan wajahnya dan tidak segan-segan untuk menggigitnya. "Aww ..." pekik Ragana kesakitan sambil menyentuh pipinya. "Astaga, Res! Kenapa Res gigit pipi daddy?" tanya Ragana tidak menyadari akan kesalahannya. "Siapa suruh kau tidur di tengah pekerjaanmu mengasuh Res," timpal Lakeswara berjalan mendekat. Sejak tadi, pria itu menyaksikan tingkah lucu keponakannya. Awalnya, ia ingin mendekat. Namun, karena penasaran dengan apa yang akan keponakannya lakukan membuat Lakeswara mengurungkan langkahnya. Ragana menoleh ke samping dan terkejut melihat Lakeswara. Sontak, pria itu beranjak berdiri sambil memeluk Reswara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD