Tidak ada rencana untuk bepergian selain ke bioskop nanti malam, Ravindra ingin meluangkan waktunya untuk berolahraga di tempat gym yang dimiliki rumah Rajasa. Kedua tangannya yang kokoh dihiasi urat-urat besar terdapat bobot sebuah dumbbell berukuran 15 inci, mengayun secara bersamaan dengan kecepatan yang teratur.
Tatapannya memang terarah pada dinding kaca yang memperlihatkan kolam, taman, dan pohon mangga. Namun, pikiran Ravindra entah ada di mana. Dia bahkan tak sadar sudah hampir dua jam berada di sana, menggunakan tiga alat olahraga. Entah sudah berapa puluh lagu yang didengarnya melalui earphone tanpa minat, ia pun tak tahu.
Merasa tenggorokannya sangat kering, Ravindra akhirnya menanggalkan dumbbell yang sejak tadi digenggamnya. Setelah meneguk air mineral hingga tandas, ia pun memeriksa ponselnya yang terdapat banyak notifikasi panggilan tak terjawab. Silvia sudah pasti marah dan Ravindra sudah malas duluan sebelum menjawab.
“Ke mana aja, sih? Aku telepon dari tadi susah banget jawabnya!” Silvia langsung mengomel.
“Ada apa?” Ravindra tetap tenang, sudah biasa mendengar omelan kekasihnya.
“Malah nanya ada apa!” Silvia makin kesal.
“Ya mau kamu apa? Mau ngomong apa telepon aku?” Ravindra terpancing emosi juga.
“Kamu lagi di mana?” Silvia ingin tahu.
“Rumah,” jawab Ravindra malas.
“Bohong banget di rumah. Pasti lagi nongkrong 'kan sama temen-temen kamu?” Silvia tak percaya, malah menuduh seenaknya.
“Aku lagi gym di rumah, Vi! Video call kalo kamu gak percaya!” Ravindra tak terima dituduh.
“Terus kenapa susah banget angkat telepon? Kamu lihat tuh, ada berapa panggilan tak terjawab!” Silvia tak terpengaruh, tetap bernada tinggi.
“HP-nya aku silent. Gak tau ada yang call.” Ravindra tak peduli Silvia percaya atau tidak.
“Gak ada alasan lain? Gak bosen kamu ngasih alasan itu? Mesti banget ya alasannya HP di silent?” sindir Silvia terdengar dongkol. “Aku tunggu di rumah. Udah tiga minggu kita gak ketemu.”
“Kita ketemu di tempat aja,” tawar Ravindra, tak mau menjemput.
“Apa?” Silvia kesal bukan main. Tapi, ia pun merasa penasaran. “Mau ke mana emang?”
“Nonton,” jawab Ravindra singkat.
“Gak salah? Kamu ngajak aku nonton? Gak ada yang lebih menarik, gitu?” Silvia menyinggung ajakan Ravindra dengan nada ejekkan.
“Kamu mau ikut atau enggak ya terserah. Gak ada yang maksa.” Ravindra tak mau pusing. Jangankan berniat membujuk, jika bisa wanita itu tidak perlu ikut saja.
“Aku mau dijemput!” Silvia tak mau tahu.
“Kita ketemu di tempat.” Ravindra tetap tak mau dan tak peduli.
“Rav?!” panggil Silvia kesal. “Sumpah ya ... Kamu itu gak pernah hargai aku! Bisa-bisanya kamu nyuruh aku yang nemuin kamu, bukan kamu yang jemput aku ke rumah. Kamu—”
Ravindra mengakhiri sambungan telepon sebelum Silvia selesai bicara, lalu menonaktifkan ponselnya. Sungguh, menjalin hubungan bersama wanita itu sangat menguji kesabarannya. Wanita bernama lengkap Silvia Hanasta itu memang cantik dan berasal dari keluarga terpandang. Bisa dibilang, dia tipikal kebanyakan laki-laki perkotaan.
Namun, bukan tanpa alasan Ravindra tak menyukai Silvia. Selain sifat angkuhnya, wanita itu juga keras kepala dan ingin menang sendiri. Kalimat yang diucapkannya selalu mengandung sarkas, sering kali menyakiti hati orang lain. Ravindra sendiri kerap merasa tak dihargai, dituntut banyak hal agar terlihat sempurna di hadapan publik.
Jika bukan karena desakan Maya, nenek dari pihak ibu, Ravindra tak sudi mempertahankan hubungannya bersama Silvia. Maka dari itu, jangan salahkan dirinya yang tak pernah bersikap manis. Kita lihat saja, sampai kapan wanita itu dapat bertahan. Ravindra harap Silvia akan bosan dengan sendirinya dan mengakhiri hubungan ini.
“Ih, Kak Mirza mah gak bener. Terus gimana, dong? Masa gak jadi nonton, sih. Gak kasian sama Kak Nia? Kak Nia pasti jenuh di rumah terus.” Citra mengomel kecewa, Mirza tak bisa ikut menonton seperti rencananya tadi pagi.
“Dari awal juga kamu yang ngebet jalan, bukan Nia.” Mirza menoyor kepala Citra dengan gemas.
“Bodo amat!” Citra mengibaskan rambutnya seakan jijik tersentuh tangan sang kakak. “Pokoknya aku mau nonton!”
Mirza mendengkus malas, lalu melirik Agnia yang duduk di sampingnya. “Kamu mau banget nonton?” tanyanya dengan nada lembut.
“Gak juga.” Agnia menggeleng ringan.
“Pergi aja sama Citra dan yang lainnya, ya. Maaf aku gak bisa temenin.” Mirza merasa tak enak.
“Nonton gak nonton gak masalah, kok.” Agnia tidak keberatan. Lagi pula, ia hanya iya-iya saja atas rencana tadi.
“Kak Nia, nanti kita hunting jajanan, yuk.” Citra tetap menganggap acaranya akan terlaksana.
“Mulai, mulai.” Mirza mendelik kesal. “Bilang aja kamu yang mau jajan!”
“Cuma jajan doang, belum aku ajak keluyuran,” sahut Citra dengan tenangnya. “Lain kali aku ajak jalan-jalan, ya, Kak,” ucapnya pada Agnia.
“Enak aja. Kak Nia anak rumahan, gak suka jalan-jalan kayak kamu!” Mirza jelas tak setuju.
“Nanti aku ajarin hidup di kota.” Citra masih saja dengan gaya tengilnya, memancing kekesalan sang kakak. “Banyak cowok ganteng loh, Kak.”
“Astaga ....” Mirza bangkit dari duduknya, melangkah lebar ke arah Citra.
“Kakak!” Citra segera menghindar, yakin kakaknya akan melakukan sesuatu.
“Awas aja kamu!” Mirza melotot tak santai, lalu menoleh ke arah Agnia. “Sayang, kalo diajak main sama anak ini jangan mau.”
“Iyain aja biar cepet, Kak.” Citra menggoda Mirza dengan menjulurkan lidahnya.
“Rav,” panggil Mirza ketika Ravindra datang dari pintu belakang. “Gue mau berangkat ke Cilegon sekarang juga. Pak Andri meninggal karena serangan jantung, dan kabarnya mau dimakamkan hari ini juga. Gue gak bisa nunggu besok,” ucapnya memberitahu. “Kalian kalo mau nonton ya nonton aja,” lanjutnya pada semua orang.
“Oke.” Ravindra mengangguk paham.
Orang yang meninggal adalah kerabat dekat Mirza secara pribadi, tak mungkin menunggu besok apalagi hari senin untuk melayat. Dengan berat hati, ia harus menggagalkan rencananya untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta. Tak ingin membuang waktu, ia pun segera berangkat sebelum kerabatnya dikebumikan.
Ravindra tentu mengenal orang yang meninggal tersebut, hanya saja hubungannya memang tidak terlalu dekat. Jika boleh berkata jujur, dia malah senang Mirza tak jadi ikut. Meski tak mungkin bisa berdekatan bersama Agnia nanti, setidaknya ia tidak melihat kebersamaan mereka yang dapat membuat hatinya tak nyaman.
Di sisi lain, Agnia sedikit kecewa karena Mirza pergi sebelum menghabiskan waktu bersama lebih lama lagi. Namun, ia pun mengerti dengan alasan pria itu pergi. Mirza memang memiliki sosial yang tinggi, tak heran jika dia lebih memilih untuk melayat kerabatnya ketimbang mencari hiburan yang bisa dijadwalkan ulang di lain hari.
“Mau ikut nonton, gak?” Ravindra ingin memastikan Silvia akan ikut atau tidak.
“Kamu serius ngajak aku nonton?” tanya Silvia terdengar mengejek.
“Aku gak maksa.” Ravindra tetap tenang, sudah yakin wanita itu tak mau.
“Mikir dulu bisa gak, sih? Masa ngajak aku nonton? Sejak kapan kamu suka nonton?” cecar Silvia tak santai.
Ravindra menutup teleponnya tanpa basa-basi, malas mendengar nada bicara Silvia yang selalu saja tidak enak didengar. Namun, hanya berjarak beberapa detik wanita yang selalu bernada ketus itu balik menelpon. Melihat nama kekasihnya di layar ponsel, belum apa-apa Ravindra sudah mendengkus kesal. Mau tak mau ia tetap menjawabnya.
“Kamu nonton sama siapa? Tumben-tumbenan nonton gitu.” Silvia ingin tahu.
“Citra,” jawab Ravindra tanpa mengikutsertakan nama lain, yaitu Agnia.
“Ngapain juga kamu nonton-nonton gitu? Malah lebih mentingin Citra daripada aku.” Silvia tak habis pikir.
“Tadi aku udah ngajak kamu kalo kamu lupa.” Ravindra mengingatkan tanpa merasa bersalah.
“Males banget nonton gituan. Mending aku party!” Silvia lagi-lagi bernada sinis.
“Terserah.” Ravindra lalu mengakhiri panggilan untuk yang kedua kalinya.
Lebih baik seperti itu, Silvia tidak perlu ikut. Ravindra juga terpaksa mengajaknya hanya karena malam ini malam minggu, dia pasti menginginkan pertemuan, sedangkan Ravindra malah fokus pada kekasih adiknya, Agnia. Tapi, jangan harap Ravindra akan mengatakan bahwa Silvia tak ikut pada orang rumah, bisa-bisa tidak jadi pergi menonton.
“Cantik.” Ravindra bergumam dalam hati.
Penampilan Agnia memang tidak mencolok, tidak ada aksesoris yang berlebihan, make up seadanya, rambut panjangnya pun terurai indah tanpa sentuhan curly, tapi hal itu sudah mampu membuat Ravindra terpaku. Sederhana, tapi begitu sempurna. Pantas saja Mirza bersikukuh ingin menikahinya, dia patut dipertahankan.
Mirza
Aku baru sampai.
18:10
Agnia
Aku baru jalan.
18:10
Mirza
Pacarnya Ravin ikut?
18:11
Agnia
Gak tau.
18:11
Mirza
Loh?
18:11
Agnia
Kalo di mobil ya gak ada.
18:12
Mirza
Nanti aku langsung pulang lagi, kok. Maaf ya gak jadi temenin kamu.
18:13
Agnia
Kalo kemaleman jangan maksain pulang. Kamu istirahat aja.
18:14
Mirza
Aku masih kangen kamu, Sayang.
18:14
Mirza
Atau paling nggak besok aku pulang lagi, ya. Kamu mau ke mana? Aku ngikut aja.
18:16
Agnia
Entah. Gimana besok aja.
18:17
Mirza
Have fun, ya.
18:18
Suasana di dalam gedung bioskop sangat ramai, bahkan tidak ada kursi yang tersisa. Maklum saja, film bergenre horor yang akan segera tayang memang sedang diminati banyak orang dari berbagai kalangan. Citra sendiri begitu bersemangat untuk menonton film tersebut, duduk anteng di tengah-tengah antara Agnia dan Ravindra.
Namun saking ramainya, gangguan kecemasan yang diderita Agnia menyerang tiba-tiba, padahal ia sudah mempersiapkan diri sebelum berangkat. Ya, setidaknya ia sudah membayangkan akan seramai apa tempat yang dikunjunginya. Tapi, ternyata tempat itu jauh lebih ramai dari bayangannya.
Agnia sangat gugup, seringkali melirik ke sembarang arah tanpa alasan. Walaupun sudah menyembunyikan kegugupannya sebisa mungkin, nyatanya hal itu tidak berhasil. Citra yang ada di sampingnya ikut terganggu, melirik ke mana pun Agnia mengarahkan pandangan hingga beberapa pengunjung lain menatapnya heran dan risih.
“Kak Nia mau tukeran kursi sama aku?” Citra menawarkan bertukar posisi.
“Gak perlu, Cit.” Agnia menggeleng cepat.
Citra lalu berjongkok. “Kakak pindah.”
“Tapi—”
“Cepetan, Kak.” Citra tak sabar.
Reflek, Agnia menggeser duduknya hingga menduduki kursi Citra dan Citra segera bangkit untuk menduduki kursi bekas Agnia. Gadis yang biasanya terlihat ceria itu mendadak panik ketika menggenggam tangan Agnia yang dingin, khawatir Agnia merasa tertekan berada di tempat itu.
“Kak Nia kedinginan?” Citra berbisik.
“Enggak, Cit.” Agnia menggeleng pelan.
“Ini tangan Kakak dingin banget.” Citra merasa bersalah, karena dia yang memaksa pergi.
“Mau pulang?” Ravindra ikut khawatir.
“Nanti aja. Tunggu selesai, Kak.” Agnia kembali menggelengkan kepalanya tak enak.
“Kalo mau pulang kita pulang aja. Jangan maksain.” Ravindra tak tenang.
“Kak Ravin pake kaos 'kan dalemnya?” Citra tiba-tiba memiliki inisiatif. “Sweater-nya pinjemin ke Kak Nia, deh.”
“Gak perlu, Cit. Aku gak kedinginan, kok.” Agnia jelas menolak, makin tak karuan rasa malunya.
“Ini Kakak dingin tau.” Citra terkesan memaksa, Agnia harus merasa nyaman di tempat itu.
Tanpa pikir panjang, Ravindra segera melepaskan sweater yang dipakainya. Sebuah kebetulan ia memang memakai kaos polos di dalamnya, dengan senang hati memberikan pinjaman pada Agnia. Tapi, wanita itu tampak malu-malu bahkan ogah-ogahan menerimanya.
Dengan terpaksa Agnia memakai sweater milik Ravindra. Mau bagaimana lagi? Tubuhnya memang kedinginan. Namun, entah mengapa Agnia sendiri cukup merasa nyaman. Selain tidak duduk di samping orang asing, tubuhnya juga jadi lebih baik dengan menggunakan sweater milik Ravindra.
Sementara Ravindra, jangan harap dia menonton tayangan di depannya, karena pria itu malah sibuk curi-curi pandang ke arah sampingnya tempat Agnia berada. Tidak ada tanda terima kasih dari bibir wanita hamil itu, tapi hatinya sangat senang karena dia mau memakai sweater-nya.
“Kak Ravin pulang duluan aja. Entar aku minta Pak Hardi buat jemput.” Citra dengan erat menggamit lengan Agnia ketika keluar gedung.
“Terus kamu mau ke mana?” Ravindra menoleh seketika, menatap bingung campur curiga.
“Jalan-jalan bentar.” Citra lalu cengar-cengir tak tahu malu.
“Jam berapa ini?” Ravindra menyinggung.
“Bentar aja, Kak.” Citra terkesan tak peduli.
“Nia lagi hamil muda, pamali keluyuran malam-malam.” Ravindra tak memberi izin.
“Lah, ini lagi keluyuran. Udah kelewat pamalinya,” balas Citra sekenanya.
“Pulang.” Ravindra tak mau tahu.
“Kak, ih, bentar aja.” Citra merengek seperti anak kecil.
“Gak!” Ravindra menolak tegas. “Nia masuk,” titahnya sambil menunjuk mobil.
Tapi, pergerakan Agnia terhenti saat Citra menahan pergelangan tangannya. Ravindra yang hendak memasuki kursi pengemudi ikut terhenti, mengikuti arah pandang sang adik. Jauh di depan sana, ada beberapa pria muda, dan salah satunya memberikan sebuah isyarat kepada Citra.
Citra awalnya asyik memberikan balasan isyarat agar pria itu mau menunggu, tapi wajahnya mendadak gugup ketika tubuhnya berbalik, Ravindra sedang menatapnya dengan tajam. Cengiran tak tahu malunya kini lenyap, tergantikan dengan raut tegang, cemas, juga takut.
“Siapa?” Ravindra memincingkan alisnya.
“Temen, Kak.” Citra lalu cemberut. “Kak! Mau ngapain, sih?” pekiknya ketika Ravindra melangkah lebar ingin menghampiri pria-pria itu.
“Kamu mau ketemuan sama dia?” tebak Ravindra geram. “Sambil bawa Nia?”
“Kalo sendiri pasti gak boleh, makanya ngajak Kak Nia,” sahut Citra dengan polosnya. “Kak! Iya, iya, kita pulang!” teriaknya, lagi-lagi Ravindra ingin menemui mereka yang masih menunggunya.
“Bukannya mau ketemu pacar kamu? Ayok, Kakak aja yang temenin. Nia biar nunggu di dalam mobil.” Ravindra menantang.
“Gak jadi! Ayok pulang!” Citra buru-buru menarik tangan Ravindra ke arah mobil.
“Awas aja kamu.” Ravindra memperingati.
Enak saja Agnia dijadikan alasan agar Citra bisa menemui seorang pria, jelas saja Ravindra tak akan membiarkannya! Terlebih hari sudah malam, belum lagi kondisi wanita itu yang lemah, bisa-bisanya Citra berniat demikian. Ravindra tak mengerti lagi dengan pemikiran adiknya yang masih labil.
Sebenarnya Citra tidak sengaja bertemu pria yang merupakan PDKT-nya di sana. Ingin menemuinya seorang diri, tapi mustahil Ravindra akan mengizinkannya pulang sendiri. Maka dari itu ia mengajak Agnia. Pun, ia juga takut pergi sendirian karena tidak terbiasa bahkan tidak pernah.