Phobia Nasi

1932 Words
Terik matahari mulai menyinari bumi, tapi seorang wanita yang sedang hamil muda tetap meringkuk di dalam selimut, menikmati aroma yang khas pada sweater calon kakak iparnya. Entah apa alasannya, Agnia merasa nyaman ketika menghirup aroma tubuh Ravindra, padahal bayangan pria itu tidak terlintas dalam pikirannya sama sekali. Semalam Agnia tidak bisa tidur, tetap terjaga sampai larut malam. Merasa penasaran akan aroma yang tadi membuatnya nyaman, akhirnya ia meraih sweater milik Ravindra yang sudah ia simpan di atas meja rias, lalu mengendus-endus baunya. Di sanalah ia merasa nyaman, bahkan memakai sweater tersebut sampai ketiduran dengan posisi asal. Ketukan di pintu kamarnya berhasil membuat Agnia membuka mata secara spontan. Mendengar suara seorang pria yang sangat tak asing, Agnia bergegas bangkit. Tepat ketika tangannya meraih gagang pintu, ia menarik tangannya kembali. Tak ingin Mirza merasa cemburu, ia melepasan sweater Ravindra lebih dulu sebelum membuka pintu. “Kamu sakit?” Mirza menelisik wajah Agnia dengan raut cemas. “Enggak, kok.” Agnia tentu menyangkal karena tubuhnya baik-baik saja. “Yakin?” Mirza ingin memastikan. “Emang aku kelihatan lagi sakit?” Agnia bingung sendiri. “Sekarang jam berapa coba? Kamu gak keluar-keluar dari kamar. Bikin aku khawatir aja.” Mirza mendumal karena cemas. “Aku tidur larut malam, makanya bangun kesiangan.” Agnia berkata malu. “Pantesan.” Mirza mendengkus sebal. “Jam berapa sampai sini? Kok gak bilang waktu mau OTW?” Agnia penasaran, Mirza tidak memberi kabar bahwa dia akan pulang. “Jam 6 pagi. Tadi langsung tidur, eh bangun tidur kamu masih belum bangun juga. Dasar kebo!” Mirza lalu terbahak, mengejek Agnia yang bangun siang. “Aku tunggu di bawah,” sambungnya. Masih di area yang sama, Ravindra duduk di salah satu sofa set ruang TV lantai dua. Kelihatannya dia sedang bersantai dengan memainkan ponsel, hingga Mirza yang melewati ruangan terbuka itu tak menaruh curiga. Nyatanya dia tidak jauh berbeda dari sang adik, yaitu khawatir karena Agnia tidak juga keluar dari kamarnya di jam sembilan pagi. Syukurlah Agnia baik-baik saja, Ravindra lega mendengar suaranya. Entah apa yang membuat wanita itu tidur larut malam, yang jelas Ravindra tak suka. Tidak baik bagi kesehatan, juga kesehatan kedua calon anaknya. Tidak ada alasan lagi untuk tetap di sana, akhirnya ia turun ke bawah dan mengobrol bersama Citra di ruang keluarga. “Masih suka mual-mual?” Mirza menopang dagu dengan tangannya, memperhatikan Agnia yang sedang menyantap sarapan. “Kalo pagi pasti, tapi siangnya agak mendingan. Kadang mual, tapi gak sampai muntah-muntah.” Agnia menjawab apa adanya. “Nasi masih gak mau?” Mirza asal tebak. Tapi, seketika itu juga Agnia memperlihatkan ekspresi jijik seakan ingin muntah. Hanya mendengar nama makanannya saja, ia sudah membayangkan bentukannya, dan itu membuatnya merasa geli yang tidak bisa dijelaskan secara gamblang. Setiap makan bersama saja, dia selalu menunduk hanya karena tak ingin melihat nasi. “'Kan cuma bilang nama makanannya, gak sampai lihat makanannya.” Mirza malah terkekeh mentertawakan ekpresi Agnia. “Aku gak lihat Mama dari tadi.” Agnia celingukan mencari sosok calon mertuanya. “Kalo hari minggu Mama pasti olahraga sama temen-temennya.” Mirza memberitahu rutinitas sang ibu. “Mau jalan?” lanjutnya bertanya. “Kayaknya aku mau di rumah aja, deh.” Agnia menolak lembut, ada alasan tersendiri. “Yakin?” Mirza sedikit cemberut. “Mumpung aku di sini. Kapan lagi kamu bisa jalan-jalan?” “'Kan bisa jalan-jalan sama Citra.” Agnia balik menggoda, penasaran reaksi kekasihnya. “Hey?!” Mirza melotot tak suka. “Jangan mau kalo diajak main sama anak tengil itu.” “Aku lagi gak mau ke mana-mana, serius.” Agnia tak bersemangat untuk jalan-jalan. “Kayaknya aku mesti nyogok Citra buat bujuk kamu.” Mirza mendengkus lemah. Bukan tak ingin jalan-jalan, bukan pula tidak menghargai ajakan ataupun keberadaan Mirza, Agnia hanya ingin beristirahat dengan berbaring di kamarnya sambil menghirup aroma yang membuatnya nyaman, yaitu aroma tubuh Ravindra. Kedengarannya tidak masuk akal, tapi memang begitulah yang diinginkannya tanpa alasan. Sementara Mirza, hanya bisa memaklumi tanpa ingin memaksa. Bukan inginnya juga jalan-jalan, justru ia khawatir kekasihnya jenuh di rumah. Mumpung ada dirinya di sana, tidak ada salahnya mengajak Agnia keluar rumah. Lagi pula, rencana kemarin dia tidak ikut, siapa tahu saja wanita hamil itu masih mau menghirup udara luar. “Kak Nia, hunting jajanan, yuk. Semalam 'kan gak jadi,” ajak Citra ketika Agnia melewati ruang keluarga yang tempati dirinya juga Ravindra. Agnia tidak langsung menjawab, malah terdiam memikirkan jawabannya. “Kita masak-masakan aja, gimana? Gak usah jajan di luar, kita beli bahan-bahannya aja,” tawarnya ragu-ragu. “Emangnya Kak Nia bisa masak?” Citra membulatkan matanya seakan tak percaya. “Wah, jangan ditanya kalo itu. Makanan apa aja pasti enak kalo Kak Nia yang bikin.” Mirza yang menjawabnya dengan bangga. “Serius?” Citra menatap kagum, tak tahu soal itu. “Kak, kayaknya kita mesti les masak sama Kak Nia,” ujarnya pada Ravindra. “Kamu gak bakal mual masak-masakan?” Mirza mengingatkan, bahwa saat ini Agnia tak bisa berdekatan dengan makanan. “Kayaknya enggak, sih.” Agnia sebenarnya ragu, tapi dia juga tak mau rencananya gagal. “Yakin? Kamu lihat nasi aja jijik.” Mirza ingin memastikan sekali lagi. “Kecuali nasi, iya gak mau lihat.” Agnia tak menyangkal perihal nasi yang menjadi phobia-nya semenjak hamil. “Ayok belanja bahan-bahannya, Kak.” Citra bangkit dari sofa, mendekati Agnia dan Mirza. “Tunggu di rumah aja, biar Kakak sama Nia yang belanja.” Mirza ogah membawa Citra. “Eh, gak bisa gitu, dong. Aturan tahun berapa dan undang-undang berapa aku disuruh nunggu? Enak aja!” Citra langsung mengoceh tak terima. “Kalo kamu ikut pasti lama banget belanjanya.” Mirza malas duluan. “Dih, kata siapa?” Citra berkelit-kelit. “Orang lain fokus cari bahan yang dibutuhkan, nah kamu pasti muter-muter di bagian skincare sama make up!” Mirza sudah tahu tabiat Citra. “Terima kasih sudah mengingatkan.” Citra malah tersenyum sumringah. “Kak Nia, nanti kita langsung ke bagian kecantikan aja, Kak Mirza biar ke belakang nyari bahan makanan,” ucapnya pada Agnia tanpa merasa bersalah. Ravindra tidak ikut belanja, tentu saja, tidak ada alasan untuk ikut. Tapi tak apa, ia sudah memutuskan untuk tidak ke mana-mana, menunggu mereka bertiga kembali dan bergabung ke dalam acara masak-masakan nanti. Terkesan tak tahu malu, sayangnya Ravindra tak peduli. Lagi pula, ia sering masak-masakan bersama Citra. Di tempat lain Pandangan Agnia tertuju pada salah satu rumah warga yang dilewatinya. Bukan rumah tersebut yang menarik perhatian, tapi buah rambutan yang berserakan di bawah pohonnya. Ingin rasanya berhenti dan keluar dari mobil hanya untuk mengambil beberapa buah rambutan, tapi ia sadar keinginannya itu konyol, jadi ia diam. Ternyata bayangan buah rambutan itu terus berputar-putar di kepalanya, padahal dari segi rupa rambutan yang dilihatnya tadi tidak sesegar yang dijual di market-market ataupun penjual pinggir jalan. Maklum saja, namanya buah sudah jatuh dari pohonnya selama beberapa hari. Namun, entah mengapa justru Agnia menginginkannya. Sampai-sampai Agnia tak fokus mencari bahan masakan di supermarket, malah melamun seperti orang linglung. Mirza yang tak kenal bahan masakan juga bingung harus mengambil apa saja. Citra? Jangan harap gadis yang sangat cerewet itu ikut memilih bahan makanan, karena dia lebih tertarik untuk melihat-lihat skincare dan make up. “Kamu mau bikin makanan apa?” tanya Mirza sedikit kesal, Agnia malah celingukan tak jelas. “Entah.” Agnia menatap malu tak berdaya. “Shabu-shabu sama barbeque aja gimana?” Mirza memberikan usul. “Soalnya Mama suka yang berkuah, sedangkan Citra suka yang dibakar-bakar. Jadi ada dua macam 'kan, tuh.” “Boleh.” Agnia mengangguk setuju. “Kak Ravin sukanya apa?” tanyanya kemudian. “Ravin?” Mirza menoleh dengan cepat, menatap penuh selidik dan curiga. “'Kan Kak Ravin juga ada di rumah.” Agnia yakin Mirza salah paham atas pertanyaannya. “Ngapain kamu tanya dia sukanya apa? 'Kan ada dua jenis makanan, mau kuah atau kering, dia bisa pilih sendiri.” Mirza mengomel kesal. “Gak usah ngambekan gitu, deh. Kalo papa kamu masih ada juga pasti aku nanya sukanya apa, 'kan keluarga kamu.” Agnia mulai bad mood. “Iya, tapi 'kan aku udah bilang, bikin makanannya dua jenis aja.” Mirza tak mau mengalah, tetap 'menyalahkan' pertanyaan yang dilayangkan sang kekasih. “Kita cari bahan buat barbeque dulu,” ucapnya sedikit melembut. “Daging sapi, sosis, marshmallow ... Apa lagi?” “Seafood sama sayuran.” Agnia menunjuk jejeran seafood yang tak jauh dari sana. Mirza memang pencemburu, tapi kali ini Agnia tak terima dicurigai seperti itu. Hanya menyebut nama Ravindra saja, dia langsung menatap penuh curiga dan mengintimidasi. Agnia tidak memikirkan hal lain tentang Ravindra, hanya menganggap kakak dari kekasihnya. Menyebut namanya, bukan berarti ada setitik perasaan yang tumbuh untuknya. Di samping itu, Mirza juga menyadari akan kecemburuannya yang berlebihan. Sudah satu tahun Agnia menjadi kekasihnya, tentu ia sangat tahu bahwa banyak pria yang mendekati wanita itu. Mulai dari pekerja biasa, hingga para bos muda. Meski Agnia tak pernah merespons mereka, tetap saja Mirza merasa khawatir ditikung pria lain. Kembali ke rumah dengan membawa banyak bahan makanan, semua orang langsung sibuk mempersiapkan acara masak-masakan di halaman belakang rumah. Agnia sibuk menyiapkan makanan serta bumbu-bumbunya, Mirza mempersiapkan peralatan makan, Ravindra dan Citra membawa peralatan masak, sedangkan Tari disuruh diam. “Gak ada janji sama Silvi?” tanya Mirza basa-basi, tapi nadanya terdengar menyinggung keberadaan Ravindra di sana. “Dia lagi happy sama temen-temennya.” Ravindra mengangkat bahunya sekilas. “Kenapa lo gak gabung?” Mirza seakan mengusir. “Maksudnya ... kenapa gak suruh Silvi ke sini aja? Biar gabung kita,” sambungnya tak jelas, sadar telah menyinggung pria itu. “Ih, jangan, jangan, jangan!” Citra langsung memprotes tak setuju, tak mau Silvia datang dan bergabung. “Aku lagi mau hidup tenang!” “Hus!” Tari melotot memperingati, tidak baik Citra berucap seperti itu pada kakaknya. “Lagian pastinya malah ngerusak suasana.” Citra terus mengomel tanpa mempedulikan peringatan dari ibunya. “Cit ....” Ravindra melenguh. “Kakak juga, ngapain punya pacar kayak Kak Silvi?!” Citra mendadak sensi, bahkan tak ragu memarahi kakak pertamanya. “Aku ke toilet bentar, ya.” Agnia menginginkan sesuatu yang tak bisa ditahan. “Jangan lama-lama, Kak. Udah pada mateng, loh.” Citra ingin acara makan-makan cepat dimulai tanpa menunggu Agnia kembali. “Makan duluan aja.” Agnia tak peduli, segera meninggalkan tempat tersebut. Orang-orang mungkin mengira Agnia ingin buang air, nyatanya dia tidak memasuki toilet melainkan memasuki kamarnya untuk melakukan sesuatu. Namun, barang yang diinginkannya tidak ada, yaitu sweater milik Ravindra. Agnia ingin menghirup aromanya, sungguh. Sepertinya asisten rumah sudah mengambilnya untuk dicuci. Beberapa menit terdiam di dalam kamarnya tanpa melakukan apa pun, ternyata Agnia benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menghirup aroma tubuh Ravindra. Karena semua orang sedang berada di halaman belakang, akhirnya Agnia memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar Ravindra seperti seorang pencuri. Tak ingin berlama-lama, Agnia mengambil salah satu pakaian dari dalam lemari, lalu menciumnya. Tapi, sayang, tidak ada aroma tubuh Ravindra. Yang Agnia inginkan adalah aroma tubuhnya, bukan aroma parfum atau yang lainnya. Tak habis akal, ia pun memasuki kamar mandi di dalam kamar tersebut, mencari pakaian kotor. Usahanya tak sia-sia, Agnia menemukan satu pakaian berupa kaos polos yang langsung ia hirup dalam-dalam. Berbeda dari aroma sebelumnya, kali ini aromanya sangat pekat. Orang lain mungkin akan merasa jijik, tapi Agnia tak dapat berbohong bahwa ia sangat menyukai aroma itu, terutama di bagian ketiak dan lehernya yang lebih intens. “Nia?” Agnia membulatkan bola matanya dengan sempurna, tersentak mengetahui ada seseorang di sana. Pikirannya mendadak kosong, tubuhnya membeku seketika. Apa yang harus dia jawab atas keberadaannya di sana? Tak mungkin menjelaskan keinginannya yang konyol, orang itu tidak akan percaya. Bagaimana jika ia dituduh mencuri?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD