Mencari Alasan

2205 Words
Ravindra tidak curiga Agnia akan mencuri sesuatu di kamarnya, tapi keberadaan wanita itu tentu menjadi pertanyaan besar. Walaupun tubuh Agnia membelakangi, Ravindra tetap bisa melihat apa yang sedang dia lakukan. Menciumi pakaian kotor miliknya? Apa dia sedang mengetes kadar bau badannya? Ravindra jadi bingung sendiri. “Kamu ngapain?” Ravindra menatap aneh. “Ini ....” Agnia gelagapan, menoleh ke sembarang arah seakan mencari jawaban. “A—aku lagi cari sweater Kak Ravin yang semalam, tapi gak ada di kamar aku. Aku cari di sini juga gak ada. Kirain diambil Kak Ravin. Maksudnya mau aku cuci dulu sebelum balikin ke Kak Ravin.” Ravindra terdiam sebentar, mencoba mencerna ucapan Agnia yang terbata-bata. “Tapi saya juga gak tau sweater-nya di mana. Mana berani saya ambil sweater ke kamar kamu.” “Gitu, ya, Kak.” Agnia berekspresi pura-pura baru tahu. “Maaf udah lancang masuk ke si—” “Kamu mau pinjem sweater yang lain?” Ravindra hanya asal tebak, menduga memang itu yang Agnia inginkan, tapi ragu mengatakannya. “Nggak, aku gak pinjem sweater la—” Tangan Ravindra berlabuh di bibir Agnia hingga wanita itu berhenti bicara, sedangkan telinganya terus mengamati suara dari arah luar. Decit pintu menandakan adanya seseorang yang masuk ke dalam kamar, suara langkah kaki pun terdengar terus mendekati kamar mandi berada. Sekarang, baik Agnia maupun Ravindra mematung di tempat dengan debaran jantung yang berpacu hebat. Keduanya saling tatap dari jarak yang sangat dekat, bahkan deru napas mereka bisa dirasakan satu sama lain. Kebalikannya dari Ravindra yang senang bisa sedekat ini, Agnia justru diserang perasaan panik yang luar biasa. “Rav?” Mirza mengetuk pintu kamar mandi berulang kali, menunggu jawaban dari dalam. “Ya?” Ravindra menyahutinya dengan santai, padahal detak jantungnya tidak normal. “Yang lain udah pada nunggu.” Mirza basa-basi agar Ravindra segera keluar dari kamar mandi. “Bentar lagi!” Ravindra sedikit berteriak agar Mirza dapat mendengarnya dengan jelas. “Gue tunggu.” Mirza tidak berniat pergi, tetap berdiri di depan pintu kamar mandi. “Ngapain nungguin yang lagi buang hajat? Urusin cewek lo, tuh. Gue lihat tadi keluar rumah!” Ravindra asal bicara agar adiknya itu pergi. “Keluar rumah?” Mirza ingin memastikan pendengarannya. “Lewat pintu depan?” “Iya!” jawab Ravindra singkat. Mirza tak menyahuti lagi, segera meninggalkan kamar itu. Ia memang sedang mencari Agnia karena tak kunjung kembali dalam waktu yang cukup lama. Kamar dan toilet sudah diperiksa, tidak ada. Mirza juga sudah menghubungi Agnia, tapi ponsel wanita itu ada di kamarnya. Lalu, ke mana Agnia pergi? Sedikit curiga terhadap Ravindra karena pria itu bilang pamit sebentar, tapi ternyata sama lamanya seperti Agnia. Keberadaan Ravindra di dalam toilet cukup mencurigakan, hingga Mirza sempat ingin menunggunya. Tapi, Ravindra bilang Agnia keluar rumah dan Mirza langsung percaya begitu saja. Mendengar langkah kaki yang menjauh hingga decit pintu tertutup, akhirnya Ravindra mengembuskan napas panjang. Tapi, kelegaannya lenyap saat menyadari wajah Agnia yang sangat pucat. Tangannya pun bergetar cepat, tampak ketakutan seakan ada hantu menyeramkan. “Nia?” Ravindra berbisik sangat pelan, dan wanita yang dipanggilnya menatap cemas. “Ka—” “Sttt ....” Ravindra memberikan intruksi agar Agnia tidak banyak bicara. “Saya cek dulu keluar. Kamu tunggu di sini, ya.” Tepat ketika pintu kamar mandi kembali tertutup setelah Ravindra keluar, Agnia menurunkan tubuhnya yang terasa lemah ke atas lantai. Apa yang terjadi? Rasanya ini mimpi. Ia bahkan tak mengerti dengan tindakannya sendiri, memasuki kamar seseorang hingga ketahuan pemiliknya. Parahnya Mirza datang untuk mencari. Entah akan semurka apa jika dia mengetahui kekasihnya sedang berduaan bersama Ravindra di dalam kamar mandi. Meski kenyataannya mereka tidak melakukan apa-apa, mustahil Mirza ataupun orang lain akan mempercayainya dengan mudah. Ravindra tidak langsung keluar kamar, melainkan berjalan ke arah jendela. Dari sana terlihat, Mirza sedang berjalan ke arah halaman depan rumah. Khawatir Mirza bertanya kepada security soal Agnia, Ravindra buru-buru menghubungi security agar mengatakan bahwa Agnia keluar gerbang entah akan ke mana. “Nia? Kamu sakit?” Ravindra kembali ke kamar mandi dan mendapati Agnia duduk di lantai. “Gimana sama Mas Mirza?” Agnia balik bertanya seraya bangkit. “Aman.” Ravindra mengangguk singkat. “Kak, maaf—” “Gak apa-apa.” Ravindra segera menyela ucapan, tahu wanita itu sangat gugup. “Tapi ... a—aku takut keluarnya.” Agnia terlihat tak tenang, bahkan seperti ingin menangis. “Mirza di luar rumah.” Ravindra memberitahu, berharap Agnia dapat meredakan cemasnya. “Mama sama Citra?” Agnia tetap tak bisa tenang, takut orang lain ada di dalam rumah. “Pasti masih pada di halaman belakang.” Ravindra yakin itu. “Bik Imas?” Agnia kembali mempertanyakan yang lainnya, yaitu asisten rumah. “Saya cek dulu keluar, ya.” Ravindra lalu pergi untuk memastikan keadaan rumah. Hari memang masih siang, tapi keadaan begitu menegangkan bagi Ravindra. Untuk yang pertama kalinya dia merasa sedang kucing-kucingan di rumahnya sendiri. Konyol memang, tapi ia pun tak mungkin menyalahkan tindakan Agnia yang disebabkan oleh dua calon keturunan Rajasa. Tak dapat dipungkiri Ravindra senang bisa berdekatan bersama Agnia, tapi jika boleh menawar, bisakah situasinya tidak seperti sekarang ini? Ingin rasanya menahan wanita itu di sana agar bisa bertemu sesuka hati, tapi mustahil ia lakukan. Dari balkon lantai dua yang menghadap ke halaman belakang, Ravindra melihat Tari, Citra, dan Mirza ada di sana. Tak ingin membuang waktu, ia segera kembali menemui Agnia dan meminta wanita itu untuk keluar dari kamarnya sepuluh menit lagi, tepatnya setelah Ravindra pergi lebih dulu agar mereka berdua tidak datang secara bersamaan. Namun, Agnia tak juga menunjukkan dirinya setelah sudah lebih dari sepuluh menit Ravindra kembali bergabung bersama Mirza, Tari, dan Citra. Mirza bilang dia tak menemukan Agnia di halaman depan, hingga ia kembali ke halaman belakang, berharap wanita itu sudah ada di sana. Nyatanya, hingga detik ini dia belum datang juga. “Kak Ravin lihat Kak Nia, gak?” Citra sudah kesal menunggu, perutnya sudah lapar. “Waktu Kakak masuk ke rumah, Nia lagi jalan ke pintu depan.” Ravindra jelas berbohong. “Tapi gue cari gak ada.” Mirza membantah, tidak menemukan Agnia di luar rumah. “Telepon coba.” Citra memberikan usul. “HP dia di kamar.” Mirza mendumal sebal. “Udah tanya Pak Roni?” Tari penasaran, mungkin security depan melihat Agnia. “Aku gak cari sampai gerbang, orang gerbangnya juga ketutup.” Mirza yakin Agnia tidak sampai keluar gerbang. “Tadi Kak Nia bawa tas gak pas keluar?” Citra menduga Agnia melarikan diri. “Enggak.” Ravindra menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tenang. “Aneh. Masa ngilang gitu aja. Padahal tadi kayak gak ada masalah, kok sekarang tiba-tiba kabur dari rumah?” Citra tak mengerti. “Aku cari lagi.” Mirza bergegas berdiri. “Aku ikut.” Citra tak mau diam saja. “Kamu cari di dalam rumah aja.” Mirza buru-buru pergi sebelum Citra memaksa ikut. “Rav, bantu cari, gih. Takutnya Nia bener-bener keluar gerbang,” pinta Tari khawatir. “Oke.” Ravindra mengangguk saja agar tidak dicurigai, berlalu dari pandangan Citra dan Tari. “Kok tiba-tiba ngilang, sih. Gak paham aku tuh.” Citra masih saja mengomel. “Aduh Citra ... Mama juga gak tau. Kamu ini, kalo nanya gak berhenti-berhenti!” Tari pusing mendengar ocehan Citra yang tiada habisnya. Tari sendiri panik, khawatir Agnia keluar dari gerbang rumah. Bagaimana jika tidak tahu jalan pulang? Bagaimana jika ada seseorang yang berbuat jahat? Mengingat kondisi tubuhnya yang lemah, bagaimana jika wanita itu pingsan di suatu tempat? Dan masih banyak lagi yang Tari khawatirkan. Di samping itu, Ravindra yang baru saja keluar dari komplek tiba-tiba menginjak rem hingga mobil berhenti. Matanya yang semula mengantuk, kini terbelalak ketika melihat sosok Agnia di salah satu rumah warga. Aneh, mengapa Mirza yang lebih dulu melewati rumah itu tidak melihat kekasihnya? Lupakan, Ravindra lebih penasaran dengan apa yang dilakukan Agnia. Sedang apa dia di sana? Sejak kapan? Kelihatannya dia sedang memunguti sesuatu di tanah, tapi entah apa. Ia pun keluar dari mobilnya, lalu menghampiri Agnia yang duduk membelakangi hingga tak tahu kedatangannya. “Nia?” Ravindra terus mendekati, sedangkan Agnia menoleh kaget. “Ngapain kamu di sini?” “Dicariin suaminya, ya.” Seorang wanita tua tersenyum menggoda Agnia, lalu mengarahkan dagunya pada Ravindra. “Istrinya lagi ngidam mau buah rambutan, tapi rambutannya harus yang udah jatuh dari pohonnya. Saya bantu pungutin.” “Oh ... Terima kasih.” Ravindra mengangguk sopan dalam kebingungan. “Lain kali kalo bini lagi ngidam tuh dianter, Bang, jangan dibiarin pergi sendirian gitu, elah. Kebiasaan laki, doyan bikin anak doang, tanggung jawab pas ngidamnya gak ada,” oceh wanita lain yang sedang menyapu halaman. “Bu—” “Kita pulang,” ajak Ravindra tanpa mau menyahuti wanita ketus itu. “Terima kasih buah rambutannya,” ucapnya pada wanita tua. “Lain kali turutin kalo ngidam gitu. Kasian bininya repot sendiri.” Wanita yang sedang menyapu kembali menyahuti dengan nada sindirian. “Sehat-sehat, ya. Semoga lahirannya lancar,” kata wanita tua sembari tersenyum ramah. “Terima kasih, Bu. Permisi.” Agnia pamit pergi dengan membawa kantong berisi rambutan. Tadinya Agnia mau memberitahu ibu tua itu bahwa Ravindra bukanlah suaminya, tapi terlalu rumit untuk menjelaskan. Mirza juga bukan suaminya, lantas apa yang mau dia katakan? Terpaksa ia hanya diam saat ibu tua itu salah paham, tapi hatinya sungguh tak enak, khawatir Ravindra tak terima disangka suaminya. Ravindra tentu tidak keberatan, malah meng-amin-kan ucapan si ibu tadi. Ya, seandainya ia memang suami Agnia, karena nyatanya wanita itu sedang mengandung dua calon anaknya. Ia pun merasa tertampar oleh nasehat wanita yang satunya, yaitu mengabulkan idam 'sang istri'. “Mirza lagi cari kamu, loh. Ngapain kamu ke sini?” Ravindra kesal sekaligus khawatir. “'Kan tadi Kak Ravin bilangnya aku keluar, jadi aku nyari tukang bakso buat dibawa ke rumah, buat bukti gitu.” Agnia menjelaskan alasannya. “Terus?” Ravindra menatap bingung. “Aku nyari tukang bakso, tapi gak nemu. Terus malah mau rambutan.” Agnia tersenyum malu. “Jalan kaki sampai ke sini?” Ravindra ingin memastikan dugaannya. “Iya.” Agnia mengangguk konyol. “Kamu ....” Ravindra sulit mengatakan kekesalannya. “Lumayan jauh loh dari rumah. Bisa-bisanya kamu jalan kaki ke sini.” “Gak apa-apa, yang penting aku dapet ini.” Agnia tidak masalah, malah senang mendapatkan buah yang diinginkannya sejak tadi. “Banyak buahnya?” Ravindra melirik ke arah kantong plastik yang berada di pangkuan Agnia, melihat buah rambutan yang menurutnya tak layak untuk dikonsumsi. “Busuk kayaknya.” “Nggak, kok.” Agnia mengelak tegas. “Kenapa gak beli aja? Banyak yang masih bagus.” Ravindra merasa kasihan, mengira Agnia tidak ada uang untuk membeli buah. “Aku mau rambutan ini.” Agnia tak mau, karena justru buah seperti itu yang ia inginkan. “Cukup? Kalo gak cukup kita beli. Di depan sana ada yang jualan rambutan.” Ravindra menawarkan, takut-takut Agnia tak puas makan. “Ini cukup, kok. Aku cuma minta beberapa aja tadi, tapi yang punya rumah kasih segini.” Agnia menolak dengan sopan. “Lain kali kalo mau sesuatu, bilang ke Mama atau Citra. Mereka pasti ngerti kamu lagi ngidam.” Ravindra menasehati. Jika boleh diralat, ia ingin mengatakan, ‘Kalo mau sesuatu, bilang ke aku.’ Ravindra terlanjur mengatakan kepada Mirza bahwa Agnia keluar rumah tadi, oleh karena itu Agnia benar-benar keluar rumah hanya untuk membeli sesuatu yang bisa dijadikan alasan ketika kembali bergabung bersama Mirza, Tari, dan Citra. Masalahnya, tidak ada satu pun penjual keliling, malah bertemu pohon buah rambutan tadi. “Untung Ravin nemuin kamu. Coba kalo nggak? Kamu pasti pulang jalan kaki lagi. Gak ada ojek di depan sana. Mau pesan online juga kamu gak bawa HP.” Tari mengomel di sela-sela makannya. “Udah, Ma. Yang penting Nia udah pulang.” Ravindra khawatir Agnia merasa tersinggung. “Bukan apa-apa, Mama gak tega denger Nia jalan kaki. Udah lumayan jauh, panas pula.” Tari harap Agnia mengerti, bahwa ia sangat peduli. “Lagian kamu gak bilang mau bakso. Main pergi aja.” Mirza terkesan menyalahkan, padahal dia juga sama khawatirnya seperti sang ibu. “Aduh, udah, sih. Ngomelnya bisa ntar aja, gak? Lagi enak, nih!” Citra akhirnya bersuara juga, terganggu karena ia sedang menikmati makanan yang menurutnya sangat lezat. “Enak, loh, Yang.” Mirza menyodorkan sendok berisi makanan pada Agnia. “Aku mau ini.” Agnia menggeleng cepat, sedang asyik dengan buah rambutannya. “Ini dulu, ntar rambutan.” Mirza membujuk. “Gak mau.” Agnia tetap menolak. “Mama baru tau kamu pinter masak.” Tari tersenyum bangga, memuji kemampuan Agnia dengan jujur. “Enak banget ini.” “Nia emang jago masak. Aku sering dianterin makan siang. Cuma semenjak hamil aja dia gak bisa deket-deket sama kompor.” Mirza bercerita. “Mama juga dulu gitu. Gak mau makan nasi, gak mau nyium masakan.” Tari mengerti, karena ia pun pernah mengalami kehamilan. Agnia tidak berniat untuk ikut menikmati makanan yang dia buat sendiri, yaitu olahan barbeque dan shabu-shabu. Sebaliknya, dia malah asyik dengan buah rambutan. Rasanya sangat manis meski bentukannya seperti busuk, tak sia-sia kelelahan dan kepanasan karena berjalan kaki. Tak jauh berbeda dari Citra, Ravindra juga memilih diam saking fokusnya pada makanan yang terasa sangat lezat di lidah. Mungkin karena perutnya sudah lapar, atau memang Agnia berbakat menjadi seorang chef, dua menu makan yang dibuatnya sangat enak hingga ia ketagihan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD