Menjadi kaum rebahan, Agnia tak berniat untuk bangkit dari ranjang. Tubuhnya dirasa lemah, tidak ada tenaga sedikit pun. Di sampingnya ada kaos milik Mirza yang sengaja diambilnya dari kamar pria itu. Berharap aroma tubuh Mirza tidak jauh beda dari Ravindra, tapi nyatanya sangat berbeda.
Ya, Agnia ingin menghirup aroma tubuh Ravindra. Mirza sudah pergi ke Cilegon, begitu pun dengan Ravindra yang pergi ke kantornya. Sempat memberanikan diri lagi untuk memasuki kamar Ravindra, karena si pemilik kamarnya tidak ada. Tapi, tidak ada pakaian kotor di dalam sana.
Harus melakukan apa agar Agnia menghirup aroma tubuh Ravindra? Sementara tubuhnya benar-benar tak memiliki tenaga saking kecewanya. Ia pun tak mengerti mengapa harus aroma tubuh Ravindra yang ingin dihirupnya, sedangkan ia sendiri sangat sungkan pada pria itu.
Merasa keinginannya sulit terkabul, Agnia sampai tak mau makan bahkan minum. Bicara pun tak mau, hanya menyahuti singkat tanpa minat. Ekspresinya juga terlihat lesu, ditambah bibir keringnya, persis seperti orang yang sedang berpuasa. Tari dan Citra tidak merasa aneh, menganggap dia sedang tidak mood saja.
“Buset ... Pake nomor antrian segala. Mana rame banget lagi tempatnya.” Citra bicara sendiri sembari memainkan ponselnya, sedangkan Agnia malas menyahuti. “Kak, kita ke tempat ini, yuk. Lagi viral banget, loh. Jadi penasaran seenak apa. Kalo antriannya jauh, kita nunggu di apartemen Kak Ravin aja,” ajaknya antusias.
“Apartemen Kak Ravin?” Agnia langsung terbayang aroma tubuh Ravindra.
“Iya, tempatnya deket apartemen Kak Ravin. Paling cuma beberapa menit aja ini.” Citra terus memperhatikan jalanan menuju tempat itu.
“Mau beli apa jauh-jauh ke sana? Emang di sini gak ada jajanan? Lagian Pak Hardi lagi liburan sama keluarganya, gak ada yang anter kamu.” Tari mengingatkan, bahwa mobilnya dibawa sang supir yang sedang pulang kampung.
“Pake taksi 'kan bisa.” Citra tak habis akal. Sekian detik kemudian, ia pun mengeluh, “Coba kalo aku bisa nyetir, aku pake tuh mobil Kak Ravin yang nganggur di garasi.”
“Aku bisa nyetir.” Agnia menawarkan diri secara tidak langsung, setuju untuk pergi.
“Serius?!” Citra membulatkan matanya tak percaya. “Kak Nia bisa nyetir?”
“Tapi gak punya SIM.” Agnia jujur saja.
“Tapi lancar, gak?” Citra ingin memastikan.
“Pake manual bisa, apalagi kalo matic. Mas Mirza yang ajarin.” Agnia mengangguk yakin.
“Yes!” Citra langsung bersorak ria. “Ayok jalan-jalan pake mobil Kak Ravin!”
“Gak, gak, gak. Mama gak izinin kamu pake mobil Ravin.” Tari bereaksi cepat, tak setuju. “Nanti Kakak kamu marah, loh.”
“Aku izin dulu, deh.” Citra tidak kaget sama sekali. Ibunya memang sangat sungkan terhadap barang milik Ravindra, apa pun jenisnya.
“Gak boleh!” Tari tetap melarangnya. “Kamu naik taksi aja.”
“Gak bebas, Ma. Siapa tau 'kan nanti kita mau muter-muter dulu. Aku izin dulu ke Kak Ravin, kok.” Citra bersikeras ingin pergi. “Ayok, Kak.”
“Nia lagi mageran gitu, kasian, Cit.” Tari tak tega, takut Agnia terpaksa.
“Gak apa-apa, Ma. Biar aku ada geraknya dikit, gak di kamar terus. Hehe.” Agnia beralasan.
“Yakin? Nanti kamu pusing loh waktu nyetir.” Tari khawatir, tatapannya lalu beralih pada Citra yang sudah berdiri. “Lagian kamu tuh ya, mau jajan aja jauh banget ke tempat Ravin.”
“Kakak lagi gak mood, ya?” Citra jadi merasa tak enak, takut Agnia terpaksa.
“Gak apa-apa, Cit. Siapa tau ada makanan yang bikin mood Kakak bagus.” Agnia berusaha meyakinkan bahwa dirinya tidak keberatan.
“Ayok siap-siap.” Citra tersenyum girang.
Mustahil menolak ajakan Citra, karena justru Agnia memang sedang mencari cara agar dapat mencium aroma khas Ravindra. Tubuhnya yang semula dirasa lemas, tergantikan dengan semangatnya untuk segera pergi. Ia tak peduli dengan cara apa agar bisa sampai ke apartemen Ravindra sekalipun harus berjalan kaki.
Beruntung masih ada mobil lain karena mobil rumah sedang dipakai supir untuk pulang kampung, yaitu mobil milik Ravindra yang jarang sekali dipakai. Berhubung mobil putih itu jenis matic, Agnia tidak kesulitan sama sekali saat mengemudikannya. Terlebih, dia belajar manual menggunakan mobil kekasihnya, Mirza.
Citra memang seorang foodie yang rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk mencicipi suatu makanan atau minuman, apalagi jika jajanan yang sedang viral di sosial media. Biasa pergi bersama teman-temannya, kali ini bersama Agnia yang tak suka keramaian. Oleh karena itu, Citra akan menunggu pesanan di apartemen Ravindra.
Tempat jajanan yang dituju memang berlokasi di pinggir jalan raya, wajar saja tempatnya sangat ramai. Tidak sampai berdesakan, karena pembeli dilayani sesuai nomor antrean. Maklum saja, jajanan berupa olahan pisang itu sedang diminati banyak kalangan anak muda. Namun, melihat banyaknya orang membuat Agnia risih dan tak nyaman.
Citra
Kak, aku pinjem akses apartemen, dong. Aku di bawah, nih.
15:11
Ravindra
Mau ngapain?
15:13
Citra
Aku sama Kak Nia mau beli jajanan deket apartemen Kak Ravin, tapi ternyata mesti nunggu lama banget, jadi kita mau nunggu di apartemen Kak Ravin.
15:14
Ravindra
Ngapain juga jajan jauh-jauh ke sini?
15:15
Citra
Ih, maunya Kak Nia, Kak. Gara-gara lihat jajanan yang lagi viral, ngotot mau beli.
15:15
Ravindra memejamkan matanya sekian detik, tak habis pikir Agnia menginginkan makanan yang lokasinya jauh dari rumah. Baiklah, wanita hamil memang seaneh itu, bukan? Ravindra hanya tak tahu saja, bahwa yang menginginkan jajanan di sana justru adiknya sendiri, bukan Agnia.
Mengetahui Agnia ada di kantornya, Ravindra tak berniat meminta seseorang untuk mengantarkan akses apartemen kepada Citra, karena ia sendiri yang akan mengantar ke bawah. Alasan apalagi jika bukan karena ingin melihat Agnia yang selalu ada dalam bayangannya?
Dari kejauhan saja, mata Ravindra sudah terfokus pada wajah Agnia. Lihatlah, wanita itu berpakaian sederhana, tapi auranya sungguh membuatnya terkesima. Andai saja dia datang sebagai kekasih atau bahkan calon istri, Ravindra pasti sudah tersenyum lebar menyapanya.
“Kak, aku ke sini pake mobil Kakak.” Citra cengar-cengir, baru mengatakannya.
“Kamu bisa nyetir?” Ravindra tampak syok.
“Kak Nia yang nyetir.” Citra kembali menampilkan cengiran khasnya.
“Apa?!” Ravindra tersentak, menatap Citra dan Agnia bergantian.
“Pak Hardi lagi pulang kampung bawa mobil rumah. Mau pake taksi gak bebas, jadi pake mobil Kak Ravin.” Citra menjelaskan.
“Kenapa gak minta Tito buat jemput?” Ravindra memprotes. Bukan apa-apa, yang membuatnya berat adalah Agnia menyetir!
“Enak jalan-jalan tanpa supir.” Citra jujur saja, lebih nyaman tanpa seorang supir.
“Tapi kan ....” Ravindra ingin sekali mengungkit soal kehamilan Agnia, tapi ia tahan karena takut Citra merasa aneh dan curiga.
“Mana kartu aksesnya? Aku mau nunggu di apartemen Kakak bentar, abis itu bawa jajanan, terus jalan-jalan.” Citra tak mau berlama-lama.
“Apartemennya kotor, Cit. Kakak belum panggil yang bersih-bersih. Lagian kamu gak bilang dulu mau ke sini.” Ravindra tampak tak percaya diri.
“Cuma duduk doang. Daripada nunggu di tempat jajanan, ya panas, ya banyak orang. Enak di apartemen 'kan ngadem.” Citra tak masalah.
“Tunggu di sini. Kakak mau panggil Tito buat anter kalian,” kata Ravindra sembari menyerahkan kartu aksesnya.
“Lah? Gak usah, 'kan kita bawa mobil.” Citra jelas menolak. “Bye, Kak.”
“Permisi, Kak.” Agnia mengangguk sopan sebelum pergi.
Jarak dari kantor ke apartemen hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, sedangkan ke kedai jajanan hanya sekitar lima menit. Menunggu antrean diperkirakan bisa sampai berjam-jam, ingin jalan-jalan takut telat membawa jajanannya. Oleh karena itu, lebih baik menunggu di apartemen Ravindra.
Untuk yang pertama kalinya datang ke sebuah apartemen mewah, Agnia sangat takjub oleh desain maupun denahnya. Semua ruangan terlihat elegan dan tertata rapi. Namun, dari pintu masuk saja Agnia sudah dapat merasakan bahwa apartemen tersebut kotor oleh debu yang cukup tebal.
Ravindra memang tinggal sendiri, makan dari pagi sampai malam melalui delivery. Asisten rumah datang dua kali dalam seminggu tanpa memasak apalagi tidur di sana. Dia sendiri tak pernah membersihkan apartemen, wajar saja kotor oleh debu yang menempel di lantai dan perabotan.
Sibuk dengan lamunannya, Agnia baru tahu bahwa sedari tadi Citra tertidur di sofa ditemani sebuah lagu yang diputarnya melalui ponsel. Tanpa pikir panjang, ia bergegas ke toilet untuk mencari pakaian kotor Ravindra. Tidak ada! Sepertinya pakaian kotor ada di dalam kamar mandi kamarnya.
Sempat putus asa karena kamar utama yang ditempati Ravindra memakai pengamanan ketat berupa kode akses yang berbeda dengan kode pintu utama, akhirnya ia menemukan sebuah jaket di dapur yang langsung dia ciumi dengan rakus. Sayang, aroma tubuh Ravindra tidak pekat.
Tak apa, Agnia cukup terobati meski tidak merasa puas. Tak ingin berdiam diri, ia memutuskan untuk membersihkan apartemen sedikit demi sedikit sembari menunggu Citra terbangun. Masa bodoh pada jajanannya yang mungkin telat diambil, yang penting saat ini idamnya sudah terkabul.
“Nia?!” Ravindra berteriak hingga yang dipanggilnya tersentak kaget. “Ngapain kamu?” tanyanya tak santai.