Terkabul?

1961 Words
“Aku ... lagi beres-beres, Kak.” Agnia kaget bukan main. Ekspresi Ravindra sungguh tak bersahabat seakan ia melakukan kesalahan. “Kamu minum ini?” Ravindra merampas sebuah botol yang sedang dipegang Agnia. “Enggak, Kak. Cuma cek aja apa masih ada isinya atau udah kosong.” Agnia mengelak cepat dengan raut takut. “Maksudnya mau aku buang kalo udah habis.” “Beneran gak minum ini?” Ravindra ingin memastikan. “Bohong, 'kan?” “Aku ....” Agnia bingung menjawab. “Kamu minum?” Ravindra mendesak. “Cuma nyium baunya aja, Kak.” Agnia menggeleng lemah. “Gak sampai diminum?” Ravindra menatap intens, tak percaya karena Agnia sendiri tampak meragukan. “Enggak, Kak.” Agnia kembali mengelak. “Yakin?” Ravindra ingin memastikan sekali lagi. “Jujur aja. Kalo minum bilang minum.” “Aku gak minum, Kak, sumpah.” Agnia berkata sungguh-sungguh. “Kadar alkoholnya tinggi banget. Gak baik buat kandungan kamu.” Ravindra akhirnya dapat melembut, lega karena kekhawatirannya tak terbukti. “Kamu beres-beres?” “Biar gak jenuh aja.” Agnia menatap sungkan, takut dicurigai mencuri sesuatu. “Aku gak masuk kamar Kak Ravin, sumpah. Cuma beres-beres ruang tamu sama ruang ....” Ravindra melengos pergi sebelum Agnia selesai bicara. Langkahnya yang menggebu, menghampiri sang adik yang masih setia dengan tidur siangnya. Tangan kirinya langsung menyapa telapak kaki Citra, menggelitikinya tanpa rasa kasihan. Agnia segera mengikutinya karena penasaran. “Kak Ravin!” Citra menepis tangan Ravindra, yakin itu kakak pertamanya, karena hanya dia yang akan menggelitiki kakinya agar terbangun. “Bangun, gak?” Ravindra kembali menggelitik kaki Citra dengan gemas dan tak sabar. “Ih, bentaran!” Citra buru-buru duduk dalam setengah sadar dengan wajah bantalnya. “Kamu gak lihat Nia beres-beres? Terus kamu malah enaknya tidur sampai ngorok gitu? Gak salah? Kalo mau tuh kamu yang beres-beres, bukannya tamu.” Ravindra mengomeli. “Kak Nia beres-beres?” Citra menatap tak percaya. “Ngapain, Kak?” tanyanya pada Agnia. “Sorry.” Agnia merasa bersalah. “Bukan itu, Kak Nia gak salah. Aku cuma nanya, ngapain Kakak beresin tempat ini?” Citra tak merasa tersinggung, malah tak mengerti untuk apa Agnia membersihkan tempat itu. “Gak malu kamu?” Ravindra berkacak pinggang, menatap jengkel. “Gak apa-apa, Kak. Daripada diem, aku beresin dikit-dikit.” Agnia tak tega melihat Citra diomeli. “Gak dikit Nia, kamu hampir beresin semua ruangan.” Ravindra mengoreksi. “Kayaknya udah deket nomor antrian kita, Kak. Cabut sekarang aja, yuk.” Citra ingin cepat pergi, tak mau mendengar kakaknya mengomel lagi. “Ayok.” Agnia mengangguk setuju. “Di mana tempatnya?” Ravindra ingin tahu. “Di belokan depan,” jawab Citra malas. “Biar Kakak yang beliin.” Ravindra langsung memutuskan tanpa banyak pikir. “Loh?” Citra bingung. “Sekalian mau nyari makan. Kakak juga laper.” Ravindra hanya beralibi. “Kalian tunggu di sini.” “Tapi gak usah, Kak. Biar kita aja yang beli, biar sekalian pulang.” Agnia merasa tak enak. “Nanti pulang bareng.” Ravindra tetap akan pergi agar bisa pulang bersama. “Tapi—” “Jangan bersihin apa-apa lagi. Saya gak mau ribut sama Mirza gara-gara kamu bersih-bersih di sini.” Ravindra memperingati Agnia, lalu pergi. Tadi saat masih di kantor, Ravindra iseng menonton tayangan CCTV yang terpasang di beberapa ruangan apartemen. Di sana terlihat Agnia sedang membersihkan lantai sambil memakai jaketnya, bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain. Tak tega karena seharusnya wanita itu banyak beristirahat, akhirnya Ravindra pulang cepat. Ketika memasuki dapur, ternyata Agnia sudah melepas jaketnya. Namun, Ravindra dibuat kaget karena dia sedang memegang botol minuman beralkohol. Tentu Ravindra sangat cemas, khawatir Agnia meneguk minuman tersebut. Untungnya wanita itu bersumpah tidak meminumnya hingga Ravindra percaya dan tentu merasa lega. Karena Citra bilang Agnia yang ingin jajanan di sana, Ravindra rela mengantre untuk mendapat giliran. Sungguh, demi apa pun, dia tak pernah melakukan hal itu. Berdiri di bawah teriknya matahari, tidak ada siapa pun yang menemani. Andai saja orang-orang di sana tahu, bahwa pria itu adalah bos besar di perusahaan raksasa. Tidak masalah, apa yang dilakukan Ravindra hanya sedikit dari rasa tanggung jawabnya sebagai calon ayah sekaligus setengah suami. Ia tahu Agnia berlaku demikian karena calon kedua anaknya. Padahal, Citra yang ingin jajan, sedangkan Agnia sendiri tak peduli, justru yang ia inginkan adalah mencium aroma tubuh Ravindra, hanya itu. Hampir satu jam menunggu, akhirnya Ravindra mendapat giliran untuk memesan makanan. Citra sudah mengirim dua nama makanan yang harus dibeli, tapi Ravindra malah membeli banyak jenis makanan bahkan minuman yang tersedia di sana. Dia sudah menunggu lama, tentu tak mau rugi waktu dengan hanya membeli dua buah saja. “Foto dulu, foto dulu.” Citra heboh sendiri ketika Ravindra menyimpan jajanan yang dibawanya di atas meja. Tak langsung memakannya, dia malah sibuk mengambil beberapa potret untuk diunggah ke sosial media. Baru setelah itu, dia memulai acara makannya. Banyak varian rasa yang Ravindra beli, tapi salah satu yang dipesannya malah tidak ada satu pun. “Gak beli rasa nanas?” Citra masih sibuk mencari rasa kesukaannya. “Habis, Cit.” Ravindra hanya beralasan, padahal ia tahu nanas tidak baik dikonsumsi Agnia. “Yah ....” Citra memanyunkan bibirnya. “Makan yang ada aja.” Ravindra sedikit kesal. Citra terkesan tidak berterima kasih, padahal Agnia yang menginginkan jajanan itu tidak masalah. “Katanya Kakak mau beli makan, kok gak ada?” Citra tidak menemukan makanan kakaknya. “Tadi gak sempat. Sekarang aja delivery.” Ravindra lalu memainkan ponselnya untuk memesan makanan. “Delivery mulu, gak baik tau, Kak.” Citra sok menasehati sekaligus mencibir. “Punya istri, kek, tapi jangan kayak Kak Silvi.” “Maunya yang kayak gimana?” Ravindra tidak kaget Citra berkata demikian, sudah sering mendengar kalimat yang sama. “Kayak Kak Nia, tuh. Cantik, baik, pinter masak, sopan.” Citra tidak asal memuji hanya karena di depan orangnya, tapi memang seperti itu penilaiannya terhadap Agnia. “Kak Silvi Cantik doang, tapi attitude-nya ketinggalan di USA!” “Enak, gak?” Ravindra tak ingin membahas kekasihnya lagi. “Enak. Pantesan viral.” Citra manggut-manggut dengan cepat. “Kak Ravin cobain, deh.” “Kamu aja, Kakak mau makan. Bentar lagi juga makanannya sampe.” Ravindra menolak santai. Bukan tak mau mencicipi, Ravindra hanya takut Agnia tidak kenyang karena kehabisan. Jumlahnya memang banyak, tapi wanita itu terlihat seperti orang kelaparan hingga makan dengan lahap. Sebuah kebetulan, bukan? Dengan lahapnya Agnia, Ravindra benar-benar yakin bahwa wanita itu yang menginginkan jajanan tersebut, bukan Citra. Tidak seperti hatinya yang tersenyum manis melihat Agnia makan lahap, sedari tadi Ravindra sibuk berasumsi sendiri atas tindakan wanita itu. Kemarin dia kedapatan menciumi pakaiannya, hari ini dia memakai jaketnya. Sebenarnya apa yang diinginkan Agnia? Apa dia ingin meminjam pakaianya, tapi mungkin malu mengatakan? Lalu, mengapa harus pakaian bekas pakai? Di rumah, tentunya ada banyak sekali pakaian Ravindra, Agnia bisa memilih sesuka hati jika dia mau. Atau, mungkin saja dia selalu ingin memakai pakaian Ravindra di mana pun itu? Bisa jadi Agnia juga memakai pakaiannya ketika di rumah, bukan? Ravindra tak henti bicara dalam hatinya. “Jadi?” Agnia berbisik, sedangkan Citra langsung komat-kamit agar Agnia tidak bicara. “Mau ke mana?” Ravindra curiga, sungguh. “Ya pulang, masa nginep di sini.” Citra lanjut menyuapkan camilannya dengan santai. “Kakak anterin.” Ravindra tak mudah dibohongi, gesture tubuh adiknya tak meyakinkan akan langsung pulang. “Ngapain dianterin? Orang Kak Nia bisa, kok, bawa mobil.” Citra menolak tegas untuk diantar. “Karena Kakak juga mau pulang, jadi sekalian.” Ravindra tak mau tahu. “Kakak pulang duluan aja, aku mau jalan-jalan dulu.” Citra akhirnya sedikit jujur. “Mau keluyuran, 'kan?” Ravindra bertanya dengan nada sindirian. “Gak bisa lihat jam berapa sekarang? Gak bisa kalo besok siang aja?” “Yang penting gak pulang malem banget,” jawab Citra seenaknya. “Mau ketemu pacar kamu?” tebak Ravindra, ingat pada beberapa pria di bioskop. “Enggak.” Citra menggidikkan bahunya. “Ngaku aja.” Ravindra tak percaya. “Emang boleh pacaran?” Citra malah menyinggung larangan sang kakak. “Kenapa nggak?” Ravindra tetap tenang seakan tak masalah. “Berarti Kakak gak bakal pusing sama harga skin care kamu, make up, jajan—” “Eh, gak bisa, gak bisa.” Citra segera mengangkat tangannya di udara, tanda agar Ravindra berhenti bicara. “Lagian dia masih sekolah juga, duitnya gak bakal sebanyak Kakak. Mending gak pacaran dulu deh, yang penting glowing biar banyak cowok ganteng yang naksir.” “Minggu depan ujian, 'kan?” Ravindra ingat jadwal ujian adiknya. “Terus? Apa hubungannya?” Citra tak mengerti, merasa pembahasannya tak nyambung. “Kalo matematika kamu merah, libur jajan sebulan.” Ravindra mengancam sambil menatap tajam, tak main-main dengan ucapannya. “Astagfirullah.” Citra reflek mengusap dadanya dengan wajah syok. “Kak, kita lagi ngomongin soal pacar, bukan pelajaran!” “Ya berarti kamu harus rajin belajar, bukan rajin pacaran!” Ravindra memutar kata. “Tapi 'kan matematika musuh aku, Kak. Tantangannya bahasa inggris, kek, baru aku jago.” Citra mengeluh. Belum apa-apa, ia sudah menyerah duluan oleh pelajaran matematika. “Matematika asik, loh.” Agnia ikut bicara. “Asik dari mananya, Kak? Puyeng yang ada.” Citra malah menatap risih seperti menyalahkan. “Justru Kakak suka sama pelajaran itu.” Agnia tersenyum bangga. “Kalo ngitung duit Kak Ravin sama duit Kak Mirza, baru bisa dibicarakan dengan baik-baik.” Citra menggaruk kepalanya dengan asal. “Kapan-kapan kita belajar matematika, ya.” Agnia dengan senang hati ingin berbagi ilmu. “Gak usah, terima kasih. Belajar di sekolah aja bikin mual, apalagi ditambah belajar di rumah. Kayak ... Aku kapan tenangnya kalo gitu? Tekanan batin mulu, Kak. Ntar aku stres, cepet tua.” Citra menolak secara halus, sementara Ravindra hanya menggeleng pelan. Ya, tadinya Citra ingin bertemu teman dekatnya—pria yang sama sewaktu di bioskop. Tapi, lagi-lagi ia pun tak berani pergi sendirian hingga meminta Agnia untuk mengantarnya. Namun, keputusan kakak pertamanya untuk mengantarkan pulang tentu membuat rencananya gagal. Mau bagaimana lagi? Mustahil Citra berani melawan Ravindra. Ingin melakukan sebuah investigasi di rumahnya, Ravindra sudah memutuskan untuk pulang. Tadinya ia tak akan pulang hari ini, tapi karena ada Agnia dan Citra, bisa dijadikan alasannya pulang. Jika bisa, ia ingin pulang setiap hari, tentu agar ia bisa bertemu Agnia. Tapi, ia pun tak ingin membuat orang rumah merasa aneh dan curiga karena biasa pulang seminggu sekali. Namun, rencananya untuk pulang bersama Agnia dan Citra harus diundur karena Silvia memaksa pertemuan. Ingin menolak, tapi tidak ada alasan kuat. Lagi pula, sudah tiga minggu ia tak menemui wanita itu. Dengan berat hati, Ravindra meminta Agnia dan Citra kembali ke rumah menggunakan mobilnya lagi dengan catatan mereka harus langsung pulang tanpa jalan-jalan dulu. Sedang asyik melamun setelah Agnia dan Citra pergi, Ravindra dikejutkan oleh deringan dari ponselnya. Nama Citra langsung terpampang di layar, membuat kening Ravindra mengkerut bingung. Mereka baru pergi sekitar lima menit yang lalu, artinya mereka masih ada di area sana. Tanpa berpikir panjang, ia pun menjawab panggilan. “Kak, aku kecelakaan. Kakak cepetan ke sini!” pinta Citra terdengar tak sabaran. “Apa?” Ravindra spontan berdiri, hatinya langsung berdebar tak tenang. “Kak, please, Kak, bantu. Kasian Kak Nia.” Citra merengek di sebrang sana. “Kenapa sama Nia?” Ravindra penasaran. “Kakak ke sini cepetan!” Citra berteriak histeris, tak mau menunggu lama. “Di mana kamu?” Ravindra langsung bersiap untuk keluar dari unit apartemennya. “Pertigaan depan, Kak.” Citra memberitahu dengan cepat. “Kakak ke sana.” Ravindra lalu mengakhiri sambungan telepon. Apa yang terjadi pada mereka? Ravindra tentu sangat khawatir, baik itu pada Citra maupun pada Agnia. Suara ribut pun terdengar samar saat adiknya menelpon, bukti bahwa memang mereka sedang dalam keadaan darurat. Kalimat ‘Kasihan Kak Agnia’ yang membuat Ravindra cemas. Jangan sampai dia terluka, Ravindra tak sanggup melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD